MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~HARI PERTAMA BEKERJA
Disya sekarang sudah berusia dua puluh tahun, dan sedang menempuh semester ketiga di kampusnya. Hari ini bukan hari pertamanya masuk kuliah, melainkan hari pertama ia menjalankan tugas barunya sebagai asisten pribadi Jack. Setelah jam kuliah usai, Disya berjalan cepat menuju area parkir, di mana mobil hitam mewah milik Jack sudah terparkir di tempat yang agak tersembunyi.
Jack tidak turun dari mobil. Sebagai aktor papan atas yang sangat terkenal, ia tahu betul jika ia keluar tanpa alat penyamaran sedikit pun, ia pasti akan langsung dikerumuni penggemar dan dipenuhi kamera. Jadi ia memilih menunggu di dalam mobil, hanya menurunkan kaca jendela saat melihat Disya mendekat.
"Masuklah cepat, ya," panggil Jack lembut sambil tersenyum ramah. "Jangan sampai kau berdiri terlalu lama di luar."
Disya segera masuk ke dalam mobil, dan suasana di dalamnya terasa sejuk serta nyaman. Sepanjang perjalanan menuju tempat pertama yang akan mereka kunjungi, Jack terus menenangkan hatinya yang sempat berdebar cemas.
"Tenang saja, Disya. Tidak ada tugas yang berat, tidak ada hal melelahkan yang harus kau kerjakan. Kau tidak perlu terburu-buru, tidak perlu takut salah. Yang terpenting kau nyaman dan tidak kelelahan."
Sesuai dengan rasa sayangnya yang besar pada Disya, Jack sama sekali tidak memberikan pekerjaan yang susah atau membebani. Baginya Disya adalah kesayangan yang harus dijaga, bukan disuruh bekerja keras sampai tubuhnya lelah. Tugas yang diberikan sangat ringan dan sederhana: cukup mengingatkan jadwal kegiatan yang akan datang, menyiapkan minuman kesukaan Jack saat rapat dimulai, menemani Jack pergi ke mana pun ia berencana, dan sesekali membantu menyusun berkas-berkas kertas yang tidak rumit.
Saat Disya sempat bertanya dengan ragu, "Oppa, apa tidak ada tugas lain? Rasanya aku terlalu santai begini," Jack hanya tertawa pelan dan mengusap kepala Disya dengan sayang.
"Kau cukup ada di sampingku saja, menemani aku, itu sudah sangat membantu dan membuatku senang. Jangan pikirkan hal lain, ya. Aku tidak mau kau kecapekan."
Mereka kemudian menuju gedung pertemuan untuk menemui rekan kerja Jack. Di sela-sela waktu menunggu, ponsel Disya bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang ia kenal baik—Min Jae.
Disya menatap layar ponselnya ragu, lalu perlahan membukanya. Isinya sangat singkat dan sederhana:
"Disya, sudah makan siang belum? Jangan lupa isi perut ya, jangan sampai sakit."
Tak ada permintaan balasan, tak ada pertanyaan mendesak, hanya perhatian kecil yang tulus. Disya tersenyum tipis, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia belum membalas, tapi hatinya terasa sedikit lebih hangat.
Tak lama kemudian, pesan lain masuk lagi. Kali ini Min Jae memberitahu kegiatannya hari ini:
"Aku sedang bersiap untuk sesi pemotretan baru sekarang. Nanti sore mungkin aku harus lembur sendiri di studio sampai larut. Tetap jaga dirimu baik-baik ya di sana."
Disya paham maksud Min Jae. Pria itu ingin terus berjuang mendapatkan hatinya, tapi dengan cara yang paling sopan—memberi tahu kabarnya, memberi perhatian kecil, tanpa pernah memaksa bertemu atau menuntut perasaan yang sama. Ia ingin Disya tahu bahwa ia ada di sana, berusaha sabar dan menunggu, tanpa mengganggu langkah baru yang sedang Disya jalani.
Siang harinya, mereka berhenti di sebuah restoran yang tenang dan privat untuk makan siang. Di sudut ruangan, Min Jae ternyata juga ada di sana, duduk sendirian dengan piring makanan yang belum tersentuh, tampak lelah namun tetap menawan. Begitu melihat Disya, matanya langsung berbinar, tapi ia tidak beranjak dari tempat duduknya, tidak berjalan mendekat atau membuat keributan. Ia hanya mengangkat tangan sedikit, menyapa pelan dengan senyum lembut dan penuh rasa lega melihat Disya terlihat lebih segar, lebih ceria, dan tidak lagi tampak ketakutan seperti dulu.
Disya tertegun sejenak, lalu membalas sapaan itu dengan anggukan kecil dan senyum tipis. Jack yang menyadari hal itu hanya melirik sekilas, lalu kembali makan dengan tenang, tidak bertanya atau melarang apa pun. Ia menghormati apa yang terjadi di antara mereka berdua.
Sore harinya, setelah semua urusan selesai, Disya kembali pulang ke apartemen bersama Jack. Sepanjang jalan ia berpikir: hari ini bukan hanya tentang pekerjaan baru. Hari ini ia belajar bahwa ia tidak berjalan sendirian. Ada Jack yang menjaganya dengan kasih sayang kakak, ada Min Jae yang berjuang dengan cara yang tulus dan penuh rasa hormat, dan ada dirinya sendiri yang mulai berani melangkah maju dengan kepala teglah setelah selesai."*
Tak butuh waktu lama, balasan Min Jae masuk:
"Terima kasih sudah membalas. Cukup tahu kau baik-baik saja sudah membuatku semangat. Selamat tidur, Disya."
Disya tidak lagi merasa takut menghadapi hari esok.