Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 35 TAMAT
Halaman Baru yang Suci (Tamat)
Tiga bulan berlalu sejak malam kelam di mana benang-benang kutukan itu dihancurkan. Kota tempat Anindiya tinggal kini diselimuti musim kemarau yang hangat. Sanggar Rias Anindiya telah kembali berdiri tegak, memancarkan cahaya baru yang jauh dari kesan kelam dan menakutkan.
Hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagi Anindiya. Sanggar riasnya kembali menerima klien pengantin pertamanya sejak kejadian teror itu.
Seorang gadis muda bernama Maya duduk di depan meja rias. Wajah Maya memancarkan rona bahagia yang begitu tulus saat Anindiya dengan lembut memoleskan kuas rias ke pipinya.
"Mbak Anindiya," panggil Maya pelan sambil menatap Anindiya melalui pantulan cermin yang kini tampak begitu bening dan bersih. "Terima kasih ya, Mbak. Dari dulu saya selalu bermimpi ingin dirias oleh Mbak Anindiya di hari pernikahan saya. Hasil polesan Mbak Anindiya selalu punya 'nyawa' dan terasa sangat hangat."
Anindiya tersenyum manis. Kuas di tangannya berhenti sejenak. Kata 'nyawa' yang diucapkan Maya tidak lagi membuat dadanya sesak oleh ketakutan, melainkan dipenuhi oleh rasa syukur yang membuncah.
"Sama-sama, Maya," jawab Anindiya lembut. "Hari ini adalah harimu. Tugas Mbak hanya memastikan senyuman bahagiamu terpancar sempurna."
Di sudut ruangan, ibu Anindiya berjalan mendekat sambil membawa secangkir teh hangat dan sebuah kotak perhiasan kecil. Ibunya tersenyum hangat menatap sang putri yang kini tampak begitu matang, tangguh, dan tenang. Kehadiran ibunya selama masa-masa pemulihan adalah pilar utama yang membuat Anindiya sanggup berdiri kembali.
"Ibu bangga padamu, ANiin" bisik ibunya pelan ketika Maya sedang berganti pakaian di ruangan sebelah. "Kamu bukan hanya menyelamatkan dirimu sendiri, tapi juga telah membebaskan jiwa-jiwa yang selama ini menderita."
Anindiya menggenggam erat tangan ibunya. "Semua ini tidak akan bisa ANin lewati tanpa doa dan genggaman tangan Ibu."
Ketika acara persiapan selesai dan pengantin wanita telah dijemput oleh keluarganya dengan iringan gelak tawa serta kebahagiaan, sanggar rias kembali hening. Namun, keheningan kali ini terasa begitu menyejukkan.
Anindiya berjalan perlahan menuju sudut ruangan utama. Di sana, manekin bekas gaun putih terkutuk itu masih berdiri. Namun, manekin tersebut kini tidak lagi kosong. Anindiya telah mengenakan sebuah gaun pengantin baru hasil rancangan jemarinya sendiri—sebuah gaun berbentuk sederhana berwarna putih gading dengan sulaman motif bunga mawar yang indah di bagian dadanya.
Gaun itu dibuat Anindiya dengan penuh ketulusan, rasa hormat, dan doa-doa kebaikan. Setiap jahitan dan benang yang ia pasang diniatkan sebagai penghormatan terakhir bagi Rina, Saskia, Larasati, serta sang pengantin dari masa lalu yang kini telah tenang di alam sana.
Anindiya melangkah mendekati cermin besar di lorong utama sanggar. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya tidak lagi pucat oleh ketakutan. Matanya bersinar terang, memancarkan keberanian dan harapan baru.
Suara gemerisik angin sore berembus lembut menembus ventilasi jendela, membawa harum wangi mawar segar yang menenangkan jiwa. Tidak ada lagi bisikan ghaib, tidak ada lagi bayangan berdarah, dan tidak ada lagi duka yang tertinggal.
Kutukan gaun pengantin dari butik kota tua telah berakhir sepenuhnya. Anindiya siap melangkah menutup lembaran lama dan membuka halaman baru dalam kehidupannya—halaman yang kini bersih, suci, dan dipenuhi oleh kebahagiaan.
TAMAT
terimakasih sudah membaca karya karya aku nantikan karya karya aku yang lainnya .jangan lupa tinggalkan like ya 🤗