NovelToon NovelToon
Hanya Untuk Tuan Mafia

Hanya Untuk Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:614
Nilai: 5
Nama Author: Yann_Story

Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan Hangat di Atas Luka

Kirana mengetuk pintu kamar Adrian dua kali dengan ujung sikunya karena kedua tangannya memegang nampan.

"Masuk."

Suara bariton itu terdengar lebih bertenaga dibandingkan semalam, meskipun masih menyisakan sedikit parau. Kirana mendorong pintu dengan kaki dan melangkah masuk. Kamar luas itu sudah terang benderang; gorden otomatis telah terbuka, menampilkan panorama kolam renang dan taman belakang yang berkilau diterpa cahaya matahari pagi.

Adrian sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal di kepala ranjang. Ia tidak lagi mengenakan kemeja sutra hitamnya, melainkan dengan dada yang dibiarkan terbuka, mengekspos balutan perban putih bersih yang melingkari bahu kanan dan rusuk kirinya. Di pangkuannya, sebuah tablet digital menampilkan grafik saham dan laporan perkapalan yang terus bergerak.

"Selamat pagi, Tuan Singa yang sedang terluka," sapa Kirana dengan nada suara yang sengaja dilembutkan namun sarat akan kehangatan yang renyah. Ia berjalan mendekat dan meletakkan nampan di atas meja nakas.

Adrian mengangkat pandangannya dari tablet. Matanya yang hitam kelam menatap Kirana dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan seragam pelayan gadis itu yang sangat rapi tanpa ada satu pun noda darah yang tersisa dari kejadian semalam.

"Kau mengganti seragammu dengan cepat, Kirana," ujar Adrian datar, suaranya terdengar seperti es yang bergesekan, namun tidak ada nada pengusiran yang kasar di sana.

"Tentu saja, Tuan Muda. Sebagai pelayan pribadi Anda, penampilan saya adalah cerminan dari kedisiplinan Anda," balas Kirana riang. Ia mengambil mangkuk bubur gandum dan duduk di tepi tempat tidur—sebuah tindakan kelancangan luar biasa yang melanggar aturan etika pelayan, namun Kirana melakukannya dengan begitu alami seolah itu adalah tempat kekuasaannya sendiri.

Adrian menyipitkan matanya melihat kedekatan posisi mereka. "Siapa yang mengizinkanmu duduk di atas ranjangku, Pelayan?"

Kirana tidak bergemerincing mundur. Ia justru menyendok sedikit bubur gandum, meniupnya perlahan dengan bibirnya yang merah muda, lalu mengulurkannya tepat di depan mulut Adrian.

"Tangan kanan Anda sedang diperban karena serempetan peluru, Tuan Muda Adrian yang cerdas," ujar Kirana dengan binar mata bulatnya yang nakal dan mengunci pandangan Adrian. "Dan tangan kiri Anda terlalu berharga untuk memegang sendok murahan ini sementara tugasnya adalah memeriksa dokumen bernilai miliaran di tablet itu. Jadi, tugas menyuapi ini secara otomatis jatuh ke tangan saya. Sekarang, buka mulut Anda sebelum buburnya mendingin."

Adrian menatap sendok di hadapannya, lalu beralih menatap wajah Kirana yang tampak sangat keras kepala dan menolak untuk menerima penolakan. Sifat tegas dan mutlak Adrian biasanya membuat seluruh direktur perusahaan tunduk, namun di depan gadis yatim piatu ini, otoritasnya seolah menguap begitu saja di udara pagi.

Dengan helaan napas pasrah yang sangat samar, Adrian membuka mulutnya dan menerima suapan pertama itu. Rasa hangat gandum dengan sentuhan madu alami menjalar di lidahnya, memberikan energi instan yang sangat ia butuhkan setelah semalaman menahan demam akibat infeksi luka.

"Bagaimana? Apakah rasanya pas di lidah penguasa dunia bawah?" goda Kirana dengan senyum manis yang mengembang sempurna di wajah cantiknya.

"Terlalu manis," ketus Adrian, meskipun ia tidak menolak saat Kirana kembali menyendokkan suapan kedua.

"Itu karena yang menyuapinya juga manis, Tuan Muda," sahut Kirana tanpa malu-malu, mengedipkan sebelah matanya yang jenaka.

Rahang Adrian mengeras sedikit, menahan debaran aneh yang kembali memukul dadanya. Ia berpura-pura kembali fokus pada layar tabletnya, mencoba mengabaikan aroma harum tubuh Kirana yang berjarak sangat dekat dengannya.

Namun, kecerdasannya tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa kehadiran gadis ini... entah bagaimana membuat rasa sakit di rusuknya terasa jauh lebih ringan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!