Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 : HARI PERTAMA "IBU TIRI" DI MAHENDRA MANSION
...BAB 2...
...HARI PERTAMA "IBU TIRI" DI MAHENDRA MANSION...
POV Alina
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Bukan karena kamar ini terlalu dingin. AC sentral di Mahendra Mansion selalu disetel 22 derajat. Bukan karena bantalnya tidak empuk. Kasurku terbuat dari bulu angsa asli, impor dari Kanada.
Aku tidak bisa tidur karena suara itu.
Suara langkah kaki pelan di lorong lantai tiga. Suara perempuan yang berbisik pelan pada anak laki-laki. Suara orang asing yang berani menginjakkan kaki di rumah ini.
Ibu Kirana dan Dimas.
Papa sudah menikahinya dengan resmi pagi tadi. Diam-diam. Hanya dihadiri penghulu dan dua orang saksi. Tidak ada pesta. Tidak ada tamu. Tidak ada pengumuman di media.
Papa bilang, "Papah ingin semuanya sederhana, Nak. Untuk menghormati almarhumah Mama."
Sederhana? Atau Papa malu karena istrinya cuma guru honorer?
Aku memeluk guling erat-erat. Di kepala hanya ada satu kalimat yang berulang: Rumah ini milikku. Nama Mahendra milikku. Papa adalah milikku.
Jam menunjukkan pukul 05.30 saat alarm ponselku berbunyi. Aku sengaja tidak tidur. Ingin melihat seberapa "sederhana" kehidupan Ibu Tiri baruku di mansion ini.
Aku turun ke dapur sebelum para bibi bangun.
Dan benar saja.
Di meja marmer yang biasanya kosong, kini ada dua piring nasi putih, telur dadar, dan sayur bening. Sederhana. Murah. Tidak ada steak, tidak ada salmon, tidak ada jus buah impor.
Ibu Kirana berdiri di depan kompor gas. Masih dengan gamis coklat kemarin. Rambutnya disanggul seadanya. Ia sedang membungkus nasi dan telur itu dengan kertas minyak.
"Untuk bekal Dimas, Nak," katanya pelan saat menyadari kehadiranku. "Dimas sekolahnya jauh. Kalau tidak bawa bekal, nanti Dimas kelaparan. Jajanan di sekolah mahal-mahal."
Aku tidak bertanya dan tidak menjawab. Aku hanya menuang susu ke gelas kristal. Lalu sengaja menjatuhkan sendok perak ke lantai. Bunyinya nyaring.
Ibu Kirana tersentak. Ia segera menunduk, mengambil sendok itu, lalu mencucinya kembali di wastafel.
"Maaf, Nak Alina. Bibi belum datang," bisiknya. "Biar Ibu yang rapikan."
Aku menatapnya. Tangannya kembali basah. Kuku pendeknya terkena air sabun. Tidak ada cincin berlian. Tidak ada kuteks mahal. Hanya tangan seorang pekerja.
"Bu," kataku datar. "Di rumah ini, pekerjaan dapur urusan para bibi. Ibu cukup duduk manis saja. Kan Ibu sudah jadi Nyonya Mahendra sekarang." ledekku.
Ibu Kirana menghentikan tangannya. Ia menoleh padaku, senyumnya masih ada. Tapi kali ini ada luka kecil di matanya.
"Ya, Nak. Ibu mengerti," katanya. Lalu ia mengeringkan tangannya dengan kain lap yang sudah kusam.
Jam 06.15. Dimas turun dari kamar tamu di lantai satu. Kamar itu dulunya ruang kerja Papa. Sekarang disulap jadi kamar untuk mereka berdua. Kasur lipat, lemari plastik, meja belajar dari papan bekas.
Dimas membawa tas ransel yang sudah pudar. Di dalamnya ada buku dan bekal nasi yang tadi dibungkus Ibu Kirana.
"Pagi, Mbak Alina," sapa Dimas pelan. Kepalanya tetap menunduk.
Aku tidak menoleh. Aku sedang sibuk memilih sereal di pantry. Sereal impor seharga 800 ribu per kotak.
"Lin, Dimas mau berangkat sekolah. Antarkan dia ya?" suara Papa dari belakang.
Aku berbalik. Papa sudah rapi dengan setelan jas. Tapi matanya lelah. Semalaman mungkin ia tidak tidur juga.
"Antar sendiri, Pah," jawabku ketus. "Alina tidak punya sopir untuk orang lain."
Wajah Papa mengeras. "Alina."
"Ada mobil Alphard kosong di garasi, Pah," potongku. "Suruh sopir saja yang antar. Tapi jangan pakai mobil Alina. Nanti kotor lagi" ketusku.
Aku berjalan melewati Dimas tanpa menatapnya. Sengaja bahuku menyenggol bahunya. Tasnya jatuh. Buku-buku berserakan di lantai marmer.
Dimas buru-buru jongkok, memungutinya satu per satu. Tangannya gemetar.
Ibu Kirana langsung menghampiri. Ia ikut membantu memunguti buku putranya. Jari-jarinya menyentuh tanganku tanpa sengaja.
"Maafkan Mbak Alina, ya Nak," kata Ibu Kirana pada Dimas. Suaranya bergetar. "Dia sedang tidak enak badan."
Aku mendengus. Tidak enak badan? Aku sedang sangat sehat. Sehat untuk membenci mereka.
Aku naik ke kamar lagi. Dari jendela kaca, aku melihat Ibu Kirana mengantar Dimas sampai gerbang. Ia tidak masuk ke dalam mobil Alphard yang disuruh Papa. Ia hanya berdiri di bawah terik matahari pagi, melambaikan tangan pada anaknya yang duduk di jok belakang.
Motor butut berhenti di depan gerbang. Motor bebek tua, catnya sudah mengelupas. Itu motor Ibu Kirana.
Ia menyalakan mesinnya. Suaranya kasar. Asap knalpotnya hitam.
Guru honorer gaji delapan ratus ribu. Pantas.
Siang harinya, aku sengaja mengundang tiga teman dekatku ke rumah. Nayla, Keisha, dan Rania. Anak-anak konglomerat juga. Lidahnya tajam, sama seperti aku.
Kami duduk di ruang tamu sambil menyeruput es teh peach. Para bibi sibuk melayani.
Tepat saat kami tertawa paling keras, Ibu Kirana muncul dari dapur. Membawa nampan berisi kue lapis dan teh hangat.
"Permisi, Nak Alina. Ini ada kudapan untuk tamu-tamu Alina," katanya sopan.
Nayla langsung menutup hidungnya. "Ya ampun, Lin. Ini siapa? Pembantu baru?"
Aku menahan tawa. "Bukan, Nay. Ini Ibu Tiri aku yang baru."
Ruangan hening sejenak. Lalu Rania tertawa. "Serius? Ngomong-ngomong Guru SD, kan ya? Pantesan bawa kue lapis. Kue orang kampung."
Ibu Kirana meletakkan nampan itu di meja. Tangannya sedikit gemetar.
"Silakan dinikmati, Nona-Nona," katanya pelan. Lalu ia membungkuk sedikit dan pergi ke dapur.
Aku mengambil satu potong kue lapis. Menggigitnya, lalu meludahkannya ke tisu.
"Hambar," kataku keras. Sengaja. "Gula aja pelit, Bu. Pantas gaji cuma delapan ratus ribu."
Suara dari dapur berhenti. Tidak ada jawaban.
Nayla berbisik padaku, "Lin, kasian banget. Mukanya langsung pucat."
"Dia pantas dapat itu," jawabku sambil menyeruput es teh. "Ini rumah Mahendra. Bukan sekolah tempat dia ngajar."
Sore menjelang malam. Hujan turun deras.
Aku duduk di balkon kamar, menatap gerbang depan. Menunggu.
Jam 18.00. Dimas belum pulang. Sekolahnya memang jauh. Tapi biasanya anak SMP sudah pulang jam 15.00.
Jam 19.00. Gerbang masih tertutup. Hujan semakin deras.
Jam 19.30. Akhirnya gerbang terbuka. Dimas masuk. Bajunya basah kuyup. Tasnya dipeluk erat ke dada. Ia berlari kecil ke arah rumah, tapi berhenti di teras.
Ibu Kirana sudah menunggunya di sana. Tidak pakai payung. Tidak pakai jas hujan. Hanya berdiri, menatap putranya dengan cemas.
"Dimas, kenapa kehujanan? Bukannya Ibu bilang tunggu di sekolah kalau hujan?" suara Ibu Kirana panik.
"Uang... uang ongkosnya habis, Bu," jawab Dimas lirih. "Aku jalan kaki dari halte."
Ibu Kirana langsung memeluk putranya. Melepas kerudungnya, mengusap kepala Dimas yang basah.
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu selamat," bisiknya. "Ayo masuk, ganti baju. Nanti sakit."
Mereka masuk ke kamar. Tidak lewat pintu utama. Seperti biasa.
Aku masih duduk di balkon. Hujan membasahi wajahku. Tapi aku tidak merasakan dingin.
Yang kurasakan hanya kepuasan kecil. Setidaknya hari pertama mereka di sini berjalan tidak nyaman. Sama seperti perasaanku.
Ponselku bergetar. Notifikasi Instagram. Foto kue lapis yang tadi aku ludahi sudah dapat 200 like. Komentarnya: "Fix ibu tiri sultan gagal", "Kasian banget si bapak nikah sama guru SD".
Aku tersenyum. Senyum kemenangan.
Aku Alina Mahendra. Aku tidak akan membiarkan perempuan miskin itu merebut apapun dariku.
Malam semakin larut. Dari balik pintu, aku mendengar suara Ibu Kirana membaca sesuatu dengan pelan. Suaranya merdu, menenangkan.
Aku tidak tahu itu ayat apa. Aku juga tidak peduli.
Aku hanya tahu satu hal "Perang baru saja dimulai"
Dan aku tidak akan kalah.
Bersambung ...
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄