Saat Arsenio Malik (29) memilih untuk menikahi kakak kandung Seraphina Allena (25) yang bernama Kalani Gianna (27), hati Seraphina saat itu benar-benar patah. Dia diberi pengkhianatan ganda dari dua orang yang tak pernah ia sangka akan tega menusuknya dari belakang. Kalani ternyata sudah hamil. Dan, kedua orangtua mereka malah berdiri di sisi Kalani untuk membela kesalahan anak pertama mereka.
Saat Seraphina merasa ditinggal sendirian di dunia ini, datanglah Kaivan Lyonel Marvin (30) yang menjadi obat bagi luka hati Seraphina. Karena kelembutan dan perhatian Kaivan, Seraphina akhirnya memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu.
Namun, empat tahun setelah pernikahan mereka, Seraphina baru tahu jika ternyata Kaivan menikahinya hanya supaya Seraphina tidak mengusik pernikahan Kalani dan Arsenio.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu ternyata juga mencintai Kalani. Dia bahkan rela berkorban dengan menikahi Seraphina hanya demi memastikan agar Sera tidak balas dendam kepada Kalani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Bagaimana menurutmu?"
"Tentang apa?" tanya Seraphina sambil bersandar di body mobil. Tangannya terlipat di depan dada.
"Tentang keluarga Daddy-ku."
Seraphina mengerutkan dahinya. Seolah sedang berpikir dengan keras.
"Kakek mu baik. Tapi, Daddymu..." Seraphina sedikit meringis. Ia menggeleng pelan. "Sebelas dua belas dengan Ayahku."
Mendengar itu, Noah sedikit terhibur. "Ya, kamu benar. Daddy-ku dan Ayahmu memang punya sedikit kesamaan. Sama-sama emosian."
Keduanya sama-sama tertawa. Kemudian, tatapan Seraphina tertuju pada bagian belakang kemeja Noah yang masih tampak basah.
"Bajumu basah, Noah. Kita harus cepat-cepat sampai di rumah agar kamu bisa berganti pakaian."
"Tidak perlu," tukas Noah. "Aku selalu bawa baju ganti di mobil."
Pria itu berjalan cepat menuju ke bagasi. Dibukanya bagasi mobil mewahnya kemudian mengambil sebuah paperbag berisi baju ganti yang selalu dia persiapkan tanpa pernah terlupa.
Maklum, kejadian seperti hari ini sangat sering terjadi kepada Noah.
"Masuklah! Kita akan pulang," kata Noah.
Seraphina mengangguk kaku. Dia masuk ke mobil kemudian di susul oleh Noah.
"Noah, apa yang kamu lakukan?" pekik Seraphina kaget saat pria itu tiba-tiba membuka kemejanya didalam mobil.
"Apa lagi? Tentu saja mengganti baju ku," jawab Noah.
"Seharusnya, kamu bilang kalau kau ganti baju dulu. Kan, aku bisa menunggu sebentar di luar."
Hening sejenak. Tak lama, tawa Noah terdengar membahana.
Seraphina yang sedang menutup wajahnya dengan telapak tangan itu pun diam-diam mengintip melalui sela jarinya.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Seraphina.
"Kamu polos sekali," kata Noah. "Apa kau tidak pernah melihat tubuh pria sebelumnya?"
Sekarang, Noah sudah mengganti kemejanya dengan kemeja yang baru.
"Pernah," jawab Seraphina. Walau bagaimanapun, dia perempuan yang sudah pernah menikah.
"Lalu, kenapa kau kelihatan malu-malu?"
"Karena aku belum pernah melihat yang seperti itu," jawab Seraphina dengan pipi memerah.
"Maksudnya, yang seperti apa?"
Noah memajukan tubuhnya ke arah Seraphina. Reflek, perempuan itu pun mundur dengan perasaan deg-degan.
"Ma-maksud ku, aku belum pernah melihat tubuh pria sebaik punyamu. Ehmmm..." Seraphina meneguk ludahnya. "...yang kotak-kotak begitu." Dia menunjuk malu-malu ke arah perut Noah.
Ya, tubuh Kaivan memang tidak atletis. Dia tak seperti Arsen apalagi Noah. Meski, Kaivan punya proporsi tubuh yang bagus, namun ototnya tidak terbentuk karena nyaris tak pernah berolahraga.
"Kau mau pegang?"
Tiba-tiba saja, Noah memegang tangan Seraphina kemudian hendak mengarahkan ke perutnya.
"Ti-dak usah," tolak Seraphina. Dia berusaha menarik tangannya tapi Noah juga tak mau mengalah.
"Sentuh saja!"
"Nanti saja," jawab Seraphina seraya mengerahkan seluruh tenaganya hingga tangannya akhirnya bisa terlepas.
"Nanti saja? Maksudnya, nanti malam??" tanya Noah.
Pria itu senang sekali melihat ekspresi Seraphina yang seperti sekarang. Cara perempuan itu bersikap malu-malu sungguh terlihat sangat menggemaskan.
Noah rasanya ingin sekali menggigit pipinya.
"Bukan begitu juga maksudku," kata Seraphina.
"Lalu, seperti apa?" Noah bertanya lagi. "Tidak usah malu-malu! Bilang saja! Pembahasan seperti ini wajar bagi pasangan suami istri."
"Su-sudah lah! Jangan banyak bicara! Lebih baik kita pulang."
"Ah, ada yang sudah tidak sabar rupanya." Noah memundurkan tubuhnya kembali.
"Tidak sabar apa?" tanya Seraphina dengan wajah yang sudah semerah tomat matang.
"Tidak sabar untuk meniduri ku," jawab Noah.
Sepasang mata Seraphina langsung melotot lebar. Mulutnya setengah terbuka. Namun, tak sepatah kata pun yang mampu dia ungkapkan.
"Noah, kamu..."
Dan, Noah hanya tertawa. Akhirnya, dia punya seseorang yang bisa membuatnya tertawa selepas ini.
*****
Sampai di rumah, hari sudah menjelang petang. Seraphina turun dari mobil lebih dulu. Dibelakangnya, Noah menyusulnya dengan tatapan jenaka.
"Sayang... istriku! Kenapa cepat-cepat sekali jalannya?" teriak Noah dari belakang. "Suamimu ketinggalan. Apa yang ingin kamu unboxing kalau aku saja masih di sini? Hei!"
"Aish!!!" Seraphina benar-benar malu. Apalagi, kondisi rumah sedang ramai. Banyak pelayan yang berlalu-lalang.
"Sera, Sayangku!!!" Noah masih berusaha menyusul.
Tapi, semakin cepat langkahnya, semakin buru-buru pula Seraphina meninggalkannya.
"Hei, istri!! Jangan jual mahal begitulah," teriak Noah lagi.
Seraphina tak tahan lagi. Dia menoleh dengan alis yang nyaris menyatu.
"Mulutmu bisa di rem, tidak?" bentak Seraphina.
Noah langsung mengatupkan rahangnya. "Bisa," jawabnya sambil nyengir.
"Kalau begitu, jangan bicara lagi. Diam saja, Noah!"
Seraphina tak berani mengangkat kepalanya. Sejujurnya, dia takut pada Noah. Dia sudah mencari tahu sedikit tentang Noah dan semua berita yang dia dapatkan tak satupun yang merupakan pemberitaan positif.
Noah terkenal tempramental dan impulsif.
Jika ada yang membuatnya marah, Noah cenderung menyelesaikan permasalahan dengan tinjunya.
Memikirkan itu saja, Seraphina sudah panas dingin. Tapi, mau bagaimana lagi? Saat ini, dia sangat malu sampai-sampai berharap bisa menemukan lubang tikus yang bisa ia tempati bersembunyi dari tatapan para pelayan.
Semuanya karena mulut Noah yang sangat mirip seperti petasan.
"Baiklah, Nyonya! Aku akan diam," angguk Noah patuh.
Seraphina salah tingkah. Dia buru-buru melanjutkan langkahnya ke kamar.
"Wah, istriku ternyata galak juga," desis Noah. "Ini menarik. Aku belum pernah dimarahi oleh seorang wanita muda sebelumnya."
Sampai di kamar, Seraphina segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia membasuh wajahnya berkali-kali. Berusaha menjernihkan pikiran yang sempat begitu keruh gara-gara Noah.
"Astaga! Sebenarnya, aku menikah dengan pria yang seperti apa?" gumam Seraphina.
"Apa setelah ini, Noah akan memukuliku karena sudah berani membentaknya di depan pelayan?'
Seraphina menggigit bibir bawahnya. Rasa takut perlahan menjalari tubuhnya.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu membuat Seraphina tersentak kaget. Perempuan itu pun menarik napas panjang kemudian membuka pintu dengan wajah yang dipaksa untuk tersenyum.
"Noah, aku..."
"Sayang..."
Noah menerobos masuk. Dia memeluk pinggang Seraphina lalu mendudukkannya diatas wastafel.
"Noah, kamu mau apa?" tanya Seraphina gugup.
Pria itu berdiri diantara kedua pahanya. Hidungnya mengendus-endus wajah Seraphina. Persis seperti kucing kecil yang manja.
"Aku ingin dimandikan," kata Noah dengan nada manja. "Mandikan aku, ya!" Ia menggesek-gesekkan kepalanya di tulang selangka wanita.
"Noah, ka-kamu sudah dewasa. Masa' masih mau dimandikan?" Suara Seraphina gemetar.
Laki-laki ini terlalu berbahaya. Wajah dan kelakuannya bisa membuat para wanita jadi kehilangan akal.
Tapi, Seraphina juga tak lupa jika pria yang sedang bermanja dalam pelukannya ini adalah pria yang sama, yang digosipkan pernah memukuli seorang wanita hanya karena ajakan untuk menginap di kamar hotelnya di tolak.
Apa Seraphina akan bernasib sama seperti wanita itu jika menolak keinginan Noah saat ini?
"Memangnya, kenapa kalau aku sudah dewasa, hm? Toh, aku hanya meminta dimandikan oleh istriku sendiri. Bukan dengan perempuan lain."
"Noah, tapi, pernikahan kita hanya pernikahan kontrak. Aku rasa, hal seperti ini terlalu berlebihan."
"Seraphina," panggil Noah seraya mencium dagu perempuan itu. "Siapa bilang kalau pernikahan kita hanya pernikahan kontrak?"
cangkir masih bisa tenang 🤔🤔🤔🤔
biar laaa si kalani ngereog dluu smpe dy capeee🤭🤭🤭🤣🤣🤣