Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Hahaha, HAHAHAHAHA."
Tawanya terdengar sangat dingin dan menusuk sampai ke tulang.
"Sudah dilemahkan katamu? Serangan apimu tadi bahkan tidak cukup untuk membakar bulu keteknya," ucap Chen Mo sinis.
Dia melangkah maju, mempersempit jarak antara dirinya dan Lin Feng.
"Kau yang membuat monster ini datang karena kecerobohanmu menginjak tulang di wilayah kekuasaannya."
"Lalu kau berlindung di balik punggung seorang gadis, dan sekarang kau ingin merampas hasil kerja kerasku?"
Chen Mo menatap tepat ke dalam pupil mata Lin Feng.
Seketika, Niat Membunuh Darah Besi meledak dari tubuh Chen Mo, mengarah langsung menghantam benak Lin Feng.
Wuuush!
Suhu udara di sekitar Lin Feng terasa turun hingga jauh di bawah titik beku.
Lin Feng seolah melihat lautan darah dan ribuan mayat bergelimpangan tepat di belakang tubuh Chen Mo.
Itu adalah aura membunuh dari seorang pembunuh sejati, bukan aura anak sekolah yang baru belajar mengayunkan pedang.
Bruuuk!
Kaki Lin Feng kehilangan tenaga, dia jatuh terduduk di tanah berlumpur sambil bergetar hebat.
Air mata ketakutan mengalir deras dari matanya, dia bahkan tidak sanggup membuka mulut untuk berteriak minta tolong.
Pemuda arogan itu mengompol di celananya sendiri karena tekanan mental yang luar biasa mengerikan.
"Dengar baik-baik, sampah elit," bisik Chen Mo tepat di atas kepala Lin Feng.
"Aku bisa membunuhmu di sini sekarang juga, dan tidak ada satu pun kamera akademi yang bisa merekamnya."
"Jadi berhentilah menggonggong di depanku sebelum aku benar-benar mencabut lidahmu dari akarnya."
Chen Mo menarik kembali aura membunuhnya, membiarkan Lin Feng terengah-engah mencari udara seperti ikan yang dilempar ke daratan.
Su Mengqi berlari menghampiri mereka dengan wajah pucat pasi.
"Chen Mo, hentikan! Kau bisa membunuhnya!"
Gadis itu berdiri di depan Lin Feng, merentangkan tangannya seolah melindungi pemuda arogan tersebut.
Chen Mo menatap Su Mengqi dengan tatapan kosong tanpa minat sedikit pun.
"Kau masih membelanya? Setelah dia dengan sengaja menyuruhmu menjadi umpan tadi?"
Chen Mo bertanya dengan nada meremehkan yang membuat Su Mengqi langsung menggigit bibir bawahnya menahan malu.
"I-ini bukan soal aku membelanya, tapi membunuh sesama murid adalah pelanggaran berat di aturan akademi,"
Su Mengqi menundukkan kepalanya, tidak berani membalas tatapan mata Chen Mo yang sedingin es.
"Lagipula, kau sudah mendapatkan inti monsternya, jadi biarkan saja masalah ini selesai sampai di sini."
Chen Mo mendengus pelan, menepuk sisa kotoran dari kerah seragamnya.
"Pemikiranmu sangat naif dan sempit, Su Mengqi."
"Kau selalu hidup dalam gelembung aturan yang dibuat oleh orang-orang kuat, dan kau menikmati ilusi yang aman di dalamnya."
"Teruslah bermain rumah-rumahan dengan para elit palsu ini, aku sudah muak berdekatan dengan kalian."
Kata-kata tajam itu menusuk tepat di ulu hati Su Mengqi, menghancurkan seluruh kebanggaan dan harga dirinya berkeping-keping.
Gadis itu hanya bisa terdiam membeku, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah.
Chen Mo tidak mempedulikannya sama sekali.
Dia membalikkan badan dan berjalan ke arah tiga ransel raksasa yang tadi dia letakkan di atas tanah.
Brak!
Chen Mo menendang dua ransel milik Lin Feng dan Su Mengqi hingga isinya berhamburan ke dalam genangan lumpur.
Dia hanya mengambil ransel persediaan miliknya dan milik Wang Bo, lalu menyandangkannya kembali di bahu.
"Wang Bo, kau masih mau hidup atau mau mati membusuk bersama para elit bodoh ini?"
Chen Mo memanggil Wang Bo yang masih gemetar di balik batang pohon beringin tua.
"A-aku akan ikut denganmu, Saudara Chen!"
Wang Bo segera berlari mendekati Chen Mo, sama sekali tidak peduli lagi pada ancaman kelompok elit tersebut.
Murid kurus itu sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri siapa yang benar-benar menjadi penguasa di tempat ini.
"Bagus. Berjalanlah tepat di belakangku dan pastikan kau tidak mengeluarkan suara berisik sedikitpun."
Chen Mo melangkah menjauh, masuk semakin dalam ke area gelap hutan kabut hitam.
Dia meninggalkan Lin Feng yang masih mengompol di tanah, Zhao Hao yang menangis ketakutan, dan Su Mengqi yang mematung dalam penyesalan yang mendalam.
"Chen Mo..."
Su Mengqi memanggil nama itu dengan suara yang sangat parau, namun pemuda itu tidak menoleh sedikit pun.
Punggung pemuda yang dulu selalu menemaninya itu perlahan menghilang ditelan kabut yang sangat pekat.
Di dalam hati Su Mengqi, ada rasa sakit yang jauh lebih perih daripada sekadar putus cinta.
Itu adalah rasa sakit karena menyadari bahwa dia baru saja membuang berlian sungguhan demi memungut sebongkah batu kali.
Sementara itu, Chen Mo terus melangkah ke depan tanpa beban emosional sedikit pun di dalam hatinya.
"Sistem, sepertinya kita bisa mulai berburu lokasi check-in secara serius sekarang," batin Chen Mo sambil tersenyum tipis di tengah kegelapan hutan yang mencekam.