NovelToon NovelToon
GODJEK

GODJEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Harem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lihazel

Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.

Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.

Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jaket Baru

Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit siang hari ketika roda depan motor Supra Fit milik Arya kembali menggilas tanah berdebu di bawah pohon beringin rindang di samping Warkop Mbak Sri. Kawasan basecamp "PODOMORO" saat itu sedang berada di puncak jam istirahat siang. Belasan driver ojol lokal tampak sedang duduk selonjoran di atas tikar pandan yang digelar di atas tanah, sebagian besar dari mereka sibuk mengipasi tubuh dengan lipatan koran bekas atau menatap layar ponsel masing-masing dengan wajah lesu akibat sepinya pesanan di jam makan siang reguler.

​Begitu Arya menghentikan motornya tepat di depan warung, perhatian seluruh driver yang sedang berkumpul langsung tersedot sepenuhnya ke arahnya. Bukan karena suara mesin motor bebeknya—yang entah bagaimana kini terdengar sangat halus seperti suara desiran angin—melainkan karena penampilan visual luar biasa yang dipancarkan oleh jaket baru yang melekat di tubuh tegap Arya.

​"Waduh, waduh, waduh! Coba semuanya tolong matanya dibuka lebar-lebar! Ini mata gua yang katarak apa emang si Ganteng Tambora baru dapet warisan dari sultan Arab?!" seru Bang Jay langsung berdiri dari kursi kayunya, sampai rokok kretek yang baru dinyalakannya hampir jatuh dari bibir. Pria senior berambut putih setengah itu melangkah mendekati Arya, mengelilingi motor bebek tua tersebut dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa kagum sekaligus heran yang luar biasa.

​Dedi "Gacor" yang tadinya sedang sibuk menekan tombol refresh di tiga ponsel pintarnya langsung meletakkan perangkat genggamnya ke atas meja warkop. Dia ikut melangkah mendekat, matanya melotot menatap bahan jaket Arya yang memantulkan sinar matahari dengan kilauan hijau zamrud yang sangat elegan.

​"Gila lu, Ya! Ini jaket dapet dari mana?! Ini bukan jaket jatah kantor yang bahannya panas dan bikin ketiak basah itu kan? Lihat ini jahitannya... rapi banget kayak jas orang kantoran di Sudirman! Terus logo peraknya ini... kok kayak bisa nyala sendiri kalau kena cahaya sih? Lu beneran ikut pesugihan di Banten yang gua saranin kemarin ya?!" cecar Dedi sambil tangannya lancang meraba bahan jaket premium Arya di bagian lengan. Begitu telapak tangannya menyentuh bahan tersebut, Dedi tersentak kaget. "Lho? Kok bahannya dingin banget kayak ada AC-nya di dalem kain? Padahal cuaca di luar lagi panas ekstrem sampai tiga puluh enam derajat!"

​Arya buru-buru menepis tangan Dedi dengan canggung, wajah tampannya menyiratkan senyum kecut yang dipaksakan. Krisis eksistensial dan monolog batinnya kembali aktif dengan kecepatan penuh untuk menyusun kebohongan yang masuk akal demi melindungi rahasia sistem Godjek-nya.

​“Aduh mampus gua! Ini temen-temen ojol pada jeli banget matanya kalau urusan barang bagus. Gimana gua ngejelasinnya coba? Masa gua bilang jaket ini dikasih secara gaib sama aplikasi handphone yang ngancem mau makein gua rok mini macan tutul kalau gua gagal nyelametin CEO cantik? Bisa-bisa gua langsung dibawa ke rumah sakit jiwa di Grogol siang ini juga! Pikir Arya, pikir... cari alasan yang masuk akal!”

​Arya melepas helm INK bututnya, menyeka keringat tipis di pelipisnya yang justru membuat struktur rahang tegasnya terlihat makin menawan di mata Mbak Sri yang sedang menonton dari balik counter warung.

​"Ah, kagak ada pesugihan-pesugihan, Bang Jay, Dedi," sahut Arya berbohong sambil terkekeh pelan. "Ini kemarin gua kepilih jadi mitra percontohan untuk program jaket premium edisi terbatas dari kantor pusat. Katanya buat driver yang performa mingguannya stabil tanpa pernah dapet bintang satu. Makanya bahannya agak beda, katanya sih prototipe teknologi baru anti-panas."

​Bang Jay manggut-manggut percaya dengan wajah penuh rasa iri yang sehat. "Wah, emang rezeki anak saleh yang rajin bantu ibunya mah beda ya. Kantor pusat emang gak buta, tahu aja mana driver yang mukanya spek artis internasional buat jadi ikon promosi mereka. Kalau gua yang pake jaket ginian, bukannya kelihatan kayak pembalap, malah dikira uler kadut berjalan!" seloroh Bang Jay yang langsung disambut tawa terbahak-bahak oleh belasan driver ojol lainnya yang sedang berkumpul.

​Di dalam warkop, Mbak Sri tampaknya sama sekali tidak mendengarkan penjelasan teknis tentang jaket tersebut. Pandangan matanya terkunci rapat pada bentuk tubuh Arya yang kini terlihat jauh lebih gagah, bidang, dan proporsional berkat potongan slim-fit jaket premiumnya. Dada Arya yang tegap terbusung dengan sangat jantan di balik kain hijau zamrud itu, memancarkan daya pikat seksual alami yang membuat rahim seluruh janda komplek di Tambora bergetar serentak.

​Mbak Sri buru-buru mengambil segelas es susu jahe manis yang dicampur madu premium dari bawah mejanya. Dengan gerakan tubuh yang sengaja dibuat meliuk manja, menampilkan lekuk pinggulnya yang berisi di balik kain jarik ketatnya, dia berjalan keluar dari warung mendekati Arya.

​"Mas Arya... ini diminum dulu es susu jahenya. Mbak sengaja buatin spesial pakai madu asli dari kampung, biar Mas Arya makin kuat, makin berstamina, dan makin kencang mainnya... maksud Mbak, main di jalanan narik motornya," goda Mbak Sri dengan suara yang mendadak mendesah manja, sengaja menyentuhkan ujung jari kelingkingnya yang lentik ke lengan jaket Arya saat menyerahkan gelas kaca tersebut.

​Arya mendadak merasa dahinya berkeringat dingin karena salah tingkah. Dia buru-buru menerima gelas tersebut dengan kedua tangan, menjaga jarak aman agar tubuh molek Mbak Sri tidak menyentuh dadanya. "Waduh, makasih banyak, Mbak Sri. Repot-repot banget, padahal kopi hitam yang tadi pagi juga belum gua bayar."

​"Ah, soal bayar-bayaran mah gampang, Mas Arya. Kalau sama Mas Arya mah, dibayar pakai senyuman manis dan bon bon cinta juga Mbak rela lahir batin kok," sahut Mbak Sri sambil mengedipkan sebelah matanya yang dilapisi maskara tebal, membuat Bang Jay dan Dedi langsung bersiul riuh menggoda Arya.

​"Sikat aja udah, Ya! Janda kembang Tambora ini udah ngasih lampu ijo neon dari tahun lalu, lu-nya aja yang lempeng kayak tiang listrik!" ledek Dedi sambil menyenggol siku Arya.

​Arya hanya bisa membalas dengan tawa canggung, lalu meneguk es susu jahe tersebut untuk meredakan rasa gugupnya. Namun, tepat saat cairan manis itu mengalir di tenggorokannya, pandangan mata Arya tanpa sengaja menatap ke arah piring besar berisi tumpukan pisang goreng tepung yang ditaruh Mbak Sri di atas meja kayu luar.

​BZZZZT!

​Kemampuan permanen dari skill "Mata Diet Dewa" yang baru didapatkannya dari sistem Godjek mendadak aktif secara otomatis tanpa bisa ditahan. Sebuah display holografis transparan berwarna kuning kecokelatan muncul melayang di atas piring gorengan tersebut, menampilkan data yang hanya bisa dibaca oleh indra penglihatan Arya:

​[OBJEK: PISANG GORENG COLO-COLO MBAK SRI]

​Kandungan Kalori: 320 Kalori per biji (Tepung terigu curah dosis tinggi + gula pasir sisa semalam).

​Kandungan Minyak: Ekstrem Tinggi (Minyak goreng warna hitam pekat beraroma jelantah ikan asin).

​Peringatan Kesehatan: Mengonsumsi lebih dari 2 biji akan menyebabkan penumpukan lemak instan di area pipi bawah, membuat wajah ganteng Anda terlihat chubby dalam waktu 24 jam!

​Arya hampir saja tersedak es susu jahe yang sedang diminumnya. Dia buru-buru menarik kembali tangannya yang tadinya berniat mengambil satu biji pisang goreng sebagai camilan siang. Monolog batinnya menjerit ngeri dengan tingkat kelucuan yang absurd.

​“Ya salam! Ini aplikasi bener-bener mau bikin gua jadi model majalah hidup sehat apa gimana sih?! Sampai gorengan buatan Mbak Sri aja dikasih status peringatan horor kayak begini. Pipi chubby dalam waktu dua puluh empat jam? Wah, gak bisa dibiarkan! Ketampanan aset utama gua buat nyari duit halal lewat orderan premium sistem gak boleh rusak gara-gara jelantah minyak goreng!”

​Arya meletakkan kembali gelas esnya dengan bunyi klik pelan di meja. Dia memutuskan untuk mencoba fitur utama dari skill permanennya yang bisa menguapkan lima ratus kalori dari makanan yang sedang dilihatnya. Arya memantapkan tatapan matanya, mengunci fokus pandangannya pada dua biji pisang goreng paling atas di piring tersebut.

​“Sistem, gua gunakan hak menguapkan kalori gua hari ini! Tolong uapkan masing-masing dua ratus lima puluh kalori dari dua pisang goreng itu sekarang juga!” perintah Arya di dalam batinnya dengan nada serius layaknya seorang komandan perang.

​BZZZZT!

​Sebuah getaran energi tak kasat mata yang sangat halus memancar dari kornea mata Arya, mengenai permukaan tepung pisang goreng tersebut. Secara gaib, molekul minyak jenuh dan rantai karbohidrat jahat yang menempel di serat tepung terigu itu mendadak terurai dan menguap ke udara dalam wujud uap mikro transparan yang sama sekali tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa. Bentuk fisik pisang goreng itu tetap terlihat sama persis—tetap kuning keemasan dan terlihat renyah—namun kini nilai gizinya telah berubah drastis menjadi camilan sehat setara dengan salad buah organik premium!

​Arya tersenyum puas di dalam hati. Dia kemudian mengambil salah satu pisang goreng yang sudah di-"bersihkan" secara gaib itu lalu menggigitnya dengan santai. Rasa pisang goreng itu ternyata tetap sangat lezat, manis, dan renyah di luar, membuktikan bahwa teknologi sistem Godjek benar-benar menghancurkan hukum biokimia tanpa merusak kenikmatan kuliner tradisional.

​"Gimana, Ya? Enak kan pisang goreng buatan Mbak? Digoreng dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang yang tulus lho itu," goda Mbak Sri lagi sambil menopang dagunya di atas meja kayu, membuat dadanya yang molek makin membusung ke depan.

​"Enak banget, Mbak. Renyah di luar, lembut di dalem," jawab Arya jujur sambil mengunyah makanannya dengan tenang.

​Di tengah suasana canda tawa basecamp yang hangat dan dipenuhi solidaritas khas masyarakat kelas bawah itu, sebuah mobil sedan taksi reguler berwarna biru mendadak berhenti di seberang jalan gang, tepat di depan gapura masuk pemukiman padat Tambora.

​Pintu belakang mobil taksi tersebut terbuka, dan melangkah turun seorang wanita paruh baya dengan pakaian daster kain batik sederhana yang wajahnya dihiasi oleh garis-garis kerutan halus namun memancarkan aura keibuan yang sangat teduh. Wanita itu adalah Bu Aminah, ibu kandung Arya. Di kedua tangannya, beliau tampak kesusahan membawa dua buah tas belanjaan plastik berukuran besar yang tampaknya sangat berat, berisi bahan-bahan pokok untuk keperluan dapur rumah mereka.

​Arya yang memiliki pandangan mata elang yang sangat tajam langsung mengenali sosok ibunya dari kejauhan. Rasa sayangnya yang begitu besar terhadap wanita yang telah melahirkannya itu membuat Arya langsung meletakkan sisa pisang gorengnya ke piring, melupakan sejenak candaan Bang Jay dan godaan Mbak Sri.

​"Bang Jay, Dedi, Mbak Sri... gua tinggal bentar ya. Itu Ibu gua baru pulang dari pasar grosir, barang bawaannya banyak banget," ujar Arya dengan nada suara yang mendadak berubah serius dan penuh rasa hormat.

​Tanpa menunggu jawaban dari rekan-rekan ojolnya, Arya langsung melangkah tegap, setengah berlari menyeberangi jalan raya dengan postur tubuhnya yang gagah. Perilaku Arya yang selalu mendahulukan orang tuanya di atas segala urusan pribadi kembali memperlihatkan nilai moral dan kualitas watak seorang laki-laki sejati di balik ketampanan fisik kelas atasnya. Pemandangan itu membuat Bang Jay menghela napas panjang sambil tersenyum bangga, sementara mata Mbak Sri kian berbinar penuh rasa kagum yang mendalam pada sosok pemuda Tambora tersebut.

1
Panggil Zain Aja
bolelah, karakter sampingan aja punya nuansa yang hidup👍
Lihazel: makasih ka, kalo berkenan boleh kasih review nya juga ka, supaya makin semangat updatenya ☺️
total 1 replies
Panggil Zain Aja
ganti nama jir
Panggil Zain Aja
asli, kalau lo nahan biar ga keluar dari ni novel. SERU BANGET ANJER😹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!