NovelToon NovelToon
Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Pak Dosen Galak, Awas Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: W_ Wulandari

Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.

Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.

Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: MAHASISWA LAIN MULAI CURIGA

Koridor Fakultas Ekonomi terasa berbeda ketika Kirana melangkah masuk esok paginya. Dia bisa merasakan beberapa pasang mata mengikuti langkahnya, bisik bisik yang berhenti tiba tiba begitu dia lewat, lalu dilanjutkan lagi setelah dia cukup jauh.

"Kir, kamu denger nggak tadi?" Tesa berbisik, merapat ke sisi Kirana sambil berjalan menuju kelas. "Anak anak angkatan atas juga udah pada tau soal foto itu."

"Aku tau, Tes. Dari tadi berasa kayak jadi tontonan," jawab Kirana, menunduk sedikit, berusaha tidak menatap balik ke arah mana pun yang terasa sedang memperhatikannya.

Mereka masuk kelas, dan suasana di dalam terasa lebih ramai dari biasanya, obrolan berdengung pelan sebelum dosen datang. Kirana duduk di kursinya, membuka buku catatan, tapi telinganya menangkap potongan potongan kalimat dari beberapa bangku di belakang.

"...katanya emang deket banget, makanya sering dibantuin..."

"...nggak nyangka aja, keliatannya baik baik..."

Kirana pura pura tidak dengar, meski dadanya terasa semakin sesak setiap detik berlalu. Bagas yang duduk di sebelahnya menyadari raut wajah Kirana yang berubah, langsung menyenggol lengannya pelan.

"Kir, jangan didengerin. Orang orang emang suka cari bahan gosip, apalagi kalau ada yang keliatan sensasional dikit," katanya, mencoba menghibur.

"Makasih, Gas," Kirana tersenyum tipis, meski senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke matanya.

Tidak lama, Dinda dan Nadia datang bergabung, keduanya terlihat sedikit tegang. "Kir, ada yang mau aku omongin," kata Nadia, duduk di kursi kosong di depan Kirana sambil menoleh ke belakang.

"Ada apa, Nad?"

"Tadi pagi di grup angkatan, ada yang nanya nanya soal kelompok gabungan kita. Terus ada juga yang nanya langsung ke aku, apa bener kamu deket sama Pak Alden," Nadia menjelaskan pelan, khawatir ada yang mendengar. "Aku bilang kalian cuma hubungan dosen mahasiswa biasa, tapi kayaknya nggak semua orang percaya."

Kirana menghela napas panjang, meremas ujung buku catatannya. "Makasih udah bela aku, Nad. Tapi aku juga nggak tau harus gimana lagi ngadepin ini."

Kelas dimulai seperti biasa, tapi dosen yang mengajar hari itu bukan Alden, melainkan dosen pengganti karena jadwal Alden sedang dialihkan untuk sementara waktu, sesuatu yang membuat Kirana semakin cemas memikirkan alasan di baliknya.

"Kir, kenapa Pak Alden nggak ngajar hari ini?" bisik Tesa, ikut heran dengan perubahan jadwal mendadak itu.

"Nggak tau, Tes. Mungkin lagi ada urusan lain," jawab Kirana, meski dalam hati dia mulai khawatir jangan jangan ini ada hubungannya dengan pertemuan mereka di ruang kaprodi kemarin.

Sepanjang kelas, Kirana sulit berkonsentrasi, pikirannya terus melayang pada berbagai kemungkinan yang bisa menjelaskan ketidakhadiran Alden. Dia mencoba mengirim pesan singkat, tapi menahan diri, mengingat kesepakatan mereka untuk lebih berhati hati dalam berkomunikasi.

Ketika jam istirahat tiba, Kirana berjalan menuju kantin bersama Tesa, tapi baru beberapa langkah, dia berpapasan dengan Aji dan Ratna dari kelompok gabungan, keduanya terlihat ingin bicara sesuatu.

"Kir, boleh ngomong sebentar?" tanya Aji, nadanya lebih serius dari biasanya.

"Boleh, ada apa?" Kirana berhenti, sedikit waspada dengan raut wajah mereka berdua.

"Kami cuma mau bilang," Ratna memulai, memilih kata katanya hati hati, "kalau soal foto itu, kami nggak percaya ada yang aneh aneh di antara kamu sama Pak Alden. Kami liat sendiri kalian kerja bareng, emang wajar aja kalau sering diskusi."

"Makasih banyak, Ratna," Kirana merasa sedikit terharu mendengar dukungan itu. "Aku beneran khawatir kalian juga mulai mikir yang macem macem."

"Nggak kok, Kir," Aji menambahkan, tersenyum meyakinkan. "Tapi emang, banyak juga yang nanya nanya ke kita, jadi kita cuma mau kasih tau aja, biar kamu nggak ngerasa sendirian ngadepin ini."

Kirana mengangguk, merasa sedikit lega mendapat dukungan dari orang orang yang selama ini bekerja sama dengannya di kelompok gabungan. Tapi rasa lega itu tidak sepenuhnya menghapus kekhawatiran yang masih menggantung di benaknya.

Menjelang sore, ketika Kirana sedang duduk sendirian di perpustakaan, mencoba menenangkan pikiran sambil membaca beberapa referensi tambahan untuk tugas lain, ponselnya bergetar. Pesan dari Alden muncul di layar.

"Kirana, maaf saya nggak masuk kelas hari ini. Ada rapat mendadak dengan dekanat soal evaluasi. Saya baik baik aja, jangan khawatir."

Kirana membaca pesan itu berulang kali, merasakan sedikit kelegaan meski masih ada kekhawatiran yang tersisa. Dia membalas cepat. "Syukurlah, Pak. Saya kira ada apa apa tadi. Semoga rapatnya lancar."

"Terima kasih. Kirana, saya juga mau bilang, mungkin untuk beberapa minggu ke depan, komunikasi kita perlu lebih terbatas lagi. Bukan karena saya nggak mau, tapi karena situasinya masih terlalu berisiko," balas Alden, disusul jeda beberapa menit sebelum pesan berikutnya menyusul. "Saya harap kamu ngerti."

Kirana menatap layar ponselnya lama, merasakan berat di dadanya membaca pesan itu. Meski dia mengerti alasan di baliknya, kenyataan bahwa mereka harus semakin membatasi komunikasi terasa seperti kehilangan sesuatu yang baru saja mulai tumbuh dengan begitu berarti.

"Saya ngerti, Pak," dia mengetik balasan, meski jarinya terasa berat menekan setiap huruf. "Saya akan tunggu, sampai situasinya lebih tenang."

Tidak ada balasan lebih lanjut setelah itu, dan Kirana meletakkan ponselnya di atas meja perpustakaan, menatap kosong ke arah rak buku di depannya. Rasa sepi yang tiba tiba muncul terasa begitu asing, mengingat baru beberapa minggu terakhir dia terbiasa dengan kehadiran Alden yang meski terbatas, tetap memberikan kehangatan tersendiri dalam hari harinya.

Malam itu, Kirana berbaring di kasurnya, memandangi langit langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Ponselnya bergetar, menampilkan panggilan video dari Tesa.

"Kir, kamu udah makan belum?" tanya Tesa begitu panggilan tersambung, wajahnya terlihat khawatir melihat raut Kirana yang murung.

"Udah, tapi nggak nafsu banget, Tes," jawab Kirana, menghela napas panjang.

"Ada apa? Cerita dong," Tesa mendesak lembut.

Kirana menceritakan pesan dari Alden sore tadi, tentang keputusan untuk semakin membatasi komunikasi mereka demi keamanan bersama. "Aku ngerti sih alasannya, Tes. Tapi rasanya berat banget."

"Kir, aku tau ini susah," Tesa berkata, suaranya penuh empati. "Tapi mungkin ini emang yang terbaik buat sekarang. Kalian berdua butuh waktu buat biarin badai ini reda dulu."

"Aku takut, Tes," Kirana mengaku, suaranya bergetar. "Takut kalau semakin lama kita jaga jarak, semakin susah juga buat balik lagi kayak sebelumnya."

"Kalau perasaan itu emang bener bener kuat, Kir, jarak nggak akan bisa ngilangin itu," Tesa mencoba menenangkan. "Justru mungkin ini kesempatan buat kalian berdua mikir lebih jernih, tanpa terburu buru sama situasi yang penuh tekanan kayak sekarang."

Kirana terdiam, mencoba mencerna kata kata sahabatnya itu. "Kamu bener juga sih, Tes. Mungkin aku emang butuh waktu buat mikirin semuanya dengan lebih tenang."

Mereka melanjutkan obrolan sampai cukup larut, membicarakan hal hal lain untuk mengalihkan pikiran Kirana dari kekhawatiran yang terus menghantuinya. Tapi begitu panggilan berakhir dan kamar kembali sunyi, Kirana kembali menatap langit langit, pikirannya tetap dipenuhi bayangan Alden dan ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi pada hubungan mereka di tengah semua tekanan yang terus bertambah dari hari ke hari.

Dia meraih ponselnya sekali lagi, membuka percakapan terakhir dengan Alden, membaca ulang pesan singkat itu berkali kali seolah mencari makna tersembunyi di antara kata katanya. Meski jaraknya semakin lebar, perasaannya justru terasa semakin nyata, semakin sulit dia sangkal bahwa apa yang tumbuh di antara mereka bukan sekadar kekaguman sesaat, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih rumit dari yang pernah dia bayangkan sebelumnya.

"Semoga badai ini cepet reda," bisiknya pelan sebelum akhirnya menutup mata, membiarkan kelelahan hari itu perlahan membawanya ke dalam tidur yang tidak sepenuhnya tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!