Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Suntikan, Keheningan, dan Aroma Laut Mediterania
Jam dinding di kamar tidur Sarah baru saja menunjukkan pukul 05.30 pagi ketika suara dering ponselnya bergetar di atas meja nakas. Sarah mengucek matanya yang masih berat. Semalam ia sulit tidur, membayangkan jarum suntik yang akan menusuk perutnya pagi ini. Dengan malas, ia meraih ponsel dan membaca pesan singkat dari Felix.
"Sudah di lobby. Jangan lama-lama."
Sarah menghela napas panjang. Ia bangkit, mandi, dan mengenakan kemeja putih longgar serta celana kain berwarna beige. Ia sengaja memilih pakaian yang longgar agar memudahkan akses petugas medis nanti. Setelah merapikan rambutnya menjadi kuncir kuda, ia mengambil tas kecil dan bergegas turun.
Di lobby apartemen mewahnya di pusat kota Milan, Felix sudah menunggu sambil memegang dua cangkir kopi espresso. Ia menyodorkan satu cangkir pada Sarah.
"Minum, biar mata melek. Perjalanan ke klinik lumayan macet, jalur Pantai Liguria pagi ini padat," ujar Felix.
Sarah menerima kopi itu dan menyeruputnya pelan. Rasa pahit espresso sedikit membangunkannya. Sepanjang perjalanan, Sarah hanya diam menatap pemandangan gedung-gedung bersejarah khas Italia yang perlahan berganti menjadi jalanan berbatu. Sesekali, Felix melempar lelucon tentang markas perusahaan Samudra di Roma, tapi Sarah hanya merespons dengan senyuman tipis. Pikirannya terlalu penuh dengan apa yang akan terjadi dalam beberapa jam ke depan.
Mobil hitam mewah itu meluncur memasuki gerbang Clinica ProVita, sebuah klinik fertilitas ternama di tepi pantai Liguria, pukul 07.15. Saat Felix memarkir mobil di area drop-off, Sarah membuka pintu dan melangkah keluar. Namun, langkahnya langsung terhenti.
Di pintu masuk utama klinik, berdiri seorang pria berkemeja hitam lengan panjang dengan jas rapi berwarna abu-abu gelap. Ia sedang berbicara dengan seorang perawat berbahasa Italia, tetapi begitu melihat Sarah turun dari mobil, pria itu langsung memutus pembicaraannya dan berjalan mendekat.
Sarah membelalakkan matanya. "Pak... Bos? Kok Bapak ada di sini? Bukannya Bapak ada rapat di kantor pusat Roma hari ini?"
Samudra Grayson menatapnya dengan wajah datar, tapi tatapan matanya sedikit menyapu wajah Sarah yang masih terlihat mengantuk. "Ini hari pertama prosedur. Aku harus memastikan semuanya berjalan sesuai rencana. Kontrak yang aku tanda tangani bukan cuma kertas, Sarah. Aku bertanggung jawab penuh atas proses ini. Rapat di Roma bisa ditunda."
Felix yang baru saja mengunci mobil berjalan menghampiri, sedikit tersenyum miring. "Bos memang orangnya teliti, Sarah. Jangan kaget."
Sarah hanya bisa menggeleng pelan. Ia tidak menyangka Samudra akan meluangkan waktu di pagi hari untuk terbang dari Roma ke sini. Biasanya, bosnya itu sangat sibuk dengan merger perusahaan di Eropa. Tapi hari ini, sepertinya CEO muda itu mengorbankan jadwalnya demi datang ke klinik ini.
Mereka bertiga masuk ke dalam klinik. dr. Andini, seorang dokter spesialis fertilitas asal Italia yang fasih berbahasa Inggris, sudah menunggu di ruang perawatan khusus. Ruangan itu terasa dingin, dipenuhi dengan monitor dan peralatan medis steril. Dokter itu menyambut mereka dengan ramah.
"Selamat pagi, Signor Grayson, Sarah. Hari ini kita akan memulai stimulasi hormon. Silakan Sarah berbaring di ranjang, kita akan lakukan suntikan pertama di perut bagian bawah."
Sarah menelan ludah. Ia berbaring di ranjang medis, membuka sedikit kemejanya hingga bagian perut bawah terlihat. Tangannya sedikit gemetar saat ia menggenggam ujung bajunya.
"Rileks, Sarah. Ini hanya jarum kecil. Rasanya seperti digigit semut," dr. Andini menenangkan dengan aksen Italia yang khas.
Samudra berdiri di sudut ruangan, menyilangkan tangannya di dada. Matanya tertuju pada jarum suntik yang sudah berisi cairan bening. Saat jarum itu menembus kulit Sarah, tubuh wanita itu sedikit menegang dan ia menarik napas tajam.
"Sedikit sakit, ya?" tanya dr. Andini.
"Nggak apa-apa, Dok. Tahan," jawab Sarah, suaranya sedikit bergetar.
Samudra mengerutkan kening. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya saat melihat wajah Sarah yang sedikit memucat. Tapi ia tidak berkata apa-apa. Prosedur suntikan berlangsung sekitar 15 menit, dilanjutkan dengan USG singkat untuk memantau kondisi ovariumnya.
Setelah semua selesai, Sarah duduk perlahan. Wajahnya memang terlihat pucat. Tubuhnya terasa lemas, mungkin efek dari rasa cemas dan kurang tidur semalaman.
dr. Andini memberikan selembar resep. "Ini obat untuk mengurangi efek samping, seperti mual dan kram di bagian perut. Minum sesuai aturan. Jangan lupa, besok jam yang sama, kita suntik lagi. Dan dua hari lagi, kita mulai monitoring folikel."
Samudra mengambil resep itu dari tangan dokter. "Aku yang akan ambil obatnya di apotek. Felix, jaga Sarah di sini."
Samudra melangkah keluar ruangan menuju apotek klinik, meninggalkan Sarah dan Felix. Felix duduk di kursi di samping ranjang, menatap Sarah yang masih memegangi perutnya.
"Gimana perasaannya, Sar?" tanya Felix lembut.
"Lemas, Fel. Rasanya perut kayak ditarik-tarik," jawab Sarah pelan. "Tapi aku harus kuat. Ini masih minggu pertama."
Tak berselang lama, Samudra kembali dengan sebuah kertas bagasi berisi obat-obatan. Ia memberikan tas itu pada Sarah. Namun, saat matanya menangkap wajah Sarah yang semakin pucat, ia berhenti.
"Kamu yakin nggak apa-apa?" tanya Samudra, kali ini suaranya lebih lembut dari biasanya.
Sarah mengangkat wajahnya dan memaksakan senyum. "Nggak apa-apa, Pak. Cuma lemas aja, efek suntikan tadi."
Samudra tidak langsung percaya. Ia memperhatikan Sarah yang meraih pinggiran ranjang untuk berdiri, tapi tubuhnya sedikit goyah. Tanpa banyak bicara, Samudra melangkah maju dan meraih lengan Sarah, menopangnya agar tidak jatuh.
"Besok kamu jangan sarapan kosong lagi. Kamu butuh asupan gula," ucapnya tegas.
Sarah sedikit kaget dengan sentuhan itu. Tangan Samudra terasa hangat di lengannya. Ia menunduk, menarik tangannya perlahan. "Terima kasih, Pak. Tapi saya bisa sendiri."
Felix yang melihat kejadian itu hanya tersenyum tipis. "Bos, sekarang sudah jam setengah dua belas. Bagaimana kalau kita makan siang dulu sebelum pulang? Sarah juga butuh makan biar tenaganya pulih."
Samudra mengalihkan pandangan, ragu sejenak. "Baik. Ada restoran yang cukup dekat dari sini. Aku tahu tempatnya di pesisir pantai."
Mereka bertiga pun keluar dari klinik. Felix mengemudi mengikuti arahan Samudra. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 15 menit menyusuri jalanan tepi laut. Mobil akhirnya berhenti di sebuah area parkir kecil. Dari sana, terlihat deretan restoran kayu dengan atap genteng merah khas Italia yang menjorok ke arah Laut Mediterania. Ombak biru jernih terlihat berkejaran di bawah sinar matahari yang hangat.
Samudra turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Sarah. "Restoran ini cukup tenang. Makanan lautnya segar, mereka juga punya focaccia khas Liguria."
Sarah dan Felix mengikuti Samudra masuk. Mereka memilih meja di bagian teras yang menghadap langsung ke lautan. Angin pantai berhembus pelan, membawa aroma asin dan suara deburan ombak. Di langit, burung camar sesekali melintas di atas birunya laut.
Suasana itu seharusnya membuat hati rileks. Tapi anehnya, Sarah justru menjadi sangat pendiam.
Hidangan dipesan. Samudra memilih branzino (ikan kakap bakar) dan salad, Felix memesan pasta vongole, sedangkan Sarah hanya memesan seporsi minestrone (sup sayur khas Italia) dan air lemon. Ketika makanan tiba, mereka bertiga mulai makan. Namun, garpu dan pisau yang bergerak di atas piring lebih sering terdengar daripada suara mereka.
Samudra sesekali menatap Sarah dari balik gelas anggur putihnya. Wanita itu menunduk, mengaduk supnya dengan sendok pelan, matanya kosong menatap kuah tomat di mangkuk. Biasanya, Sarah adalah wanita paling cerewet di kantor. Ia bisa bercerita tentang drama kucingnya di apartemen Milan, tentang resep tiramisu baru, atau tentang betapa kesalnya ia pada macetnya jalanan Roma saat jam pulang kantor. Hari ini, ia hanya diam.
Felix yang duduk di seberang mereka juga merasakan keanehan itu. Ia memecah keheningan. "Sar, tumben kamu diam aja. Biasanya kamu ngomong terus dari duduk sampai makanan dateng. Ada apa? Sakit perut makin parah?"
Sarah menggeleng pelan. "Nggak, Fel. Aku cuma... mikirin sesuatu."
"Ngapain?" tanya Felix penasaran.
Sarah mengangkat wajahnya. Ia menatap Samudra sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke laut biru. "Aku mikir... kalau nanti prosedur ini berhasil, sembilan bulan ke depan, hidupku bakal beda banget. Aku bakal ada yang nempel di perut. Terus nanti aku melahirkan di sini, di Italia, lalu bayi itu..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Ada rasa yang mengganjal di dadanya. Ia mungkin akan mengandung anak Samudra, tapi ia tidak akan pernah menjadi ibunya secara hakiki. Sebatas pemilik rahim. Sebatas kontrak.
Samudra seolah membaca pikirannya. Ia meletakkan garpunya perlahan, menatap Sarah dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kamu tidak perlu memikirkan itu sekarang. Fokus saja pada prosedur dan kesehatanmu. Semua hal tentang hak asuh, masa depan anak itu, sudah diatur jelas di dalam kontrak."
Sarah mendengarkan perkataan Samudra, tetapi kata-kata itu terasa dingin. Ia tidak tahu kenapa, tiba-tiba ia merasa sedih.
"Iya, Pak. Maaf, saya jadi melankolis," jawab Sarah, memaksakan senyum. "Mungkin efek lemas tadi."
Samudra tidak menanggapi. Namun, ia mengambil sepotong focaccia (roti khas Italia) dan meletakkannya di piring kecil, lalu mendorong piring itu ke arah Sarah. "Makan rotinya. Ada karbohidrat. Kamu butuh energi."
Sarah menatap roti di atas piringnya, lalu menatap Samudra. Ada hal yang berbeda dalam dirinya hari ini. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Ia akhirnya mengambil roti itu dan menggigitnya perlahan.
Felix memperhatikan interaksi keduanya. Ia tersenyum miring dalam hati. "Aneh. Biasanya bos itu dingin banget, tapi hari ini kok jadi pengasuh?"
Di meja itu, dengan latar belakang ombak Mediterania yang berkejaran dan sinar matahari siang yang hangat, Sarah diam-diam merasakan ada sedikit kehangatan yang tak ia duga. Ia tidak tahu apakah itu karena roti focaccia-nya, atau karena pria di seberangnya yang tiba-tiba peduli.
Tapi Sarah bersumpah pada dirinya sendiri: ia tidak akan membiarkan perasaan itu tumbuh. Ini hanya kontrak. Uang dan kewajiban. Cukup.
Namun, di saat ia meneguk air lemonnya, mata Samudra kembali menatapnya. Dan untuk sepersekian detik, ia melihat ada kerutan di dahi bosnya. Kerutan yang biasanya muncul saat Samudra sedang berpikir keras tentang angka-angka di laporan keuangan.
Dan kali ini, Samudra Grayson sedang memikirkan sesuatu yang jauh dari laporan keuangan. Ia sedang memikirkan deretan bulu mata Sarah yang bergetar saat ia menahan sakit tadi pagi, dan tiba-tiba ia bertanya pada dirinya sendiri... kenapa aku peduli?