NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Tepuk tangan masih bergema di dalam gereja ketika Mason dan aku berjalan berdampingan menuju pintu keluar. Gaun pengantinku menyapu lantai marmer dengan suara lembut, sementara taburan bunga kecil berjatuhan di sekitar kami. Beberapa tamu tersenyum hangat, beberapa mengangkat ponsel mereka untuk mengambil gambar.

Aku mencoba tersenyum kepada mereka semua. Kepada orang-orang yang datang menyaksikan hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupku.

Fotografer memanggil kami sebelum benar-benar keluar dari gereja. “Sebentar, Tuan dan Nona Roux. Satu foto lagi.”

Kami pun berhenti. Mason berdiri di sampingku, bahunya terlihat tegap, dan ekspresinya tenang seperti biasa. Ia meletakkan tangannya di punggungku dengan sangat ringan—nyaris tidak terasa.

Aku menoleh sedikit, mencoba membaca wajahnya. Namun seperti biasa, wajah Mason sulit ditebak. Aku mencoba mencari sesuatu di sana—sedikit kegugupan, kebahagiaan, atau mungkin apapun. Tapi wajahnya tetap sama. Terlihat tenang dan terkendali, seperti pintu yang tertutup rapat.

Beberapa saat kemudian kami akhirnya benar-benar keluar dari gereja. Udara sore terasa lebih segar, membawa aroma bunga dari taman kecil di halaman depan. Para tamu berdiri di kedua sisi jalan kecil yang menuju gerbang, melemparkan kelopak bunga ke arah kami.

Ibuku segera menghampiri begitu kami berhenti. Ia memelukku dengan erat, dan penuh kehangatan. “Aku tidak percaya kau sudah menikah, Sayang,” katanya dengan suara bergetar.

Aku tertawa kecil, meskipun mataku juga mulai terasa hangat. “Aku juga hampir tidak percaya, Bu.”

"Pesanku masih sama, Hazel. Kalau dia sampai berani membuatmu menangis, bilang padaku. Aku akan datang dan menghajarnya." , bisik Jake lirih, yang muncul begitu saja dari belakangku.

Aku tersenyum, dan tertawa kecil. "Tenang saja, Jake. Hal itu tidak akan terjadi." , balasku sembari mengedipkan sebelah mata padanya.

Sementara itu, Ayah berdiri di samping Mason. Ia menepuk bahu Mason dengan penuh makna. “Jaga dia baik-baik.”

Aku menoleh ke arah mereka. Memperhatikan Mason yang menatap ayahku dengan sopan, lalu mengangguk. “Aku akan melakukannya.” balasnya.

Seharusnya, itu adalah jawaban yang benar, dan kalimat yang tepat. Namun entah kenapa, cara ia mengucapkannya terdengar datar. Seperti janji yang diucapkan karena memang harus diucapkan. Bukan karena benar-benar ingin.

Aku mencoba mengabaikan pikiran itu. Hari ini adalah hari pernikahanku. Aku tidak ingin merusaknya dengan perasaan dan pikiran yang tidak-tidak.

Tidak lama kemudian, seorang staf memberi isyarat bahwa mobil sudah siap. Mobil hitam panjang milik Mason sudah menunggu di depan gerbang gereja. Mason berjalan lebih dulu, lalu membuka pintu untukku. Gerakannya terlihat sopan dan elegan. Namun ada sesuatu yang terasa terlalu formal. Seperti gestur yang dilakukan hanya karena memenuhi kewajiban sosial.

Aku masuk ke dalam mobil dengan hati-hati agar gaunku tidak tersangkut. Setelah itu Mason menyusul duduk di sampingku. Pintu mobil pun ditutup. Dan suara dunia di luar mobil seolah langsung teredam.

Mobil yang kami tumpangi mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman gereja. Dan untuk pertama kalinya sejak kami mengucapkan janji pernikahan, kami benar-benar sendirian.

Aku menunggu. Kupikir Mason akan mengatakan sesuatu, apapun. Namun menit demi menit berlalu tanpa kata. Hanya suara mesin mobil yang lembut dan pemandangan kota yang bergerak perlahan di luar jendela.

Akhirnya aku yang lebih dulu berbicara. “Syukurlah, pernikahannya berjalan lancar,” kataku pelan.

Mason menoleh sedikit, lalu menjawab singkat. “Ya.” Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.

Aku menggenggam ujung gaunku dengan jari-jari yang mulai gelisah. “Terima kasih sudah menyiapkannya dengan sangat baik,” lanjutku. “Semuanya terlihat… sempurna.”

Mason memandang lurus ke depan lagi. “Itu bagian dari kesepakatan.”

Kesepakatan. Kata itu menggantung di udara di antara kami. Aku mengerutkan kening sedikit, namun menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh. Barangkali ia hanya berbicara tentang kesepakatan antara keluarga kami. Barangkali.

Aku memalingkan wajah ke arah jendela. Lalu tanpa sadar kembali melirik ke arahnya. Rahang Mason terlihat tegas dari samping, dan tatapannya fokus ke jalan di depan kami. Sementara itu, tangannya terlipat santai di pangkuannya.

Ia tampak seperti pria yang sedang dalam perjalanan bisnis. Bukan pria yang baru saja menikah beberapa menit yang lalu. Aku menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokan yang mendadak terasa tercekat.

'Mungkin dia hanya lelah. Pernikahan ini pasti melelahkan baginya.' batinku. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri dengan pikiran itu.

Tak lama kemudian laju mobil melambat. Gerbang besar terbuka di depan kami. Aku sedikit menegakkan tubuh saat mobil memasuki halaman luas yang tertata rapi.

Di tengah halaman terdapat air mancur besar yang memantulkan cahaya matahari sore. Lampu-lampu taman berjajar di sepanjang jalan masuk. Rumah itu berdiri megah di ujung jalan—sebuah mansion besar dengan dinding batu terang dan jendela-jendela tinggi.

Aku menatapnya pemandangan yang luar biasa menakjubkan itu tanpa sadar. Aku tahu Mason berasal dari keluarga kaya. Namun melihat rumah ini secara langsung terasa berbeda. Rumah itu terlihat seperti tempat yang hanya pernah kulihat di majalah.

Mobil berhenti di depan pintu utama. Di luar sana, beberapa staf rumah tampak sudah berbaris rapi dan menunggu kedatangan kami. Begitu Mason turun dari mobil, seorang pria paruh baya melangkah maju. Ia mengenakan setelan rapi dan membawa sikap tenang yang profesional. “Selamat datang kembali, Tuan Roux.”

Mason hanya membalasnya dengan anggukan kecil. Pria itu kemudian menoleh kepadaku dengan senyum sopan. “Selamat datang, Nyonya Roux.”, katanya.

Nyonya Roux. Aku hampir tersentak mendengar panggilan itu. Aku belum terbiasa dengan nama itu. Namun, di sisi lain aku juga merasa senang mendengarnya. Sementara itu, Mason tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memberi isyarat agar aku masuk lebih dulu.

Kami melangkah ke dalam rumah milik Mason sangat besar. Langit-langit ruang utama tampak sangat tinggi, dengan tangga marmer yang melengkung ke lantai atas, sementara lampu kristal besar tergantung di tengah ruangan, memantulkan cahaya ke segala arah. Semua yang kulihat di depanku terlihat begitu indah. Namun anehnya, suasana rumah itu terasa sangat tenang.

“Rumahmu sangat indah,” kataku pelan.

Mason berhenti sejenak di sampingku. “Rumahmu juga.” balasnya. Cara ia mengatakannya tetap datar, namun aku mencoba tetap tersenyum.

Kami berjalan menuju tangga. Namun saat menaikinya, ujung gaunku tiba-tiba tersangkut di sepatu, sehingga tubuhku sedikit oleng, dan aku hampir jatuh. Untungnya, sebelum sempat bereaksi, tangan Mason sudah menahan lenganku. Sentuhannya terasa kuat dan hangat, membuatku terkejut dan menatapnya.

Untuk sepersekian detik mata kami bertemu. Saat ini, aku bisa merasakan jantungku berdetak lebih cepat. Namun Mason segera melepaskan tangannya. Seolah sentuhan itu tidak seharusnya terjadi.

Kami pun melanjutkan berjalan tanpa mengatakan apa-apa setelahnya. Di lantai dua, Mason berhenti di sebuah lorong panjang. Lalu, ia membuka satu pintu. “Kamar ini untukmu.”

Aku menatap ruangan itu. Kamar luas dengan jendela besar dan tempat tidur yang sangat besar. “Untukku?” tanyaku.

Mason menunjuk ke arah pintu lain di ujung lorong. “Itu kamarku.”

Butuh beberapa detik bagi otakku untuk memahami maksudnya. Bahwa kami tidak akan tidur di kamar yang sama.

Aku menelan saliva dengan berat. “Bukankah… biasanya pasangan yang baru menikah…” Kalimatku terhenti di tengah jalan.

Mason menatapku dengan ekspresi yang tidak berubah. “Kita menikah karena alasan tertentu,” katanya tenang. “Aku pikir kita berdua memahami itu.”

Aku pun terdiam. Lalu, ia melanjutkan dengan nada yang tetap terkendali. “Aku tidak berniat membuat situasi ini lebih rumit.”

Kalimatnya tidak terdengar kasar. Namun maksudnya bisa kutangkap dengan jelas, bahkan sangat jelas.

“Kau bebas melakukan apa pun di rumah ini,” lanjutnya. “Para pelayan di sini akan memenuhi kebutuhanmu.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Namun kehidupan pribadi kita akan tetap terpisah.”

Detik itu juga, ada sesuatu yang terasa retak di dalam dadaku. Sesuatu yang sangat halus… tapi nyata. “Apakah… aku melakukan sesuatu yang salah?” tanyaku pelan.

Mason menatapku. Untuk pertama kalinya, aku merasa ada sesuatu bergerak di balik matanya. Namun itu bukan kelembutan, melainkan jarak yang tampak begitu nyata. “Tidak.”

Ia menghela napas pelan. “Ini hanya cara terbaik.”

Setelah itu ia berkata singkat, “Kau pasti lelah. Istirahatlah.”

Lalu ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya, tanpa menunggu jawabanku. Tidak lama setelah itu, pintu kamarnya tertutup dengan suara pelan. Sementara aku tetap berdiri di lorong itu, sendirian.

Saat ini, gaun pengantinku masih melekat di tubuhku. Bahkan cincin di jari manisku berkilau di bawah cahaya lampu. Beberapa jam yang lalu aku berjalan menuju altar dengan jantung berdebar, dan aku pikir hidupku baru saja dimulai. Namun, nyatanya semua itu tidak seindah bayanganku.

Aku membuka pintu kamar yang diberikan Mason. Ruangan itu tampak besar, indah, dan sempurna. Namun, tanpa kehadiran Mason di sini, ruangan ini terasa asing.

Aku berjalan perlahan menuju tempat tidur dan duduk di tepinya. Tanganku terangkat tanpa sadar, menatap cincin pernikahan yang melingkar di jariku. Hari ini aku menjadi istri Mason. Namun untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan muncul di dalam hatiku.

Apakah aku benar-benar mampu menjalani pernikahan dengan pria yang sejak awal tidak pernah mencintaiku?

1
Dew666
😍😍
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!