Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan Malam
Luna menguap beberapa kali di perjalanan bersama Bara. Matanya terasa berat, namun setiap kali mencoba untuk memejamkan mata, tetapi pikirannya tetap terjaga. Lampu jalan yang berderet seperti bintang di bumi membuatnya sulit untuk benar-benar tertidur.
Pikirannya melayang pada Raka. Ia bertanya-tanya apakah suaminya sudah sampai dengan selamat atau masih dalam perjalanan.
Bara yang sedang mengemudi, sesekali melirik ke arah Luna. Ia menyadari kegelisahan menantunya. Beberapa menit kemudian, ia mengarahkan laju mobilnya ke rest area. Mobil melaju perlahan sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya tanpa mematikan mesin.
"Kenapa berhenti?" tanya Luna.
Alih-alih menjawab, Bara justru berkata hal lain.
"Tidurlah jika kamu mengantuk. Aku akan membangunkanmu setelah sampai."
Bara melepaskan sabuk pengaman yang melilit di tubuhnya, lalu tanpa banyak bicara, Bara menurunkan kursi Luna agar wanita itu bisa duduk lebih nyaman. Gerakan sederhana itu membuat jantung Luna mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Tatapan mereka sempat bertemu pada satu titik yang sama dengan Bara, membuat Luna semakin tidak karuan.
Namun dengan cepat Luna berdehem dan melihat ke arah lain untuk mengurangi kegugupannya.
"Terima kasih, Pa," ucapnya pelan, tanpa berani menatap Bara.
Sementara Bara mengangguk lalu menarik diri dan kembali ke posisi duduknya semula, ia kembali memakai sabuk pengamannya sebelum melajukan mobilnya menuju tempat tujuan.
Sepanjang perjalanan mereka, hening menyelimuti suasana. Luna akhirnya tertidur, napasnya terlihat teratur.
Jalanan semakin sepi. Deretan lampu jalan bergantian menerangi kaca mobil dan suara mesin berpadu dengan alunan musik pelan yang diputar oleh Bara.
Setelah berkendara selama lebih dari satu jam, Bara membawa mobilnya keluar dari jalan tol. Ia mengarahkan mobilnya ke jalanan menanjak dan berliku hingga sampai di sebuah vila yang cukup besar. Vila yang didominasi oleh dinding kaca.
Bara memarkirkan mobilnya. Pada saat yang bersamaan Luna membuka mata. Ia terbangun lantaran tak lagi merasakan pergerakan mobil itu.
"Sudah bangun?" tanya Bara.
Luna mengangguk sambil mengucek matanya. "Apa kita sudah sampai?"
Bara mengangguk. "Ayo kita turun."
Luna mengangguk pelan. Senyumnya mengembang melihat pemandangan di depannya.
"Pakai jaketnya. Di sini dingin sekali."
Jaket?
Luna menunduk, baru sadar jika ada jaket kulit menutupi tubuhnya. Tanpa banyak bertanya, Luna memakai jaket itu lantas turun dari mobil bersama Bara dari pintu yang berbeda.
Udara malam yang dingin menyambut kedatangan mereka. Angin berhembus, menerbangkan sebagian rambut Luna yang terurai dan nyaris menutupi sebagian wajahnya.
"Dingin sekali." Luna langsung memeluk tubuhnya sendiri dengan erat.
Tanpa ia duga. Tangan kekar Bara melingkar ke pundaknya, membuat tubuh Luna sedikit lebih hangat. Luna menoleh ke arah Bara, menatap sekilas ayah mertuanya itu dengan senyum yang mengembang.
"Kita masuk. Nanti aku buatkan cokelat hangat," ucap Bara.
Luna mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari Bara.
Keduanya melangkah bersama memasuki vila itu.
Sampai di dalam vila, Bara menarik tangannya dari pundak Luna. "Kamu tunggu saja di sini. Aku ke dapur untuk membuat cokelat hangat."
Luna mengangguk pelan. Ia lantas berjalan ke dekat jendela sambil sesekali melihat sekitar. Luna yakin jika Vila itu besarnya berkali-kali lipat dari tempat tinggalnya.
Sementara Bara pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat. Dari tempatnya saat ini, ia bisa melihat Luna. Menantunya yang polos dan cantik alami tanpa banyak polesan make up.
Luna menghentikan langkahnya di dekat jendela kaca besar. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat pemandangan luar. Halaman yang luas dan kota terlihat begitu jauh, lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang bertaburan di bumi.
"Minumlah."
Luna menoleh lantas mengambil gelas berisi cokelat panas yang Bara sodorkan. "Terima kasih, Pa."
Luna meniup cokelat panas itu sebelum meminumnya. Hawa panas dari cokelat itu membuat tubuhnya mulai menghangat.
"Bagaimana, apa kamu suka tempatnya?" tanya Bara. Ia berdiri di samping Luna dengan pandangan melihat ke arah luar, sementara satu tangannya masuk ke dalam saku celananya.
"Tempat ini sangat bagus," ucap Luna.
Bara meminum cokelat panas di tangannya sebelum merespon pertanyaan Luna.
"Ini vila pribadiku."
Luna mengangguk pelan.
"Ini sudah malam. Sebaiknya kamu beristirahat," ucap Bara.
"Hmm, aku juga sudah mengantuk," balas Luna.
"Habiskan dulu minumannya," ucap Bara dibalas anggukkan Luna.
Keduanya lebih dulu mengobrol di tempat itu, sesekali mereka tertawa di sela obrolan. Mereka tidak terlihat seperti menantu dan mertua, tetapi layaknya seorang teman. Sikap Bara yang hangat membuat Luna tidak merasa canggung lagi.
"Sudah habis?" tanya Bara.
Luna mengangguk.
"Ayo, aku antar ke kamarmu."
Bara mengambil alih gelas yang Luna pegang lalu meletakkan dua gelas itu di meja. Mereka melangkah meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kamar masing-masing yang ada di lantai atas.
Sepanjang perjalanan tangan Bara tak jauh dari pinggang Luna, seolah memberikan rasa aman yang tak kasat mata. Luna sempat merasa canggung, tetapi lama kelamaan ia merasa nyaman.
KLEK
Bara membuka pintu salah satu kamar di villa. "Ayo masuk."
Tangan Bara terulur ke arah tembok, menekan sakelar lampu. Seketika ruangan itu menjadi terang dan menunjukkan kemewahannya.
Ruangan itu didominasi warna abu-abu terlihat begitu rapi. "Ini kamarmu. Kamu suka?"
Luna mengangguk. "Aku suka sekali."
"Istirahatlah."
"Iya, Pa."
"Kamarku di sebelah kamar ini. Jika butuh sesuatu panggil saja."
Luna kembali mengangguk.
Bara lantas kaluar dari kamar Luna dan pergi ke kamarnya sendiri.
Setelah Bara pergi, Luna duduk di tepi tempat tidur. Ia menoleh, mengambil ponselnya yang ada di dalam tas berharap ada pesan dari Raka, tetapi tidak ada sama sekali. Rasanya tidak mungkin sang suami belum sampai.
Luna menghela napas dan masih mencoba untuk berpikir positif, mungkin saja Raka kelelahan dan langsung beristirahat.
"Sudahlah. Lebih baik aku juga beristirahat."
Luna kembali menyimpan ponselnya lalu merebahkan diri di tempat tidur. Ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya sampai batas leher karena hawa dingin yang menusuk hingga ke tulangnya.
-
-
Entah jam berapa, Luna terbangun lantaran merasa tenggorokannya mengering. Sayangnya tidak ada air minum di kamarnya memaksanya untuk keluar dan mengambil air di dapur.
KLEK
Luna menekan handle pintu lalu melangkah keluar. Suasana vila itu begitu sunyi, namun tetap hangat oleh lampu-lampu vila yang menyala dengan cahaya temaram.
Langkahnya terhenti saat mendengar suara aneh dari balik kamar Bara. Keningnya mengernyit bingung saat pintu kamar Bara tidak tertutup rapat. Suara aneh seperti erangan kembali terdengar, merasa penasaran dan khawatir, Luna memutuskan untuk melihatnya.
"Ada apa dengan papa? Apa papa baik-baik saja?
Tanpa berpikir apa pun Luna masuk ke kamar Bara pelan. Namun saat melihat di dalam kamar Luna sangat terkejut, matanya membulat sempurna. Ia tidak menduga akan melihat hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Maaf."
Tanpa berpikir panjang, Luna segera berbalik dan berlari keluar. Jantungnya berdetak sangat kencang hingga napasnya memburu. Sampai di kamar ia menutup pintu, menguncinya rapat lalu menyadarkan punggungnya pada daun pintu.
Dadanya masih naik turun dan bayangan apa yang ia lihat sebelumnya terus terlihat di benaknya membuat tubuhnya merinding.
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man