NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2. Hinaan yang Membuat Kuat

Pagi berikutnya, matahari Desa Sukamaju kembali bersinar terang. Bumi sudah berada di area sekitar pasar desa, memanggul cangkulnya. Rencananya hari ini ia ingin menawarkan jasa membersihkan selokan atau ladang milik warga pasar. Sambil berjalan, ia tersenyum ramah setiap kali berpapasan dengan tetangga yang dikenalnya. Namun, suasana tenang itu mendadak pecah saat ia melewati warung kopi di pojok pasar, tempat nongkrong favorit anak-anak muda desa yang pengangguran.

"Eh, liat tuh! Si kuli panggul abadi udah lewat!" teriak sebuah suara lantang yang sangat akrab di telinga Bumi.

Itu suara Doni, anak Kepala Desa Sukamaju. Doni sedang duduk menyilangkan kaki di bangku warung, dikelilingi oleh beberapa temannya dan dua orang gadis desa yang terkenal centil, berpenampilan menor dengan pakaian yang sok modis.

"Wah, pagi-pagi udah bawa cangkul aja, Bum. Mau gali kuburan sendiri ya?" timpal joni, salah satu kaki tangan Doni, disambut gelak tawa riuh dari yang lain.

Bumi menghentikan langkahnya sebentar, menoleh, lalu mengangguk sopan. "Selamat pagi, Don, Jon. Enggak, ini mau nyari kerjaan bakti atau bersihin ladang orang kalau ada yang butuh."

"Halah, sok rajin banget sih lu! Kerjaan serabutan aja bangga. Sampai mampus juga hidup lu bakal gitu-gitu aja, tinggal di rumah reot yang bentar lagi ambruk!" sahut Doni dengan nada sinis, matanya menatap Bumi dengan penuh kebencian.

"Iya ih, najis banget deh. Tiap hari baunya bau keringat melulu. Gak ada keren-kerennya jadi cowok," celetuk rina, salah satu gadis yang sedang asyik mengikir kukunya.

"Betul banget, Rin. Gak level banget sama kita-kita. Kulitnya aja udah dekil kayak aspal jalanan," tambah mita, temannya, sambil tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya dengan tangan yang memakai cincin imitasi.

Bumi hanya menghela napas pendek. Ia sudah sangat biasa menerima perlakuan seperti ini dari anak-anak muda seumurannya. Sifat sabarnya yang sudah terlatih sejak kecil membuatnya tidak mudah terpancing emosi.

"Ya gak apa-apa, Rin, Mit. Namanya juga cari nafkah yang halal, yang penting gak minta-minta atau ngerugiin orang lain," jawab Bumi dengan nada suara yang tetap tenang dan datar.

Mendengar jawaban Bumi yang begitu tenang, Doni justru makin naik pitam. Ia berdiri dari bangkunya, lalu melangkah menghampiri Bumi dengan berkacak pinggang. Tatapan matanya sangat sinis.

"Lu gak usah sok suci ya, Bum! Lu pikir gua gak tahu kelakuan lu kemarin sore?" gertak Doni, wajahnya mendekat ke wajah Bumi.

Bumi agak bingung. "Kelakuan yang mana, Don? Kemarin sore saya cuma nyabit rumput di belakang rumah Pak Haji Somad."

"Nah, itu dia! Lu sengaja kan nyari muka di depan Pak Haji? Terus lu godain Siti juga, kan? Pake acara makan pisang goreng bareng segala!" bentak Doni, nada suaranya meninggi, dipenuhi rasa cemburu yang membara.

"Oh, soal itu. Neng Siti cuma anterin minum sama camilan atas perintah Pak Haji, Don. Saya gak ada maksud menggoda sama sekali. Saya tahu diri siapa saya," jelas Bumi, berusaha meluruskan kesalahpahaman.

"Halah, bohong lu! Lu tuh cuma kuli sabit rumput miskin, gak usah mimpi ketinggian dapetin Siti! Siti itu cuma cocok sama gua, anak Kepala Desa! Bukan sama anak yatim piatu yang rumahnya kayak kandang kambing kayak lu!" teriak Doni sambil mendorong bahu Bumi cukup keras.

Bumi agak terhuyung ke belakang akibat dorongan itu, namun ia segera menyeimbangkan badannya. Cangkul di pundaknya diturunkan perlahan, diletakkan di tanah agar tidak membahayakan orang lain. Warga pasar yang lewat mulai menoleh ke arah mereka, tetapi tidak ada yang berani ikut campur karena tahu Doni adalah anak orang berkuasa di desa itu.

"Don, kalau kamu suka sama Neng Siti, ya silakan dekati baik-baik. Gak usah bawa-bawa status sosial saya, apalagi bawa-bawa mendiang orang tua saya," kata Bumi, kali ini dengan tatapan mata yang tegas namun tetap terkontrol, tanpa ada nada amarah yang meledak-ledak.

"Wah, berani lu ngelawan gua sekarang? Hebat ya lu semenjak dikasih perhatian sama Siti!" Joni ikut berdiri, memprovokasi suasana agar makin panas.

"Sudahlah, Don, Jon. Saya ke sini mau nyari kerja, bukan mau berantem. Permisi," ucap Bumi sambil kembali memungut cangkulnya, bersiap untuk pergi dari tempat itu.

"Heh, miskin! Jangan kabur lu! Dengerin ya, seisi desa ini juga tahu kalau lu itu cuma benalu di Desa Sukamaju! Gak punya masa depan!" teriak Doni lagi, masih berusaha memancing amarah Bumi.

Rina dan Mita kembali tertawa mengejek dari bangku warung. "Iya, mending pulang aja deh, Bum. Sadar diri, ngaca di air keruh sana! Hahaha!"

Bumi terus berjalan menjauh, mengabaikan segala makian dan tawa ejekan yang menggema di belakangnya. Di sepanjang jalan pasar, beberapa warga desa yang terkenal sombong dan bermulut tajam yang kebetulan mendengar keributan itu ikut menatap Bumi dengan pandangan merendahkan.

"Kasihan ya si Bumi, udah miskin, dihina-hina begitu tiap hari," bisik seorang ibu penjual sayur kepada temannya, namun suaranya cukup keras hingga terdengar oleh Bumi.

"Ya lagian dia gak tahu diri sih, berani-beraninya deketin Siti anak Pak Haji. Ya jelas Doni ngamuk lah," sahut temannya yang mengenakan kalung emas tebal di lehernya.

Bumi tetap melangkah dengan kepala tegak. Di dalam hatinya, ia sama sekali tidak merasa dendam atau berniat membalas. Baginya, kata-kata kasar dan hinaan itu justru menjadi pengingat bahwa ia harus bekerja lebih keras lagi, lebih tekun lagi, agar bisa memperbaiki kehidupannya suatu saat nanti.

"Bumi! Eh, Bumi, tunggu dulu!" panggil seorang bapak-bapak paruh baya dari arah ladang jagung di pinggir pasar. Itu Pak jaya, salah satu petani di desa.

Bumi menoleh dan tersenyum. "Eh, Pak Jaya. Ada apa, Pak?"

"Itu... tadi bapak gak sengaja dengar si Doni ngomong kasar banget sama kamu di warung kopi depan. Kamu gak apa-apa, Bum?" tanya Pak Jaya dengan raut wajah khawatir sekaligus simpati.

"Gak apa-apa kok, Pak. Sudah biasa. Anggap aja angin lalu," jawab Bumi santai, sambil mengusap pelipisnya yang mulai terasa hangat oleh sinar matahari.

"Kamu ini bener-bener sabar ya, Bum. Kalau bapak jadi kamu, mungkin sudah bapak hantam si Doni pakai gagang cangkul itu. Sombong sekali itu anak, mentang-mentang bapaknya Kepala Desa," ketus Pak Jaya kesal sendiri.

"Hahaha, jangan, Pak. Nanti urusannya malah panjang sama hukum. Mending sabar aja. Hinaan mereka gak bikin saya kenyang, dan gak bikin saya makin miskin juga kok. Yang penting saya tetap kerja keras."

Pak Jaya menggeleng-gelengkan kepalanya, kagum dengan keteguhan hati pemuda di depannya ini. "Luar biasa kamu, Bum. Mental kamu benar-benar kuat. Oh ya, kamu tadi nyari kerjaan kan?"

"Iya, Pak. Kebetulan hari ini jadwal bangunan lagi kosong. Ada yang bisa saya bantu di ladang Bapak?" tanya Bumi dengan mata yang berbinar penuh harap.

"Itu, saluran irigasi di ujung ladang jagung bapak mampet gara-gara tumpukan lumpur sama sampah daun kering. Kamu bisa tolong bersihin pakai cangkulmu itu? Nanti bapak upah sewajarnya."

"Wah, bisa banget, Pak! Jangankan lumpur, rumput liar juga saya babat kalau ada. Di sebelah mana jalurnya, Pak?"

"Ayo ikut bapak ke belakang. Sekalian nanti kalau sudah selesai, ada sisa panen singkong, kamu bawa pulang aja buat direbus di rumah."

"Alhamdulillah, terima kasih banyak ya, Pak Jaya. Rezeki emang gak kemana," ucap Bumi dengan tulus.

Sambil berjalan mengikuti Pak Jaya menuju area ladang, Bumi kembali memikirkan kata-kata Doni dan gadis-gadis tadi. Hinaan mereka sama sekali tidak mengurangi rasa percaya dirinya. Bagi Bumi, setiap kata merendahkan yang ia terima hari ini adalah bahan bakar untuk membuatnya tetap bertahan, bekerja secara tekun, dan membuktikan pada dirinya sendiri bahwa anak seorang yatim piatu yang serabutan pun bisa hidup mandiri dengan terhormat tanpa harus mengemis pada siapapun.

"Nah, ini dia jalurnya, Bum. Agak panjang ya, sampai ke pembatas desa sebelah," kata Pak Jaya sambil menunjuk parit kecil yang dipenuhi lumpur hitam.

"Siap, Pak Jaya. Ini mah gampang. Bapak tinggal tunggu beres aja, biar saya yang selesaikan semuanya sampai airnya lancar lagi," jawab Bumi penuh semangat, langsung mengayunkan cangkulnya ke dalam parit, memulai pekerjaannya hari itu dengan hati yang lapang dan damai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!