Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Serangan ke Desa Aster (Bagian 1)
Auuuuuu!!
Lolongan Dire Wolf menggema di seluruh Desa Aster.
Namun kali ini terdengar berbeda.
Bukan lolongan untuk berburu.
Melainkan lolongan perang.
Leon berlari mengikuti Rowan menuju gerbang utara. Di sepanjang jalan, para penduduk segera menutup pintu rumah, sementara anak-anak dan orang tua diarahkan menuju ruang perlindungan bawah tanah.
Suasana yang beberapa saat lalu dipenuhi semangat seleksi kini berubah menjadi kepanikan.
"Semua pemburu ke posisi!"
teriak Garrick.
Dentang lonceng darurat terus bergema.
Puluhan pemburu segera membentuk barisan di depan gerbang.
Daren berdiri di sisi kiri sambil memutar kapak besarnya.
Orion berada di sisi kanan dengan busur panjang yang sudah siap dilepaskan.
Rowan menarik pedangnya perlahan.
Sementara Leon berdiri di belakang mereka, menggenggam erat pedang pemberian Garrick.
Jantungnya berdegup kencang.
Ini bukan latihan.
Ini bukan ujian.
Ini adalah perang.
Asap hitam di depan gerbang perlahan menghilang.
Sesosok makhluk bersisik hitam melangkah maju.
Tingginya hampir dua meter.
Tubuhnya menyerupai manusia, tetapi kedua lengannya dipenuhi sisik hitam mengilap. Sepasang tanduk pendek tumbuh di dahinya, sementara mata merahnya memandang seluruh desa dengan tatapan meremehkan.
Di belakangnya berdiri belasan Dire Wolf, Forest Gob, dan dua Stone Boar.
Monster-monster itu tidak saling menyerang.
Mereka hanya diam.
Menunggu perintah.
Makhluk bersisik itu tersenyum.
"Manusia..."
"...masih sama lemahnya."
Suaranya tenang, namun penuh tekanan.
Leon merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Makhluk itu benar-benar bisa berbicara.
Garrick melangkah ke depan.
"Siapa kau?"
Makhluk itu membungkukkan badan sedikit, seolah sedang memberi hormat.
"Aku?"
"Kalian boleh memanggilku..."
"...Varok."
"Lalu..."
"...aku adalah prajurit paling lemah di antara bangsa Abyss."
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
Kalau ini yang paling lemah...
Seberapa kuat yang lain?
Varok mengangkat tangan kanannya.
"Aku datang bukan untuk menghancurkan desa kecil ini."
"Aku hanya mencari seseorang."
Tatapannya perlahan menyapu seluruh pemburu.
Lalu berhenti tepat pada Leon.
"Akhirnya..."
"...aku menemukanmu."
Leon tanpa sadar melangkah mundur.
Rowan langsung berdiri di depannya.
"Kalau ingin menyentuh muridku..."
"...kau harus melewati kami dulu."
Varok tertawa pelan.
"Guru yang baik."
"Tapi..."
"...kau terlalu lemah."
Dalam sekejap...
BOOM!
Tanah di bawah kaki Varok pecah.
Tubuhnya menghilang dari tempat semula.
Leon membelalakkan mata.
"Cepat sekali!"
Detik berikutnya...
Clang!
Pedang Rowan bertabrakan dengan lengan Varok yang dipenuhi sisik.
Percikan api beterbangan.
Namun sisik hitam itu sama sekali tidak terluka.
Sebaliknya...
Rowan terdorong mundur sejauh lima meter.
Semua pemburu membeku.
Mereka baru pertama kali melihat Rowan dipukul mundur dalam satu benturan.
Varok memandang lengannya yang terkena tebasan.
"Hm..."
"Tajam."
"Lumayan."
"Sayangnya..."
"...belum cukup."
Orion langsung melepaskan tiga anak panah sekaligus.
Wuussh! Wuussh! Wuussh!
Ketiganya melesat menuju kepala Varok.
Namun...
Varok bahkan tidak menghindar.
Ia hanya mengangkat tangan.
Crack!
Ketiga anak panah itu hancur sebelum mengenainya.
"Apa?!"
Orion tidak percaya.
Daren menggertakkan gigi.
"Monster sialan!"
Ia melesat maju sambil mengangkat kapak besarnya tinggi-tinggi.
"Hyaaaah!"
BOOM!
Kapak itu menghantam tanah.
Namun Varok sudah berada di belakangnya.
Terlalu cepat.
"Sampai jumpa."
Varok mengangkat tangannya.
Leon membelalakkan mata.
"Daren!"
Tanpa berpikir panjang, Leon berlari sekuat tenaga.
Skill Insting Tempur Lv.1 aktif.
Segalanya terasa melambat.
Ia melihat arah gerakan tangan Varok.
Melihat celah kecil di antara mereka.
Leon melompat.
Dor!
Tubuhnya menghantam Daren hingga keduanya berguling ke samping.
Detik berikutnya...
BOOOOM!!
Tanah tempat Daren berdiri meledak akibat pukulan Varok.
Terbentuk kawah besar sedalam dua meter.
Debu membumbung tinggi.
Leon terbatuk.
Daren memandangnya dengan mata membelalak.
"Kau..."
"...menyelamatkanku."
Leon tersenyum tipis meski napasnya memburu.
"Kita impas."
Varok memperhatikan Leon dengan penuh minat.
"Hahaha..."
"Menarik."
"Sangat menarik."
Ia mengangkat telapak tangannya.
Di atasnya muncul bola energi hitam seukuran kepalan tangan.
Energi itu memancarkan aura yang membuat udara di sekitarnya bergetar.
Lyra langsung berteriak.
"Leon!"
"Itu bukan mana!"
"Itu Energi Abyss!"
"Jangan biarkan dia melepaskannya!"
Leon menggenggam pedangnya lebih erat.
Namun sebelum siapa pun sempat bergerak...
Terdengar lolongan panjang yang mengguncang seluruh hutan.
AWWWWOOOOOOO!!
Varok perlahan menoleh ke arah Hutan Greenwood.
Ekspresi santainya untuk pertama kali menghilang.
"Datang juga..."
Dari balik pepohonan...
Sepasang mata emas perlahan terbuka.
Alpha Dire Wolf akhirnya muncul.
Namun kali ini...
Ia tidak datang sendirian.