Xu Ming adalah pemuda biasa dari Bumi yang sangat menggemari novel dan komik kultivasi. Suatu hari, keinginannya untuk menjadi tokoh utama benar-benar terkabul. Ia tiba-tiba terbangun di Dunia Tianxuan dan memperoleh Sistem Pembimbing Kultivasi. Namun, alih-alih menjalani petualangan besar, ia justru dipaksa berlatih pedang, berkebun, memasak, melukis, memainkan qin, menulis kaligrafi, hingga melakukan berbagai pekerjaan sederhana selama sepuluh tahun.
Saat Xu Ming mengira perjalanan sebagai seorang kultivator baru akan dimulai, sistem justru menghilang setelah menyatakan bahwa tutorial telah selesai.
Menganggap dirinya masih seorang mortal yang lemah, Xu Ming memilih tinggal di Desa Qinghe dan menjalani hidup tenang. Tanpa ia sadari, seluruh latihan itu telah membuatnya melampaui semua tingkatan kultivasi. Sementara Xu Ming terus meragukan kekuatannya, seluruh dunia justru memanggilnya Senior, menganggapnya sebagai pertapa agung yang menyembunyikan identitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Batu Roh? Apa Itu?
Lapak Xu Ming semakin ramai.
Namun, anehnya, tidak ada seorang pun yang berani mendekat terlalu dekat.
Mereka hanya berdiri beberapa meter jauhnya sambil berbisik-bisik.
"Itu beliau..."
"Senior yang membuat Tetua Liu hampir tercerahkan."
"Kudengar beliau menjual Buah Roh."
"Bodoh! Itu jelas bukan Buah Roh biasa!"
Xu Ming melirik kerumunan itu.
"Kenapa mereka cuma melihat?"
"Kalau mau beli ya beli."
Ia tersenyum ramah.
"Silakan dilihat dulu."
Mendengar sapaan itu, beberapa orang langsung menundukkan kepala.
"Salam kepada Senior."
Xu Ming menghela napas pelan.
"Lagi-lagi Senior."
"Memangnya wajahku setua itu?"
Di depan lapak, Tetua Liu masih memegang kantong penyimpanannya.
"Senior..."
"Saya ingin membeli seluruh dagangan Anda."
Xu Ming mengangguk senang.
"Silakan."
Tetua Liu membuka kantong penyimpanannya.
Kilauan cahaya memenuhi bagian dalam kantong itu.
Puluhan batu bening berwarna putih bersinar lembut.
"Batu apa itu?"
Xu Ming memiringkan kepala.
Tetua Liu terdiam.
'Senior... tidak mengenali Batu Roh?'
Lalu ia segera mendapat penjelasan menurut versinya sendiri.
'Tentu saja.'
'Bagi seseorang setingkat Senior, Batu Roh tingkat rendah memang tidak ada artinya.'
Ia buru-buru berkata,
"Maaf."
"Lalu... apakah Senior menginginkan Batu Roh tingkat menengah?"
Xu Ming semakin bingung.
"Batu roh?"
"Apa itu?"
Tetua Liu hampir berhenti bernapas.
'Orang yang bahkan tidak mengenal Batu Roh...'
'Senior pasti sudah lama mengasingkan diri.'
'Beliau benar-benar tidak peduli dengan dunia luar.'
Xu Ming menunjuk beberapa koin tembaga yang berada di lapak sebelah.
"Aku maunya yang seperti itu."
"Koin."
Tetua Liu membeku.
"K-koin... tembaga?"
Xu Ming mengangguk.
"Iya."
"Bukannya kalau jualan harus dibayar pakai uang?"
Tetua Liu langsung menangkupkan kedua tangan.
"Saya mengerti."
Tanpa ragu, ia berjalan ke pedagang lain.
"Semua koin tembaga yang kalian punya, aku beli."
"Hah?"
Para pedagang saling berpandangan.
Beberapa saat kemudian...
Tetua Liu kembali membawa beberapa kantong besar berisi koin tembaga.
Dentang...
Dentang...
Dentang...
Koin-koin itu memenuhi tanah di depan lapak.
Xu Ming sampai melongo.
"Pak..."
"Kebanyakan."
Tetua Liu tersenyum hormat.
"Tidak."
"Justru masih terlalu sedikit."
Xu Ming menggaruk kepala.
"Orang kaya memang beda."
Ia mengambil beberapa keping saja.
"Yang ini cukup."
Sisanya ia dorong kembali.
Tetua Liu panik.
"Senior!"
"Itu milik Anda."
Xu Ming menggeleng.
"Aku cuma menjual sayur."
"Bukan emas."
"Kalau aku mengambil semuanya, nanti malah rugi di pihakmu."
Tetua Liu terdiam.
Hatinya bergetar.
'Senior...'
'Beliau benar-benar tidak serakah.'
'Orang seperti inilah yang layak mencapai Dao tertinggi.'
Tak lama kemudian...
Seorang pria berpakaian mewah datang tergesa-gesa.
Di belakangnya ada beberapa pengawal.
Semua orang segera memberi jalan.
"Itu Tuan Muda keluarga Zhao."
Xu Ming tidak mengenalnya.
Ia hanya mengangguk sopan.
"Mau beli sayur?"
Pria itu sama sekali tidak melihat sayuran.
Tatapannya justru tertuju pada kaligrafi yang tergantung di belakang Xu Ming.
Tubuhnya langsung gemetar.
"Ayah..."
Pria itu bergumam lirih.
Sudah bertahun-tahun ia terjebak di Pendirian Fondasi.
Namun hanya dengan melihat beberapa goresan tinta...
Ia merasa penghalang kultivasinya mulai retak.
"Tidak..."
"Ini tidak mungkin..."
Tetua Liu segera berbisik.
"Jangan menatap terlalu lama."
"Kalau kemampuanmu belum cukup, jiwamu bisa terluka."
Pria itu buru-buru mengalihkan pandangan sambil berkeringat dingin.
Ia menatap Xu Ming penuh hormat.
"Senior..."
"Apakah kaligrafi itu dijual?"
Xu Ming menoleh.
"Oh, yang itu?"
"Itu cuma hiasan."
"Kalau suka, ambil saja."
Kalimat itu membuat seluruh pasar sunyi.
Tetua Liu membelalakkan mata.
'Memberikan karya yang mengandung Dao... secara cuma-cuma?'
Tuan Muda Zhao hampir menangis.
"Senior..."
"Saya tidak berani."
Xu Ming tertawa kecil.
"Hanya selembar kertas."
"Tidak usah sungkan."
Semua orang saling berpandangan.
Di mata mereka...
Xu Ming sedang menguji hati Tuan Muda Zhao.
Kalau ia benar-benar mengambilnya tanpa izin, itu sama saja tidak tahu diri.
Tuan Muda Zhao segera membungkuk dalam-dalam.
"Saya tidak berani menerima."
Xu Ming berkedip bingung.
"Orang-orang di dunia ini aneh."
"Dikasih gratis malah tidak mau."
Sementara itu...
Di kejauhan, seorang wanita berjubah putih berdiri di atas atap sebuah bangunan.
Wajahnya cantik, tetapi ekspresinya serius.
Sejak tadi ia memperhatikan semua yang terjadi.
Tatapannya akhirnya berhenti pada Xu Ming.
"Guru..."
"Apakah itu orang yang Anda maksud?"
Di sampingnya, seorang wanita tua perlahan mengangguk.
"Ya."
"Dan ingat baik-baik..."
"Jangan pernah menilai beliau dari penampilannya."
"Kalau tidak..."
"Kau bahkan tidak akan sadar bagaimana kau kehilangan nyawa."
Wanita berjubah putih menarik napas pelan.
Matanya kembali tertuju pada Xu Ming.
Sementara Xu Ming sendiri...
Masih sibuk menghitung koin tembaga sambil tersenyum puas.
"Hari ini lumayan."
"Nanti pulang bisa beli garam."
Bersambung...