NovelToon NovelToon
Dari Menantu Menjadi Istri

Dari Menantu Menjadi Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Marica

Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.

Suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan dengan sahabatnya, Vanessa. Bahkan mereka sudah memiliki anak dari hubungan gelap itu.

Namun di tengah rasa sakit itu, ayah mertuanya memberikan kehangatan yang tak bisa ia tolak. Membuat Luna memutuskan untuk melepaskan status istri dan menjadi ibu tiri dari mantan suaminya.

Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan Malam

Luna menguap beberapa kali di perjalanan bersama Bara. Matanya terasa berat, namun setiap kali mencoba untuk memejamkan mata, tetapi pikirannya tetap terjaga. Lampu jalan yang berderet seperti bintang di bumi membuatnya sulit untuk benar-benar tertidur.

Pikirannya melayang pada Raka. Ia bertanya-tanya apakah suaminya sudah sampai dengan selamat atau masih dalam perjalanan.

Bara yang sedang mengemudi, sesekali melirik ke arah Luna. Ia menyadari kegelisahan menantunya. Beberapa menit kemudian, ia mengarahkan laju mobilnya ke rest area. Mobil melaju perlahan sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya tanpa mematikan mesin.

"Kenapa berhenti?" tanya Luna.

Alih-alih menjawab, Bara justru berkata hal lain.

"Tidurlah jika kamu mengantuk. Aku akan membangunkanmu setelah sampai."

Bara melepaskan sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya, lalu tanpa banyak bicara, Bara menurunkan kursi Luna agar wanita itu bisa duduk lebih nyaman. Gerakan sederhana itu membuat jantung Luna mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Tatapan mereka sempat bertemu pada satu titik yang sama dengan Bara, membuat Luna semakin tidak karuan.

Namun dengan cepat Luna berdehem dan melihat ke arah lain untuk mengurangi kegugupannya.

"Terima kasih, Pa," ucapnya pelan, tanpa berani menatap Bara.

Sementara Bara mengangguk lalu menarik diri dan kembali ke posisi duduknya semula, ia kembali memakai sabuk pengamannya sebelum melajukan mobilnya menuju tempat tujuan.

Sepanjang perjalanan mereka, hening menyelimuti suasana. Luna akhirnya tertidur, napasnya terlihat teratur.

Jalanan semakin sepi. Deretan lampu jalan bergantian menerangi kaca mobil dan suara mesin berpadu dengan alunan musik pelan yang diputar oleh Bara.

Setelah berkendara selama lebih dari satu jam, Bara membawa mobilnya keluar dari jalan tol. Ia mengarahkan mobilnya ke jalanan menanjak dan berliku hingga sampai di sebuah vila yang cukup besar. Vila yang didominasi oleh dinding kaca.

Bara memarkirkan mobilnya. Pada saat yang bersamaan Luna membuka mata. Ia terbangun lantaran tak lagi merasakan pergerakan mobil itu.

"Sudah bangun?" tanya Bara.

Luna mengangguk sambil mengucek matanya. "Apa kita sudah sampai?"

Bara mengangguk. "Ayo kita turun."

Luna mengangguk pelan. Senyumnya mengembang melihat pemandangan di depannya.

"Pakai jaketnya. Di sini dingin sekali."

Jaket?

Luna menunduk, baru sadar jika ada jaket kulit menutupi tubuhnya. Tanpa banyak bertanya, Luna memakai jaket itu lantas turun dari mobil bersama Bara dari pintu yang berbeda.

Udara malam yang dingin menyambut kedatangan mereka. Angin berhembus, menerbangkan sebagian rambut Luna yang terurai dan nyaris menutupi sebagian wajahnya.

"Dingin sekali." Luna langsung memeluk tubuhnya sendiri dengan erat.

Tanpa ia duga. Tangan kekar Bara melingkar ke pundaknya, membuat tubuh Luna sedikit lebih hangat. Luna menoleh ke arah Bara, menatap sekilas ayah mertuanya itu dengan senyum yang mengembang.

"Kita masuk. Nanti aku buatkan cokelat hangat," ucap Bara.

Luna mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari Bara.

Keduanya melangkah bersama memasuki vila itu.

Sampai di dalam vila, Bara menarik tangannya dari pundak Luna. "Kamu tunggu saja di sini. Aku ke dapur untuk membuat cokelat hangat."

Luna mengangguk pelan. Ia lantas berjalan ke dekat jendela sambil sesekali melihat sekitar. Luna yakin jika Vila itu besarnya berkali-kali lipat dari tempat tinggalnya.

Sementara Bara pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat. Dari tempatnya saat ini, ia bisa melihat Luna. Menantunya yang polos dan cantik alami tanpa banyak polesan make up.

Luna menghentikan langkahnya di dekat jendela kaca besar. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat pemandangan luar. Halaman yang luas dan kota terlihat begitu jauh, lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang bertaburan di bumi.

"Minumlah."

Luna menoleh lantas mengambil gelas berisi cokelat panas yang Bara sodorkan. "Terima kasih, Pa."

Luna meniup cokelat panas itu sebelum meminumnya. Hawa panas dari cokelat itu membuat tubuhnya mulai menghangat.

"Bagaimana, apa kamu suka tempatnya?" tanya Bara. Ia berdiri di samping Luna dengan pandangan melihat ke arah luar, sementara satu tangannya masuk ke dalam saku celananya.

"Tempat ini sangat bagus," ucap Luna.

Bara meminum cokelat panas di tangannya sebelum merespon pertanyaan Luna.

"Ini vila pribadiku."

Luna mengangguk pelan.

"Ini sudah malam. Sebaiknya kamu beristirahat," ucap Bara.

"Hmm, aku juga sudah mengantuk," balas Luna.

"Habiskan dulu minumannya," ucap Bara dibalas anggukkan Luna.

Keduanya lebih dulu mengobrol di tempat itu, sesekali mereka tertawa di sela obrolan. Mereka tidak terlihat seperti menantu dan mertua, tetapi layaknya seorang teman. Sikap Bara yang hangat membuat Luna tidak merasa canggung lagi.

"Sudah habis?" tanya Bara.

Luna mengangguk.

"Ayo, aku antar ke kamarmu."

Bara mengambil alih gelas yang Luna pegang lalu meletakkan dua gelas itu di meja. Mereka melangkah meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kamar masing-masing yang ada di lantai atas.

Sepanjang perjalanan tangan Bara tak jauh dari pinggang Luna, seolah memberikan rasa aman yang tak kasat mata. Luna sempat merasa canggung, tetapi lama kelamaan ia merasa nyaman.

KLEK

Bara membuka pintu salah satu kamar di villa. "Ayo masuk."

Tangan Bara terulur ke arah tembok, menekan sakelar lampu. Seketika ruangan itu menjadi terang dan menunjukkan kemewahannya.

Ruangan itu didominasi warna abu-abu terlihat begitu rapi. "Ini kamarmu. Kamu suka?"

Luna mengangguk. "Aku suka sekali."

"Istirahatlah."

"Iya, Pa."

"Kamarku di sebelah kamar ini. Jika butuh sesuatu panggil saja."

Luna kembali mengangguk.

Bara lantas kaluar dari kamar Luna dan pergi ke kamarnya sendiri.

Setelah Bara pergi, Luna duduk di tepi tempat tidur. Ia menoleh, mengambil ponselnya yang ada di dalam tas berharap ada pesan dari Raka, tetapi tidak ada sama sekali. Rasanya tidak mungkin sang suami belum sampai.

Luna menghela napas dan masih mencoba untuk berpikir positif, mungkin saja Raka kelelahan dan langsung beristirahat.

"Sudahlah. Lebih baik aku juga beristirahat."

Luna kembali menyimpan ponselnya lalu merebahkan diri di tempat tidur. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya sampai batas leher karena hawa dingin yang menusuk hingga ke tulangnya.

-

-

Entah jam berapa, Luna terbangun lantaran merasa tenggorokannya mengering. Sayangnya tidak ada air minum di kamarnya memaksanya untuk keluar dan mengambil air di dapur.

KLEK

Luna menekan handle pintu lalu melangkah keluar. Suasana vila itu begitu sunyi, namun tetap hangat oleh lampu-lampu vila yang menyala dengan cahaya temaram.

Langkahnya terhenti saat mendengar suara aneh dari balik kamar Bara. Keningnya mengernyit bingung saat pintu kamar Bara tidak tertutup rapat. Suara aneh seperti erangan kembali terdengar, merasa penasaran dan khawatir, Luna memutuskan untuk melihatnya.

"Ada apa dengan papa? Apa papa baik-baik saja?

Tanpa berpikir apa pun Luna masuk ke kamar Bara pelan. Namun saat melihat di dalam kamar Luna sangat terkejut, matanya membulat sempurna. Ia tidak menduga akan melihat hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Maaf."

Tanpa berpikir panjang, Luna segera berbalik dan berlari keluar. Jantungnya berdetak sangat kencang hingga napasnya memburu. Sampai di kamar ia menutup pintu, menguncinya rapat lalu menyadarkan punggungnya pada daun pintu.

Dadanya masih naik turun dan bayangan apa yang ia lihat sebelumnya terus terlihat di benaknya membuat tubuhnya merinding.

1
Indriani Kartini
sneh ga tau diri bngt Raka mau bls dendam merasa tersakiti, seharusnya Aluna yg dendam karena berraun2 di bohongi dan di khianati
MamDeyh
Nah apa lagi ini 🤔
say't
dan anak yg dikandung vanesa tu hasil tabungan bnyk org 🤣
partini
emmm bara junior
aku
mantep gak tuh!! dpt set perhiasan dr mantu wkwkwwkwkk
partini
kalau anak kandung pasti dapat kalau kelakuan mu baik ,,kalau anak pungut
Indriani Kartini
syukurin kamu Raka, emang enak, kamu mengkhianati Luna skrng Luna nikah lagi SMA papamu kamu sakit hati,
partini
have sex OMG maklum pengantin baru ,tapi anyep Thor 🤭🤭
ig: Marica_Author: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 3 replies
partini
nah loh ayo panggil mommy
MamDeyh
Lanjuuut
partini
jangan kalah sama Mae ya Thor unboxing nya 😂😂😂🤭🤭🤭
partini
menunggu part di mana Luna bilang ke arka call me mommy 😂😂
ig: Marica_Author: asiap🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
say't
ow ow ow aq mau dong 1 kyk bara 😭 meski hanya hayalan 🤣
MamDeyh
Wowwww
partini
nanggung itu kokop sekalian😂
mereka ayah dan anak ga sih aku curigooong kaya tom and Jerry ga akur
ig: Marica_Author: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
partini
jadi ceritanya mantan istri ku jadi ibu tiri ku welehhh,. gimana rasanya si arka kalau dengar desahan manjahhh mantan istri lagi ina inu sama papanya 🤔
ig: Marica_Author: biarin kan mereka belom ini itu. Yang menang banyak bapaknya🤭🤭
total 1 replies
partini
papahhhhh Maratuahhhh ga datang ini drama nya bagus"nya ini loh
MamDeyh
Up lagi kak
MamDeyh
Lagiiii kak
MamDeyh
Lagiiiii
ig: Marica_Author: siap🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!