Bagaimana jadinya jika kamu harus menikah dengan musuh kamu, itu yang di rasakan Haziqa Elvarreta Shanum atau kerap di sapa Hazi.
Seorang Dokter umum di salah satu rumah sakit di Jakarta ,anak kedua dari pasangan Kiyia Luqman dan Nyai Khodija.
Hazi harus menikah menggantikan sang kakak, apakah Kehidupan Hazi, akan baik- baik saja setelah menikah, tunggu updatenya hanya di novel ini yaa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Istri Pengganti 2
Mila menundukan kepalanya setelah mengucapkan kata itu, sedangkan abi luqman dan umi Khodijah, saling pandang.
" Siapa yang kamu maksud mbak?" tanya umi khodijah.
"Tidak ada mi, mbak hanya bertanya saja" jawab Mila.
"mbak ini amanat dari mbah kung, InsyaAllah dia pria yang baik " jawab Abi Luqman.
" Iya bi, mbak manut mawon dawuh abi kaleh umi " jawab Mila.
Abi Luqman dan Umi Khodijah tersenyum melihat putri sulungnya yang menerima berjoddohanny, "Ini cv nya mbak, namanya Afhsan Arrasyad, Dokter Jantung dan pembuluh darah , dia bukan dari kalangan Gus atau pun ustad , tapi InsyaAllah agamanya bagus, sholatnya juga terjaga" ucap Umi Khodijah memberikan cv milik Arras.
" Iya umi, kalau gitu mbak pamit ke kamar dulu ya.. soalnya mau ngajar juga " pamit Mila .
Mila kemudian masuk ke berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang sulit di artikan, sebenarnya ada seseorang yang ia cintai, namun ia juga tidak mungkin untuk membantah perintah kedua orang tuanya.
" Semoga ini jalan yang terbaik bagimu Ya Allah " gumam Mila
Sedangkan di Jakarta kini Hazi sedang berada di sebuah Cafe dengan Dokter Xylan, mereka sudah duduk di Cafe tersebut selama 15 menit dan tidak ada obrolan yang terjadi pada mereka berdua.
" ekhmmm, jadi apa yang mau Dokter sampaikan?" tanya Hazi yang sudah ingin sekali merebahkan dirinya di kasur.
" emm, sa- saya mau melamar kamu apa boleh?" tanya Dokter Xylan dengan ragu.
"Saya rela masuk islam dan belajar agama islam,kalau kamu mau menikah dengan saya" imbuh Dokter Xylan.
Hazi tampak menghembuskan nafasnya berat, "Maaf dok saya enggak bisa " jawab Hazi dengan cepat.
" Tapi kenapa? apa karena saya baru mau login dan kamu anak kiyai, jadi harus menikah dengan anak kiyai juga?" tanya Xylan karena ini kali keduanya ia di tolak Hazi.
Hazi tersenyum mendapatkan kembali pertanyaan itu dari beberapa orang. " satu niat dokter saja sudah salah , saat ingin memeluk agama saya, seharusnya bukan saya yang ada jadikan tujuan untuk masuk islam, tapi karena Allah. Dua saya juga tidak harus menikah dengan seorang Gus kalau itu maksud Dokter, karena bagi saya dan keluarga saya, semua orang sama saja di mata Allah, yang terpenting ia bisa membimbing saya ke jalan Allah dan yang ketiga saya juga belum siap untuk nikah dok" jawab Hazi dengan sabarnya.
" kalau tidak ada yang di bahas lagi, saya pamit dulu yaaa dok, saya juga agak lelah hari ini" imbuh Hazi yang kemudian bangkit dari duduknya.
" kalau begitu saya permisi dulu Dok" pamit Hazi yang kemudian meninggalkan Xylan di meja yang mereka duduki.
Hazi melangkah meninggalkan Cafe tersebut dan masuk ke dalam mobilnya, lalu menjalankan mobilnya menuju ke apartemenya yang baru ia tempati satu tahun lalu.
Hazi baru merasakan dunia kerja satu tahun lalu, setelah perjalanan panjangnya untuk mendapatkan gelar dokter dan segala kesibukannya di pesantren membantu abi dan uminya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya Hazi sampai di apartemennya , sebenarnya jarak antara rumah sakit dan Apartemennya tidak terlalu jauh, namun kemacetan Jakarta yang membuat dirinya lama di jalan.
Setelah sampai Hazi mulai merapikan apartemennya , apartemen Hazi tipe studio jadi hanya ada kamar satu di lorong ada dapur ini dan juga kamar mandi, namun bagi Hazi ini sudah lebih cukup, ini pun hadiah dari umi abinya.
Setelah membereskan semuanya Hazi kemudian mandi dan menghilangkan kuman- kuman yang menempel di badannya, setelah lelah seharian bekerja.
Setelah hampir satu jam membersikan diri kini Hazi, ingin bersiap tidur, jujur dirinya memang lapar tapi rasa kantuknya jauh lebih berat dari pada rasa laparnya.
Setelah keluar kamar mandi yang ia lakukan pertama kali adalah mengerikan rambutnya, hampir 15 menit ia mengerikan rambutnya dan memakai rangkaian skincare, body care dan juga Hair care, Hazi tidur.
Tidak butuh waktu lama untuk Hazi, hingga ke alam mimpinya.
...****************...
Sedangkan di rumah sakit Alexander dimana tempat Hazi bekerja, Xylan baru saja kembali dari Cafe, ia kembali karena memang ia jaga malam.
Dengan langkah gontai, Xylan menuju ke ruangan Arras yang berada di lantai enam, langkah Xylan tampak berat, ia kembali mengingat, apa yang di katakan oleh Hazi, pujaan hatinya.
Saat ingin masuk ke dalam ruangan Arras, bertepatan pintu di buka dan menampilkan sepasang suami istri paruh baya dan juga Arras yang keluar dari ruangan tersebut.
" Kamu kenapa Lan ? lesu banget ?" tanya wanita paruh baya yang baru keluar dari ruangan Arras.
" Paling juga habis di TOLAK lagi ma" Balas Arras yang mewakili isi hati Xylan.
" Siapa yang berani nolak, Dokter seganteng kamu?" tanya Ayah Bram, ayah Arras.
" Nah... itu om, om aja ngakuin aku ganteng yaa... om, masak cowok seganteng ini Dokter tergateng seantero rumah sakit Alexander, rumah sakit terbesar sejakarta ini di tolak dua kali om" ujar Xylan menumpahkan isi hatinya.
" Emang siapa yang nolak kamu? sampai buat kamu galau berat kayak gini?" tanya Bunda Sofia, Bunda Arras.
" Siapa lagi bun, kalau bukan pujaan hatinya Dokter Haziqa" lagi dan lagi Arras yang mewakili Xylan untuk menjawab pertanyaan orang tua Arras.
" Yahhh pantes di tolak" gumam Ayah Bram yang di dengar oleh Xylan dan membuat Arras dan Bunda Sofia menahan tawannya.
" Kok om, ngomong gitu sih.. om, bukannya tadi om bela aku" gerutu Xylan yang kesal.
Ayah Bram memegang pundak sahabat anaknya tersebut yang sudah ia anggap anak sendiri, " Lan, kalau yang lain om bela kamu, tapi kalau sama Dokter Hazi, om enggak bisa bela kamu,tembok kalian tinggi, kalau pun ia Hazi cari calon suami, sudah di pastikan seagama dan yang membimbing Hazi bukan Hazi yang membimbing" jawab Ayah Bram memberikan nasihat untuk Xylan.
" om aku udah bilang loh, kalau aku rela pindah agama demi dia om, tapi masak iya aku masih tetap di tolak" sahut Xylan yang sepertinya sudah benar-benar frustasi.
" Kamu bilang ke dia gimana?" tanya Bunda Sofia.
" kalau aku rela pindah agama demi dia, setelah dia setuju terima cinta aku, aku siap langsung pindah agama hari itu juga" jawab Xylan dengan penuh membara.
" Nahhh itu bodohnya elu, jelas dia enggak mau, orang dia orang yang paham agama dan elu pindah ke Islam bukan karena Allah tapi karena dia, tambah lah dia enggak bakal mau, bodoh" jawab Arras yang ucapan membuat hati Xylan mencelos.
" kok loe ngomongnya gitu sih... atit hati adek bang" sahut Xylan sambil memegang dadanya.
" lebay kamu lan" sahut Bunda Sofia.
Arras, ayah Bram dan juga Bunda Sofia, tertawa melihat tingkah lucu Xylan yang sedang galau maksimal karena cintanya di tolak.