NovelToon NovelToon
Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Dikhianati Sahabat Dan Kekasih Kini Aku Dewa Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pagi menjelang siang di penthouse Hotel Grand Surya.

​Sony duduk santai di balkon sambil menatap pemandangan kota dari atas.

​Angin sepoi-sepoi meniup rambut hitamnya yang sedikit berantakan.

​Sring.

​Layar biru transparan dari sistem perlahan muncul tepat di depan matanya.

​[Informasi Jaringan Gelap Kota Berhasil Diakses]

​Deretan data rahasia mengalir deras di layar hologram tersebut bagaikan air terjun.

​Mata Sony membaca setiap baris kalimat dengan kecepatan yang tidak normal.

​"Ternyata Dimas sangat sibuk semalaman penuh mencari bala bantuan," gumam Sony sambil tersenyum sinis.

​Di layar itu terlihat jelas rincian transaksi antara Grup Dimas dan sebuah organisasi bawah tanah.

​Organisasi itu bernama Kelompok Bayangan.

​Mereka adalah sindikat pembunuh bayaran kelas atas yang beroperasi di kota ini.

​"Tuan, kopi hitam Anda sudah siap," suara Leo terdengar dari arah pintu geser balkon.

​Leo meletakkan secangkir kopi panas di atas meja bundar kecil di samping Sony.

​"Leo, apa kau tahu sesuatu tentang Kelompok Bayangan?" tanya Sony tanpa menoleh.

​"Mereka adalah kelompok tikus kotor yang sering membuang mayat ke laut, Tuan."

​Leo menjawab dengan nada datar seolah sedang membicarakan cuaca hari ini.

​"Dimas baru saja mentransfer uang muka sebesar sepuluh miliar kepada mereka pagi ini," ucap Sony.

​"Sepertinya kepala saya dihargai cukup murah oleh sahabat lama saya itu."

​Sony mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan.

​Sruput.

​"Apakah Anda ingin saya mengirim pasukan untuk meratakan markas mereka sekarang juga?" tawar Leo.

​"Tidak perlu, itu hanya akan membuang waktu dan mengotori tangan pasukan kita," tolak Sony.

​Sony meletakkan cangkirnya kembali dan berdiri dari kursi santainya.

​"Sistem menunjukkan kalau Kelompok Bayangan sedang memburu seseorang di pelabuhan tua utara kota."

​"Orang yang mereka buru itu rupanya memegang bukti penggelapan dana rahasia milik Grup Dimas."

​Sony meregangkan otot lehernya sejenak.

​"Aku akan pergi ke sana sendirian untuk melihat pertunjukan kecil."

​"Baik Tuan, apakah Anda butuh kendaraan untuk ke sana?" tanya Leo.

​"Tidak usah, aku butuh sedikit olahraga ringan siang ini," jawab Sony.

​Wush.

​Dalam sekejap mata, tubuh Sony menghilang dari balkon meninggalkan embusan angin kencang.

​Leo hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kecepatan tuannya yang sudah di luar nalar manusia.

​Sementara itu di kawasan pelabuhan tua utara kota.

​Suasana di sana sangat sepi dan dipenuhi oleh tumpukan kontainer besi berkarat.

​Tap. Tap. Tap.

​Suara langkah kaki yang berlari tergesa-gesa terdengar menggema di antara lorong kontainer.

​Seorang wanita muda berjaket kulit hitam sedang berlari sekuat tenaga.

​Nafasnya tersengal-sengal dan ada luka goresan panjang di lengan kirinya yang meneteskan darah.

​Wanita itu bernama Nadhira.

​Dia adalah seorang jurnalis investigasi independen yang sudah berbulan-bulan melacak kebusukan Grup Dimas.

​"Sialan, mereka mengejarku terlalu cepat," batin Nadhira dengan panik.

​Dia memegang sebuah flashdisk kecil di tangan kanannya dengan sangat erat.

​Benda kecil itu berisi data lengkap transaksi ilegal dan pencucian uang yang dilakukan oleh Dimas.

​Dor. Dor.

​Suara tembakan pistol yang menggunakan peredam suara terdengar dari arah belakangnya.

​Peluru berdesing tipis melewati telinga Nadhira dan menghantam besi kontainer di depannya.

​Trang.

​Percikan api kecil muncul saat peluru itu memantul keras.

​Nadhira langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah dan berguling berlindung di balik tumpukan tong kayu.

​Bruk.

​Jantungnya berdetak sangat kencang seakan mau melompat keluar dari dadanya.

​Empat orang pria berpakaian serba hitam dan memakai topeng tengkorak perlahan mendekati tempat persembunyiannya.

​Mereka adalah anggota elit dari Kelompok Bayangan.

​"Keluarlah nona manis, kau tidak bisa lari ke mana-mana lagi di pelabuhan ini," ucap salah satu pembunuh itu.

​Suaranya terdengar sangat menyeramkan dari balik topeng tengkoraknya.

​Nadhira menahan nafasnya dan meraba saku jaketnya mencari sesuatu untuk melawan.

​Tapi dia hanya menemukan sebuah semprotan merica kecil yang tidak akan berguna melawan pistol.

​"Jika kami yang menemukanmu duluan, kami pastikan kematianmu tidak akan cepat," ancam pembunuh yang lain.

​Langkah kaki keempat pria itu semakin dekat dan mengepung tong kayu tempat Nadhira bersembunyi.

​Srat.

​Salah satu pembunuh itu langsung menendang tong kayu itu hingga hancur berantakan.

​Brak.

​Nadhira terkesiap mundur hingga punggungnya menabrak dinding kontainer besi di belakangnya.

​Dia menatap empat laras pistol hitam yang kini tertuju tepat ke kepalanya.

​"Tolong jangan bunuh aku, ambil saja flashdisk ini," ucap Nadhira mencoba bernegosiasi dengan suara gemetar.

​Pemimpin pembunuh itu tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.

​"Tuan Dimas membayar kami untuk membawa flashdisk itu beserta kepalamu sekaligus."

​Pemimpin itu perlahan menarik pelatuk pistolnya bersiap untuk mengakhiri nyawa Nadhira.

​Nadhira langsung menutup matanya dengan sangat rapat dan pasrah pada nasibnya.

​Namun tiba-tiba terdengar sebuah suara bariton yang sangat dingin dari atas kontainer.

​"Empat orang pria bersenjata mengepung satu wanita terluka, sungguh pemandangan yang menyedihkan."

​Keempat pembunuh itu langsung tersentak dan mendongakkan kepala mereka ke atas secara bersamaan.

​Seorang pemuda berjas hitam santai sedang duduk di tepi atas kontainer setinggi sepuluh meter.

​Pemuda itu adalah Sony.

​Dia menatap ke bawah dengan pandangan sangat bosan seolah sedang melihat kumpulan semut.

​"Siapa kau? Jangan ikut campur urusan Kelompok Bayangan kalau masih mau hidup!" bentak pemimpin pembunuh itu.

​Dia langsung mengarahkan pistolnya ke arah Sony di atas sana.

​Dor. Dor. Dor.

​Tiga tembakan ditembakan tanpa ragu sedikitpun ke arah kepala Sony.

​Nadhira menjerit tertahan melihat pria asing itu ditembaki.

​Namun hal yang terjadi selanjutnya membuat semua orang di sana membeku seketika.

​Sony hanya mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya dengan santai.

​Tring. Tring. Tring.

​Tiga butir peluru panas itu berhenti tepat di udara, terhalang oleh dua jari telunjuk dan tengah milik Sony.

​Sony menjepit ketiga peluru yang melesat dengan kecepatan tinggi itu seolah hanya menangkap lalat.

​Mata di balik topeng tengkorak para pembunuh itu langsung membelalak lebar.

​"M-mustahil! Bagaimana manusia bisa menangkap peluru kosong dengan jari?" teriak salah satu pembunuh ketakutan.

​Sony menjatuhkan peluru-peluru penyok itu ke bawah hingga terdengar bunyi kelentingan kecil.

​Klotak.

​"Kelompok Bayangan ya? Kebetulan sekali aku sedang mencari majikan kalian," ucap Sony dingin.

​Wush.

​Sosok Sony tiba-tiba menghilang dari atas kontainer tersebut.

​Keempat pembunuh itu langsung kebingungan memutar kepala mereka mencari keberadaan Sony.

​"Di mana dia? Cepat cari!" teriak pemimpinnya panik.

​"Aku ada di belakangmu, dasar sampah," bisik Sony tepat di telinga pemimpin itu.

​Sebelum pemimpin itu sempat menoleh, Sony sudah memegang belakang leher pria itu.

​Krek.

​Dengan satu remasan ringan, tulang leher pemimpin pembunuh itu patah seketika.

​Bruk.

​Tubuhnya ambruk ke tanah tanpa perlawanan sama sekali layaknya boneka rusak.

​Tiga pembunuh yang tersisa langsung mundur ketakutan melihat kematian ketua mereka yang instan.

​Mereka secara refleks memberondong tembakan secara membabi buta ke arah Sony.

​Dor. Dor. Dor. Dor.

​Sony bahkan tidak repot-repot menghindar dari hujanan peluru tersebut.

​[Sistem Aktif: Kulit Besi Tahap Dewa Diaktifkan Otomatis]

​Trang. Trang. Trang.

​Semua peluru yang mengenai dada dan kepala Sony memantul jatuh ke tanah seakan menabrak baja tebal.

​Baju jas Sony bahkan tidak berlubang sedikitpun.

​"Monster! Lari dari sini sekarang juga!" teriak salah satu pembunuh dengan nada putus asa.

1
Fajar Fathur rizky
cepat bantai mawar hitam permalukan ke media sebelum di bantai
kiyoe: bantai
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris beserta keluarganya dengan cara paling kejam dan sadis
kiyoe: hehehe
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai jendral haris dengan cara paling kejam
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Viktor dengan cara paling kejam
kiyoe: hehehe 🙏
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dimas dengan cara paling kejam pajang tubuhnya yang sudah tiada itu
kiyoe: mau di pajang ke mana kak tubuh nya hehe
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!