Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Hujan belum juga berhenti.
Butiran air terus menghantam kaca-kaca besar Mansion Laurent, sementara di ruang rapat suasana masih dipenuhi ketegangan.
Lucas bersama Adrian dan seluruh kepala pengawal sibuk menyusun strategi penyelamatan Isabel.
Di layar monitor, peta kota terus berganti.
Nama-nama gudang.
Jalur distribusi.
Gudang kosong.
Bekas pabrik.
Semua diperiksa satu per satu.
Sementara itu...
Di lantai dua mansion...
Alyssa sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Ia duduk di sofa dekat jendela.
Tatapannya kosong menembus hujan.
Pikirannya dipenuhi wajah Isabel.
"Aku harap kau bertahan, bukan karena aku membelamu. Tetapi rahasia orang tuaku yang kau bawa jangan ikut punah bersama kekejamanmu..."
"Aku pasti akan menolongmu, lalu membalas dendam dengan caraku sendiri..."
Suara lirih itu hampir tak terdengar.
Tiba-tiba...
Krek...
Pintu kamarnya terbuka sedikit.
Alyssa menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
"Hm?"
Ia berdiri.
Pelan-pelan berjalan mendekati pintu.
Begitu dibuka...
Koridor kosong.
"Halo?"
Tidak ada jawaban.
Baru saja ia hendak menutup pintu...
Bruk!
Sesuatu menabrak betisnya.
"Aduh!"
Alyssa menunduk.
Seekor dinosaurus mainan besar menggelinding mengenai kakinya.
Di belakang pot bunga...
Muncul kepala kecil dengan rambut hitam sedikit berantakan.
Bocah itu menjulurkan lidah.
"Hehehe..."
Leonardo.
Anak Lucas.
Usianya baru lima tahun.
Dengan mata abu-abu yang sama persis seperti ayahnya.
Namun ekspresinya jauh lebih jahil.
"Kena!"
Leonardo tertawa puas.
Alyssa menghela napas panjang.
"Ternyata kamu."
Leonardo menyilangkan tangan.
"Aku bukan 'kamu'."
"Aku Leonardo Laurent."
"Bilang yang sopan."
Alyssa hampir tersenyum.
"Iya, Tuan Leonardo."
Leonardo mengangguk puas.
"Nah begitu."
Lalu tanpa aba-aba...
Ia mengambil dinosaurus tadi.
Kemudian...
Melemparkannya lagi.
Buk!
Mainan empuk itu mengenai perut Alyssa.
"Hahaha!"
Leonardo tertawa sampai memegang perut.
"Kena lagi!"
Alyssa memungut boneka dinosaurus itu.
"Kenapa dilempar?"
"Bosen."
"Lalu?"
"Jadi aku lempar."
"Itu alasannya?"
"Iya."
Alyssa benar-benar tidak tahu harus tertawa atau kesal.
Belum sempat berkata apa-apa...
Leonardo sudah berlari masuk ke kamar Alyssa.
"Eh!"
"Leonardo!"
Bocah itu membuka lemari.
"Wah..."
"Bajunya jelek."
Alyssa membelalakkan mata.
"Itu tidak sopan."
Leonardo mengangkat satu sweater.
"Warnanya kayak bubur."
"Itu warna krem."
"Sama aja."
Ia meletakkannya lagi.
Kemudian membuka laci.
"Hm?"
"Ada buku."
Leonardo membukanya.
Lalu membalik halaman dengan cepat.
"Aku bosan."
Buku itu ditutup asal.
Alyssa buru-buru mengambilnya.
"Jangan sembarangan."
Leonardo malah tersenyum jahil.
"Kalau aku sembarangan memang kenapa?"
"Aku lapor Daddy."
Alyssa berkedip.
"Lho?"
"Kan Daddy selalu belain aku."
Nada bicara Leonardo begitu percaya diri.
Alyssa tidak bisa membantah.
Mungkin memang benar.
Bocah itu adalah putra semata wayang Lucas.
Leonardo berjalan mengelilingi kamar.
Matanya berhenti pada vas bunga.
"Hm..."
Alyssa mulai curiga.
"Leonardo..."
"Iya?"
"Jangan..."
Belum selesai berbicara...
Leonardo sudah mengambil satu bunga.
Lalu menyembunyikannya di belakang punggung.
"Aku pinjam."
"Itu bukan pinjam."
"Itu ambil."
"Beda."
"Kalau nanti dibalikin jadi pinjam."
Alyssa mengusap pelipisnya.
"Astaga..."
Leonardo tertawa lagi.
Rasanya menyenangkan mengganggu wanita itu.
Karena reaksinya lucu.
Tiba-tiba...
Ia melihat ponsel Alyssa yang tergeletak di meja.
Mata bocah itu langsung berbinar.
"Wah!"
"HP!"
Sebelum Alyssa sempat mencegah...
Leonardo sudah mengambilnya.
"Leonardo!"
"Balikin."
"Nggak mau."
Leonardo langsung berlari keluar kamar.
"Kejar kalau bisa!"
"Leonardo!"
Koridor mansion mendadak ramai.
Seorang pelayan yang melihat mereka sampai menutup mulut menahan tawa.
"Nona Alyssa..."
"Mari saya bantu."
"Tidak apa-apa."
Alyssa berlari kecil mengejar Leonardo.
Namun bocah itu lincah sekali.
Ia bersembunyi di balik pilar.
Di bawah meja.
Masuk ke ruang baca.
Keluar lagi.
"HAHAHA!"
"Kamu lambat!"
Alyssa akhirnya berhasil menyusul.
Saat hampir menangkapnya...
Leonardo menyodorkan ponsel itu.
"Nih."
Alyssa menghela napas lega.
"Terima kasih."
Namun...
Begitu tangannya hendak mengambil...
Leonardo menarik lagi.
"Hehehe..."
"Ketipu."
"Leonardo..."
Akhirnya Alyssa benar-benar tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak menerima ancaman Patrick.
Melihat senyum itu...
Leonardo mendadak diam.
"Eh?"
"Kok ketawa?"
Alyssa mengusap air mata sisa tangisnya.
"Kamu memang nakal."
Leonardo mendengus.
"Aku bukan nakal."
"Aku pemberani."
"Oh ya?"
"Iya."
"Aku calon bos mafia kayak Daddy."
Alyssa terdiam.
Senyumnya perlahan memudar.
Kalimat polos itu mengingatkannya pada bahaya yang sedang mengintai keluarga ini.
Leonardo memperhatikan wajah Alyssa.
"Kok diem?"
"Tidak apa-apa."
"Tadi nangis ya?"
Alyssa buru-buru menggeleng.
"Tidak."
"Bohong."
"Aku lihat matanya merah."
Alyssa tidak menjawab.
Leonardo ikut diam.
Beberapa saat kemudian...
Dengan suara pelan...
"Aku tahu."
"Tahu apa?"
"Daddy lagi berantem sama orang jahat."
Alyssa menatap bocah itu.
Leonardo menggembungkan pipinya.
"Semuanya pada sibuk."
"Paman Adrian juga."
"Paman Rio juga."
"Pengawal juga."
"Nggak ada yang nemenin aku."
Nada suaranya berubah sedikit kecewa.
Alyssa berjongkok agar sejajar dengannya.
"Maaf ya."
Namun wajah Leonardo malah berubah cemberut.
"Kamu!"
"Aku?"
"Iya kamu!"
"Aku kenapa?"
Leonardo menunjuk Alyssa dengan jari telunjuk mungilnya.
"Ini gara-gara kamu."
Alyssa membeku.
"Daddy jadi pergi."
"Daddy nggak bacain aku cerita."
"Daddy juga belum nemenin aku main."
"Daddy lagi lawan orang jahat..."
"Karena kamu."
Kalimat polos itu menusuk hati Alyssa.
Ia menundukkan kepala.
"Aku..."
Leonardo masih terus mengomel.
"Daddy biasanya nggak sesibuk ini."
"Kalau malam suka temenin aku."
"Sekarang malah rapat terus."
"Semua gara-gara kamu."
Air mata Alyssa perlahan kembali menggenang.
"Maaf..."
Leonardo melipat tangan.
"Hmph."
"Aku nggak suka kamu tinggal di mansion."
"Kalau kamu nggak ada..."
"Daddy pasti nggak capek."
Alyssa benar-benar tidak mampu menjawab.
Ucapan bocah itu memang polos.
Namun semuanya terdengar seperti kenyataan.
Ia kembali merasa dirinya adalah sumber masalah.
Leonardo masih menggerutu.
"Tiap hari Daddy nyuruh orang jagain kamu."
"Aku aja kadang nggak boleh masuk ruang kerja."
"Padahal aku anaknya."
"Aneh."
Alyssa menggigit bibir bawahnya.
"Maafkan aku."
Leonardo memalingkan wajah.
"Hmph."
"Aku nggak mau."
Saat suasana mulai canggung...
Terdengar suara berat dari ujung koridor.
"Leonardo."
Bocah itu langsung menoleh.
Lucas berdiri di sana.
Masih mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung.
Tatapannya tenang.
Namun cukup membuat seluruh pelayan menundukkan kepala.
Leonardo spontan tersenyum.
"Daddy!"
Ia langsung berlari.
Lucas mengangkat putranya ke dalam pelukan.
"Apa yang kau lakukan?"
Leonardo menunjuk Alyssa.
"Aku lagi marahin dia."
Lucas mengangkat alis.
"Kenapa?"
"Soalnya Daddy capek gara-gara dia."
Lucas terdiam beberapa detik.
Kemudian menatap Alyssa.
Wanita itu langsung menunduk.
Lucas mengerti.
Pasti ucapan polos Leonardo membuat Alyssa kembali menyalahkan dirinya.
Lucas mengusap kepala putranya.
"Leonardo."
"Iya?"
"Dengarkan Daddy baik-baik."
"Apa?"
"Daddy memang sedang melawan orang jahat."
"Iya."
"Tapi bukan karena Alyssa."
Leonardo mengerutkan dahi.
"Bukan?"
"Bukan."
Lucas menatap mata putranya.
"Daddy melawan orang jahat karena memang itu tugas Daddy."
"Kalau ada orang baik yang disakiti..."
"Daddy harus melindunginya."
Leonardo berpikir.
"Lho..."
"Jadi bukan salah Kak Alyssa?"
"Bukan."
"Tapi Daddy jadi sibuk."
Lucas tersenyum tipis.
"Kalau suatu hari nanti ada temanmu diganggu orang nakal..."
"Apa yang akan Leonardo lakukan?"
Bocah itu langsung menjawab bangga.
"Aku pukul!"
Lucas terkekeh pelan.
"Bukan begitu."
"Aku bantu."
"Nah."
"Begitu juga Daddy."
Leonardo kembali berpikir keras.
Lalu menoleh kepada Alyssa.
"Waktu Daddy nolong aku pas jatuh sepeda..."
"Itu juga sama?"
Lucas mengangguk.
"Iya."
"Kalau begitu..."
Leonardo menggigit bibir.
Perlahan ia turun dari gendongan ayahnya.
Ia berjalan mendekati Alyssa.
Wajahnya masih sedikit cemberut.
"Aku..."
Alyssa tersenyum tipis.
"Iya?"
Leonardo menggaruk belakang kepalanya.
"Aku tadi..."
"Kejahatan ngomongnya."
Alyssa tertawa pelan.
"Maksudnya jahat?"
"Iya itu."
"Maaf."
Ia mengulurkan dinosaurus mainan kesayangannya.
"Nih."
Alyssa tampak bingung.
"Untukku?"
"Iya."
"Kalau Daddy bilang kamu orang baik..."
"Berarti aku nggak boleh nakal terus."
Alyssa menerima boneka itu dengan kedua tangan.
"Terima kasih."
Namun sedetik kemudian...
Leonardo kembali memasang senyum jahil.
"Tapi..."
Alyssa berkedip.
"Apa?"
"Besok aku jahilin lagi."
Lucas menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.
"Leonardo..."
Bocah itu tertawa keras.
"Kan tadi cuma minta maaf, bukan janji berhenti jahil!"
Ucapan polos itu membuat beberapa pelayan yang sejak tadi memperhatikan akhirnya ikut tertawa.
Bahkan Alyssa, yang beberapa menit sebelumnya tenggelam dalam rasa takut dan bersalah, tak mampu menahan tawanya.
Untuk sesaat...
Di tengah hujan, ancaman Patrick, dan perlombaan melawan waktu untuk menyelamatkan Isabel...
Koridor Mansion Laurent dipenuhi oleh tawa seorang anak kecil yang jahil.
Dan Lucas, melihat senyum yang kembali muncul di wajah Alyssa, diam-diam berharap senyum itu masih bisa ia lindungi... apa pun yang akan terjadi setelah malam ini.