ADELIA YHOSEP yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan kakanya ADELIN YHOSEP yang seorang model papan atas. Wajah mereka bak pinang dibelah dua tapi nasip mereka berdua sangatlah jauh berbeda bagaikan langit dan bumi, Adelia selalu jadi nomor dua. Semua orang hanya memuji kakaknya, Adelin—padahal Adelin yang jahat dan sering bikin masalah, tapi Adelia yang harus menanggung salahnya. Saat hari pernikahan Adelin dengan Gyantara—pria paling tampan, kaya, dan terkenal sangat mencintai kakaknya—Adelin malah kabur. Agar keluarga tidak malu, Adelia dipaksa menggantikan posisi kakaknya. Dia harus menikah dengan pria yang hatinya milik orang lain. Bisakah dia menyembunyikan kebenaran selamanya? Dan mungkinkah hati Gyantara yang dingin perlahan berubah pada dirinya? ---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
.
Keesokan harinya, Sofia Morens—ibunda Gyantara—datang berkunjung ke kediaman muda itu dengan senyum paling lebar. Wanita yang bijaksana dan selalu tampak anggun itu sudah lama menantikan momen bisa berdekatan dengan menantu barunya. Selama ini ia sering merasa Adelin terlalu angkuh, terlalu sibuk dengan penampilan dan gengsi dunia hiburan, sehingga jarang meluangkan waktu untuk sekadar berbincang santai dengan orang tua. Namun saat ia melihat sosok menantunya yang berdiri menyambutnya di pintu, hatinya langsung terasa hangat.
Adelia menyambutnya dengan sopan, menundukkan badan sedikit dengan hormat, lalu tersenyum tulus yang matanya ikut berbinar lembut. "Selamat pagi, Bu Sofia. Silakan masuk, Bu. Maaf kalau rumah ini belum terlalu rapi."
Sikap rendah hati dan senyum yang begitu menenangkan itu membuat Sofia langsung menyukainya. Ia meraih tangan Adelia, menggenggamnya erat, lalu menatap wajah gadis itu lekat-lekat. "Tidak perlu sungkan begitu, sayang. Panggil saja Ibu seperti panggilanmu pada Ibu kandungmu. Dan rumah ini sudah sangat indah kok. Kamu makin cantik saja setiap kali aku melihatmu. Hari ini kamu terlihat begitu tenang... sejuk sekali dipandang mata."
Adelia tersipu, wajahnya memerah malu hingga ke telinga. "Terima kasih, Ibu. Aku hanya berusaha sebaik mungkin."
Gyantara yang berdiri di samping mereka tersenyum tipis melihat kedekatan itu. "Dia memang sedang berusaha menjadi lebih baik, Bu. Kadang dia terlalu keras pada dirinya sendiri sampai lupa beristirahat."
"Baguslah begitu," kata Sofia gembira sekali. "Nah, hari ini Ibu ingin mengajakmu pergi berbelanja ke pusat perbelanjaan utama di pusat kota. Ibu ingin membelikanmu beberapa barang kebutuhan, sekadar tanda kasih sayang Ibu. Dan kamu berdua..." Sofia menunjuk Gyantara dan Rama yang berdiri di belakang sambil tersenyum jahil, "...kalian wajib ikut. Jadilah pengawal pribadi kami berdua ya. Jangan sampai ada yang berani mengganggu dua wanita cantik beda generasi ini."
Tawaran itu membuat Adelia gugup seketika. Ia takut salah memilih barang, takut seleranya berbeda jauh dengan selera Adelin yang dimiliki semua orang, dan takut salah bicara. Tapi melihat antusiasme Sofia yang begitu tulus dan penuh kasih sayang—sesuatu yang jarang ia rasakan dari ibunya sendiri—ia tak sanggup menolak. Akhirnya mereka berempat pun berangkat bersama.
Di dalam mobil mewah milik keluarga Raharja, Sofia terus bercerita dengan riang. Ia menceritakan masa kecil Gyantara yang nakal, kebiasaan buruknya saat makan yang selalu berantakan, hingga hal-hal lucu yang pernah dilakukan putranya saat baru masuk sekolah. Adelia mendengarkan dengan saksama, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu, sesekali tertawa kecil dan mengajukan pertanyaan sopan tentang masa muda suaminya itu.
Sikap menjadi pendengar yang baik ini justru membuat Sofia semakin nyaman dan terharu. "Kamu tahu, Le?" panggil Sofia sayang. "Dulu Adelin yang aku kenal kalau aku mulai bercerita begini, matanya langsung melirik ke luar jendela atau sibuk memainkan ponselnya. Dia pernah bilang cerita masa lalu itu membosankan dan tidak penting. Tapi kamu... kamu benar-benar mendengarkan setiap kata yang Ibu ucapkan seolah itu hal paling berharga."
Pipi Adelia semakin merah padam. "Maafkan aku, Ibu. Aku hanya merasa cerita Ibu sangat menarik. Aku jadi tahu banyak hal baru tentang Mas Gyantara yang tak pernah dia ceritakan padaku."
Gyantara yang menyetir melirik sekilas lewat kaca spion. Keraguan itu kembali muncul di benaknya. Adelin dulu tak pernah peduli pada masa lalunya, tak pernah bertanya tentang siapa dirinya sebelum menjadi orang sukses, bahkan sering memotong pembicaraan jika topiknya bukan tentang uang atau kemewahan. Tapi wanita di belakangnya ini... ia ingin mengenal sisi lain dari dirinya, hal yang tak pernah dilakukan Adelin selama lima tahun mereka saling mengenal.
Sesampainya di pusat perbelanjaan paling mewah di kota itu, Sofia langsung membawanya ke butik pakaian impor favorit mereka. Penjaga toko menyambut mereka dengan ramah dan penuh hormat. Sofia langsung menunjuk deretan gaun bermotif rumit, berwarna cerah mencolok, dan penuh payet berkilau yang menyilaukan mata.
"Lihatlah ini! Ini gaya yang dulu kamu sangat suka, bukan?" kata Sofia sambil menyerahkan satu gaun merah menyala berhias berlian imitasi di seluruh bagian bawahnya. "Kamu pernah bilang gaun seperti ini membuatmu terlihat seperti ratu di atas panggung."
Adelia menerima gaun itu dengan ragu. Ia memegang kainnya yang sangat berat dan licin. "Warnanya cantik sekali, Bu... tapi bolehkah aku melihat yang model lain?"
"Tentu saja boleh, sayang. Kamu mau yang seperti apa? Ibu belikan yang paling mahal sekalipun, tidak masalah."
Adelia berjalan perlahan ke arah rak samping yang agak tersembunyi. Ia memilih gaun berwarna krem polos, berbahan kain jatuh yang lembut dan adem di kulit, dengan potongan sederhana yang menutup hingga ke lengan panjang dan berkerah sopan. Tidak ada hiasan berlebihan, hanya sedikit renda halus berwarna senada di bagian ujung lengan dan kerah.
"Ini saja, Bu. Aku lebih suka yang seperti ini. Nyaman dipakai dan tidak terlalu mencolok," katanya pelan sambil tersenyum malu.
Keheningan sejenak menyelimuti ruangan itu. Sofia tertegun tak percaya, Gyantara yang berdiri di ambang pintu mengerutkan kening dalam-dalam, dan Rama yang berdiri di sudut ruangan mencatat hal itu dengan saksama di dalam hatinya.
"Yang ini?" tanya Sofia pelan. "Padahal dulu kamu pernah bilang model sederhana ini adalah gaun untuk orang yang sedang berduka. Kamu selalu menolak memakai warna pucat seperti ini dan menyuruh kami mengambilkan yang paling mencolok saja."
Adelia menelan ludah dengan susah payah. "Selera aku berubah, Bu. Aku rasa keindahan itu tidak harus selalu terlihat mencolok dan memaksa orang lain melihatnya. Keindahan yang tenang justru lebih tahan lama."
Meskipun masih heran, Sofia justru semakin kagum dan bangga. "Kamu benar juga, sayang. Kamu semakin dewasa dan bijaksana ya sekarang. Baiklah, kita ambil yang ini saja, dan ambilkan dua warna lain yang senada untuk cadangan," perintahnya pada penjaga toko.
Namun cerita belum berakhir. Saat beralih ke bagian sepatu dan tas, perbedaan itu semakin mencolok dan tak bisa disembunyikan lagi. Adelin dulu selalu memilih sepatu hak setinggi sepuluh sentimeter ke atas, berwarna terang, dan tas bermerek yang logonya terlihat besar dan jelas di bagian depan. Tapi Adelia justru memilih sepatu hak rendah berwarna cokelat susu yang empuk, serta tas kulit polos berukuran kecil yang bisa diselempangkan di bahu.
"Sepatu ini tidak akan membuat kakimu sakit?" tanya Gyantara tak tahan lagi bertanya. "Dulu kamu tidak mau melangkah keluar rumah kalau hak sepatumu tidak setinggi sepuluh sentimeter. Kamu pernah bilang sepatu datar itu sepatu pelayan dan tidak pantas dipakai oleh orang seperti kamu."
Kata-kata itu menusuk hati Adelia. Ia menunduk menatap sepatu di tangannya, matanya berkaca-kaca. "Aku hanya ingin bisa berjalan bebas, Mas. Aku tidak ingin terlihat cantik tapi harus menahan sakit setiap melangkah. Dan aku tidak setuju kalau sepatu ini hanya untuk pelayan. Semua orang berhak merasa nyaman."
Di sudut lain, Rama melihat Adelia berhenti lama di depan rak peralatan rumah tangga yang sederhana di lantai bawah. Ia memegang satu set sendok kayu yang diukir dengan motif bunga halus, matanya berbinar senang seolah menemukan harta karun.
"Kamu suka barang seperti itu?" tanya Rama pelan saat mendekat. "Bukankah dulu Nona Adelin membuang barang kayu karena takut terlihat kuno dan tidak berkelas?"
"Ini sangat cantik dan berguna, Mas Rama," jawab Adelia tanpa sadar membela barang itu. "Barang mahal dengan merek terkenal tidak selalu berarti barang terbaik. Barang buatan tangan seperti ini punya jiwa yang tidak dimiliki barang pabrik."
Siang harinya mereka makan siang di restoran mewah milik rekan bisnis keluarga Raharja. Sofia memesan menu yang dulu selalu dipesan Adelin: daging panggang impor langka, saus krim tebal berlemak, dan minuman beralkohol manis. Tapi Adelia justru memesan sayuran segar, ikan kukus tanpa minyak berlebih, dan air mineral hangat. Ia juga dengan sopan menolak makanan yang terlalu berminyak atau bersantan.
"Kamu punya alergi baru?" tanya Sofia cemas melihatnya memilih-milih makanan.
"Bukan begitu, Bu. Aku hanya lebih suka makanan yang ringan dan tidak menyiksa perut," jawabnya lembut sambil tersenyum menenangkan.
Sepanjang hari itu, Gyantara dan Rama saling bertukar pandang berkali-kali. Setiap kali Adelia melakukan sesuatu, keraguan di hati mereka semakin dalam dan nyata. Wanita ini lembut, bijaksana, sederhana, dan penuh perhatian pada orang lain—sifat yang hampir berkebalikan dengan Adelin yang mereka kenal selama bertahun-tahun.
Namun yang membuat Sofia semakin sayang dan menganggapnya sebagai anugerah adalah tingkah laku Adelia saat mereka berjalan pulang. Adelia berjalan sedikit di belakang Sofia, menjaga langkah ibunya agar tidak terpeleset saat turun tangga atau melangkah di lantai licin. Ia membantu membawa tas belanjaan yang berat sendiri tanpa menyuruh pelayan atau sopir. Ia juga berhenti sebentar di depan gerbang mal untuk memberikan uang sisa belanja kepada pengemis tua yang duduk di sana dengan senyum tulus, sesuatu yang dulu tak pernah dilakukan Adelin dengan alasan "takut kotor dan tidak higienis".
"Kamu anak yang baik sekali," puji Sofia saat mereka sampai di rumah. Ia memeluk Adelia erat dengan mata berkaca-kaca. "Ibu dulu sempat khawatir Gyantara tidak akan mendapatkan istri yang tulus dan berhati mulia. Tapi sekarang Ibu tenang sepenuhnya. Kamu adalah anugerah terindah yang dikirimkan Tuhan untuk keluarga kita."
Pelukan itu begitu hangat dan tulus hingga membuat air mata Adelia akhirnya jatuh menetes. Ia merasa sangat bersalah karena menipu wanita yang begitu baik ini, tapi ia belum punya kekuatan untuk mengakui semuanya.
Malam harinya, saat Sofia sudah pulang ke kediaman utama keluarga Raharja, Gyantara dan Rama duduk berdua di ruang kerja.
"Kamu juga melihatnya kan, Rama?" tanya Gyantara pelan, matanya menatap kosong ke arah jendela yang gelap. "Selera berpakaiannya, cara bicaranya, kebiasaannya, bahkan cara dia memandang dunia... semuanya berbeda. Ini seperti dua orang yang berbeda tubuh dan jiwanya."
Rama mengangguk perlahan dengan wajah serius. "Saya melihatnya sejak hari pernikahan, Tuan. Wanita yang ada di sana... dia tidak sombong, dia tahu rasanya menghargai hal kecil, dia peduli pada orang lain yang tidak dikenalnya. Itu bukan Adelin yang kita kenal."
"Tapi wajahnya sama persis," gumam Gyantara masih bingung. "Bahkan bekas luka kecil di jari kelingking kirinya pun ada persis seperti yang pernah Adelin ceritakan. Apa mungkin seseorang bisa berubah drastis seperti ini hanya dalam waktu kurang dari dua minggu?"
"Saya tidak tahu jawabannya, Tuan," jawab Rama jujur. "Tapi satu hal yang saya yakini: wanita ini menyembunyikan rahasia besar. Dan entah siapa dia sebenarnya, dia memiliki hati yang jauh lebih mulia daripada Adelin yang dulu."
Gyantara terdiam lama memandang pintu kamar di mana istrinya berada. Ia merasa semakin dekat dengan wanita ini, tapi semakin jauh dari kenyataan yang selama ini ia yakini. Ia tahu ia harus mencari tahu kebenarannya secepat mungkin, tapi di sisi lain ia takut—takut jika kebenaran itu akan menghancurkan kebahagiaan kecil yang baru saja ia rasakan.