Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Udara di dalam gua terasa lembap dan dingin, berbau tanah basah serta garam laut. Rendra berjalan paling depan, menyinari jalan dengan senter kecil yang cahayanya dikecilkan agar tidak terlihat dari luar. Di belakangnya berjalan Bapak Harun, diikuti Surya dan Dika yang sesekali menoleh ke arah mulut gua—suara langkah kaki dan teriakan pasukan semakin jelas terdengar di sana.
“Terowongan ini dibuat oleh nelayan zaman dulu,” bisik Bapak Harun pelan. “Digunakan saat musim badai untuk memindahkan perahu dari teluk tersembunyi ke laut lepas tanpa harus melewati pantai yang berombak besar. Hampir tidak ada orang luar yang tahu jalurnya berkelok seperti ini.”
Mereka berjalan menunduk, melewati lorong yang tingginya hanya cukup untuk orang berdiri, lalu turun ke jalanan batu yang licin. Sekali dua kali Rendra terpeleset, tapi ia segera berpegangan pada dinding batu yang kasar. Jauh di belakang, terdengar suara batu berjatuhan—tanda pasukan Bagas sudah masuk ke dalam gua.
“Mereka tahu ada jalan lain,” kata Surya pelan. “Mungkin ada peta lama yang jatuh ke tangan mereka, atau ada warga yang dipaksa bicara.”
“Tidak mungkin warga desa,” sanggah Bapak Harun. “Mereka sudah berjanji menjaga rahasia ini seperti menjaga nyawa sendiri. Kemungkinan besar mereka punya alat pendeteksi rongga di bawah tanah.”
Setelah berjalan sekitar setengah jam, lorong itu tiba-tiba bercabang menjadi dua. Satu jalan melandai ke bawah menuju suara gemuruh air yang kencang, jalan lain menanjak gelap ke arah tebing. Rendra berhenti sejenak, memeriksa jejak kaki di tanah lunak—tidak ada bekas langkah orang lain yang lewat baru-baru ini, jadi keduanya belum terpakai.
“Jalan ke bawah itu menuju muara,” jelas Bapak Harun. “Tapi air pasang sedang tinggi sekarang. Jika kita lewat sana, bisa terjebak di terjepit air sebelum sampai ke laut. Jalur menanjak itu keluar di balik hutan bakau, tapi jalannya sempit dan banyak lubang tersembunyi.”
Belum sempat mereka memilih, suara ledakan kecil terdengar dari arah belakang. Debu dan serpihan batu beterbangan. Pasukan Bagas rupanya meledakkan bagian lorong untuk mempersempit jalan mereka.
“Mereka mendesak cepat!” seru Dika. “Kita ambil jalur menanjak! Lebih sulit diikuti!”
Mereka segera berbelok ke kanan, memanjat tangga batu alami yang terjal. Jalur ini memang benar-benar sempit—hanya cukup satu orang berjalan. Rendra harus menuntun Bapak Harun di belakangnya, sementara Surya dan Dika berjaga di ujung belakang, sesekali menabrakkan batu besar ke lorong di bawah untuk menghambat pengejar.
Lama memanjat, napas mereka mulai memburu. Tiba-tiba Bapak Harun berhenti di sebuah celah batu yang lebar. “Di sini ada sesuatu yang dulu saya temukan saat bersembunyi,” katanya sambil menunjuk ke arah dinding batu yang tampak sama dengan bagian lain. “Saya kira itu sisa gua alami, tapi setelah melihat data yang kau bawa, saya yakin ini bukan buatan alam.”
Rendra menyinari tempat itu lebih dekat. Ternyata ada garis lurus yang tidak mungkin terbentuk dari proses alam, dan sisa semen tua yang sudah berlumut. Ia mengikis lumut dengan pisau kecil—terbukalah bagian tulisan yang sudah pudar: “Proyek Terowongan Utara, 1998”.
“Ini terowongan lain,” gumam Rendra kaget. “Bukan buatan nelayan.”
“Tepat,” tambah Bapak Harun. “Dulu saya mendengar ada orang yang bekerja di sini secara diam-diam selama bertahun-tahun. Setelah selesai, semua pekerja diambil dan tidak pernah kembali. Saya kira ini jalur air, tapi ternyata…”
“…ini cabang dari jalur penyelundupan yang kau sebutkan tadi,” potong Surya. “Berarti jaringan ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, bahkan sebelum Bagas menjabat.”
Penemuan ini menambah beban di hati mereka. Kejahatan ini bukan sekadar ulah satu orang serakah, melainkan benih yang sudah ditanam lama dan dibiarkan tumbuh hingga menjadi akar yang menjalar ke mana-mana.
Di belakang, suara langkah kaki terdengar makin dekat. Rendra segera menutup kembali celah batu dengan lumut dan ranting, lalu mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian, cahaya matahari mulai terlihat di ujung lorong. Mereka keluar ke permukaan tanah, tepat di tengah rimbunnya hutan bakau yang berawa.
Di kejauhan, terlihat asap hitam mengepul dari arah desa pantai. Wajah Bapak Harun berubah pucat. “Mereka tidak menemukan kita, jadi mereka menghukum warga desa.”
Rendra mengepalkan tangannya erat, rasa sakit di bahunya kembali terasa. Ia ingin segera berlari kembali ke sana, tapi Dika menahannya.
“Kau tidak bisa berbuat apa-apa sendirian. Kita belum cukup kuat melawan mereka secara terbuka. Jika kau pergi sekarang, semua pengorbanan warga desa yang melindungimu akan sia-sia.”
Rendra menatap asap itu lama, lalu perlahan mengangguk pahit. Ia tahu Dika benar. Tapi ia berjanji dalam hati: suatu hari nanti, ia akan kembali ke sini—bukan sebagai orang yang bersembunyi, melainkan membawa keadilan yang sesungguhnya.
Mereka berjalan menyusuri jalan becek menuju tempat persembunyian kedua yang sudah disiapkan Dika: sebuah pondok kayu tua di pinggir danau buatan yang sudah ditinggalkan puluhan tahun. Di sana, mereka akan beristirahat sejenak, mencerna fakta baru, dan merencanakan langkah selanjutnya—karena kini mereka tahu, musuh yang mereka hadapi adalah bayangan yang sudah berjalan jauh lebih lama dari siapa pun yang mereka kenal.