Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertangkap Basah
"Kerja bagus..." ucap Reygan pelan, menatap hasil lembar kerja analisis yang diserahkan asistennya.
Amira yang berdiri tak jauh dari mereka sempat heran setengah mati. Mengapa Shella yang biasanya cerewet dan suka bercanda itu mendadak menjelma menjadi patung es yang sangat formal?
"Ayo, Amira! Sudah jam pulang kerja," ujar Shella ceria, mendadak berbalik memunggungi Reygan dan merapikan barang-barangnya."Kita kan ada janji double date malam ini, ayo jalan sekarang nanti kita terlambat."
Amira tersentak, melirik canggung ke arah CEO mereka yang mendadak menegang."M-Mbak... tidak pamit dulu sama Bos?" bisik Amira ragu-ragu.
Shella menepuk jidatnya pelan dengan ekspresi yang sangat dibuat-buat."Oh iya, hampir lupa!Pak Reygan yang Terhormat, saya izin pulang tepat waktu ya, Pak. Soalnya malam ini saya ada pertemuan dengan orang yang sangat penting."
"Siapa?" tanyanya penasaran.
Shella menyunggingkan senyum misterius."Yah... bisa saja calon masa depan yang bisa membawa saya keluar dari hidup miskin ini, Pak. Kalau kakak saya bisa dapat pria miliarder untuk memperbaiki nasibnya... saya rasa saya juga berhak mencoba hal yang sama, kan?"
Reygan hanya diam, melihat dia bawahannya itu keluar dengan langkah cukup tergesa.
Beberapa saat kemudian, di sebuah restoran fine dining, Shella dan Amira sudah duduk berhadapan dengan dua orang pria.
Pria pertama bernama Vian—mengenakan kemeja hitam yang sangat elegan, berwajah tampan dengan pembawaan yang tenang dan tegas. Di sebelahnya adalah Antoni—pria berwajah hangat dengan senyuman ramah yang tak kalah menawan.
Dilihat dari sudut manapun, pakaian, jam tangan, hingga cara bicara kedua pria ini memancarkan aura 'tajir melintir'.
Shella sedikit memiringkan tubuhnya, berbisik setengah panik pada Amira di sampingnya."Ami... kamu kenal mereka dari mana sih?" bisik Shella sambil tersenyum canggung ke arah dua pria di depannya."Kok aura kaya rayanya menakutkan begini?"
Amira terkekeh pelan di balik serbet makan malamnya. "Teman-teman Papa, Mbak."
Shella menyipitkan mata, memperhatikan pria berkemeja hitam yang sedang menyesap minumannya."Tunggu dulu... aku rasanya pernah melihat pria yang pakai kemeja hitam itu deh," gumam Shella mengingat-ingat.
"Itu kan Vian Adhitama! Anak pemilik konglomerasi real estate raksasa yang sering masuk majalah bisnis itu, kan?!"
"Iya, betul Mbak," jawab Amira santai."Mas Vian itu anak kenalan Papa. Kebetulan orangnya agak kaku dan dingin... mirip-mirip tipe Bos Besar kita. Makanya aku pikir siapa tahu Mbak Shella cocok sama dia. Kalau yang di sebelahnya itu Mas Antoni, dia pengusaha sukses di bidang otomotif, tidak kalah kaya juga."
Shella membelalakkan matanya, menatap Amira dari atas ke bawah dengan pandangan tak percaya."Ami! Coba jujur sama aku!" tuntut Shella gemas. "Kamu itu sebenarnya kerja jadi sekretaris atau cuma iseng nyamar jadi rakyat jelata di kantor Pak Reygan?! Kalau kamu bisa kenal cowok-cowok sultan begini, kenapa kamu betah banget sih jadi kacung yang dimarah-marahi tiap hari sama si Bos Nyebelin itu?!"
"Aduh, Mbak Shella... Papa aku itu kan masih muda, baru empat puluh tahunan," terang Amira dengan polosnya.
"Jadi sebelum aku meneruskan perusahaan keluarga sendiri, Papa minta aku cari pengalaman dan 'menderita' dulu di perusahaan orang lain selama beberapa tahun ke depan. Katanya biar mental aku kuat."
Shella menepuk jidatnya sendiri, menahan tawa konyolnya. Ternyata selama ini ia bekerja bersisian dengan seorang putri duyung kaya raya yang sedang menyamar!
"Luar biasa ya anak kaya zaman sekarang... cari penyakitnya niat banget," gumam Shella menggeleng-gelengkan kepala.
Di balik sebuah pilar marmer yang megah di sudut restoran , berdiri sesosok pria tinggi tegap yang tampak sangat mencurigakan.
Meskipun pencahayaan restoran sengaja dibuat temaram dan elegan, pria itu justru melengkapi penampilannya dengan kacamata hitam pekat. Ia memegang sebuah buku menu berukuran raksasa di depan dadanya, berpura-pura membacanya sambil sesekali mengintip dari balik bingkai kacamata.
Reygan menyipitkan matanya tajam di balik kegelapan kacamata hitam itu, mengamati meja di sudut tengah restoran. "Oh... jadi itu 'pria penting' yang Shella maksud?" gumam Reygan sinis pada dirinya sendiri.Matanya menilai dua pria tampan yang duduk bersama Shella dan Amira.
"Vian Adhitama dan Antoni... Hm, harus aku akui mereka memang sekelas denganku. Tapi... kalau dibandingkan dengan Aliansyah Group, aku jelas jauh lebih terkenal dan sukses!" batin sang CEO penuh gengsi dan rasa tidak mau kalah.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Ponsel mahal di saku jas Reygan terus-menerus bergetar tanpa henti. Nama Gladis berkali-kali menerangi layar, namun Reygan mengabaikannya begitu saja.
"Ngapain sih ini, dari tadi menelepon terus-menerus?" gumam Reygan kesal sambil mematikan getar ponselnya.Tangannya kembali sibuk menyesuaikan posisi buku menu di wajahnya.
Aksi pengintaian Reygan benar-benar tampak konyol. Setiap kali Shella tak sengaja mengedarkan pandangannya ke arah pilar, Reygan langsung buru-buru mengangkat buku menu itu setinggi wajahnya hingga menutupi seluruh kepalanya—berharap tak tertangkap basah.
Di meja makan, sesi double date itu akhirnya sampai di penghujung acara. Suasana makan malam berjalan sangat sukses. Vian—si pria dingin kemeja hitam—tampak terkesan dengan ketangguhan dan selera humor Shella, hingga mereka saling bertukar nomor telepon. Sementara Antoni, sudah sangat jelas memperlihatkan ketertarikannya pada Amira.
Setelah Vian dan Antoni pamit terlebih dahulu, Amira meminta izin untuk pergi ke kamar kecil sebentar, meninggalkan Shella sendirian.
Bukannya langsung berjalan ke pintu keluar restoran, Shella justru membalikkan badannya. Dengan langkah santai, ia melangkah lurus menuju ke sudut restoran—tepat ke pilar marmer tempat sang "detektif amatir" bersembunyi.
"Ehem..." Shella berdeham nyaring.
Reygan tersentak kaget. Ia perlahan menurunkan buku menu itu dari wajahnya, lalu membeku saat menemukan Shella sedang menatapnya dari atas dengan senyuman miring yang teramat jahil.
Shella menyipitkan matanya, meneliti penampilan konyol sang bos dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Pak Reygan..." goda Shella dengan nada suara yang tertahan geli. "Malam-malam begini, di dalam restoran remang-remang, pakai kacamata hitam pekat... Bapak sadar tidak sih, wujud Bapak sekarang ini sudah persis seperti maling ayam yang lagi kebingungan mencari sasaran?!"
Wajah Reygan seketika memerah.Pria itu buru-buru mencopot kacamata hitamnya dengan canggung, berusaha keras menguasai raut wajahnya agar tetap terlihat berwibawa—walau sudah terlambat total.
"S-saya tidak sedang menyamar!" kilah Reygan gagap, berdeham keras. "Saya... saya kebetulan sedang ada janji makan malam di sini juga!"
"Oh ya?" balas Shella ber-oh panjang, matanya berbinar jenaka."Janji makan malam sendirian di balik pilar sambil mengintip orang lain selama satu jam penuh? Wah, selera makan malam CEO Aliansyah Group unik juga ya!"