NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Harga dari Sebuah Kekuatan dan Mata yang Melihat Segalanya

​Asap sisa kebakaran masih mengepul tipis dari puing-puing bangunan di sekitar alun-alun Pulau Toroa. Di tengah medan pertempuran yang hancur berantakan itu, Roronoa Zoro berdiri dengan napas yang memburu. Matanya yang tajam menatap bergantian ke arah dua sosok pemuda di hadapannya—Giyu Tomioka dengan pedang airnya yang tenang, dan Zenitsu Agatsuma yang baru saja melesat layaknya kilatan petir dari langit.

​Zoro menurunkan Wado Ichimonji dari mulutnya, memegangnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya menyarungkan dua katana standar miliknya. Sikap bertarungnya telah mereda, namun kewaspadaannya justru berada di titik tertinggi. Sebagai seorang pendekar pedang yang telah mengasah instingnya di ambang hidup dan mati berkali-kali, Zoro merasakan sebuah keganjilan yang luar biasa dari kedua orang ini.

​"Kalian..." Zoro memulai, suaranya berat dan memecah keheningan malam yang canggung. "Kalian sangat kuat. Tapi ada yang aneh. Saat pedang kita beradu tadi, aku tidak merasakan 'niat' dari tebasanmu." Zoro menatap lurus ke arah mata biru gelap Giyu. "Tidak ada niat membunuh, tidak ada niat melindungi, tidak ada emosi sama sekali. Seolah-olah aku sedang beradu pedang dengan boneka baja yang dikendalikan oleh hantu."

​Di atas menara lonceng yang berjarak ratusan meter, Muzan Kibutsi yang duduk bersandar di dinding bata yang dingin, tersenyum tipis. Keringat membasahi dahi anak berusia empat belas tahun itu. Sakit kepala yang berdenyut hebat mulai menyiksa pelipisnya akibat mempertahankan sinkronisasi mental ganda. Namun, mendengar analisis Zoro membuatnya merasa kagum. Insting pendekar masa depan dari kru Topi Jerami itu memang tidak bisa diremehkan. Zoro bisa merasakan ketiadaan jiwa di dalam boneka-boneka tersebut, meskipun ia tidak memahami konsep Puppet System.

​Muzan tahu, percakapan lebih lanjut hanya akan menimbulkan kecurigaan. Ia harus segera menarik kedua bonekanya dan memulihkan diri.

​Melalui kendali mentalnya, Muzan membuat Giyu menyarungkan pedang Nichirin-nya dengan gerakan yang perlahan dan sangat terukur. Bunyi klik dari tsuba yang menyentuh sarung pedang bergema pelan.

​"Dunia ini sangat luas, Roronoa Zoro," ucap Giyu datar, suaranya diatur oleh Muzan untuk memberikan kesan misterius yang mendalam. "Apa yang kau lihat di hadapanmu hanyalah riak kecil di permukaan lautan. Jika tujuanmu adalah menjadi yang terkuat... maka kau masih harus berlayar lebih jauh lagi."

​Zoro menyeringai lebar. Alih-alih merasa terhina oleh nasihat tersebut, darahnya justru mendidih karena antusiasme. Ia menyarungkan Wado Ichimonji ke pinggangnya. "Menarik. Aku tidak tahu dari mana asal kalian, atau aliran pedang aneh macam apa yang kalian gunakan. Tapi ingat baik-baik... Suatu hari nanti, jika kita bertemu lagi, pedangku tidak akan berhenti hanya pada memotong sabuk perutku." Zoro melirik ke arah sabuk haramaki hijaunya yang telah terputus akibat kecepatan Zenitsu. "Aku akan melampaui kalian."

​Giyu tidak membalas. Ia hanya membalikkan badannya. Di saat yang sama, Zenitsu—yang masih berada dalam mode tidur mematikannya—bergerak dengan kecepatan kilat, meraih kerah belakang haori Giyu.

​Dalam sekejap mata, percikan listrik kuning meledak ringan di udara.

​ZZZTTT!

​Keduanya menghilang dari pandangan Zoro dan para prajurit Angkatan Laut yang tersisa, meninggalkan embusan angin kencang yang menyapu debu jalanan. Mereka bergerak terlalu cepat untuk diikuti oleh mata telanjang, melesat melintasi atap-atap rumah penduduk menuju arah gereja tua.

​Zoro mendengus pelan, senyum puas masih terukir di wajahnya. Ia berbalik dan berjalan menjauh dari alun-alun, sama sekali tidak mempedulikan Letnan Roka yang masih ternganga kebingungan. Malam ini, Zoro mendapatkan pelajaran berharga bahwa East Blue mungkin tidak selemah yang ia bayangkan.

​Di puncak menara lonceng, Muzan memutus sinkronisasi kesadarannya secara paksa tepat ketika Giyu dan Zenitsu mendarat di lantai kayu menara.

​"Ukh..."

​Muzan mengerang tertahan. Tubuh aslinya yang kurus dan lemah langsung ambruk ke lantai kayu yang berdebu. Ia memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Rasanya seolah-olah otaknya baru saja diremas dan ditarik ke dua arah yang berlawanan. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa sakit ini adalah kompensasi mutlak dari hukum pertukaran yang adil. Mengendalikan dua kekuatan manusia super secara bersamaan dengan otak seorang remaja yang kekurangan gizi adalah tindakan yang menyiksa saraf.

​"Sistem..." bisik Muzan dengan suara parau yang bergetar. "Tarik kembali Giyu dan Zenitsu ke dalam Puppet Storage."

​Di hadapannya, tubuh Giyu dan Zenitsu seketika terurai menjadi partikel-partikel cahaya—cahaya biru gelap dan cahaya kuning keemasan—yang kemudian melesat masuk ke dalam dahi Muzan.

​Begitu kedua boneka itu ditarik kembali, beban komputasi di otak Muzan menghilang. Rasa sakit kepalanya mereda drastis, menyisakan kelelahan fisik yang luar biasa dan rasa lapar yang membakar perutnya. Ia belum makan apa pun sejak bereinkarnasi ke dunia ini.

​Muzan berguling telentang, menatap langit-langit menara kayu yang berlubang, membiarkan cahaya bulan sabit menyinari wajahnya yang pucat dan kotor.

​"Kelemahan terbesarku benar-benar tubuh fisik ini," gumamnya pelan di tengah napasnya yang berat. "Aku tidak bisa terus-menerus bersembunyi di balik bayang-bayang jika batas sinkronisasiku begitu rendah. Aku harus mencari cara untuk melatih tubuh ini, atau setidaknya mencari Buah Iblis tipe Zoan yang bisa meningkatkan vitalitas dasar... Tidak, Buah Iblis akan membuatku kehilangan kemampuan berenang. Di dunia yang sembilan puluh persennya adalah lautan, itu adalah kelemahan fatal."

​Muzan menyingkirkan pikiran itu untuk sementara. Prioritas saat ini adalah memulihkan diri. Ia merogoh saku celananya yang robek dan mengeluarkan beberapa gulung uang kertas kotor serta uang logam bernilai 4.850 Belly yang ia rampas dari ketiga preman sebelumnya. Ia sengaja tidak menyerap uang receh ini ke dalam sistem untuk keperluan transaksi sehari-hari di dunia nyata.

​Dengan bertumpu pada dinding, Muzan memaksa dirinya berdiri. Kaki kurusnya sedikit gemetar. Ia harus keluar dari gereja ini sebelum ada prajurit Angkatan Laut yang melakukan patroli penyisiran.

​Muzan menuruni tangga spiral menara dengan hati-hati. Begitu sampai di lantai dasar, ia menyelinap keluar melalui pintu belakang gereja, menghindari jalan utama yang kini dipenuhi oleh warga dan prajurit yang sedang memadamkan sisa-sisa api. Ia menyusuri gang-gang gelap di bagian barat kota pelabuhan, daerah yang tidak terkena dampak amukan Kapten Barts.

​Setelah berjalan tertatih-tatih selama hampir dua puluh menit, Muzan menemukan sebuah penginapan kecil berlantai dua yang terlihat murah namun bersih. Papan namanya berbunyi 'Sea Gull Inn'. Beberapa pelaut terlihat tertidur mabuk di teras depannya.

​Muzan merapikan pakaian compang-campingnya sebisa mungkin, menghapus sebagian kotoran dari wajahnya, lalu mendorong pintu kayu penginapan itu. Suara lonceng kecil bergemerincing di atas pintu.

​Seorang wanita paruh baya bertubuh gempal yang sedang mengelap gelas di meja resepsionis menoleh. Alisnya berkerut melihat seorang anak gembel masuk ke penginapannya.

​"Hei, Nak, ini bukan tempat penampungan. Kalau kau mau meminta sisa makanan, pergilah ke pintu dapur di belak—"

​Kata-kata wanita itu terpotong ketika Muzan meletakkan dua lembar uang bernilai 1.000 Belly dan sekeping koin 500 Belly di atas meja konter. Mata hitam anak itu menatap dingin, memancarkan aura kedewasaan yang sangat tidak wajar untuk usianya.

​"Aku butuh satu kamar untuk malam ini. Air hangat untuk mandi. Dan makanan yang layak. Sebanyak yang bisa dibeli dengan sisa uang ini," ucap Muzan dengan nada yang tenang namun memerintah.

​Wanita itu terdiam sejenak, terintimidasi oleh tatapan Muzan, sebelum akhirnya mengambil uang tersebut. Di East Blue, uang adalah raja. Selama pelanggan bisa membayar, mereka tidak akan banyak bertanya.

​"Kamar nomor 4 di lantai dua. Kuncinya ada di pintu. Aku akan menyuruh pelayan membawakan seember air hangat dan mengantarkan makan malammu dalam lima belas menit," kata wanita itu seraya memasukkan uang ke dalam celemeknya.

​"Terima kasih."

​Muzan mengambil kunci kayu dari meja dan berjalan menaiki tangga. Kamarnya sempit, hanya berisi sebuah ranjang kayu dengan kasur tipis, sebuah meja kecil, dan sebuah baskom cuci. Namun bagi Muzan yang baru saja bereinkarnasi ke tubuh gembel jalanan, ini adalah fasilitas bintang lima.

​Ia melepas pakaian kotornya, mengabaikan bau apek yang menyengat, lalu duduk di tepi ranjang. Tak lama kemudian, seorang pelayan pria masuk membawa ember kayu berisi air hangat, sabun kasar, dan sebuah nampan kayu berisi semangkuk besar sup daging sapi panas, roti gandum tebal, dan segelas susu hangat.

​Begitu pelayan itu pergi, Muzan segera membersihkan tubuhnya dengan spons basah dan sabun. Air hangat yang menyentuh kulitnya membantu mengendurkan otot-ototnya yang tegang. Setelah merasa cukup bersih, ia mengenakan kembali pakaian lamanya—berniat membeli pakaian baru besok pagi—lalu duduk menghadapi nampan makanannya.

​Aroma sup daging sapi itu membuat perutnya bergejolak hebat. Tanpa ragu, Muzan menyantap makanan itu. Rasanya luar biasa nikmat. Tubuhnya yang kekurangan gizi menyerap setiap kalori dan nutrisi dengan rakus. Ia menghabiskan seluruh makanan itu hingga tetes terakhir, menyisakan mangkuk yang bersih mengkilap.

​Muzan bersandar di kursi kayunya, menghembuskan napas panjang yang penuh dengan kepuasan. Tubuhnya kini terasa sedikit lebih bertenaga. Rasa sakit kepalanya telah sepenuhnya hilang.

​"Sekarang," gumam Muzan, matanya berkilat di bawah cahaya lampu minyak yang temaram. "Mari kita periksa hasil panen malam ini."

​Ia memanggil panel sistem. Layar biru transparan muncul di udara kosong di hadapannya.

​«"STATUS HOST:"»

Nama: Muzan Kibutsi

Usia: 14 Tahun

Afiliasi: Tidak Ada

Kekuatan Fisik: 4.1 (Meningkat sedikit karena asupan nutrisi)

Kecepatan: 5

Ketahanan: 3.1

Kekuatan Mental: 86 (+1 akibat adaptasi tekanan sinkronisasi)

Kapasitas Pengendalian Boneka: 2

​Muzan mengangguk pelan melihat peningkatan kecil pada statusnya. Ia kemudian beralih ke tab yang paling penting.

​«"BELLY COUNTER:"»

Saldo Belly: 769.850 Belly

​"Tujuh ratus enam puluh sembilan ribu Belly," Muzan mengusap dagunya perlahan. "Sistem, hitungan ini berarti uang ini tersimpan dengan aman di dalam ruang dimensimu, kan? Jika aku membutuhkannya untuk transaksi tunai di dunia nyata, bisakah aku menariknya kembali?"

​«"Jawaban: Ya. Host dapat menarik Belly fisik dari Counter kapan saja dengan jumlah sesuai keinginan. Uang yang ditarik akan langsung termanifestasi di tangan atau Inventory Host. Uang yang ditarik akan memiliki nomor seri yang sah dan diakui oleh Bank Dunia One Piece."»

​"Sempurna. Tidak perlu khawatir tentang uang palsu atau perampokan," batin Muzan.

​Ia masih membutuhkan sekitar 230.150 Belly lagi untuk mencapai angka satu juta demi membuka fitur [Shop]. Fitur itu mungkin berisi item penyembuh, peningkatan kapasitas, atau material penting lainnya yang tidak bisa didapatkan dari Gacha karakter. Ia harus merencanakan cara mendapatkan sisa uang itu secepatnya.

​Muzan mengalihkan fokusnya ke tab [Inventory].

​Di sana tersimpan beberapa kotak slot.

​[Tiket Gacha Karakter Menengah (Tier Biru)] x 2

​[Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu)] x 1

​"Sistem memberikan misi tersembunyi yang sangat berharga hanya karena aku berhadapan dengan Roronoa Zoro. Artinya, interaksi dengan karakter Canon yang memiliki signifikansi tinggi dalam alur takdir dunia ini akan memicu trigger hadiah yang besar," analisis Muzan. "Ini berarti aku harus terus membayangi pergerakan kru Topi Jerami, atau secara aktif mengganggu peristiwa besar yang melibatkan mereka."

​Tapi sebelum ia merencanakan rute perjalanannya esok hari, ia menatap [Tiket Gacha Karakter Kuat] di dalam inventory-nya. Tiket berwarna ungu gelap itu memancarkan daya tarik yang luar biasa.

​Muzan adalah seorang kolektor kekuatan. Meski ia saat ini hanya bisa mengendalikan dua boneka secara bersamaan, memiliki variasi karakter di dalam Puppet Storage akan memberikannya fleksibilitas taktis. Giyu luar biasa untuk pertarungan jarak dekat yang mematikan dan pertahanan solid. Zenitsu adalah kartu as serangan kejutan dan kecepatan mutlak. Keduanya murni petarung Damage Per Second (DPS).

​Apa yang Muzan butuhkan sekarang bukanlah petarung garis depan lagi. Ia adalah seorang dalang yang bergerak di balik bayang-bayang. Ia membutuhkan mata yang bisa melihat menembus kebohongan, mendeteksi penyergapan, dan memetakan medan pertempuran dari jarak jauh. Ia butuh karakter dengan kemampuan Utility atau intelijen.

​"Sistem," panggil Muzan dengan nada serius. "Gunakan [Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu)]."

​Panel berubah. Layar roulette raksasa muncul. Kali ini, karena tiket yang digunakan adalah tiket spesifik (Tier Ungu jaminan), roda roulette itu langsung memancarkan aura ungu pekat sejak detik pertama ia berputar. Tidak ada warna putih, hijau, atau biru. Hanya warna ungu yang bergradasi dari terang ke gelap.

​Roda itu berputar dengan kecepatan gila, menciptakan suara dengungan mekanis yang memenuhi pikiran Muzan.

​Muzan menatap roda itu tanpa berkedip. Beri aku karakter dengan kemampuan sensorik yang tinggi. Atau karakter yang bisa memanipulasi pikiran. Apapun yang bisa mengamankan posisiku sebagai komandan tak terlihat.

​Jarum roda mulai melambat. Bunyi klik... klik... klik... terdengar seiring pergeseran jarum melewati batas-batas warna ungu, sebelum akhirnya berhenti secara dramatis dengan suara dentingan keras.

​«"DING!"»

«"Gacha Selesai. Selamat, Host mendapatkan Boneka Tingkat Kuat (Tier Ungu)!"»

«"Mengekstrak data karakter... Menyesuaikan hukum chakra dan energi dengan hukum alam semesta One Piece..."»

«"Ekstraksi selesai."»

​Sebuah kartu berbingkai ungu menyala perlahan muncul dari layar dan melayang ke arah Muzan.

​Kartu itu bergambar seorang pemuda dengan rambut cokelat panjang yang diikat rapi di ujungnya, mengenakan pakaian tradisional berwarna putih longgar (kimono) dengan celana gelap. Postur berdirinya sangat tenang, tangan kanannya terangkat dengan dua jari mengarah ke depan dalam segel tangan yang khas. Namun yang paling mencolok adalah matanya. Matanya berwarna putih bersih tanpa pupil yang jelas, dengan urat-urat nadi yang menonjol di sekitar pelipisnya. Di dahinya, terdapat sebuah segel hijau berbentuk silang.

​Muzan membaca nama yang tertera di bawah kartu tersebut, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling mematikan yang pernah ia buat malam itu.

​«"Boneka Diperoleh: Neji Hyuga"»

«"Asal Dunia: Naruto (Era Shippuden)"»

«"Afiliasi Asli: Klan Hyuga / Desa Konoha (Jonin)"»

«"Kekuatan/Gaya Bertarung: Byakugan (Kekkei Genkai), Juken (Gentle Fist - Tinju Suci), Hakke Rokujuuyon Sho (8 Trigrams 64 Palms)"»

«"Status Boneka: Tersimpan di [Puppet Storage]"»

​"Byakugan..." desis Muzan pelan, nyaris tak percaya dengan keberuntungannya.

​Dari semua kemampuan sensorik di dunia anime, Byakugan milik klan Hyuga adalah salah satu kemampuan intelijen yang paling tidak masuk akal. Di dunia One Piece, kemampuan ini setara dengan Kenbunshoku Haki (Haki Observasi) tingkat lanjut yang aktif secara permanen, ditambah dengan kemampuan x-ray jarak jauh dan penglihatan 360 derajat.

​"Keluarkan Neji Hyuga," perintah Muzan tanpa ragu.

​Di dalam kamar penginapan yang sempit itu, partikel cahaya ungu mulai berkumpul di antara ranjang dan meja kayu. Cahaya itu memadat, membentuk sosok pemuda berambut cokelat panjang. Seragam putihnya tampak bersih, memancarkan aura seorang elit klan bangsawan.

​Ketika cahaya memudar, Neji berdiri mematung. Matanya yang berwarna putih pucat tampak sangat mengerikan karena kekosongannya. Sebagai boneka tanpa jiwa, Neji tidak memancarkan emosi apa pun. Ia hanyalah sebuah cangkang yang menunggu untuk diisi oleh kesadaran Muzan.

​Muzan menutup matanya, memfokuskan sebagian kecil kesadarannya—hanya sekitar 10%—ke dalam tubuh Neji, sekadar untuk menguji indera sensoriknya tanpa harus menggerakkan tubuhnya untuk bertarung.

​Seketika, dunia di sekitar Muzan meledak menjadi lautan informasi visual.

​Ini bukan sekadar melihat dengan dua mata. Ini adalah melihat segala arah secara bersamaan. Muzan bisa melihat bagian belakang kepalanya sendiri. Ia bisa melihat struktur kayu dari ranjang tempat tubuh aslinya duduk. Dan yang paling menakutkan, ketika ia memfokuskan chakra—yang sistem terjemahkan sebagai energi stamina mental di dunia ini—ke arah mata Neji, pandangannya menembus dinding penginapan.

​Urat-urat nadi di pelipis wajah Neji menonjol keluar.

​Muzan kini bisa melihat wanita pemilik penginapan di lantai bawah sedang menghitung uang koin di laci kasirnya. Ia menembus lebih jauh ke luar jalanan, melihat sekelompok pelaut mabuk yang sedang buang air kecil di sebuah gang berjarak tiga ratus meter dari penginapan. Ia bahkan bisa melihat aliran darah dan detak jantung seekor tikus yang bersembunyi di balik lemari kamarnya.

​"Luar biasa," batin Muzan, menarik kembali kesadarannya dengan cepat karena kelebihan sensorik itu mulai membuatnya pusing. Urat di pelipis Neji kembali mereda, dan matanya kembali normal.

​"Dengan Neji sebagai pengamat dan pelindung jarak dekat menggunakan Gentle Fist yang bisa menghancurkan organ dalam musuh tanpa perlu merusak kulit luar, aku memiliki sistem pertahanan mutlak."

​Di dunia One Piece, karakter yang mengandalkan otot keras atau kulit tebal (seperti Barts) adalah mayoritas. Seni bela diri Juken milik Neji yang memasukkan energi langsung untuk merusak jaringan tubuh bagian dalam dan memblokir aliran energi (mirip dengan teknik Ryuo atau Haki Persenjataan internal) adalah counter alami bagi para petarung tipe tersebut.

​Muzan menatap Neji dengan pandangan berbinar penuh perhitungan. "Tarik kembali."

​Sosok Neji memudar menjadi cahaya dan kembali masuk ke dalam sistem. Muzan kini memiliki Giyu (Ungu), Zenitsu (Biru), dan Neji (Ungu). Tiga pion catur yang sangat mematikan di awal permainannya.

​Ia menatap jam dinding yang berdetak di kamarnya. Pukul dua pagi. Besok adalah hari yang panjang. Ia harus mengumpulkan informasi tentang keberadaan Roronoa Zoro atau Monkey D. Luffy.

​Muzan mematikan lampu minyak di atas meja, merebahkan tubuh lelahnya ke atas kasur tipis, dan membiarkan kesadarannya tenggelam ke dalam tidur yang lelap, dijaga oleh sistem yang senantiasa waspada.

​Keesokan paginya.

​Sinar matahari pagi menembus celah jendela kayu, membangunkan Muzan. Ia merasa tubuhnya jauh lebih bugar setelah tidur delapan jam dan makan malam bernutrisi tinggi. Ia segera bangkit, mencuci wajahnya di baskom, dan bersiap keluar.

​Hari ini agendanya adalah berbelanja pakaian yang pantas, mencari informasi, dan menentukan arah pelayaran.

​Muzan turun ke lantai satu. Penginapan itu sudah ramai oleh pelaut dan penduduk lokal yang sedang sarapan. Suasana terdengar heboh. Semua orang membicarakan kejadian semalam.

​Muzan meminta semangkuk bubur gandum dan duduk di sudut meja yang sepi, mendengarkan percakapan mereka sambil makan dengan tenang.

​"Hei, kau dengar tidak? Kapten Barts 'Rahang Besi' sudah dipindahkan ke penjara bawah tanah Angkatan Laut dengan rantai besi berat! Rahangnya yang menakutkan itu hancur berkeping-keping!" seru seorang pria botak sambil memukul meja.

​"Ya, aku mendengarnya! Katanya dia dikalahkan oleh seorang pemuda yang bisa menggunakan sihir air! Dan yang lebih gila lagi, muncul pemuda lain yang bergerak secepat petir kuning, nyaris menebas Roronoa Zoro!"

​"Zoro si Pemburu Bajak Laut?! Gila... Dua monster baru muncul di East Blue dalam satu malam. Siapa mereka?"

​Muzan menikmati buburnya dalam keheningan. Tidak ada yang mencurigai anak kecil kurus berpakaian lusuh di sudut ruangan itu sebagai arsitek di balik kehancuran Kapten Barts.

​Tiba-tiba, seorang pedagang keliling yang baru masuk ke penginapan ikut nimbrung dalam percakapan. "Kalian membicarakan Zoro? Berita basi! Tadi pagi-pagi sekali, aku melihat pria berambut hijau itu membeli perbekalan dan menyewa perahu layar kecil."

​"Oh? Dia mau pergi ke mana?" tanya pengunjung lain.

​"Katanya dia mau pergi menuju Kota Shells! Pangkalan Angkatan Laut Cabang ke-153 yang dipimpin oleh Kapten Morgan si Tangan Kapak!"

​Telinga Muzan sedikit bergerak mendengar nama itu. Kota Shells. Kapten Morgan.

​Otaknya langsung memutar memori dari kehidupan sebelumnya. Kota Shells adalah tempat di mana cerita sesungguhnya dimulai. Itu adalah tempat di mana Roronoa Zoro akan ditangkap oleh Morgan karena melindungi seorang anak perempuan dari serigala peliharaan Helmeppo (anak Morgan). Dan yang paling penting, itu adalah tempat di mana Monkey D. Luffy akan bertemu dengan Zoro untuk pertama kalinya dan merekrutnya menjadi anggota kru pertama Bajak Laut Topi Jerami.

​Kapten Morgan juga memiliki brankas pajak yang mengumpulkan uang hasil pemerasan dari warga Kota Shells. Nilai kekayaan seorang Kapten korup Angkatan Laut pasti jauh melebihi buronan sekelas Barts. Jika Muzan bisa mendapatkan akses ke brankas itu, ia akan dengan mudah melampaui batas satu juta Belly yang ia butuhkan untuk membuka Shop.

​"Kota Shells..." gumam Muzan pelan, menghabiskan suapan terakhir buburnya. "Jarak tempuh normal dari Toroa ke Shells menggunakan kapal feri penumpang mungkin memakan waktu satu hari penuh."

​Ia meletakkan beberapa koin tembaga di meja sebagai bayaran makanannya, lalu melangkah keluar dari penginapan. Udara pagi pelabuhan terasa segar. Meski sebagian dermaga masih berupa puing-puing hitam akibat serangan Barts, aktivitas komersial tetap berjalan. East Blue adalah lautan yang tangguh.

​Tujuan pertama Muzan adalah toko pakaian. Dengan menarik 5.000 Belly tambahan secara fisik dari sistem, ia membeli pakaian yang sederhana namun bersih dan elegan: kemeja putih berlengan panjang yang pas di badannya (menggantikan kain lap yang ia pakai sebelumnya), celana kain hitam panjang, sepatu bot kulit ringan, dan sebuah jubah hitam tebal berkerudung (hoodie) untuk menyembunyikan wajahnya jika diperlukan.

​Melihat dirinya di cermin toko, Muzan Kibutsi tak lagi terlihat seperti anak jalanan yang akan mati besok. Ia kini tampak seperti seorang bangsawan muda yang sedang menyamar, dengan wajah pucat yang tenang dan mata hitam yang tajam menyimpan seribu rahasia.

​Setelah itu, ia berjalan menuju pelabuhan penumpang. Ia mencari kapal karavel berukuran sedang yang melayani rute antar-pulau komersial. Ia tidak ingin menyewa perahu kecil sendiri; itu merepotkan dan berbahaya bagi tubuh aslinya jika bertemu badai. Berada di kapal penumpang yang besar jauh lebih aman, karena bajak laut jarang menyerang kapal dagang besar yang dijaga oleh bodyguard bersenjata, kecuali kelompok bajak laut besar.

​"Satu tiket ke Kota Shells," ucap Muzan kepada pria bertopi kapten di loket pelabuhan, menyodorkan uang 2.000 Belly.

​"Kapal berangkat dalam setengah jam, Nak. Berada di dek atas jika kau ingin udara segar, tapi jangan berkeliaran di area kargo," kata petugas itu sambil memberikan karcis kayu.

​Muzan mengangguk dan segera menaiki kapal bernama 'Sea Breeze' tersebut. Ia mencari tempat duduk di area buritan (belakang) kapal, bersandar pada pagar kayu sambil memandang lautan biru yang luas membentang. Angin laut menerpa wajahnya, memainkan poni rambut hitamnya.

​Tepat ketika kapal itu membunyikan lonceng peluitnya dan perlahan bergerak meninggalkan pelabuhan Pulau Toroa, sebuah jendela sistem berkedip merah terang di depan pandangan Muzan, menutupi pemandangan lautan.

​«"DING!"»

«"MISI UTAMA (RANTAI) TERPICU: FAJAR ERA BARU."»

«"Detail: Roda takdir dunia ini telah berputar. Pertemuan pertama antara Sang Kapten Masa Depan (Monkey D. Luffy) dan Pendekar Pedang Pertama (Roronoa Zoro) akan segera terjadi di Kota Shells."»

«"Tujuan Utama: Intervensi peristiwa di Kota Shells. Pastikan pembebasan Zoro terjadi (secara langsung maupun tidak langsung), dan kalahkan Kapten Morgan sebelum Angkatan Laut atau pihak lain mengeklaim kekalahannya."»

«"Tujuan Tambahan: Rebut brankas rahasia Pangkalan Cabang 153."»

«"Hadiah Penyelesaian Misi: 50.000 Belly, 1 Tiket Gacha Karakter Kuat (Tier Ungu), dan Pembukaan Fitur [Collection: Fraksi]."»

​Mata Muzan menyipit membaca panel misi tersebut. Sistem tidak hanya menyuruhnya untuk mencari uang, tetapi secara aktif mendorongnya untuk berbenturan dengan garis waktu utama. 'Pembukaan Fitur Collection: Fraksi' terdengar seperti sesuatu yang akan mengubah skala operasinya dari sekadar petarung individu menjadi pasukan yang sesungguhnya.

​"Kalahkan Kapten Morgan sebelum pihak lain melakukannya," Muzan membaca ulang kalimat itu. Itu berarti ia tidak boleh membiarkan Luffy yang memberikan pukulan terakhir penyelesaian kepada Morgan seperti di cerita aslinya. Ia harus mencuri panggung itu.

​Tangan Muzan mencengkeram pembatas kayu kapal dengan erat. Di balik kerudung jubah hitamnya, sebuah senyum ambisius terukir.

​"Luffy... Maafkan aku. Tapi aku akan mencuri Experience Point pertamamu di East Blue. Neji, Giyu, Zenitsu... Bersiaplah. Malam ini, kita akan meruntuhkan sebuah pangkalan militer."

​Kapal layar komersial itu membelah ombak, membawa sang dalang boneka menuju panggung pertunjukan yang sesungguhnya, meninggalkan Pulau Toroa yang kini hanya akan mengingat legenda tentang tiga pendekar pedang misterius dalam sejarah kecil mereka.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!