Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##2
Sensasi sapuan bibir asing itu membuat seluruh tubuh Lux membeku. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena romansa, melainkan karena syok dan kemarahan yang mendidih di dalam dadanya.
Namun, di tengah keterkejutannya saat hendak melayangkan dorongan kuat pada dada pria asing itu, cengkeraman tangan pria itu di tengkuknya mendadak mengendur.
Pria itu merenggangkan posisi wajahnya hanya beberapa milimeter. Bibir mereka tidak lagi bersentuhan, melainkan hanya ujung hidung mereka yang saling menempel. Napas hangat pria itu berembus tidak teratur di atas kulit wajah Lux.
"Maafkan aku... demi Tuhan, kau boleh membunuhku setelah mereka pergi," bisik pria itu dengan suara yang sangat pelan, hampir tenggelam di antara dentum musik dari mobil sport.
Ada nada kepanikan dan permohonan yang teramat sangat dalam bisikannya. "Tolong jaga reputasiku malam ini. Please..."
Deg.
Lux terbelalak. Rasa terkejut kembali menghantamnya.
Pria ini bukannya sedang melecehkannya secara membabi buta, melainkan tengah memainkan sebuah drama di hadapan teman-temannya.
Menyadari bahwa pria ini hanya menggelengkan kepalanya perlahan—menciptakan ilusi dari kejauhan seolah-olah mereka sedang berciuman panas tanpa benar-benar menyentuh bibirnya lagi—Lux mengerti situasi konyol ini.
Ini pasti sebuah taruhan murahan khas anak muda kaya sombong.
Logika Lux bekerja cepat. Jika ia menjerit atau memukul pria ini sekarang, suasana akan semakin keruh dan perhatian akan tertuju padanya.
Dengan napas tertahan, Lux akhirnya memutuskan untuk tidak memberontak. Ia membiarkan kepala pria itu bergerak perlahan menyamping, sesekali membalas miringan kepala pria gila ini demi menyempurnakan drama licik tersebut.
"Aku akan membunuhmu nanti," bisik Lux tajam melalui sela-sela giginya yang rapat, memberikan ancaman mati yang sangat dingin.
Pria itu mengangguk pelan dalam kebohongan mereka. Tangannya turun dan merapatkan jemarinya di pinggang Lux, menarik tubuh gadis itu sedikit lebih dekat agar terlihat semakin meyakinkan bagi empat pasang mata yang mengawasi dari luar apotek.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti siksaan abadi bagi Lux, pria itu akhirnya menyudahi aksinya. Ia melepaskan pegangannya, berbalik, lalu mengangkat tangannya pada empat pemuda di dalam mobil sport konvertibel itu.
"Aku akan pulang ke apartemennya! Kalian duluan saja!" teriak pria itu dengan nada santai dan percaya diri yang dibuat-buat.
Sorakan riuh dan siulan godaan serta-merta membahana dari arah mobil sport tersebut.
Teman-temannya di atas mobil bersorak seakan sangat mengerti dan kagum atas 'keberhasilan' teman mereka menaklukkan seorang gadis cantik dalam hitungan detik.
Vroomm!
Dengan raungan mesin V8 yang memekakkan telinga dan decitan ban yang membakar aspal, mobil mewah itu akhirnya melaju kencang meninggalkan area parkir apotek, membelah kegelapan Sunset Boulevard.
Begitu mobil itu menghilang dari pandangan, keramahan palsu di wajah Lux menguap sepenuhnya.
Bugh!
Satu pukulan telak dan keras dari kepalan tangan Lux mendarat tepat di ulu hati pria itu.
"Ugh!" Pria itu membungkuk seketika, meringis kesakitan sambil memegangi perutnya. Napasnya tersengal akibat hantaman mendadak yang tidak main-main kekuatannya.
"Brengsek! Aku benar-benar akan membunuhmu!" geram Lux dengan mata menyala-nyala. Tangannya mengepal, siap melayangkan pukulan kedua.
Pria itu buru-buru mengangkat kedua tangannya ke udara dengan posisi menyerah, meski wajahnya masih meringis menahan sakit.
"Aku minta maaf! Aku terpaksa! Lagipula... kau harus bahagia karena itu tadi adalah ciuman pertamaku!" belanya dengan nada narsis yang sama sekali tidak berkurang. "Aku akan meminta maaf pada baby-mu nanti karena sudah menciummu. Lagipula tadi aku sudah izin, kan?"
"Izin katamu, Brengsek?!" seru Lux murka. "Aku bahkan belum menjawabnya!"
Lux benar-benar dibuat gila oleh tingkat keangkuhan pria di depannya ini. Ia tidak terima dimanfaatkan sebagai bahan taruhan konyol oleh anak-anak kaya frustrasi.
Tanpa membuang waktu lagi, Lux berbalik memunggungi pria itu dan melangkah cepat menuju mobilnya.
"Hei, tunggu!" panggil pria itu sambil menyusul langkah cepat Lux.
"Boleh aku menumpang sampai di lampu merah depan sana? Aku tidak bisa kembali ke asramaku malam ini... Dan aku berjanji akan menjelaskan semuanya pada kekasihmu nanti."
Pria itu bersikap sok akrab, menunjuk bungkusan di tangan Lux.
Lux menghentikan langkahnya di dekat pintu mobil, menatap pria itu dengan tatapan jijik.
"Tidak! Aku tidak akan membantumu sedikit pun. Kau sudah sangat lancang menciumku. Menyingkir dariku, Sialan!"
"Cuma sampai jalan di depan sana, sungguh," bujuk pria itu lagi. Wajah tampannya kini memasang raut memohon. "Aku kesulitan mendapatkan taksi jam segini. Ponselku ada di dalam mobil teman-temanku tadi."
"Modus murahan," cetus Lux seraya berusaha membuka pintu mobilnya.
Namun, pria itu melangkah cepat dan menahan daun pintu mobil Lux agar tidak bisa dibuka.
"Baiklah, kalau begitu bantulah memesankan taksi untukku lewat ponselmu. Aku berjanji tidak akan melupakan kebaikanmu. Dan aku juga akan membalas permintaan maaf atas ciuman tadi dengan mengajakmu makan malam. Bagaimana?"
Lux menatapnya tak percaya. "Kau pikir aku wanita murahan yang bisa kau beli dengan makan malam?"
Pria itu terkekeh pelan, menatap kantong plastik bening yang dipegang Lux dengan pandangan sok tahu.
"Iya, aku tahu. Kau pasti seorang istri yang sedang menantikan seorang baby, kan? Makanya kau ke apotek malam-malam begini." Pria itu berbicara dengan tingkat kepercayaan diri setinggi langit, merasa tebakannya sangat akurat.
Sabar Lux runtuh sepenuhnya.
Mulut pria sok tahu ini benar-benar memancing amarahnya ke tingkat tertinggi. Tanpa berpikir panjang, Lux mengayunkan kantong plastik berisi empat kotak testpack tebal itu dengan keras, memukulkannya tepat ke dada pria tersebut.
Puk!
Bungkusan plastik itu terlepas dari genggaman Lux akibat benturan keras, membuat empat kotak alat tes kehamilan itu terlempar dan berserakan di atas aspal parkiran yang dingin.
"Aww! Kau kasar sekali!" gerutu pria itu.
Meski mengeluh, pria itu menunduk dan bersikap gentleman dengan memunguti kotak-kotak tes kehamilan yang berserakan di tanah.
Namun, saat jarinya baru saja memegang kotak terakhir dan ia mulai menegakkan kembali tubuhnya—
SREET! BRAKK!!!
Tiba-tiba, tiga buah SUV hitam berukuran besar meluncur kencang dan langsung mengepung mobil Lux serta area parkiran apotek tersebut.
Suara decitan ban yang kasar memecah heningnya malam.
Pintu-pintu mobil SUV itu terbuka secara bersamaan, dan beberapa pria bertubuh tegap berpakaian setelan jas hitam melompat keluar dengan gerakan sigap.
Sebelum pria di hadapan Lux sempat menyadari apa yang terjadi, dua orang pengawal berbadan besar langsung menyergap kedua tangannya dari belakang, menguncinya dengan telak dan menekan tubuh pria itu ke kap mobil hingga tak bisa berkutik.
Penyergapan itu terjadi begitu cepat dan efisien, persis seperti penangkapan buronan kelas berat.
"Hei! Apa-apaan ini?! Lepaskan aku!" teriak pria itu panik, mencoba memberontak namun cengkeraman di lengannya seperti jepitan besi.
Lux berdiri mematung di tempatnya. Matanya menganga lebar, tidak percaya dengan pemandangan di depannya.
"Dad...?" bisik Lux tercekat.
Dari dalam salah satu SUV hitam yang pintu depannya dibukakan, melangkah keluar Marcus Victoria dengan wajah yang sangat dingin dan mengintimidasi—sebuah ekspresi yang belum pernah Lux lihat sebelumnya dari sang ayah yang biasanya selalu ramah.
Di belakang Marcus, melangkah keluar pula dua orang pamannya yang berwajah keras, serta Eleanor, sang ibu, yang berdiri di samping mobil dengan wajah sembap dan mata merah akibat menangis.
Apakah... apakah mereka mengikutiku sejak keluar dari mansion? batin Lux bergetar hebat. Rasa dingin mendadak menjalar dari telapak kakinya hingga ke ujung kepala.
Marcus berjalan pelan mendekati pria yang sedang dikunci oleh para pengawalnya.
Matanya menatap tajam ke arah kotak-kotak testpack yang masih tergeletak di atas kap mobil, lalu mengalihkan pandangannya pada pria muda berjaket bomber tersebut.
"Kau..." suara Marcus terdengar berat, dalam, dan penuh keputusasaan yang tertahan. "Kau harus bertanggung jawab atas putriku."
"Apa?!" Pria berjaket bomber itu membelalakkan matanya, mengandai-andai apakah ia salah mendengar kata-kata pria tua di depannya.
"Malam ini juga, kau harus menikahi Lux!" tegas Marcus tanpa ragu sedikit pun.
Deg.
Dunia seolah berhenti berputar bagi pria berjaket bomber itu. Otaknya mendadak macet total.
"What??? Menikah?!" serunya dengan nada suara meninggi, panik setengah mati. "Ini salah paham! Bukankah dia—"
"Tutup mulutmu, Anak Muda!" potong salah satu paman Lux dengan nada membentak yang menggelegar. "Kau tidak bisa lari dari tanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan pada Lux!"
Pria itu membelalakkan mata, menatap tidak percaya ke arah Lux—wanita yang baru saja ia cium beberapa menit lalu demi sebuah taruhan konyol.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Apa-apaan ini?! Apa ini akibat dari permainan taruhan konyol itu? jeritnya dalam hati.
Ciuman pertamanya baru saja terenggut, dan sekarang ia malah ditangkap seperti penjahat kelamin serta dipaksa menikah di tempat?!
Lux... tapi bisa saja dia sedang hamil! Bagaimana mungkin aku harus bertanggung jawab atas anak orang Lain?! batin pria itu ingin berteriak histeris menembus langit malam Los Angeles.
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux