Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30: Kepulangan Terakhir Sebelum Hari Nol
Malam terkadang terasa paling hangat justru ketika takdir sedang menyiapkan musim dingin yang tak akan pernah dilupakan. Angin pegunungan berembus pelan melewati balkon vila, mengusap wajah Arga yang berdiri memandangi hamparan lampu Jakarta dari kejauhan. Sulit dipercaya bahwa di balik lautan cahaya itu, miliaran kehidupan masih berjalan tanpa menyadari jam pasir dunia telah hampir habis.
Ponsel di atas meja bergetar lembut, memecah keheningan yang telah lama menemaninya. Nama yang muncul di layar membuat sorot mata Arga melembut dalam sekejap, menghapus wajah dingin Ghost Collector yang selama ini dikenal Organisasi Hitam. Untuk sesaat, ia bukan lagi seorang Awakener, bukan pula pemburu yang dikejar banyak musuh, melainkan hanya seorang anak yang telah terlalu lama tidak pulang.
Bzzzt...
Arga mengangkat panggilan video itu sambil menarik kursi dan duduk santai. Layar segera menampilkan wajah ibunya yang tersenyum lebar, sementara di belakangnya ayah sedang membaca koran dan Sari melambaikan tangan dengan semangat hingga wajahnya memenuhi kamera. Suara riuh rumah sederhana itu membuat dada Arga menghangat oleh kerinduan yang telah lama ia kubur.
"Astaga, akhirnya diangkat juga," keluh ibunya sambil tertawa kecil. "Ibu pikir kamu sudah lupa sama rumah sendiri." Arga menggaruk belakang kepalanya sambil tersenyum canggung. "Maaf, Bu. Akhir-akhir ini memang lagi sibuk."
Sari langsung merebut ponsel dari tangan ibunya. Gadis yang baru saja lulus SMA itu tersenyum jahil sambil berkata, "Mas, katanya orang sukses itu susah dihubungi. Jangan-jangan sekarang sudah punya pacar terus lupa sama adiknya?" Arga tertawa pelan, lalu menggeleng. "Kalau punya pacar, orang pertama yang tahu pasti kamu. Sayangnya sampai sekarang belum ada yang tahan sama sifat kakakmu."
"Halah, alasan saja," sahut Sari sambil menjulurkan lidah. "Umur juga nambah terus, Mas. Teman-teman Sari sudah mulai nanya kapan punya kakak ipar." Candaan itu membuat kedua orang tua mereka ikut tertawa, sementara Arga hanya bisa menghela napas pasrah. Sudah bertahun-tahun pertanyaan itu menjadi menu wajib setiap kali mereka berbicara, dan untuk beberapa menit suasana terasa begitu hangat hingga Arga hampir lupa bahwa waktu terus bergerak menuju akhir dunia.
Ayah akhirnya mendekat ke kamera sambil melepas kacamatanya. Wajah lelaki paruh baya itu masih tampak tegas meski rambut di pelipisnya mulai memutih. "Ibu bilang kamu resign dari kantor. Serius?" tanyanya dengan nada tenang, tetapi Arga mengenal nada itu dengan sangat baik. Ayahnya sedang khawatir, meski berusaha menyembunyikannya di balik sikap tenang.
Arga mengangguk perlahan. "Iya, Yah. Sudah beberapa minggu lalu." Kalimat itu langsung disambut ekspresi terkejut dari ibunya. "Lho, pekerjaanmu kan bagus. Gajinya juga besar. Kok malah berhenti? Kamu sakit? Ada masalah sama kantor?"
Arga tersenyum menenangkan. Ia sudah menyiapkan jawaban itu jauh sebelum panggilan ini terjadi. "Enggak ada masalah. Aku sama teman lagi bangun proyek bisnis. Nilainya lumayan besar, jadi aku memutuskan fokus ke sana. Alhamdulillah, sekarang kondisi keuangan malah lebih baik daripada waktu masih kerja."
Ibunya masih tampak belum sepenuhnya percaya. "Bisnis apa memangnya?" tanyanya hati-hati. Arga mengangkat bahu sambil tertawa kecil. "Distribusi dan investasi logistik, Bu. Penjelasannya panjang. Yang penting sekarang aku enggak kekurangan apa-apa." Mendengar jawaban itu, sang ibu hanya mengangguk pelan meski sorot matanya masih menyimpan kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang.
Ayah memperhatikan wajah putranya selama beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Kalau memang sudah dipikirkan matang, Ayah percaya. Tapi jangan terlalu memaksakan diri." Kalimat sederhana itu terasa lebih berat daripada nasihat panjang mana pun. Arga hanya mampu mengangguk sambil menahan sesuatu yang mulai mengganjal di tenggorokannya.
Ibunya kembali tersenyum, kali ini dengan ekspresi yang jauh lebih lembut. "Kalau memang sudah selesai urusanmu, pulanglah sebentar. Sudah lama kita enggak makan bersama. Sari juga libur, rumah rasanya sepi." Sari langsung mengangguk cepat sambil berseru, "Iya, Mas! Pulang, dong. Aku kangen."
Arga terdiam cukup lama. Matanya perlahan turun ke kalender digital di sudut layar ponsel yang menunjukkan tanggal 11 Juli 2026. Ia tahu persis bahwa waktu yang tersisa bukan lagi hitungan bulan ataupun minggu.
Hanya dua hari.
Senyum tipis akhirnya muncul di bibirnya. "Baik, Bu. Besok aku pulang."
Sorak gembira Sari langsung memenuhi pengeras suara. Ibunya tertawa lega, sementara ayahnya mengangguk puas tanpa banyak bicara. Mereka terus mengobrol tentang hal-hal sederhana, mulai dari masakan favorit Arga hingga tetangga yang baru merenovasi rumah, tanpa menyadari bahwa percakapan biasa itu mungkin menjadi malam terakhir dunia yang benar-benar damai.
Setelah panggilan berakhir, layar ponsel kembali gelap. Arga tetap duduk di balkon tanpa bergerak, memandang langit malam yang bertabur bintang sambil menarik napas panjang. Angin dingin menyentuh wajahnya, tetapi tidak mampu mengusir beban yang memenuhi dadanya.
"Kalau ini benar-benar kesempatan terakhir..." gumamnya lirih sambil mengepalkan tangan. "Aku harus menemui mereka."
Pagi 12 Juli datang bersama matahari yang cerah seolah dunia belum menerima kabar buruk dari masa depan. Arga telah berdiri di depan sebuah dealer mobil mewah bahkan sebelum pintu utamanya dibuka. Para pegawai yang baru datang sempat saling berpandangan heran melihat seorang pria muda menunggu dengan tenang di depan gedung.
Pintu kaca otomatis terbuka.
Desir...
Seorang staf penjualan segera menghampiri dengan senyum profesional. "Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" Arga mengangguk singkat sambil memandang deretan mobil yang berkilau di bawah lampu showroom. "Saya ingin unit terbaik yang bisa dibawa pulang hari ini."
Kalimat itu membuat sang staf berkedip beberapa kali. Ia tetap mengantar Arga berkeliling, menjelaskan spesifikasi demi spesifikasi, tetapi segera menyadari bahwa calon pembeli di hadapannya sama sekali tidak tertarik mendengar promosi panjang. Setelah mengamati beberapa unit, Arga berhenti tepat di depan sebuah mobil sport berwarna hitam metalik dengan desain agresif yang tampak seperti siap melesat kapan saja.
"Yang ini."
Staf itu tersenyum lebar. "Pilihan yang luar biasa, Pak. Untuk proses pembelian, biasanya—"
"Saya bayar lunas."
Kalimat Arga memotong penjelasannya dengan tenang. Beberapa menit kemudian, ruang administrasi berubah menjadi lebih sibuk daripada biasanya. Berkas berpindah tangan, komputer menyala tanpa henti, dan beberapa pegawai senior bahkan turun langsung membantu mempercepat seluruh proses.
Klik.
Pulpen Arga menandatangani dokumen terakhir atas nama salah satu perusahaan yang ia dirikan beberapa hari sebelumnya. Manajer dealer menyerahkan kunci mobil dengan kedua tangan sambil mengucapkan selamat berkali-kali. Ia belum pernah melihat transaksi bernilai miliaran rupiah selesai secepat itu.
Setelah meninggalkan dealer, Arga mengisi penuh tangki bahan bakar lalu berhenti sebentar di sebuah minimarket besar. Beberapa perlengkapan darurat, makanan ringan, air minum, kotak P3K, dan kebutuhan sederhana lain memenuhi bagasi sebelum diam-diam dipindahkan ke dalam Ruang Dimensi saat tidak ada seorang pun yang memperhatikan. Kebiasaan itu kini terasa begitu alami hingga nyaris menjadi bagian dari rutinitas hariannya.
Brummm...
Mesin mobil sport itu menggeram halus ketika memasuki jalan tol. Arga menggenggam kemudi dengan santai, sementara papan petunjuk di kejauhan perlahan mulai menunjukkan tujuan yang telah lama tidak ia datangi.
Tangerang.
Perjalanan terasa jauh lebih singkat daripada biasanya. Ketika matahari mulai condong ke barat, mobil hitam itu memasuki kawasan perumahan sederhana tempat Arga dibesarkan. Ia memarkir kendaraan di depan rumah yang tak banyak berubah sejak masa kecilnya; hanya cat pagar yang kini tampak sedikit lebih pudar, sementara halaman kecil di depannya masih menyimpan kenangan yang sama.
Ceklek.
Pintu rumah terbuka bahkan sebelum Arga sempat mengetuk. Ibunya langsung memeluknya erat sambil berkaca-kaca, disusul Sari yang hampir menjatuhkan tas kakaknya karena terlalu bersemangat. Ayah keluar beberapa langkah kemudian dengan senyum kecil yang selalu menjadi ciri khasnya.
"Selamat datang pulang," ucap sang ayah singkat.
Kalimat sederhana itu membuat hati Arga bergetar lebih kuat daripada menghadapi pasukan Awakener elit mana pun.
Malam pun dipenuhi aroma masakan rumah yang telah lama ia rindukan. Mereka makan bersama sambil saling bercerita, tertawa, dan sesekali saling menggoda. Sari terus penasaran dengan mobil baru Arga, sementara ibunya berkali-kali menambahkan lauk ke piring putranya hingga hampir meluap.
"Mobilmu bagus sekali," kata ayah sambil menyesap teh hangat. "Bisnismu benar-benar lancar, ya?" Arga hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Ia tahu kebohongan kecil itu tidak akan bertahan lama, tetapi untuk sementara itulah satu-satunya cara agar mereka tetap menikmati makan malam tanpa dihantui rasa takut.
Setelah makan malam selesai dan meja dibereskan, Arga meminta seluruh keluarganya duduk di ruang tamu. Nada suaranya yang berubah membuat ketiga anggota keluarganya saling berpandangan. Tidak ada lagi senyum santai di wajah Arga ketika ia mengambil posisi di depan mereka.
"Ayah... Ibu... Sari," katanya pelan. "Ada sesuatu yang harus kalian dengar. Dan apa pun yang akan kalian pikirkan nanti, tolong dengarkan sampai selesai."
Ruangan mendadak sunyi. Jam dinding terus berdetak pelan, sementara udara terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Arga mulai menceritakan semuanya, dari kemunculan kristal, monster, Organisasi Hitam, hingga kenyataan bahwa dunia hanya tinggal menghitung dua hari sebelum berubah menjadi neraka.
Sari mengerutkan dahi lebih dulu. "Mas... ini bercanda, kan?" Ibunya tertawa gugup sambil menggeleng. "Kamu jangan menakut-nakuti kami seperti itu." Bahkan ayah yang biasanya tenang pun tampak sulit mempercayai setiap kata yang baru saja didengarnya, tetapi Arga tidak membantah ataupun berusaha memaksa mereka percaya.
Ia hanya mengangkat tangan perlahan.
Wuuussh...
Sebuah lemari kayu besar yang sebelumnya tidak ada tiba-tiba muncul di tengah ruang tamu tanpa suara sedikit pun. Belum sempat keluarganya bereaksi, lemari itu kembali menghilang, digantikan oleh tumpukan kardus logistik, kemudian sebuah generator berukuran besar, lalu semuanya lenyap lagi dalam hitungan detik seolah ruang di hadapan mereka baru saja dilipat dan dibuka kembali.
Tak...
Gelas teh di tangan ibunya terlepas dan jatuh ke lantai. Tidak ada seorang pun yang berusaha memungutnya. Ayah berdiri perlahan dengan wajah memucat, sementara Sari menutup mulut menggunakan kedua tangan, matanya membulat penuh ketidakpercayaan.
Arga memandang mereka satu per satu. Wajah-wajah yang selama ini menjadi alasan terbesarnya untuk kembali ke masa lalu kini dipenuhi ketakutan dan kebingungan. Dadanya terasa sesak, tetapi ia tahu tidak ada lagi jalan untuk menyembunyikan kebenaran.
"Aku datang bukan untuk menakut-nakuti kalian."
Ia berhenti sejenak, membiarkan keheningan memenuhi setiap sudut rumah yang beberapa menit lalu masih dipenuhi tawa.
"Aku datang... untuk membawa kalian tetap hidup."