Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balasan Pertama
Kami pikir kami bergerak diam-diam. Ternyata, semakin besar sesuatu tumbuh, semakin susah juga menyembunyikannya.
Tiga minggu setelah pertemuan di gudang kosong itu, kabar buruk datang dari kampung nelayan. Sari ditahan.
Ujang yang membawa berita itu, wajahnya pucat, napasnya masih terengah karena berlari dari ujung gang. "Katanya dia ditangkap pas lagi nyalin dokumen proyek di kantor kelurahan. Tuduhannya... pencurian data negara."
Aku merasa lantai di bawah kakiku seperti bergeser. "Dokumen apa yang dia salin?"
"Katanya soal izin proyek yang di kampung nelayan. Dia curiga izinnya nggak lengkap, makanya dia coba cari bukti."
Aku langsung teringat kata-kata Sari malam itu di gudang: *kalau ini beneran jalan, ini bukan lagi cuma soal Karang Wetan.* Aku tidak menyangka harga pertama dari kalimat itu akan secepat ini, dan akan dibayar oleh orang lain, bukan aku.
---
Kami berkumpul malam itu juga, lebih tegang dari pertemuan mana pun sebelumnya. Pak Rusdi datang jauh-jauh dari kampung nelayan, wajahnya keras menahan marah.
"Dia cuma anak muda yang mau bantu kita," kata Pak Rusdi, suaranya bergetar. "Sekarang dia dituduh macam-macam, padahal yang dia lakuin cuma nyari kebenaran."
"Kita bisa bantu apa?" tanya Yanto, mencoba tetap tenang meski aku bisa lihat rahangnya mengeras.
Aku diam sebentar, mencoba berpikir jernih di tengah amarah yang mulai naik. "Pertama, kita cari tahu di mana dia ditahan, dan kita pastikan dia nggak sendirian—kita cari orang yang bisa bantu secara hukum, walaupun kita tahu itu susah. Kedua..." aku menghela napas, "kita harus terima kenyataan, ini bukan lagi cuma soal warung dibakar atau uang setoran dicuri. Ini serangan langsung ke salah satu dari kita, pakai kekuatan hukum."
Ujang menggebrak meja pelan. "Terus kita diam aja? Kayak biasa, nunggu 'jalur hukum' yang katanya adil itu?"
"Bukan diam," jawabku. "Tapi kita nggak bisa asal serang balik kayak kejadian sama Broto dulu. Ini beda. Ini bukan preman kampung, ini institusi. Kalau kita salah langkah, bukan cuma Sari yang bahaya—semua yang selama ini kita bangun bisa hancur."
---
Kami akhirnya menyusun langkah yang lebih hati-hati dari sebelumnya.
Salim dan beberapa orang dari Karang Wetan mengumpulkan dana darurat dari warga—bukan paksaan, tapi sumbangan sukarela, sebagian besar dari orang-orang yang dulu pernah dibantu Lentera dengan cara kecil-kecilan. Uang itu dipakai untuk menyewa seorang pengacara muda bernama Pak Wisnu, seorang pengacara idealis yang dulu pernah menangani kasus sengketa tanah warga miskin tanpa bayaran, dan sekarang bersedia membantu kasus Sari meski tahu risikonya besar.
Sementara itu, Ujang dan jaringan informannya bekerja siang malam mencari detail soal proses hukum yang menjerat Sari—mencoba memastikan tidak ada "permainan" tersembunyi seperti yang terjadi pada kasusku dulu.
Yang paling penting, aku memutuskan untuk tidak membalas dengan kekerasan seperti insiden dengan Broto. Sebagai gantinya, kami mulai menyebarkan cerita Sari—lewat warga yang percaya, lewat selebaran sederhana yang dicetak diam-diam, bahkan lewat beberapa wartawan lokal yang selama ini menulis soal masalah penggusuran tapi jarang didengar. Kami ingin membuat kasusnya terlalu terang untuk bisa "dihentikan begitu saja" seperti kasusku dulu.
"Kalau kasus kamu dulu bisa hilang karena sepi perhatian," kataku pada Yanto, "kita bikin kasus Sari terlalu ramai buat mereka tutup-tutupi."
---
Strategi itu, meski lambat, mulai menunjukkan hasil. Beberapa warga dari luar kampung nelayan mulai ikut bersuara, memaksa kasus itu naik ke tingkat yang membuat pihak berwenang tidak bisa lagi mengabaikannya begitu saja tanpa terlihat sangat mencurigakan.
Tapi keberhasilan kecil itu datang dengan konsekuensi yang tidak kuduga.
Suatu malam, waktu aku pulang dari pertemuan dengan Pak Wisnu, aku merasa diikuti. Aku sudah cukup lama hidup waspada untuk mengenali perbedaan antara kecurigaan berlebihan dan insting yang benar. Malam itu instingku benar—sebuah mobil hitam tanpa pelat mengikuti dari kejauhan sepanjang jalan menuju Karang Wetan, cukup dekat untuk membuatku merasa diawasi, cukup jauh untuk membuatku tidak yakin apakah itu ancaman langsung atau sekadar peringatan.
Mobil itu berhenti di ujung gang, tidak turun siapa pun. Hanya diam, lampu sein berkedip pelan, seperti seseorang yang ingin memastikan aku tahu bahwa aku sedang diperhatikan.
Aku berjalan masuk ke gang tanpa menoleh lagi, tapi jantungku berdebar sepanjang jalan pulang.
Malam itu aku sadar satu hal yang mengubah cara pandangku selamanya: sebelumnya, aku pikir kami sedang melawan Broto, lalu Baskoro, lalu proyek milik Bupati Hardian. Tapi sekarang aku mulai paham, semua itu bukan tiga musuh yang terpisah. Itu satu sistem yang sama, dengan banyak wajah, dan sistem itu baru saja secara resmi menyadari keberadaan kami sebagai ancaman yang harus diawasi—bukan lagi sekadar gangguan kecil yang bisa diabaikan.
---
*(Bersambung ke Bab 10)*