Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.
Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...
Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...
ikuti kisah selanjutnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tebusan Di Pura Dapem
Langit terlihat cukup temaram. Waktu masih cukup siang, tetapi langit terlihat menghitam.
Aroma menyan dan juga dupa dari kayu cendana menggumpal di udara, terasa begitu menyengat.
Angin seperti berhenti untuk bertiup, semua seolah ikut merasakan betapa berat perjuangan Dwi saat ini.
Baru beberapa hari sakit, tubuhnya terlihat cukup kurus, dan wajahnya sangat pucat.
Nyoman Sari menata pejati di atas dulang perak. Tangannya gemetar, tapi gerakannya mantap seperti sudah dilatih seribu tahun. Air matanya jatuh satu, meresap ke dalam nasi tumpeng pada sesaji Peras.
“Bhatara Durga, ampurayang titiang…” bisiknya. Suaranya pecah. “Puniki atma pianak titiang, Dwi. Titiang nunas… lepaskan.”
Di sampingnya, Daksina menjulang. Kelapa gadingnya mengkilat, telur bebeknya bulat sempurna, benang tukelan melingkar seperti nasib yang kusut. Ajuman dan ketupat enam biji sudah tertata, simbol Mahadewa dan Wisnu yang menjaga keseimbangan. Canang sari bertebaran di tanah, doa-doa kecil yang tak boleh lupa.
Putu Angga menuntun kambing saru. Kambing itu diam, tidak mengembik. Matanya bulat, seolah paham ia adalah simbol keikhlasan. Harga sebuah jiwa.
Jro Mangku berdiri di natah paling tengah. Di depannya, sesajen gede menggunung. Asap menyan ngebul, melukis naga di udara. Ia mulai komat-kamit. Bukan mantra biasa. Ini _pengunduran_, bukan _pemutusan_. Bahasanya berat, kuno, kata-kata yang bahkan batu di pelinggih pun takut mendengarnya.
Di pintu mobil, Kadek Satya membimbing Dwi. Dwi masih linglung. Matanya kosong, kadang senyum sendiri, kadang menatap ke arah palinggih Ratu Gede dan menggigil. Saraswati, yang ingatannya hilang, digandeng Komang Shinta dan Kadek Dharma. Mereka diam. Tidak ada yang berani bicara.
Prosesi dimulai. Jro Mangku _matur piuning_, memberitahukan kedatangan. Menghaturkan semua banten. Memohon pada Dewa Brahmana, Iswara, Mahadewa, Wisnu. Memohon pada Bhatari Durga yang bertahta di Pura Dalem.
“Nunas tamba, nunas tirta… nunas urip okan titiange,” suara Jro Mangku menggema, memantul di tembok-tembok tua.
Lalu ia menari. Bukan tari biasa. Kakinya menjejak tanah, tangannya menarik-narik sesuatu yang tak kasat mata. Benang. Benang gaib, hitam kemerahan, membentang dari ubun-ubun Dwi… melesat, menembus udara, terikat erat di arca Durga di jeroan. Benang itu berdenyut, seperti nadi. Di ujungnya, terdengar tawa lirih. _Leak_.
Keringat sebesar jagung menetes dari dahi Jro Mangku. Urat di lehernya bertonjolan. Ia tidak memutus. Ia tak sanggup. Benang itu sudah jadi daging, jadi takdir. Siapa yang menanam, ia tak tahu. Mungkin salah ucap. Mungkin _guru piduka_. Mungkin sumpah dari hidup yang lalu.
“Aku nggak nebus jiwanya,” desis Jro Mangku, hanya terdengar oleh Kadek Satya yang berdiri paling dekat. Bibirnya hampir tak bergerak. “Aku cuma ngulur.”
Ia mengambil bungkak nyuh gading. Membelahnya dengan sekali tebas. Airnya dipercikkan ke Dwi. Dingin. Dwi tersentak.
“Kajeng Kliwon ditunda,” lanjut Jro Mangku, matanya terpejam. “Ratu Gede ngasih waktu. Tapi harganya mahal.”
_Grep_.
Terdengar suara seperti tali dipelintir kencang. Benang gaib itu tidak putus. Ia hanya… memanjang. Menipis. Warnanya dari hitam pekat jadi merah bara, seperti kawat yang dipanaskan. Ujungnya tetap tertancap di altar Durga.
Di saat yang sama, kambing saru mengembik panjang sekali, lalu roboh. Tidak berdarah. Tidak kejang. Ia hanya… pergi. Napasnya berhenti sebagai bayaran pertama.
Jam di pergelangan Kadek Satya menunjukkan 00:01.
Dwi yang sedari tadi lunglai, tiba-tiba narik napas panjang. Dalam sekali. Seperti orang yang baru muncul dari dalam air. Matanya berkedip. Kabut di sana lenyap, diganti bening. Bening seperti telaga.
“Bli…” lirih. Suaranya serak, tapi itu suaranya. Suara Dwi. Bukan “yang lain”. Bukan suara yang mendesis dan tertawa tengah malam.
Kadek Satya jatuh berlutut. Air matanya jebol. “Dwi? Kamu inget aku?”
Dwi menoleh. Perlahan. Bibirnya pecah-pecah, tapi ia mencoba senyum. Angguk. Lemah sekali. Lalu kalimat pertama yang keluar setelah berbulan-bulan:
“Laper…”
Nyoman Sari ambruk. Sujud di depan pejati. Bukan karena lemas, tapi karena lega yang sakitnya seribu kali lipat dari duka. Doanya didengar. Ditunda.
*Sejak malam itu…*
Dwi bisa makan. Nasi pertama yang masuk adalah nasi tumpeng dari sesaji Peras, atas seizin Jro Mangku. Ia bisa jalan di bawah matahari tanpa kulitnya melepuh dan berasap. Tes darahnya normal. Dokter di Sanglah sampai mengulang tiga kali, hasilnya tetap sama: _tidak ada kelainan_.
Keluarga bersyukur. _Selametan_ kecil digelar.
Cuma ada dua hal yang jadi pengingat bahwa ini belum selesai.
Satu: Tiap purnama, tanpa pernah telat, Dwi mimisan. Darahnya bukan merah segar. Agak kehitaman, dan baunya seperti besi karatan bercampur bunga kamboja.
Dua: Kadek Satya diam-diam ke Pura Dalem setiap _Kajeng Kliwon_. Di jeroan, di depan altar Bhatari Durga, ia melihat benang itu. Benang jiwa Dwi. Benang yang dulu tebal, sekarang setipis rambut. Merah menyala seperti bara. Tiap dihembus angin malam, ia bergetar.
Leak belum nyerah. Ia cuma menunggu. Menunggu benang itu putus sendiri karena tak kuat menahan beban waktu yang dipaksa mundur.
Dan Jro Mangku sudah bilang: harganya mahal.
Kajeng Kliwon berikutnya tinggal 15 hari lagi. Dan kambing saru hanya bisa dibayar sekali.
Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung
kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak
ini gila deh