Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.
Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.
Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.
Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Saat Kaisar sedang tertidur lelap, tiba-tiba dia terbangun karena mendengar suara tangisan seorang wanita yang menggema pelan di dalam kamarnya.
Kaisar segera membuka mata dan melihat sekeliling, namun tak ada siapa pun di sana selain dirinya sendiri. Suasana kamar terasa begitu sunyi dan dingin.
Tak lama kemudian, dia melihat sesosok bayangan melintas cepat di samping pintu kamarnya.
Perasaan tidak tenang mulai muncul di hatinya. Kaisar pun memutuskan keluar untuk memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.
Langkahnya berjalan menyusuri lorong istana yang gelap dan sepi. Hanya suara hujan dan gemuruh petir yang terdengar mengisi malam.
Setelah berjalan cukup jauh dari kamarnya, Kaisar akhirnya melihat seorang wanita berdiri membelakanginya di ujung lorong.
Tubuh wanita itu basah kuyup oleh hujan, sementara rambut panjangnya terurai berantakan menutupi sebagian tubuhnya. Sosoknya berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun, menciptakan suasana yang begitu menyeramkan.
"Siapa kau? mengapa dirimu basah kuyup seperti ini?." tanya Kaisar.
Wanita itu tidak memberikan respons sedikit pun kepada Kaisar. Dia terus berjalan perlahan tanpa menoleh ke belakang.
Merasa penasaran, Kaisar pun mengikuti sosok wanita tersebut menyusuri lorong istana hingga akhirnya mereka tiba di tepi danau istana.
Wanita itu berhenti tepat di pinggir danau. Tubuhnya yang basah kuyup tetap membelakangi Kaisar, sementara hujan terus turun membasahi sekeliling mereka.
Kaisar perlahan menghampirinya dengan perasaan waspada.
Namun tiba-tiba, kabut putih muncul menyelimuti tubuh wanita itu. Kabut tersebut bergerak perlahan menutupi sosoknya hingga pandangan Kaisar menjadi samar.
Sesaat kemudian, kabut itu menghilang bersama hembusan angin dingin.
Kaisar langsung membelalak terkejut.
Wanita yang tadi terlihat dengan pakaian basah kuyup kini berubah menjadi seorang wanita bangsawan berparas anggun yang mengenakan pakaian seorang Ratu. Rambutnya tersusun rapi, sementara aura elegan dan misterius terpancar kuat dari dirinya.
Kaisar mendekati dan berkata, "Siapa sebenarnya dirimu?."
Perlahan, wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap Kaisar.
Dalam sekejap, mata Kaisar membelalak penuh keterkejutan. Napasnya tercekat saat melihat wajah wanita tersebut dengan jelas.
“Tidak mungkin..” gumam Kaisar lirih.
Wanita yang berdiri di hadapannya itu adalah mendiang Ratu.
Wajahnya masih sama seperti yang diingat Kaisar selama ini. Cantik, anggun, dan penuh wibawa. Namun tatapannya kini terasa begitu dingin dan misterius di tengah hujan malam.
Dengan meneteskan air mata, Kaisar berkata "Ratuku.."
Dengan tatapan dingin Ratu menjawab "Seharusnya kau yang mati!"
Kaisar terdiam mematung dengan wajah penuh penyesalan. Tatapannya tak lepas dari sosok mendiang Ratu yang berdiri di hadapannya.
Tiba-tiba, ekspresi Ratu berubah dipenuhi amarah dan kebencian.
Tanpa berkata apa pun, dia mengeluarkan sebuah pisau lalu menusukkannya tepat ke tubuh Kaisar.
Kaisar langsung terbangun dari tidurnya dengan napas memburu. Tangannya refleks memegang dadanya, seolah masih bisa merasakan rasa sakit dari mimpi tersebut.
Dia menatap sekeliling kamar dengan gelisah. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya suara hujan dan petir yang masih terdengar dari luar istana.
Kaisar terdiam cukup lama sambil melamun, memikirkan mimpi aneh yang baru saja dialaminya. Entah mengapa, mimpi itu terasa begitu nyata hingga membuat hatinya dipenuhi perasaan tidak tenang. Kaisar terdiam dengan wajah penuh penyesalan, tiba-tiba Ratu menusuk Kaisar menggunakan pisau dengan wajah penuh amarah.
Fajar telah tiba, cahaya matahari menyinari embun dedaunan.
Saat rapat kerajaan, Kaisar tidak bisa fokus, Kaisar melamun dengan tatapan sayu.
Tuan Yamato berkata "Mengapa Kaisar terus melamun? apakah Kaisar sedang tidak sehat?."
"Kita lanjutkan rapat ini besok saja."
Kaisar meninggalkan ruangan rapat meninggalkan para Menteri.
Menteri pertahanan berkata "Apa yang terjadi dengan Kaisar? tidak biasanya dia seperti itu."
Dengan wajah sombongnya Tuan Yamato berkata "Apakah Kaisar sudah tidak sanggup memimpin takhta?."
Dengan raut wajah tegas Menteri Pertahanan berkata "Kita lihat saja nanti bagaimana kedepannya."
Suasana siang yang tadinya cerah mendadak berubah drastis. Awan hitam perlahan menutupi cahaya matahari hingga membuat langit menjadi gelap. Tak lama kemudian, hujan turun deras mengguyur seluruh area istana.
Para menteri dan pelayan istana saling memandang kebingungan melihat perubahan cuaca yang begitu tiba-tiba.
Di tengah suasana muram itu, Kaisar berjalan seorang diri menuju danau istana tanpa membawa satu pun pengawal.
Jubah kebesarannya basah terkena hujan, namun Kaisar sama sekali tidak memedulikannya. Langkahnya terus berjalan hingga berhenti tepat di tempat yang sama seperti dalam mimpinya semalam.
Kaisar berdiri diam menatap permukaan danau yang beriak terkena tetesan hujan. Tatapannya kosong dipenuhi pikiran yang kacau, seolah bayangan mendiang Ratu masih terus menghantuinya.
Dengan raut wajah sedih Kaisar berkata "Jika aku bisa memutar waktu, aku pasti akan menghentikanmu."
Putri Hikari tidak sengaja lewat dan melihat ayahnya berdiri sendiri kehujanan tanpa pengawalan. Dia pun menghampirinya.
Putri Hikari mendekati Kaisar sembari memayunginya dengan berkata "Ayah merindukannya?."
Kaisar membalikkan badan dan melihat putrinya datang kepadanya. Kaisar tersenyum tipis melihat putrinya.
Putri Hikari berkata "Jika seperti ini ayah bisa sakit, mari kembali."
Haru tidak sengaja melihat kejadian tersebut. Dia terdiam.
Putri Hikari membawa Kaisar kembali. Dia kasihan melihat kondisi ayahnya. Disisi lain Putri Hikari juga merindukan ibunya.
Yua berada di paviliun istana sambil berlatih menggunakan katananya. Sebagai seorang pemburu tingkat Elite, dia terus berusaha meningkatkan kekuatannya agar menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Meski hujan turun deras, Yua justru melangkah keluar dari paviliun dan tetap melanjutkan latihannya di bawah guyuran air hujan.
Angin dingin berembus melewati tubuhnya, membuat rambutnya ikut menari mengikuti gerakan katananya.
Sesaat, Yua menghentikan gerakannya dan menatap langit kelabu dengan tatapan sendu. Di dalam hatinya, dia masih berharap suatu hari nanti bisa kembali ke kehidupan modern tempat asalnya.
Namun tak lama kemudian, Yua kembali mengayunkan katananya dengan gerakan yang begitu lihai dan anggun.
Sreettt!
Energi air mulai memancar menyelimuti bilah katananya. Setiap tetesan hujan yang menyentuh katana itu menimbulkan tekanan energi yang sangat kuat.
Brakkk!
Gelombang kekuatan dari katananya langsung menciptakan guncangan hebat hingga mematahkan batang pohon besar yang berada tidak jauh darinya.
Dari kejauhan, Jinsei melihat Yua masih berlatih di tengah hujan deras tanpa memedulikan tubuhnya yang basah kuyup.
Melihat hal itu, Jinsei langsung mengernyit heran sekaligus khawatir.
“Astaga... bagaimana kalau dia sampai demam?” gumamnya pelan sambil menatap Yua yang terus mengayunkan katananya di bawah guyuran hujan.
Jinsei menghampiri serta memayunginya. Dia berkata, "Kau bisa terkena demam, ayo kita berteduh."
Jinsei langsung menggandeng tangan Yua. Setelah berada di dalam Paviliun.
Dengan raut wajah cemas, Jinsei berkata, "Bagaimana jika kau sakit? mengapa berlatih di tengah-tengah hujan?."
"Aku tidak peduli, kau melihat ku tadi?. Aku menari di antara tetesan air hujan berharap keajaiban terjadi, tapi aku tidak bisa melakukan apapun."
"Tidak usah dipikirkan, aku akan memanggil pelayan untuk menyiapkan pakaian kering untukmu, setelah ini jangan hujan-hujanan lagi."
Yua tersenyum melihat kepedulian Jinsei.
Di dalam hatinya Yua berkata, "Mengapa dia sangat peduli kepadaku?."
Setelah selesai mengganti pakaian, Yua pun menghampiri Jinsei yang sejak tadi menunggunya di paviliun.
Yua memandang Jinsei sejenak. Perhatian dan sikap Jinsei kepadanya akhir-akhir ini membuat pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
“Melihat sikapnya kepadaku.. rasanya tidak mungkin jika dia hanya menganggapku sebagai teman,” batin Yua.
Tatapannya perlahan berubah bingung.
“Apa mungkin... di dalam cerita ini dia sebenarnya menyukaiku?” batinnya.
"Kenapa kau memandangku seperti itu?."
Yua terkejut lalu berkata "Ada kepentingan apa kau menemuiku?."
"Tidak ada, aku hanya lewat tadi dan melihatmu hujan-hujanan, jadi aku kesini."
Jinsei perlahan berdiri lalu berjalan menghampiri Yua. Langkahnya tenang, namun tatapannya begitu fokus tertuju pada Yua.
Saat jarak mereka semakin dekat, Jinsei berhenti tepat di hadapan Yua lalu menatap kedua matanya dalam diam.
Untuk beberapa saat, mereka saling bertatapan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Degup jantung Yua seketika bertambah cepat. Entah mengapa, kedekatan itu membuatnya merasa gugup dan salah tingkah.
Yua pun perlahan menundukkan pandangannya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas.
Namun tiba-tiba, tangan Jinsei terangkat dan menyentuh rambut Yua dengan lembut.
"Ada daun di rambutmu", ucap Jinsei sambil membuangnya.
Mendengar itu Yua tersipu malu.
"Ohh ternyata daun, terimakasih."
"Kau sangat cantik" ucap Jinsei sambil menatap Yua.
Yua hanya bisa terdiam mendengar perkataan Jinsei. Jantungnya berdebar semakin kencang, sementara rasa gugup perlahan menguasai dirinya.
Dia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa.
Di tengah keheningan itu, Jinsei perlahan membelai rambut Yua dengan lembut. Sentuhan hangat dari tangan Jinsei membuat Yua semakin salah tingkah hingga tanpa sadar dia menahan napasnya sejenak. Yua hanya bisa terdiam dan gugup.
"Entah kenapa aku merasa takut saat dirimu sedang menjalankan tugas, rasanya aku hanya ingin melihatmu hidup tenang tanpa ada bahaya disekitar" ucap Jinsei sambil menatap mata Yua.
Jantung Yua berdebar.
Yua berkata di dalam hatinya "Kenapa jantungku berdebar? perasaan apa ini?."
Yua menatap Jinsei lalu berkata "Mengapa kau sangat peduli denganku?."
"Apa selama ini kau belum menyadarinya?" sahut Jinsei.
Yua berkata didalam hatinya "jadi benar firasatku, dia menyukaiku."
Yua tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya.
Jinsei berkata lirih di telinga Yua,
"Aku ingin menjadikanmu milikku."
Yua perlahan mengangkat pandangannya dan kembali menatap Jinsei. Hujan di luar paviliun masih turun perlahan, menciptakan suasana tenang yang membuat jantung Yua semakin sulit dikendalikan.
Tatapan mata mereka saling bertemu begitu dekat. Yua bisa melihat dengan jelas kelembutan di mata Jinsei yang sejak tadi terus memandangnya penuh perhatian.
Perlahan, Jinsei mengangkat tangannya lalu menyentuh leher Yua dengan lembut. Sentuhan hangat itu membuat nafas Yua tertahan.
“Yua.. aku mencintaimu..” ucap Jinsei lirih.
Suara rendah Jinsei terdengar begitu lembut hingga membuat hati Yua berdebar semakin kencang.
Tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun, Jinsei perlahan mendekatkan wajahnya. Jarak di antara mereka semakin menipis hingga Yua dapat merasakan hangat napas Jinsei di wajahnya.
Detik berikutnya, Jinsei melabuhkan ciuman di bibir Yua dengan sangat lembut dan penuh perasaan.
Mata Yua membelalak sesaat karena terkejut, namun perlahan dia memejamkan matanya. Hatinya terasa hangat dan dipenuhi perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di tengah suara hujan yang turun mengiringi suasana malam, keduanya larut dalam momen yang terasa begitu tenang dan romantis.
Hujan akhirnya reda. Cahaya matahari perlahan menembus awan gelap dan menyinari dedaunan yang masih dipenuhi tetesan air. Burung-burung kembali berkicau merdu seolah menyambut suasana yang kembali tenang. Di langit biru yang cerah, pelangi indah terbentang menghiasi cakrawala setelah hujan berlalu.
Saat itu, Ryujin dan Haru sedang berlatih Katana bersama para pemburu lain. Haru terlihat sangat hebat saat bertarung. Melihat itu, Ryujin ingin bertarung melawan Haru.
Dengan tetapan sinis Ryujin berkata "Kebetulan juga aku belum membalasnya saat dia bersama Yua di perpustakaan sekolah dulu, kita lihat siapa yang lebih kuat."
Ryujin menghampiri Haru yang sedang bertarung dan langsung menghentikan Haru.
Haru berkata "Ada apa Ryujin, mengapa kau menghentikanku?."
"Mari kita berduel Haru."
"Apa maksudmu?."
Dengan sombong Ryujin berkata "Hahaha apa kau takut bertarung denganku?".
Dengan menaikkan alisnya, Haru menjawab "Hahaha lucu sekali, ayo kita mulai !!"
Pertarungan pun dimulai.
Ryujin menggenggam erat katananya, lalu menyalurkan kekuatan api ke seluruh bilah pedang. Dalam sekejap, api biru menyala hebat membungkus katananya, memancarkan hawa panas yang begitu mengerikan hingga udara di sekitarnya terasa bergetar.
Tanpa ragu, Ryujin langsung melesat dan menghunuskan pedangnya ke arah Haru.
Mata Haru membelalak terkejut.
“Api biru...?” itu adalah api dengan suhu terpanas. Apa dia serius menggunakan kekuatan itu? Tidak biasanya Ryujin memakai api biru.” batin Haru.
Menyadari dirinya tidak boleh lengah sedikit pun, Haru segera mengeluarkan kekuatan angin badai. Hembusan angin besar berputar di sekitar arena pertarungan, menerbangkan debu dan dedaunan untuk mengacaukan pandangan Ryujin.
Namun di tengah pusaran angin itu, Haru langsung melesat maju.
Sreettt!
Katana mereka beradu keras, memunculkan ledakan energi yang mengguncang tanah di sekitar mereka.
Ryujin terus menyerang tanpa memberi celah, sementara Haru dengan gesit menangkis sekaligus membalas setiap serangan menggunakan kecepatan anginnya.
Dentangan pedang dan ledakan kekuatan memenuhi tempat itu.
Para pemburu lain hanya bisa terpaku menyaksikan pertarungan tersebut. Aura membunuh yang terpancar dari keduanya terasa begitu kuat hingga membuat suasana menjadi menegangkan. Pertarungan itu terlihat sangat sengit, seolah mereka hanya memiliki dua pilihan membunuh atau dibunuh.
Ryujin kembali melancarkan serangan bertubi-tubi tanpa memberi Haru kesempatan bernapas.
Sreettt!
Satu tebasan api biru nyaris saja memotong tangan kanan Haru, namun dengan refleks cepat Haru berhasil menangkisnya tepat waktu.
Benturan kedua katana itu menciptakan gelombang angin kuat yang mengguncang tanah di sekitar mereka.
Haru menggertakkan giginya sambil mundur beberapa langkah.
“Apa orang ini gila..? wajahnya benar-benar seperti ingin membunuhku,” batin Haru dengan napas memburu.
Namun Ryujin tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Tatapannya tajam dipenuhi aura membunuh yang mengerikan.
Mereka kembali saling menyerang tanpa henti. Api biru dan angin badai terus bertabrakan, menciptakan ledakan demi ledakan di arena pertarungan.
Tiba-tiba.
Trang!
Ryujin berhasil menemukan celah dan menebas katana Haru hingga terlepas dari genggamannya.
Mata Haru membelalak.
Sebelum sempat bereaksi, Ryujin langsung menyerangnya dengan brutal hingga tubuh Haru terpental dan tergeletak keras di tanah.
Brakkk!
Ryujin melangkah mendekat lalu menghunuskan ujung katananya tepat di leher Haru.
Haru terdiam sesaat saat melihat tatapan Ryujin yang dingin dan mengerikan.
Perlahan, Ryujin mengangkat katananya tinggi ke udara, seolah benar-benar berniat menusuk jantung Haru saat itu juga.
Haru tercengang.
“Dia serius ingin membunuhku...?!”
Dan tepat ketika Ryujin mulai menusukkan katananya,
Sreettt!
Sebuah serangan meluncur cepat dari arah lain dan menghantam katana Ryujin hingga terpental.
Ryujin sedikit terkejut.
Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Haru untuk mendorong tubuh Ryujin menjauh darinya dan melepaskan diri dari kuncian tersebut.Ryujin hampir saja memotong tangan kanan Haru, namun Haru dengan sigap berhasil menangkisnya.
Ryujin segera menoleh tajam ke arah datangnya serangan. Tatapannya dipenuhi emosi karena seseorang telah menghalangi serangannya.
Di sana berdiri seorang pria sambil memegang katana dengan tenang.
Ternyata dia adalah Fumiro.
Seorang pemburu yang memiliki tugas sama seperti mereka dalam membasmi makhluk kutukan, namun berasal dari tingkatan yang berbeda dengan para pemburu Elite.
Tatapan Fumiro terlihat serius saat menatap Ryujin.
“Pertarungan latihan tidak seharusnya berubah menjadi percobaan pembunuhan,” ucap Fumiro dengan nada dingin.
Ryujin hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Hahaha berterimakasihlah kepada Fumiro, karena dia yang menyelamatkanmu Haru" ejek Ryujin lalu pergi meninggalkan mereka.
"Terimakasih kawan, aku tidak tahu kenapa dia (Ryujin) bersikap agresif" ucap Haru.
"Hahaha santai saja, dia pasti sedang ada masalah lalu apesnya kau yang dijadikan pelampiasan" jawab Fumiro.