NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.

Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.

Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Daren mengeluarkan semua barang-barang mereka dari dalam mobil, sementara Zakia dia bingung ingin melakukan apapun, daripada berdiam diri lebih baik dirinya ikut mengambil barang mereka satu persatu, pikirnya.

Namun saat mengambil satu koper berwarna milik, Zakia membawa koper tersebut dengan gerakan pelan, bukan hanya karena rok yang sempit tapi karena kakinya yang masih sakit, masih ingatkan bahwa luka Zakia belum diobati sama sekali.

Daren memperhatikan itu semua, apalagi telinganya mendengar ringisan dari mulut istrinya sendiri. Akhirnya tanpa menunggu lama, Daren menyusul Zakia dan merebut koper itu dari tangannya.

Zakia berbalik saat kopernya ditarik oleh Daren, matanya melotot dan bibirnya pun ikut protes. "Gue bisa sendiri!" tegasnya dan memegang kopernya.

"Gue tau, tangan lo bisa tapi gue ga yakin sama kekuatan kaki lo," jawab Daren dan membuka kunci pintu rumah baru mereka.

Zakia membisu, tangannya yang saat itu memegang koper langsung dilepas secara pelan-pelan. Kepalanya menunduk menatap ke dua kaki yang masih menggunakan heels, seketika rasa tidak enak dan minder Zakia naik ke permukaan.

"Udah sana masuk, ganti baju, barang-barang kita biar gue yang bawa, kamarnya di sebelah sana," ujar Daren sambil menunjuk ke sebelah kiri sudut ruangan.

Zakia berjalan mendahului Daren, sedangkan pria itu kembali ke mobil dan mengeluarkan beberapa koper lagi, sebelum Zakia sampai ke kamar, ia melihat semua kegiatan Daren dan menghela nafas.

Zakia merasa bahwa dirinya terlalu menyusahkan Daren.

****

"Perabotan rumahnya belum terlalu banyak, karena gue juga ga tau mau ngisi apaan, tapi kalau untuk dapur sama kamar udah lumayan sih," jelas Daren.

Memang Daren sudah membangun rumah ini lumayan lama, ya niatnya juga sama seperti sekarang, jikalau sudah menikah bisa langsung tinggal di rumah sendiri dan syukurnya niat itu terkabul.

Zakia meneliti isi kamar tersebut, lumayan lengkap untuk seukuran kamar yang dirawat oleh seorang lelaki. Tapi ya, yang namanya perempuan pasti ada sedikit keinginan untuk menambah perabotan kecil di dalam kamar ini kan?

"Oh iya gue lupa, ini kan kamar cuman satu yang ada isi perabot lengkap gini, otomatis kita bakal tidur satu kamar, lo gapapa kan?" tanya Daren hati-hati. Mengingat bagaimana kejadian kemaren membuat Daren sedikit khawatir dengan kondisi mental Zakia.

Zakia yang berada di depan Daren mengedipkan matanya pelan, ia menatap kasur lalu kembali menatap Daren.

"Eee iya gapapa kok," jawab Zakia seadanya. Usai dari situ, Zakia langsung ke luar dari kamar dan berlari kecil menuju dapur, ia meninggalkan Daren yang masih kebingungan sendiri.

Di dalam dapur, Zakia sibuk meminum air putih sambil duduk di meja makan. Tak lama kemudian datanglah Daren dengan pakaian lebih santai, hanya menggunakan celana pendek serta kaos berwarna hijau tua. Berpenampilan seperti ini membuat Daren terlihat lebih santai dari pada saat ijab qabul tadi.

"Bahan makanan belum ada, mie instan aja mau?" tanya Daren.

"Boleh," jawab Zakia singkat. Daren pun langsung membuka sebuah laci dan mengambil tiga bungkus mie instan dari lagi tersebut.

Tangannya dengan lihai mengambil talenan, pisau dan juga beberapa bahan dapur untuk menemani makan mereka malam ini. Bawang dan cabai dipotong telaten oleh Daren, Zakia yang melihat itu jadinya canggung, alhasil dengan cepat ia ikut berdiri di samping Daren dan mengambil sebuah pisau.

"Ada sayur ga?"

"Ada, di kulkas," jawab Daren. Zakia berbalik berjalan menuju kulkas, namun saat ingin melangkahkan kaki, telapak kaki itu terasa ngilu.

"Ssssst!" Zakia berdesis, wajahnya terlihat menahan sakit, tubuhnya bahkan akan jatuh jika tidak reflek berpegangan dengan lengan Daren.

Kegiatan yang Daren lakukan sontak ia hentikan, pisau yang dipegangnya diletakkan asal, Daren mendekat ke arah Zakia dengan raut wajah yang snagat khawatir.

"Lo gapapa?"

Zakia tidak menjawab, kakinya begitu ngilu dan tanpa sadar ia menggigit bibirnya untuk melampiaskan rasa sakit yang ia alami.

"Eh, bibirnya jangan digigit gitu!" seru Daren. Zakia tak menyahut dan tak melakukan apa yang Daren suruh, malah yang ada pegangan di lengan Daren terasa lebih mencekam dari yang tadi.

"Duduk dulu aja," ajak Daren. Daren ingin menuntun, tapi Zakia perlahan-lahan melepaskan pegangannya dan berjalan pelan ke arah meja makan.

Walaupun sesekali ia meringis, tapi Zakia tetap tidak menerima bantuan Daren, ia kekeuh untuk menggunakan kekuatannya sendiri.

Daren hanya bisa memandangi dan mengikuti dari belakang, siapa tau jika istrinya ini tiba-tiba merasa lemas, Daren bisa langsung sigap menolongnya apalagi mengingat lantai rumah mereka ini dilapisi keramik, terpeleset sedikit maka hal yang lebih parah bisa terjadi.

"Lo mendingan ga usah ikut masak, duduk aja biar gue yang masak," titah Daren.

Zakia mengulum bibirnya kala masih merasakan sakit yang luar biasa, ini salahnya karena tidak ingin di ajak berobat oleh sang ibu, akibatnya sekarang Zakia tak hanya menyusahkan dirinya sendiri, tapi juga merepotkan sang suami, Kira-kira seperti itulah isi kepala Zakia saat ini.

Akibat keras kepala yang ia miliki, ego yang dikedepankan membuahkan hasil yang membuat dirinya kerepotan.

Sedangkan Daren, pria dewasa itu kembali memasak setelah ia memastikan Zakia duduk dengan aman, dirinya kembali sibuk dengan bahan makanan di depannya.

Dari belakang, Zakia memperhatikan punggung tegap Daren yang sedang memasak makanan, rasa tak enak hati tiba-tiba terasa muncul di dada Zakia, mengingat bagaimana kondisinya dan apa alasan Daren menikahinya membuat Zakia seharusnya tidak merepotkan sang suami.

"Maaf," gumam Zakia pelan dan menunduk. Sebulir air mata menetes ke telapak tangannya.

Zakia melihat langkah kaki Daren yang mulai mendekat, dengan sigap ia langsung menghapus air matanya dan mendongak.

"Ekhem!" Zakia berdehem sebentar menetralkan suaranya.

Daren datang dengan dua mangkok mie di tangannya, netra mereka sempat bertemu tapi Zakia dengan cepat mengalihkan pandangan.

Begitupun dengan Daren, ia langsung duduk tanpa mengatakan apa-apa.

Segelas air pun ia ambil untuk mengembalikan kondisi tenggorokannya seperti biasa, ia tak ingin dilihat lemah oleh Daren. Lebih tepatnya, Zakia tak ingin Daren melihat air matanya.

"Nih makan dulu," suruh Daren. Ia meletakkan dua mangkok mie instan dengan wangi yang menusuk ke hidung dan tembus ke dalam lambung.

Zakia menerima mangkok berisi mie instan tersebut dan memakannya pelan-pelan. Zakia tidak tahu saja bahwa selama dirinya menunduk untuk menyeruput mie, maka saat itu juga Daren memperhatikannya.

Daren tau, wanita itu menangis, Daren tidak sebuta itu untuk tutup mata dengan kondisi Zakia, entah itu ada perasaan minder atau seperti apa yang dirasakan Zakia, yang Daren tau wanita itu pasti sedang bersedih dengan kondisinya saat ini.

Padahal Daren sendiri tidak kerepotan memasak makanan untuk mereka berdua, toh ketika di rumah dulu dia juga sering membantu Lili memasak, jika Lili kelelahan maka Daren, Hana dan Jamrud yang akan memasak bertiga, sedangkan sang ibu mereka biarkan istirahat.

Entah seperti apa pandangan Zakia saat ini ketika melihatnya, Daren hanya berharap bahwa wanita itu tidak menyalahkan dirinya karena kejadian sekarang.

Daren itu suami idaman banget ga sihh? Green forest ny itu green forest bangeetttt....

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!