NovelToon NovelToon
LEGENDA KULTIVATOR GILA

LEGENDA KULTIVATOR GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Dibuang oleh Klannya sendiri ke Shenzhou—daratan terlarang tempat pemujaan Dewa Jahat—seorang bayi harusnya mati menjadi abu. Namun, takdir menolak tunduk. Dia justru bangkit dengan menyedot habis seluruh energi terkutuk di daratan tersebut. Tumbuh besar seorang diri dengan ingatan jurus-jurus terlarang purba, kini tiba saatnya ia melangkah keluar. Sembilan Daratan yang korup harus bersiap, karena tumbal yang mereka buang telah kembali sebagai pembawa kiamat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab18

Malam hari setelah babak eliminasi massal yang menguras tenaga dan emosi, kegelapan kembali menyelimuti kompleks Klan Wu. Namun, di dalam kedai makan kecil yang tersembunyi di area bawah klan, suasananya justru terasa sangat hangat dan riuh. Wu Lin, Wu Chen, dan Wu Ao membawa Wu Tian kembali ke tempat tersebut untuk merayakan keberhasilan besar yang masih terasa seperti mimpi bagi mereka.

​"Pelayan! Tambahkan tiga porsi paha kalkun spiritual madu dan dua kendi teh herbal terbaik! Cepat!" teriak Wu Chen dengan wajah memerah penuh semangat, melambaikan tangannya dengan riuh di atas meja kayu.

​Wu Chen dan Wu Ao kini benar-benar memperlakukan Wu Tian layaknya seorang pahlawan besar yang turun dari langit. Mereka berdua berebut untuk menuangkan teh, membersihkan sumpit, dan menyodorkan piring-piring makanan terbaik yang mereka pesan menggunakan sisa seluruh batu spiritual tabungan mereka selama berbulan-bulan. Bagi mereka, apa yang dilakukan Wu Tian tadi siang bukan sekadar lolos eliminasi, melainkan sebuah pembalasan dendam yang teramat manis atas semua penghinaan yang diterima oleh murid cabang selama ini.

​"Wu Tian, demi dewa, pukulan cakarmu tadi siang benar-benar gila!" seru Wu Ao sembari memperagakan gerakan memukul di udara dengan heboh. "Aku melihat sendiri bagaimana pedang murid dalam dari cabang barat itu hancur berkeping-keping saat menyentuh tinjumu! Mulai besok, tidak akan ada lagi yang berani menyebut cabang kita sebagai keset kaki!"

​Namun, kontras dengan kegembiraan dan sorak-sorai kedua juniornya, Wu Lin yang duduk tepat di sebelah Wu Tian justru tampak diam seribu bahasa. Wajah cantiknya dilingkupi oleh mendung kecemasan yang mendalam. Ia sama sekali tidak menyentuh pangsit madu di piringnya, melainkan terus menatap profil samping wajah Wu Tian dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa khawatir.

​"Wu Tian, dengarkan aku," Wu Lin akhirnya membuka suara, memotong obrolan heboh Wu Chen dan Wu Ao hingga kedua murid laki-laki itu terdiam kaku. Wu Lin menatap lekat-lekat sepasang mata hitam legam Wu Tian. "Besok adalah Babak Utama, dan lawanmu adalah Wu Shan. Ini bukan lagi pertarungan massal di mana kamu bisa bersembunyi di balik kekacauan."

​Wu Lin condong ke depan, suaranya bergetar penuh penekanan. "Wu Shan bukan sekadar murid dalam biasa. Dia adalah tangan kanan setia Wu Yan, dan dia menguasai Teknik Perisai Batu Bumi tingkat tinggi. Teknik itu memungkinkan tubuhnya mengeras layaknya batu granit spiritual yang tidak bisa ditembus oleh senjata tajam sekalipun. Dia adalah lawan alami yang paling mematikan bagi petarung yang mengandalkan kekuatan fisik murni sepertimu! Aku mohon... jika besok situasinya mendesak dan kamu merasa tidak bisa menembus pertahanannya, langsung angkat tangan dan menyerahlah. Keselamatan nyawamu jauh lebih penting daripada harga diri klan."

​Tepat ketika Wu Lin sedang berada di puncak kecemasannya dan mencoba memberikan nasihat serius, tirai kain di pintu masuk kedai mendadak tersingkap perlahan.

​BZZZZT...

​Seikat hawa dingin yang teramat tajam dan murni mendadak berembus masuk ke dalam ruangan kecil tersebut, membuat nyala api lilin di atas meja-meja kedai bergoyang hebat. Sepasang langkah kaki yang ringan dan anggun terdengar melangkah masuk.

​Sesosok pemuda tampan berusia sekitar awal dua pukul tahun berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan jubah putih keperakan yang sangat megah, dengan sulaman berbentuk awan dan pedang di sepanjang lengannya—pakaian resmi khas Sekte Pedang Langit, faksi kultivator pedang terkuat di Yunzhou. Di pinggangnya, terikat sebilah pedang tipis tanpa sarung yang terus memancarkan aura biru transparan yang tajam.

​Melihat kedatangan tamu agung dari faksi luar tersebut, Wu Chen dan Wu Ao seketika membeku di kursi mereka, wajah mereka memucat karena syok dan aura tekanan spiritual yang dilepaskan pemuda itu secara tidak sengaja. Bahkan Wu Lin pun langsung berdiri dari duduknya dengan waspada.

​Namun, pemuda berjubah putih itu tidak menunjukkan niat bermusuhan. Ia melangkah mendekati meja mereka, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dan memberikan salam hormat yang teramat sopan tepat ke arah Wu Tian.

​"Perkenalkan, namaku Jian Chen dari Sekte Pedang Langit," ucap pemuda itu, suaranya terdengar seperti dentingan logam yang jernih. Matanya yang tajam menatap Wu Tian dengan binar kekaguman yang jujur.

​"Maaf jika aku lancang mendatangi kedai usang ini, namun aku sengaja mencarimu, Saudara Wu Tian. Pertarungan tangan kosongmu di arena tadi siang benar-benar membuatku tersanjung dan takjub. Di dunia yang penuh dengan kultivator yang mengandalkan mantra kepura-puraan dan senjata mewah, gaya bertarungmu yang brutal, jujur, dan teramat efisien adalah sebuah karya seni pertempuran yang murni. Sekte kami sangat menghargai ketajaman sejati, dan di mataku, tinjumu tadi siang jauh lebih tajam daripada pedang milik sebagian besar murid dalam di klan ini."

​Pujian setinggi langit dari salah satu jenius pedang faksi terkuat di daratan itu tentu saja sanggup membuat murid mana pun merasa melayang tinggi karena bangga. Wu Chen dan Wu Ao bahkan sudah menahan napas mereka, menatap Wu Tian dengan mata berbinar-binar, menunggu jawaban puitis atau agung dari mulut temannya.

​Namun, tanggapan yang diberikan oleh Wu Tian justru jauh di luar nalar sehat mereka semua.

​Di tengah suasana tegang, kehadiran utusan agung, dan tatapan penuh kekaguman dari Jian Chen, Wu Tian sama sekali tidak mengalihkan pandangan matanya dari atas meja. Ia seolah menganggap eksistensi Jian Chen tidak lebih berharga daripada debu jalanan.

​Dengan kedua tangan yang telah berlumuran minyak bumbu madu, Wu Tian tetap fokus melahap potongan paha kalkun spiritual di tangannya dengan sangat lahap dan barbar.

​NYAM! NYAM! NYAM!

​Suara kunyahan daging yang renyah terdengar jelas memenuhi keheningan kedai, membuat mulut pemuda itu penuh hingga pipinya menggembung kaku.

​Setelah menelan kunyahan besarnya dengan susah payah, Wu Tian perlahan melirik Jian Chen sekilas menggunakan sepasang mata hitamnya yang datar dan mengantuk. Ia mengangkat sepotong tulang kalkun yang telah bersih dari daging di tangan kanannya, lalu mengarahkannya ke arah kursi kosong di seberang meja dengan gerakan malas.

​"Jika kamu datang ke sini hanya untuk mengoceh panjang lebar dan mengganggu waktu makanku, sebaiknya kamu pergi," ucap Wu Tian dengan nada suara yang teramat sangat santai, lempang, dan tanpa beban. "Tapi jika ingin bicara, duduklah dan pesan makananmu sendiri terlebih dahulu. Jangan biarkan orang lain melihatmu berdiri seperti patung bodoh di sana."

​UHUK!

​Wu Chen dan Wu Ao hampir saja tersedak air liur mereka sendiri hingga pingsan di tempat karena ketakutan mendengar kalimat yang terlampau angkuh dan kurang ajar tersebut diucapkan kepada utusan Sekte Pedang Langit. Wu Lin pun hanya bisa menepuk dahinya sendiri dengan wajah pasrah, merasa bahwa tingkat kepolosan pragmatis Wu Tian sudah berada di ranah yang tidak bisa diselamatkan lagi oleh akal sehat manusia biasa.

​Namun, di luar dugaan semua orang di dalam kedai, Jian Chen tidak marah sedikit pun. Setelah tertegun selama dua detik melihat sikap eksentrik tersebut, pemuda jubah putih itu justru mendongakkan kepalanya dan meledak dalam tawa yang teramat renyah dan lepas.

​"Hahaha! Luar biasa! Benar-benar karakter yang unik dan tidak menyenangkan!" Jian Chen menarik kursi kayu di depan Wu Tian dan langsung duduk dengan santai tanpa mempedulikan jubah mewahnya yang terkena debu meja.

​"Baiklah! Pelayan, bawakan aku satu porsi makanan yang sama dengan yang dimakan oleh pemuda gila ini! Malam ini, aku yang akan membayar seluruh tagihan meja ini!"

​Di bawah temaram lampu kedai kecil itu, sebuah aliansi dan hubungan pertemanan baru yang tak terduga antara monster Shenzhou dan jenius pedang luar telah resmi terbentuk, bersiap untuk mengguncang babak utama yang akan dimulai beberapa jam lagi.

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe tubuh fisik yang kuat😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii Thor 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii Thor bantaaaaaaaiiiiii 🤣🤣👍
LanzT0k3
keren ❤️❤️
Danzo28: Terimakasih 🥳
total 1 replies
ibarumbung
mantap... lanjut thor
Danzo28: siap KA
ditunggu yahhh🥳
total 1 replies
Was pray
ceritanya bagus sih cuma up nya yg terlalu lama dan sedikit pula... ntar para reader mundur Krn gak sabar nunggu up nya
Was pray: oke... 👍
total 2 replies
Was pray
sayang sekali wu Tian kuat tapi gaya bertarungnya gak ada seninya, kayak babi hutan yg nyruduk
Was pray
cari uang lah.. wu Tian, masak mau mengandalkan diberi makan sama orang lain terus?
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayoooo Thor semangat
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
mereka tidak tau monster sesungguhnya mulai bangkit😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
monster sesungguhnya mulai beraksi👍😄😄
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
bantaaaaaaaiiiiii ayooooo bantaaaaaaaiiiiii 🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehe..aroma pembantaian nih 😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
waduh konspirasi tersembunyi 😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehehe pura2 jadi babi🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hahahaha harga diri yang hancur🤣👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
alur ceritanya bagus dan menarik
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
baca beberapa chapter di awal cukup bagus alur ceritanya 👍
ibarumbung
alur cerita yang bagus
Danzo28: Terimakasih
semoga betah yahh
Happy reading 🥳🥳🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!