NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

"Sekarang giliranku yang menyerangmu."

Wush.

Bima menghilang dari pandangan pria itu hanya dalam sekejap mata.

Sang Bayangan menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik mencari keberadaan targetnya yang tiba-tiba hilang.

"Aku ada di belakangmu," bisik suara dingin tepat di telinga kanan pria itu.

Bugh.

Satu pukulan keras menghantam punggung pria bertopeng itu tanpa bisa dihindari.

"Aaaargh!" pria itu menjerit kesakitan dan terpental jauh ke depan hingga wajahnya mencium tanah.

Dia merasa tulang punggungnya hampir retak semua karena pukulan barusan.

Bima berjalan mendekati pria yang sedang terkapar tak berdaya di tanah itu.

"Kau terlalu lemah untuk menyandang julukan yang terdengar keren itu," kata Bima datar.

"Asosiasi Medis Gelap benar-benar membuatku sangat kecewa malam ini."

Sang Bayangan mencoba merangkak bangun dengan susah payah sambil menahan sakit.

Dia merogoh sesuatu dari balik baju hitamnya dengan tangan yang bergetar.

Sebuah bola kecil berwarna hitam dilemparkan ke tanah tepat di antara mereka berdua.

Poof.

Asap tebal berwarna ungu langsung mengepul deras dan menutupi seluruh pandangan di sekitar mereka.

"Itu asap beracun pelebur tulang!" teriak pria itu dari balik kepulan asap.

"Nikmatilah kematianmu secara perlahan di sana, Tabib sombong!"

Pria itu menggunakan kesempatan tersebut untuk berlari melarikan diri ke arah tembok pagar yang tinggi.

Dia melompat ke atas berniat melewati tembok dan kabur ke jalan raya secepat mungkin.

Namun sebelum kedua tangannya sempat menyentuh ujung tembok, sebuah cengkeraman kuat menahan pergelangan kakinya.

Bruk.

Bima menarik kaki pria itu ke bawah dan membantingnya kembali ke tanah halaman dengan sangat keras.

"Uhuk!" pria itu memuntahkan darah kental dari balik celah topeng logamnya.

Bima berdiri tegak di samping pria itu tanpa terpengaruh sedikit pun oleh asap racun ungu tadi.

"Racun pelebur tulangmu rasanya hanya seperti asap rokok murahan di hidungku," ucap Bima tanpa ekspresi.

"Aku sudah kebal terhadap semua jenis racun sejak umur sepuluh tahun karena latihanku."

Mata Sang Bayangan membelalak sangat lebar mendengar pengakuan gila tersebut.

Dia akhirnya sadar bahwa target yang ditugaskan kepadanya malam ini adalah monster yang tidak bisa dibunuh.

"S-siapa kau sebenarnya?" tanya pria itu dengan nafas tersengal-sengal di tanah.

"Kau tidak perlu tahu namaku," jawab Bima dingin.

"Kau hanya perlu membawa satu pesan dariku untuk kembali kepada bosmu."

Bima menginjak dada pria itu agar dia tidak bisa bergerak atau kabur lagi.

Krek krek krek.

Suara tulang rusuk yang tertekan beban berat terdengar sangat mengerikan di tengah malam yang sunyi itu.

"Katakan pada petinggi Asosiasi Medis Gelap di pusat," perintah Bima dengan aura membunuh yang sangat pekat.

"Berhenti mengganggu kediaman keluarga Herman dan juga tunanganku."

"Jika mereka berani mengirimkan satu orang lagi ke rumah ini, aku sendiri yang akan mendatangi markas kalian."

"Dan aku akan meratakan tempat itu dengan tanah."

Pria itu menganggukkan kepalanya dengan cepat berulang kali karena ketakutan yang luar biasa.

"A-aku mengerti," jawabnya terbata-bata sambil menahan rasa sakit di area dadanya.

"Aku pasti akan menyampaikan pesanmu pada mereka."

Bima akhirnya menyingkirkan kaki kanannya dari dada pria itu.

"Bagus," kata Bima singkat.

"Sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran dan mematahkan semua tulang di tubuhmu."

Sang Bayangan segera bangkit berdiri meskipun kedua kakinya masih gemetar hebat.

Dia tidak berani menoleh ke belakang lagi untuk menatap Bima.

Dengan sisa tenaga dalamnya yang ada, dia melompat melewati tembok dan langsung menghilang ke dalam kegelapan malam.

Bima berdiri diam di posisinya memastikan aura pembunuh pria itu benar-benar sudah menjauh.

Setelah merasa situasinya aman, dia membalikkan badannya dan menatap ke arah lantai dua rumah megah itu.

Dari balik tirai jendela kamar yang sedikit terbuka, dia bisa melihat siluet Clara dan Pak Herman yang sedang mengintip.

Bima melambaikan tangan kanannya pelan ke arah mereka berdua untuk memberikan tanda bahwa semua ancaman sudah selesai.

Dia kemudian berjalan santai masuk kembali ke dalam rumah melalui pintu utama.

Krieet.

Begitu pintu depan terbuka, Clara langsung berlari turun dari arah tangga dengan tergesa-gesa.

Gadis cantik itu bahkan mengabaikan sandal jepitnya yang terlepas di tengah jalan saking paniknya.

Grep.

Clara menabrak tubuh Bima dan memeluk pinggang pemuda itu dengan sangat erat.

"Bima!" seru Clara dengan suara serak karena menahan tangis sedari tadi.

"Kamu tidak terluka kan? Tidak ada bagian tubuhmu yang berdarah kan?"

Gadis itu mendongak dan meraba wajah serta lengan Bima dengan panik untuk mencari luka.

Bima meraih kedua tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan lembut.

"Aku baik-baik saja, Clara," jawab Bima mencoba menenangkan tunangannya itu.

"Sudah kubilang kan, aku tidak akan pernah membiarkan bajingan itu melewatiku."

Pak Herman menyusul turun dari tangga dengan wajah lega yang luar biasa.

"Syukurlah Nak Bima, kamu selamat tanpa kurang satu apa pun," kata Pak Herman sambil mengelus dadanya.

"Aku dan Clara melihat semuanya dari atas sana tadi."

"Kamu menghajar pembunuh elit itu seperti sedang memukul anak kecil saja."

"Dia memang sangat lemah, Pak Herman," jawab Bima merendah.

"Dia hanya mengandalkan racun murahan dan trik menghilang yang sudah ketinggalan zaman."

Clara perlahan melepaskan pelukannya namun masih menggenggam tangan Bima dengan erat.

"Aku benar-benar takut setengah mati tadi," ucap Clara dengan mata berkaca-kaca menatap Bima.

"Meskipun aku sangat percaya padamu, tapi melihatmu bertarung di luar sana sendirian sungguh mengerikan."

"Jantungku rasanya mau copot saat dia melempar asap tebal tadi."

Bima mengusap puncak kepala Clara dengan penuh kasih sayang.

"Maafkan aku karena terpaksa membuatmu khawatir malam ini," kata Bima lembut.

"Tapi mulai malam ini, kalian berdua bisa tidur dengan tenang di rumah."

"Asosiasi Medis Gelap tidak akan berani mengirim orang lagi kemari dalam waktu dekat."

Pak Herman mengangguk setuju mendengar ucapan menenangkan dari Bima.

"Kau sudah menyelamatkan keluarga kami berkali-kali, Nak Bima," kata Pak Herman penuh haru.

"Aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara membalas semua budi baikmu ini ke depannya."

"Anda tidak perlu repot membalas apa pun," balas Bima tulus.

"Melindungi calon istriku dan keluarganya sudah menjadi tugasku sekarang."

Mendengar kata calon istri meluncur bebas dari mulut Bima, pipi Clara kembali bersemu merah.

Rasa takutnya seketika menguap digantikan oleh rasa bahagia yang membuncah di dadanya.

"Kamu ini bisa saja membuatku salah tingkah di depan Papa," cicit Clara tersipu malu.

"Ayo kita kembali ke kamar sekarang, di luar sini udaranya sangat dingin."

Bima mengangguk dan mengikuti langkah Clara naik kembali ke lantai dua.

Malam itu, kediaman keluarga Herman kembali mendapatkan ketenangannya yang sempat terusik.

Namun di dalam hatinya, Bima tahu persis bahwa ini hanyalah awal dari perang yang lebih besar.

Di tempat yang sangat jauh dari sana, pria bertopeng yang melarikan diri itu akhirnya tiba di sebuah markas rahasia.

Dia jatuh berlutut di hadapan beberapa sosok berjubah yang duduk di kursi besar ruang rapat.

"Maafkan aku, Tuan," ucap pria itu dengan suara bergetar menahan sakit.

"Target yang kita hadapi kali ini bukanlah manusia biasa."

"Dia menguasai tenaga dalam tingkat tinggi dan benar-benar kebal terhadap semua racun andalan kita."

Salah satu sosok berjubah itu berdiri dari kursinya dengan perlahan.

Matanya memancarkan niat membunuh yang sangat dingin menatap bawahannya yang gagal.

"Pemuda bernama Bima itu rupanya memang masalah besar bagi bisnis kita," kata sosok itu perlahan.

"Sepertinya kita harus segera melaporkan hal ini ke markas pusat secepatnya."

"Keluarga Herman ternyata telah menemukan pelindung yang sangat merepotkan."

Kembali ke kamar tamu di rumah keluarga Herman yang tenang.

Bima kembali duduk bersila di atas tempat tidurnya dalam kegelapan.

Dia menutup matanya dan menarik napas panjang untuk mengatur energinya.

Energi panas perlahan kembali menyelimuti tubuhnya membentuk lapisan tipis.

"Sepuluh persen tenaga dalam naga yang kubuka tadi ternyata belum cukup sempurna alirannya," gumam Bima dalam hati.

"Aku harus segera membuka segel ketiga jika ingin menghadapi petinggi mereka nanti."

Bima menghabiskan sisa malam itu dengan bermeditasi memperkuat ilmu bela dirinya.

Dia siap menghadapi tantangan apa pun yang akan datang mengancamnya esok hari.

Dunia medis bawah tanah ibukota mulai menyadari kehadirannya.

Namun sang Naga tidak akan pernah mundur selangkah pun dari tantangan musuhnya.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!