"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25 — Calon Mertua dan Jalan Menuju Level Sepuluh
Hitungan Penyelamatan tidak bergerak secepat Nilai Pahala.
Sistem hanya menghitung manusia yang benar-benar lolos dari risiko kematian atau kecacatan berat karena tindakan Surya dan jaringan yang dia bangun. Satu pasien tidak bisa dihitung dua kali. Ucapan terima kasih, jumlah suka, dan pujian media tidak memberi angka.
Delapan belas bulan berlalu.
Surya memperluas triase digital ke tujuh RSUD, membentuk tim stroke bergerak, membuka jalur deteksi sepsis, dan melatih puskesmas mengirim EKG sebelum ambulans tiba. Operasi tetap dia lakukan, tetapi kenaikan terbesar justru datang ketika protokolnya dipakai dokter yang tidak pernah bertemu dengannya.
Setiap angka harus lolos audit sistem. Pasien hipertensi yang pulang dengan obat tidak otomatis dihitung. Pasien stroke yang menerima trombolisis tepat waktu dan terhindar dari kelumpuhan berat dihitung satu. Seorang ibu dengan perdarahan pascapersalinan yang selamat karena bank darah regional baru dihitung satu. Ribuan konsultasi hanya menghasilkan ratusan penyelamatan yang benar-benar memenuhi syarat.
Surya menyukai kekejaman angka itu. Ia memaksanya membedakan pelayanan baik dari klaim heroik.
Ketika jaringan EKG puskesmas mengirim tanda infark sebelum ambulans bergerak, tim kateterisasi dapat menunggu di pintu. Ketika skor sepsis muncul di sistem perawat, antibiotik tidak lagi terlambat karena pasien tampak masih bisa bicara. Waktu respons turun, tetapi setiap kematian tetap dibahas tanpa mencari kambing hitam.
Surya juga menghabiskan sebagian gajinya untuk tempat tinggal dokter rotasi di pulau terpencil. Portofolio yayasan membayar alat dan transportasi; rumah sakit daerah tetap memegang keputusan klinis. Dia menolak memasang namanya pada gedung.
Angka itu akhirnya mencapai 9.983.
Pada saat yang sama, fungsi ginjal Anindya mulai berfluktuasi. Belum gagal, tetapi protein dalam urine dan tekanan darahnya memaksa tim reumatologi menyesuaikan terapi.
Surya tidak mengambil alih keputusan.
Dia menghadiri konsultasi sebagai pasangan, mencatat tanda bahaya, dan bertanya hanya setelah Anindya selesai bicara.
"Kamu belajar," kata Anindya saat mereka keluar.
"Saya kepala IGD. Bisa dididik."
"Itu juga belum lolos telaah sejawat."
Minggu berikutnya, Eyang Kusuma memanggil mereka pulang untuk makan malam keluarga.
Di ruang tamu berdiri seorang lelaki berjubah putih yang memperkenalkan diri sebagai ahli energi penyembuhan. Dua kerabat memanggilnya guru besar. Dia mengklaim mampu menghentikan tremor, menurunkan gula darah, dan membersihkan lupus tanpa obat.
Kusuma Putra menatap Surya. "Dokter modern tidak selalu tahu semuanya. Coba jangan langsung sombong."
Surya tidak tertawa. Dia meminta izin kepada Eyang untuk menguji demonstrasi.
Sang guru menyuruh seorang pria tua berdiri di atas pelat logam, lalu menyentuh bahunya. Tubuh pria itu bergetar. Lampu kecil di lengan jubah berkedip.
Surya mengambil detektor tegangan milik teknisi rumah.
Arus lemah mengalir dari baterai tersembunyi di sabuk, melewati kabel tipis di lengan, lalu masuk ke pelat. Stimulasi listrik itu menghasilkan tremor.
"Untuk gula darah, Anda menukar strip pemeriksaan," kata Surya. "Nomor lot pada kemasan berbeda dengan strip di alat."
Wajah lelaki itu memucat.
Anindya menemukan kapsul tanpa label di tasnya. Laboratorium keluarga kemudian mengidentifikasi steroid dosis tinggi. Obat itu dapat menekan gejala sementara, tetapi berbahaya bila diberikan tanpa pengawasan.
Petugas keamanan menyerahkan lelaki itu kepada polisi bersama seluruh barang bukti. Tidak ada pemukulan, tidak ada pengadilan keluarga.
Setelah makan malam, Kusuma Putra mengajak Surya bermain mahjong.
"Kalau menang, baru saya dengar rencana pernikahan kalian."
"Kalau saya kalah?"
"Akui bahwa keberuntungan sistem tidak bisa membantumu di semua hal."
Surya tidak memakai Permen Keberuntungan atau Mata Tembus. Pada putaran ketiga, dia melihat goresan kecil yang sama pada empat batu penting. Kusuma Putra telah menandai set miliknya.
Surya menukar set dengan yang masih tersegel.
Tiga putaran berikutnya dia menutup permainan dengan tenang.
Bu Rumi menutupi senyum dengan cangkir teh. Eyang Kusuma tidak repot menyembunyikan tawanya.
Kusuma Putra mencoba menyelamatkan harga diri dengan menyebut kerabatnya sebagai pejabat pengadaan perusahaan keluarga. Bu Rumi meletakkan kartu identitas direksi di meja.
"Saya yang menandatangani pengadaan," katanya. "Kerabat yang kamu maksud melapor kepada saya."
Pukulan kedua.
Pukulan ketiga datang dari layar tender. Perusahaan pilihan Kusuma Putra gugur karena dokumen palsu, sedangkan sistem klinik desa yang dirancang yayasan Surya menang berdasarkan nilai teknis dan harga. Dia pernah berjanji akan berlari tiga putaran di halaman dengan pakaian olahraga bila semua prediksinya salah.
Eyang menunjuk pintu kaca.
"Udara malam bagus untuk kesehatan."
Kusuma Putra berlari. Kali ini dia menertawakan dirinya sendiri pada putaran kedua.
Ketika kembali, dia duduk di depan Surya tanpa meja permainan di antara mereka.
"Saya tidak suka adik saya hidup dengan penyakit yang tidak pasti," katanya. "Saya takut dia memilih orang yang akan pergi ketika keadaan memburuk."
"Saya juga takut," jawab Surya. "Bedanya, saya tetap tinggal."
Kusuma Putra mengulurkan tangan.
Untuk pertama kalinya, penerimaan Kusuma Putra terdengar jujur.
Eyang lalu menyodorkan rancangan seserahan senilai Rp1.000.000.000.000. Surya membaca angka itu dan menutup map.
"Saya mampu menyediakan keamanan finansial. Tapi Anindya bukan transaksi. Kalau ini syarat pembelian, saya menolak."
Eyang tersenyum.
"Itu ujian. Seserahannya simbolis. Dana sebesar itu akan masuk ke perwalian kesehatan atas nama Anindya, tetap miliknya, apa pun yang terjadi pada pernikahan."
Ponsel Surya berdering.
Tujuh belas pasien sepsis dari wabah makanan dibawa ke rumah sakit. Dia dan Anindya meninggalkan meja keluarga sebelum hidangan penutup.
Pasien terakhir adalah anak sembilan tahun dengan syok, kulit berbintik, dan perfusi memburuk. Kultur belum keluar. Surya memimpin pengambilan sampel, antibiotik tepat waktu, cairan terukur, vasopresor, dan kontrol sumber bersama bedah.
Enam jam kemudian, tekanan darah anak itu stabil.
Enam belas pasien lain juga melewati malam. Dua memerlukan ventilator, satu menjalani laparotomi untuk membersihkan sumber infeksi, dan tiga anak dipindahkan ke perawatan intensif. Dinas kesehatan menutup dapur penyebab wabah setelah sampel makanan dan kultur pasien cocok.
Surya baru memeriksa panel setelah daftar serah terima selesai. Dia memastikan antibiotik berikutnya terjadwal, keluarga menerima penjelasan, dan dokter pagi mengetahui pasien mana yang paling mudah runtuh kembali.
Angka 9.999 berubah.
『Hitungan Penyelamatan: 10.000/10.000.』
Panel biru terbuka seperti pintu.
『Level Sembilan tercapai. Hadiah: Suntikan Penguat ×20, Obat Luka Emas Super ×10, Mimpi Ilahi ×2.』
Sebuah portofolio investasi legal senilai Rp15.000.000.000.000 muncul dalam perwalian terpisah. Dokumennya dapat diaudit, pajak tetap wajib dibayar, dan tidak satu rupiah pun bercampur dengan dana pasien.
Surya bahkan tidak sempat mencerna jumlahnya.
Tiga lingkaran baru muncul.
『Untuk mencapai Level Sepuluh, Inang harus menyelesaikan tiga tugas khusus. Tugas pertama: ubah nasib tiga manusia. Menyelamatkan nyawa mereka saja belum cukup.』
Lingkaran kedua masih terkunci, tetapi dua kata terlihat di baliknya.
Proyek medis militer.
『Selama Inang terus berusaha, suatu hari kamu dapat menyembuhkan Anindya.』
Surya menatap ruang perawatan tempat anak itu tidur.
Sepuluh ribu nyawa membawanya sampai ke pintu terakhir.
Untuk membukanya, menyelamatkan saja tidak lagi cukup.