Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Yang Di Tepati
Roda mobil hitam Raka kembali membelah jalanan berliku lereng gunung yang sejuk. Perjalanan kali ini terasa begitu berbeda. Tidak ada lagi sesak di dada, tidak ada lagi rasa cemas akan nasib hubungannya. Yang ada hanyalah sabuk pengaman yang mengekang tubuhnya dan rasa tidak sabar yang membuncah di dalam dada.
Begitu memasuki area kompleks hunian guru, Raka menghentikan mobilnya. Suasana di sekitar hunian terasa sangat sepi dan lengang. Pintu rumah sederhana milik Naomy tampak terkunci rapat dari luar, dan gorden jendelanya tertutup rapi.
Raka melirik jam di tangannya. Pukul sembilan pagi.
Tentu saja, gadis gigihnya itu pasti sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik. Seulas senyum bangga terukir di bibir Raka. Tanpa membuang waktu, ia memutar arah langkahnya menuju bangunan SMK yang terletak hanya beberapa ratus meter dari area hunian tersebut.
Suasana gerbang SMK tampak tenang. Dari balik pagar, sayup-sayup terdengar suara riuh aktivitas belajar-mengajar dari dalam kelas-kelas. Raka menyapa satpam sekolah dengan sangat sopan, meminta izin untuk masuk dan menunggu salah satu guru di sana.
Mengenakan kemeja putih yang lengannya dilipat hingga siku dan celana kain hitam, penampilan Raka yang gagah dan karismatik tak ayal mencuri perhatian beberapa staf dan siswa yang kebetulan melintas di koridor. Namun, fokus mata Raka hanya tertuju pada satu titik: pintu sebuah ruang kelas di ujung koridor lantai satu.
Dari balik jendela kaca kelas itu, Raka bisa melihat sosok Naomy. Gadis itu berdiri anggun di depan papan tulis, dengan spidol di tangan, menjelaskan materi pelajaran kepada anak-anak didiknya dengan penuh semangat dan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Raka menyandarkan tubuhnya di pilar koridor yang teduh, agak jauh dari pintu kelas agar tidak mengganggu proses belajar. Ia melipat kedua tangannya di dada, menikmati pemandangan indah di depannya. Pria itu rela berdiri di sana, menunggu detik demi detik berlalu hingga bel istirahat berbunyi, membawa kabar bahagia yang sudah tidak sabar ingin ia bisikkan ke telinga sang pujaan hati.
Teeet... teeet... teeet!
Suara bel istirahat berbunyi nyaring, memecah keheningan koridor sekolah. Ruang kelas yang semula tenang mendadak riuh dengan suara bangku bergeser dan celoteh riang para siswa. Naomy meletakkan spidolnya di meja, merapikan beberapa lembar kertas tugas, lalu tersenyum menatap murid-muridnya.
"Baik, anak-anak, materi hari ini kita cukupkan dulu. Jangan lupa kerjakan latihan halaman 45 untuk minggu depan. Selamat istirahat," ucap Naomy ramah.
"Terima kasih, Bu Naomy!" seru para siswa serempak sebelum melangkah keluar kelas secara berhamburan.
Saat berjalan keluar dari pintu kelas, beberapa siswi tampak berbisik-bisik sambil melirik ke arah pilar koridor tak jauh dari sana. Naomy yang merasa penasaran ikut mengarahkan pandangannya ke titik yang sama.
Jantung Naomy seketika berdesir hebat.
Di sana, bersandar pada pilar kayu koridor yang teduh, berdiri Raka. Pria itu mengenakan kemeja putih sederhana yang bagian lengannya dilipat hingga siku. Senyum hangat langsung merekah di wajah tampannya begitu mata mereka saling bertaut.
Naomy mempercepat langkahnya menghampiri Raka. Ada rasa terkejut sekaligus kebahagiaan yang membuncah di dadanya.
"Raka? Kamu... kok cepat banget sudah di sini lagi?" tanya Naomy setengah berbisik, matanya berkaca-kaca melihat kehadiran pria itu. "Bukannya baru kemarin kamu kembali ke Jakarta?"
Raka tidak menjawab dengan kata-kata terlebih dahulu. Ia melangkah mendekat, menggenggam lembut kedua tangan Naomy yang terasa dingin. Pria itu menatap dalam-dalam sepasang mata gadis di hadapannya dengan binar kebahagiaan yang tak lagi bisa disembunyikan.
"Aku sudah janji akan langsung kembali setelah semuanya selesai, kan?" ujar Raka dengan suara bass-nya yang hangat dan menenangkan. "Aku tidak bisa tenang sebelum menyampaikan kabar ini langsung padamu."
"Kabar apa?" tanya Naomy lirih, jantungnya berdegup kencang menantikan kepastian.
"Perjodohan itu sudah resmi dibatalkan, Naomy," bisik Raka mantap. "Valerie dan orang tuaku sudah setuju. Papa bahkan memintaku untuk segera membawamu pulang ke rumah untuk bertemu dengan mereka."
Naomy menutup mulutnya dengan sebelah tangan, tak sanggup menahan rasa haru yang membuncah di dadanya. Air mata bahagianya menetes perlahan, mengalir membasahi pipi. Semua perjuangan, kelelahan, dan rasa sakit yang mereka lewati beberapa minggu terakhir ini akhirnya terbayar tuntas.
Raka tersenyum tipis, mengusap lembut air mata di pipi Naomy dengan ibu jarinya.
"Sekarang, tidak ada lagi halangan di antara kita, Sayang. Bersediakah kamu pulang bersamaku?"