NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Dengan Anak Majikan

Cinta Terlarang Dengan Anak Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Suara deru mesin mobil yang asing memecah keheningan sore di Desa Sukamaju. Aluna, yang sedang memilah daun teh di teras rumah panggungnya, mendongak. Tangannya yang halus—meski terbiasa bekerja di ladang—berhenti bergerak. Sebuah mobil sewaan berhenti tepat di depan pagar bambu rumahnya.

​Dari dalam mobil, turunlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak mentereng untuk ukuran orang desa. Kalung emas tebal melingkar di lehernya, dan kacamat hitam bertengger di hidungnya.

​"Bik Sumi?" gumam Aluna, hampir tidak mengenali bibinya sendiri yang sudah lima tahun merantau di Jakarta.

​Bik Sumi berjalan melenggang masuk ke halaman, disambut hangat oleh ibu Aluna yang langsung keluar dari dapur. Setelah melepas rindu dan berbasa-basi sejenak di ruang tamu yang sederhana, tatapan Bik Sumi langsung tertuju pada Aluna. Wanita itu memperhatikan keponakannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan mata berbinar.

​Di usianya yang menginjak 25 tahun, Aluna tumbuh menjadi gadis ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlindungan Tak Terduga

​Udara pagi masih terasa sangat dingin ketika jam dinding di kamar Aluna baru saja menunjukkan pukul lima pagi. Sesuai dengan wejangan Bik Sumi semalam, Aluna tidak ingin mengambil risiko terlambat. Setelah membasuh wajahnya agar segar dan menunaikan ibadah, ia langsung bersiap-siap.

​Pagi itu, Aluna mengenakan daster batik sederhana selutut bertangan pendek—pakaian khasnya saat di desa. Daster yang berbahan tipis dan jatuh itu secara alami mengikuti lekuk tubuhnya yang sintal. Rambut hitam lebatnya diikat asal ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya yang putih bersih.

​Dengan langkah yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara di keheningan pagi, Aluna keluar dari kamarnya di bawah tangga. Ia menatap undakan tangga besar menuju lantai dua yang tampak begitu sunyi. Jantungnya mulai bertalu-talu.

​Satu per satu anak tangga ia pijak dengan bertelanjang kaki. Begitu sampai di lantai atas, Aluna disambut oleh koridor luas dengan lantai marmer yang mengilap dan deretan lukisan mahal di dindingnya. Di ujung koridor, terdapat sebuah pintu ganda besar dari kayu jati berukir modern. Aluna tahu pasti, itulah kamar Den Arsen.

​Aluna berdiri di depan pintu tersebut, menahan napasnya sesaat. Suasana di lantai dua ini begitu sepi, hanya terdengar suara sayup-sayup pendingin ruangan dari dalam kamar.

​Dengan tangan yang sedikit bergetar, Aluna memegang kenop pintu yang terasa dingin di kulitnya. Perlahan dan dengan sangat hati-hati, ia memutar kenop tersebut, berdoa dalam hati agar pintu itu tidak terkunci dan ia bisa menyelesaikan tugasnya mengambil pakaian kotor sebelum sang majikan terbangun.

​Sesuai dugaannya, pintu kamar kayu jati itu ternyata tidak terkunci rapat, melainkan sedikit renggang. Aluna mendorongnya perlahan dengan ujung jari, menghasilkan celah yang cukup lebar untuk tubuh rampingnya menyelinap masuk tanpa menimbulkan suara decitan sedikit pun.

​Begitu melangkah masuk, kehangatan pendingin ruangan langsung menerpa kulit lengan Aluna yang terbuka. Kamar itu sangat luas, dengan aroma maskulin khas parfum mahal bercampur wangi tembakau tipis yang menenangkan. Tirai-tirai beludru abu-abu gelap masih tertutup rapat, menghalau sinar mentari pagi yang mulai menyembul di luar.

​Arsen ternyata tidur dengan hanya menyalakan lampu tidur temaram di sudut ruangan. Cahaya kekuningan yang redup itu memberikan pencahayaan yang cukup bagi Aluna untuk mengenali situasi kamar. Di tengah ruangan, sebuah ranjang ukuran king size berdiri megah. Di atasnya, siluet tubuh Arsen yang tegap tampak terbungkus selimut tebal, masih terlelap dengan napas yang teratur.

​Aluna menahan napas, berusaha tidak menatap ke arah ranjang terlalu lama. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang remang-remang itu, mencari objek utama tugasnya pagi ini.

​Tak butuh waktu lama, berkat bantuan cahaya lampu tidur, mata bulat Aluna menangkap sebuah keranjang pakaian kotor anyaman rotan yang diletakkan tepat di sudut dekat pintu kamar mandi dalam. Di dekatnya, beberapa pakaian kerja dan kaus yang dipakai Arsen kemarin tampak tersampir di gantungan berdiri.

​Dengan langkah yang super hati-hati seperti seekor kucing, Aluna berjalan menjinjit mendekati keranjang tersebut, membiarkan daster batik tipisnya bergerak lembut mengikuti lekukan pinggulnya yang indah di dalam keheningan kamar sang majikan.

​Aluna mengembuskan napas lega setelah berhasil memasukkan seluruh pakaian kotor Arsen ke dalam keranjang jinjing yang dibawanya. Tugas pertamanya hampir selesai. Dengan langkah yang tetap dijaga agar tidak bersuara, ia membalikkan badan, berniat segera keluar dari kamar yang terasa menyesakkan dada karena pesona majikannya itu.

​Namun, baru dua langkah Aluna berjalan menuju pintu, sebuah pergerakan cepat terjadi di belakangnya.

​Set!

​Sebelum Aluna sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah tangan yang besar, kekar, dan hangat mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan sangat erat. Keranjang pakaian kotor yang dipegangnya hampir saja terlepas kalau saja ia tidak segera menahannya.

​Jantung Aluna serasa berhenti berdetak. Ia tersentak kaget dan langsung menoleh.

​Di sana, Arsen sudah berdiri tegak di samping ranjang. Pria itu hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa atasan, memamerkan dada bidangnya yang atletis dan perut yang terbentuk sempurna. Rambutnya agak berantakan khas orang bangun tidur, namun sepasang mata tajamnya sama sekali tidak menunjukkan kantuk. Sorot matanya begitu jernih dan intens, menatap langsung ke manik mata Aluna.

​Ternyata, Arsen tidak tidur. Pria itu sudah terbangun sejak pertama kali Aluna menyelinap masuk ke kamarnya.

​"D-Den Arsen..." bisik Aluna terbata-bata, wajahnya seketika memucat karena terkejut. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena tertangkap basah, tetapi juga karena jarak mereka yang kini begitu dekat.

​Dalam keremangan lampu tidur, Arsen tidak menyahut. Tatapan matanya yang semula dingin perlahan turun, menyapu penampilan Aluna pagi itu. Di bawah pencahayaan yang temaram, daster batik tipis yang dikenakan Aluna justru memperlihatkan segalanya dengan lebih menantang. Potongan daster itu mencetak jelas lekuk dadanya yang membusung penuh karena napasnya yang memburu, serta pinggangnya yang ramping. Kulit bahu dan leher jenjang Aluna yang putih bersih tampak begitu kontras dan berkilau di kegelapan kamar.

​Arsen mengencangkan cengkeramannya di pergelangan tangan Aluna, menarik tubuh gadis desa itu selangkah lebih dekat ke arahnya. Aroma maskulin dari tubuh Arsen seketika mengunci indra penciuman Aluna, membuat gadis berusia 25 tahun itu semakin tak berkutik di bawah kuasa sang majikan muda.

​Napas Aluna tertahan di tenggorokan. Jantungnya bertalu begitu keras di dalam rongga dadanya, hingga ia takut Arsen bisa mendengarnya. Jarak mereka yang hanya segaris membuat Aluna bisa merasakan kehangatan yang memancar dari dada bidang sang majikan. Ia hanya bisa menunduk dalam-dalam, menatap lantai marmer yang dingin, tak berani membalas tatapan tajam pria di hadapannya.

​Namun, alih-alih kemarahan atau tindakan kasar yang Aluna takuti, suara berat Arsen justru memecah keheningan kamar dengan nada yang pelan, hampir berupa bisikan yang dalam.

​"Maaf jika teman-temanku kemarin lancang," ucap Arsen, suaranya terdengar begitu jernih di kesunyian subuh itu.

​Aluna sedikit mendongak, matanya yang bulat mengerjap tidak percaya. Seorang majikan kaya raya seperti Arsen meminta maaf pada pembantu baru seperti dirinya?

​Sebelum rasa terkejut Aluna mereda, Arsen melanjutkan dengan nada yang lebih tegas, penuh penekanan posesif yang samar. "Lain kali kalau mereka datang, jangan keluar dari kamarmu."

​Cengkeraman tangan Arsen di pergelangan tangan Aluna perlahan melonggar, lalu terlepas sepenuhnya. Arsen mundur satu langkah, kembali menyembunyikan ekspresi wajahnya di balik bayangan remang-remang kamar tidur.

​"Sekarang, keluar," perintah Arsen dingin, kembali ke pembawaannya yang semula.

​"B-baik, Den. Terima kasih," jawab Aluna hampir tak terdengar.

​Dengan tangan yang masih gemetar, Aluna mendekap keranjang pakaian kotor erat-erat ke dadanya—secara tak sengaja justru membuat daster tipisnya semakin menonjolkan bentuk tubuhnya yang sintal. Ia berbalik dan setengah berlari keluar dari kamar mewah tersebut, menutup pintu jati itu dengan sangat hati-hati.

​Begitu kakinya kembali memijak koridor lantai dua, Aluna bersandar pada dinding, meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Wajahnya terasa panas membara. Di balik sikap dingin dan angkuh Den Arsen, ternyata pria itu memperhatikannya. Pria itu melindunginya dari pandangan liar teman-temannya.

​Sementara itu di dalam kamar, Arsen berdiri mematung di tempatnya. Matanya menatap pintu yang baru saja tertutup. Sisa kehangatan dari kulit halus Aluna masih terasa di telapak tangannya. Arsen mendengus pelan, mencoba mengusir bayangan lekuk tubuh berbalut daster batik yang sempat mengusik ketenangannya subuh ini. Pria kota itu sadar, kehadiran gadis desa di rumahnya ini akan menjadi ujian besar bagi pengendalian dirinya

1
Erna Riyanto
suka deh sm Arsen..sat .set...GK pandang bulu...wlpun itu shbtnya
Erna Riyanto
kapok tuh si Rafa dpt bogem...
Erna Riyanto
hahh....mksih Arsen GK memanfaatkan keadaan...
Erna Riyanto
semoga Arsen TDK memanfaatkan keadaan Aluna...jdi laki" sejati Sen..
Erna Riyanto
harus nya cukup dgn "saya"...TDK perlu sampai "hamba" ..GK cocok untuk ukuran ke manusia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!