Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.
Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.
Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu
Hujan sudah reda.
Tinggal sisa air yang menetes pelan dari talang, beradu dengan suara burung yang baru bangun.
Serena membuka mata lebih dulu.
Lampu ruang tamu masih menyala temaram. Selimut tipis melingkar di tubuh Serena dan Revan. Mereka masih di sofa. Posisi sama seperti semalam. Serena tertidur lebih dulu, di atas dada Revan setelah air matanya berhenti.
Pria itu sengaja tidak memindahkan nya ke kamar, atau ke tempat yang lebih nyaman, karena ingin terus memeluknya.
Tidak ada kata-kata.
Hanya ada keheningan yang aneh. Hangat, tapi canggung.
Pandangan Serena jatuh ke tangan kirinya.
Di jari manisnya bertengger cincin soft pink. Berliannya menangkap cahaya pagi, berkilau pelan.
ini nyata.
Pikirnya.
Ia menahan napas, takut jika bergerak sedikit Revan akan bangun dan mengatakan "itu cuma mimpi.”
Tapi Revan malah mengeratkan pelukannya. Dagunya menggosok puncak kepala Serena.
"Pagi,” gumamnya. Suaranya serak, masih berat oleh kantuk.
“Tidur nyenyak, nggak, calon istri gue?”
Serena tersenyum. Pipinya memanas.
“Pagi... Calon suami yang ngelamar di sofa.”
Revan mendengus pelan. “Ya terus mau di mana? Di pelaminan? Kelamaan.”
Ia melepaskan pelukan lalu duduk. Rambutnya berantakan. Kemejanya kusut. Tapi matanya masih sama seperti semalam. Menatap Serena dengan takut kehilangan.
“Ngapain?” tanya Revan saat melihat Serena masih bengong menatap cincinnya.
“Enggak.” Serena buru-buru menurunkan tangan. “Cuma... masih asing.”
Revan meraih tangan Serena. Ia angkat, lalu mencium punggung tangan itu sekali. Tepat di atas cincin.
“Nanti juga biasa,” katanya pelan. “Dipakai tiap hari soalnya.”
Kalimat itu sederhana. Tapi membuat dada Serena sesak.
Tiga puluh menit kemudian, dapur apartemen sudah wangi.
Serena berdiri di depan kompor mengenakan kaos kebesaran Revan. Rambutnya diikat asal. Di tangannya ada spatula. Ia sedang menggoreng telur.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Dua lengan besar melingkar di perutnya.
“Masak apa?” bisik Revan di telinganya.
“Telur. Sama nasi goreng sisa semalam,” jawab Serena. “Mau?”
“Yang masak calon istri gue. Mau lah.”
Revan bersandar di punggung Serena. Ia tidak membantu. Hanya menemani. Sesekali ia mencuri kecupan di bahu Serena yang terbuka.
“Berisik,” protes Serena pelan. Tapi sudut bibirnya naik.
“Sumpah gue masih nggak percaya,” kata Revan tiba-tiba. Napasnya hangat di leher Serena. “Semalam gue beneran ngelamar lo, kan? Bukan gue halu karena kurang tidur?”
Serena mematikan kompor. Ia berbalik menghadap Revan.
Lalu ia mengangkat tangan kirinya. Menggoyang-goyangkan cincin itu di depan wajah Revan.
“Buktinya ini.”
Revan menatapnya lama. Kemudian ia tertawa. Kecil. Lega.
Ia menarik Serena ke dalam pelukannya. Erat.
“Makasih ya... Udah mau sama orang berantakan kayak gue.”
Serena mengangguk di dada Revan.
Hari-hari berlalu seperti biasa. Revan hampir setiap hari berada di apartemen mereka. Bahkan dia juga setiap hari mengantar jemput Serena.
Pagi itu langit masih bersih.
Mobil hitam Revan berhenti tepat di depan gerbang kampus Serena. Mesin belum dimatikan.
Serena meraih gagang pintu. "Aku masuk dulu ya."
Pergelangan tangannya tertahan.
Revan belum menoleh. Matanya masih menghadap ke depan. Tapi jemarinya menggenggam tangan Serena. Hangat. Kuat.
"Tunggu."
Hanya satu kata. Suaranya rendah, seperti biasa.
Serena menoleh. "Kenapa kak?"
Revan tidak langsung menjawab. Ia melepas sabuk pengaman, lalu memutar tubuhnya menghadap Serena.
Jarak mereka mendadak dekat.
Tanpa aba-aba, Revan mencondongkan badan. Bibirnya menyentuh bibir Serena.
Kali ini berbeda.
Tidak ada keraguan. Tidak ada jeda untuk bertanya.
Sentuhannya mantap. Tiga detik. Lalu lepas.
Begitu selesai, Revan kembali bersandar. Tangannya meraih setir seolah tidak terjadi apa-apa.
"Gitu kalau pamit." ucapnya datar.
Wajah Serena langsung panas. Ia melirik ke arah gerbang. Beberapa mahasiswa mulai berlalu-lalang.
"Kamu... di sini banyak orang."
Revan menoleh. Sorot matanya tenang. Di ujung bibirnya ada senyum tipis yang jarang sekali muncul.
"Memangnya kenapa. Kamu itu calon istri aku."
Serena terdiam, jantungnya seperti berhenti sesaat.
Itu kali pertama dia mendengar kalimat itu dari bibir Revan.
"Kamu?" Tanya Serena pelan seperti berbisik. Seakan memastikan bahwa dia tidak salah mendengar.
Revan mengangkat alis nya. "Kenapa, nggak boleh?"
Serena menggeleng. Senyumnya mengembang, hangat. Matanya menatap lurus ke wajah Revan.
"Boleh banget, Kak."
Revan membalas. Senyumnya tidak lebar, tapi cukup untuk membuat sudut matanya melembut.
"Ya udah. Sana masuk."
Dada Serena terasa sesak. Ia buru-buru membuka pintu dan melangkah turun.
Sebelum menutup pintu, ia sempat mendengar suara Revan dari dalam mobil.
"Hati-hati."
Serena tidak menoleh. Ia berjalan cepat memasuki gerbang kampus.
Dari kaca spion, Revan masih memperhatikan. Menunggu sampai punggung Serena benar-benar hilang di antara keramaian mahasiswa.
Baru setelah itu ia menginjak gas.