NovelToon NovelToon
Untuk Kehidupan Kedua Kami

Untuk Kehidupan Kedua Kami

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Fantasi / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: sila

Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.

Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.

Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.

secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Tap...

Tap...

Tap...

Langkah kaki nya sedikit lambat dengan kepala tertunduk menatap lantai, tangannya saling meremas dengan cemas, jemarinya yang lentik sedikit kusut dan kukunya juga panjang tidak terawat.

Singkatnya gadis itu benar benar suram dari atas kebawah.

Tapi kali ini kilatan matanya sedikit berbeda, ia tampak seperti linglung dan sedikit ketidak percayaan melintas dimatanya.

"Seriusan? ini bisa disebut isekai gak sih?" Gumamnya sambil menggigit jarinya.

Tangannya terulur menarik rambutnya dan menatap betapa kusutnya rambut itu.

"Cantik sih, tapi kenapa gak dirawat ya?" Gumamnya sambil mengusap ujung rambut pirangnya.

Begitu didepan pintu besar berlapis emas, matanya membelalak kaget, dia mendekati pintu itu dan mengusap usap permukaannya.

"Gila! siapa yang ngide emas dijadiin pintu?! gak takut dimalingin orang kah?!" Serunya sambil terus mengusap usap pintu berlapis emas itu.

"Ini jualan seblak sampek tua, juga gak bakal berani harta gue diginiin!"

"Gila gila gila! emak gue punya uang banyak sekalipun gak bakal berani naruh emas dilaci meja, lah ini? Dijadiin pintu?!"

"Ini pemborosan! jiwa hemat gue meronta ronta!"

Ya, yang mengoceh terus menerus hingga tidak menyadari adanya dua penjaga berpatroli itu adalah Aruna, gadis dari masa depan yang mati Karena terpeleset.

Aruna bahkan ingin mencongkel pintu itu namun segera dihentikan oleh salah satu dari dua prajurit itu.

"Yang mulia! apa yang ingin anda lakukan?!" Teriaknya sambil menarik tangan Aruna agar menjauhi pintu emas itu.

"Lepasin gue! gue mau simpen pintu itu!" Teriak Aruna sambil meronta ronta dengan tangannya yang berusaha menggapai pintu itu.

"Yang mulia tolong tenang sedikit!" Ucap prajurit penjaga itu sambil mengangkat tubuh Aruna dan menjauhkannya dari berusaha menjangkau pintu.

Begitu keadaan sedikit lebih tenang, dua prajurit penjaga itu saling bertatapan sejenak.

Daripada hal lainnya, mereka tampak lebih terkejut melihat tingkah laku tuan putri mereka yang tampak lebih agresif dan sedikit emosional.

Karena biasanya tuan putri itu selalu suram, pemalu, ceroboh bahkan tidak pernah membiarkan siapa pun berada didekatnya atau menyentuhnya.

Tapi baru saja salah satu prajurit itu bahkan mengangkat tubuhnya tapi yang tuan putri itu lakukan hanya terus meronta dan berusaha menjangkau pintu.

Mereka berpikir mungkin saja hanya kebetulan namun selanjutnya, kedua prajurit itu terkejut saat sang tuan putri malah menatap mereka secara langsung.

"Siapa yang membuat pintu itu?" Tanya Aruna sambil menunjuk kearah pintu emas itu.

kedua prajurit itu mengikuti arah tunjuknya dan mendapati pemandangan pintu yang membosankan seperti biasanya, keduanya mengerutkan kening.

"Apa maksud tuan putri?" Tanya salah satu prajurit itu.

"Siapa yang memberikan ide agar pintu itu dibuat dari emas?!" Tanya Aruna mempertegas pertanyaan nya.

Kedua prajurit itu semakin tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

"K-kami tidak mengetahui nya, tapi setiap pintu diistana memang dibuat dari emas, beberapa bangunan istana juga dibuat dari emas." Jelas si prajurit.

Aruna membelalakkan matanya, dia berpikir apa orang orang dijaman kuno memang sekaya itu? tidak bisa dipercaya.

Tapi sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak, otaknya sudah merencanakan banyak hal tentang emas emas itu.

"Haaah! Mereka menghambur hamburkan harta, kalau diambil pasti tidak akan ada yang protes, kan?" Ujar Aruna sambil menyilangkan tangannya didada.

Tetapi dua prajurit itu malah menggaruk kepala, sikap tuan putri mereka sangat aneh.

"Maksud tuan putri, ingin mencuri?" Celetuk salah satu nya dengan hati hati.

"Tentu saja-" Aruna segera menyambar dan secepat itu pula ia mengoreksi ucapan nya.

"Ekhm... maksudnya bukan itu, maksudnya... Lagipula semua disini katanya terbuat dari emas, kalau diambil sedikit pasti tidak ada masalah, kan? tempat ini pasti memiliki lebih banyak harta, ambil sedikit tidak akan jatuh miskin!" Katanya dengan terburu-buru.

Dua prajurit itu melambaikan tangan dengan cepat.

"Sebaiknya tuan putri minta secara langsung saja pada yang mulia raja."

"Ya ya ya! Jangan mencuri!"

Aruna memelototi dua prajurit itu.

"Ya gak bakal dikasih dong! lagian ini kamar gue kan?" Protesnya sambil menunjuk pintu emas itu yang memang kamar pemilik tubuh asli.

"Gue?"

"Apa itu?"

Dua prajurit itu jelas tidak mengerti dengan bahasa baru yang mereka dengar.

"Ekhm! Maksud nya, itu kamar ku, kan?" Tanya Aruna lagi setelah mengoreksi bahasa nya sendiri.

Dua prajurit itu mengangguk anggukkan kepalanya.

"Nah, gak masalah kan kalau- oh gak jadi, kalian lanjutkan tugas." Ucap Aruna segera pergi dan masuk kekamar pemilik tubuh barunya.

Tidak mungkin dia akan mengatakan kalau dia akan tetap menggerogoti pintu emas itu.

Meskipun sedikit bingung tapi dua prajurit itu kembali melanjutkan tugas patroli mereka.

Didalam kamar amat sangat megah itu, Aruna terus menerus berdecak kagum.

Dia naik keatas kasur empuk itu dan berbaring telentang dengan nyaman.

"Gila! Kepeleset malah jadi sultan dadakan!"

"Ini dibilang apes tapi jadi kaya, dibilang beruntung tapi mati ninggalin emak sendirian yang jaga resto."

"Cocoknya dibilang apa, ya?"

Tinggalkan gadis dengan pemikiran absurdnya itu.

Dilain tempat disebuah mansion besar yang hampir setara dengan besarnya istana.

Seorang gadis berambut putih dengan mata merah nya sedang duduk dimeja makan berukuran besar dengan beberapa orang disekitarnya.

Posisinya sedikit memiliki jarak diantara yang lain seolah mereka dengan sengaja menjauhi nya.

Acara makan malam itu berlanjut dengan kesunyian yang sedikit mencekam.

Beberapa orang dimeja makan itu terkadang mencuri pandang kearah gadis berambut putih itu.

Mereka merasa sikapnya sedikit berbeda dan rasanya aneh jika melihatnya bersikap seperti itu.

Tapi disisi lain, gadis berambut putih itu diam karena sibuk mengoceh dalam pikirannya.

"Moo lagi ngapain ya? Ah elah, si ireng itu pasti lagi makan sayur dikebun, gak aneh kalau tuh sapi nyuri sayur, kerjaan nya makan mulu, gak mikir perut nya udah segede gentong apa ya?"

Ya, gadis itu adalah Luna, gadis yang mati Karena sundulan dari sapi kesayangan nya sendiri.

Beberapa saat kemudian setelah sibuk memikirkan sapi kesayangan nya itu, Luna menyudahi makan malamnya karena memang sudah selesai.

Dia bangkit dari duduknya sambil membawa nampan berisi alat makannya sendiri, begitu dia berbalik dengan nampan ditangannya, suara seseorang menghentikan langkah kakinya.

"Apa yang kau lakukan, Caily?" Tanya seorang wanita cantik berambut putih dengan mata biru laut nya.

Luna atau yang sekarang berada didalam tubuh Caily menoleh kearah wanita itu yang diduga adalah ibu kandung pemilik tubuh asli.

"Menaruh piring kotor ini ke dapur." Balas Luna dengan santai.

Tapi jawabannya itu malah membuat semua orang yang berada dimeja makan mengangkat pandangan menatap kearah nya dengan tatapan aneh.

Alis Luna terangkat satu, menunjukkan kalau dia bermaksud menanyakan 'apa'.

"Itu pekerjaan pelayan." Celetuk seorang pria tampan yang sebelumnya sama sekali tidak memandang ke arahnya.

Luna terdiam sejenak lalu tersadar jika dia bukan lagi Luna si gadis desa yang tinggal berdua dengan neneknya.

Sekarang dia adalah Caily Cassaundra Valkey, putri dari seorang duke Albert Hall Valkey dan duchess Sabina Valkey.

Anak pertama nya adalah laki laki bernama Christofer Valkey, anak kedua juga seorang laki-laki bernama Calief Valkey dan anak ketiganya adalah Caily.

Laki laki yang baru saja menyeletuk itu adalah Calief, meskipun sebenarnya dia tidak pernah menyukai Caily tapi hari ini dia sedikit penasaran saat tingkah laku Caily sedikit berbeda yang mungkin saja agak mengganggunya.

"Hm."

Singkat dan hanya itu saja yang Caily balas, dia berbalik dan pergi begitu saja tanpa mengatakan hal lain lagi, nampan tetap ia bawa menuju dapur.

"Elah, ribet amat, ketimbang makan malam aja sampek pakek gaun yang gedenya kek gaun pengantin gini, orang kuno itu memang paling jago bikin susah diri sendiri." Dumel Luna disepanjang langkah kakinya.

Dia tidak menyadari adanya sesosok bertubuh tinggi dibelakangnya yang menatapnya dengan tatapan dingin, wajah datarnya tidak menunjukkan ekspresi apapun yang dapat diartikan, dia hanya terus memandangi punggung Luna yang semakin mengecil hingga tidak terlihat lagi.

(Catatan : kita akan mengubah nama Luna menjadi Caily, begitu pun dengan Kalista dan Aruna, nama mereka juga akan diubah.)

1
Dewiendahsetiowati
kapan ketahuan belangnya si biang kerok Alisa
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
Dewiendahsetiowati
gak ada jari emas kah untuk salah satu MC nya
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Dia Fitri
/Good/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!