Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Seminggu pasca dinyatakan istrinya hamil, Leon mendatangi sebuah istana yang jauh lebih besar dan megah. Di sebuah kursi duduk seorang pria tua yang membelakanginya.
"Kau pasti datang ke sini untuk mundur, 'kan?" terka pria tua dengan suara berat sembari mengisap sebatang ro*** mahal.
"Ya. Aku tidak mau lagi terlibat dalam bisnis ini!" kata Leon.
Pria tua itu tertawa terbahak-bahak, seakan mengejek keputusan anak buahnya yang disayanginya.
"Aku janji tidak akan membocorkan rahasia kita kepada pihak lawan dan pihak berwajib!" kata Leon dengan hati-hati.
Pria tua itu membalikkan badannya dan kursi juga mengikuti gerakan tubuhnya. "Kau pikir aku percaya!" ia menatap sinis.
"Tuan Anggoro, aku sudah bertahun-tahun mengabdi menjadi anak buahmu. Aku selalu berhasil membawa ratusan juta dollar dihadapanmu. Apa yang membuat anda tak mempercayai aku?" Leon mencoba memberanikan diri menatap.
"Jika kau keluar dari bisnis ini, siapa yang akan menjadi penerus aku?"
Leon terdiam.
"Aku penuhi semua kebutuhanmu. Kenapa sekarang kau malah ingin meninggalkan aku, Leon?" Tuan Anggoro bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati pria muda dihadapannya.
"Aku ingin hidup dalam keadaan tenang dan normal, Tuan!"
Anggoro malah tertawa.
"Aku minta maaf, Tuan!" Leon menundukkan kepalanya.
"Apa karena kau sudah jatuh hati pada wanita itu?" tanya Anggoro yang kini posisinya tepat dihadapan Leon.
"Iya, Tuan. Aku sangat mencintainya!" jawab Leon jujur dengan mengangkat wajahnya.
"Kalau begitu aku akan menghancurkannya!" kata Anggoro seringai.
Leon lantas berlutut dan bermohon, "Tuan, tolong jangan sakiti dia!"
"Karena wanita itu, kau meninggalkan aku!" kata Anggoro dengan nada tinggi.
"Aku yang salah, Tuan. Aku yang sudah membawanya ke dalam hidup dan aku sudah jatuh cinta padanya!" Leon mendongakkan kepalanya.
"Tetaplah di sisiku, Leon. Maka, dia ku pastikan baik-baik saja!" kata Anggoro merendahkan suaranya.
"Maaf, Tuan. Lebih baik aku hidup miskin daripada aku harus kehilangan mereka yang ku sayangi!" Leon akui.
Anggoro yang geram, menarik ke atas kerah kemeja Leon dan mencengkramnya erat. "Aku tidak akan melepaskanmu!" desisnya.
Leon diam.
Anggoro melepaskan cengkeramannya secara kasar. "Kau tetap tak bisa lepas dariku sampai mati!"
"Kalau begitu lebih baik aku mati sekarang daripada nanti, Tuan Anggoro!" ucap Leon dengan tegas.
Anggoro yang sangat murka, meninju perut Leon sehingga terhuyung beberapa langkah ke belakang.
"Aku tidak akan membiarkanmu mati secara cepat!" Anggoro berkata lantang.
Anggoro lalu menyuruh 2 anak buahnya yang berada di tempat membawa Leon keluar dari istananya.
-
Leon tak segera kembali ke rumahnya, ia pergi ke kantor miliknya yang dibangunnya dari uang bisnis ilegalnya.
Di ruang kerjanya, Leon meminta Charles agar mengajukan pengunduran diri. Tentunya permintaan Leon membuat Charles terkejut. Selama 5 tahun menjadi asistennya Leon, dirinya tak pernah melakukan kesalahan.
"Ini semua demi keselamatanmu, Charles. Seluruh hartaku juga akan disita. Aku cuma ingin hidup tenang dan penuh damai bersama Emily dan calon anak kami!" jelas Leon.
"Saya tetap bersama Tuan Leon, apapun yang terjadi!" kata Charles dengan yakin.
"Anggoro adalah orang yang sangat licik. Dia takkan melepas aku. Orang-orang terdekat aku yang menjadi sasarannya!" ucap Leon agar Charles berubah pikiran.
"Tuan, saya tetap akan berada di sisi anda!" ucap Charles mantap.
"Cepat atau lambat kita pasti berpisah. Aku mau membawa Emily dan kedua orang tuaku jauh dari kota ini. Aku tak mau Anggoro dan anak buahnya mengetahui keberadaan kami!"
"Tuan, anda adalah keluarga saya. Hanya anda tempat aku berteduh. Tuan yang sudah menolong saya, maka izinkanlah saya tetap berada di sisi Tuan sampai menutup mata!" kata Charles dengan mata berkaca-kaca.
Leon terharu mendengarnya.
"Kita jatuh dan bangkit sama-sama, Tuan!" kata Charles lagi.
Leon lantas memeluk Charles dan menepuk pelan punggungnya sebanyak 2 kali. "Terima kasih!"
-
Di rumah, Leon tak memberitahu pertemuannya dengan Anggoro kepada istrinya. Ia tak mau Emily kepikiran dan mengganggu perkembangan calon buah hatinya.
"Apa kamu sudah bertemu dengannya?" tanya Emily kepada Leon ketika mereka hendak makan malam. Karena Leon berjanji mau berhenti dari dunia mafia.
Leon menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Apa kamu takut?" tanya Emily.
"Tidak. Dia lagi ke luar negeri," jawab Leon berbohong.
"Oh."
"Kamu jangan khawatir, aku tetap akan menemuinya!" kata Leon meraih tangan kiri istrinya dan mengecupnya.
"Aku berharap kamu dimudahkan dalam setiap langkah!" ucap Emily tersenyum mendoakan.
***
Beberapa hari kemudian, Leon dan istrinya berangkat ke rumah orang tuanya karena hari ini adalah ulang tahunnya Mama Rachel.
"Apa kabar menantu Mama?" Rachel memeluk Emily dan mengecup pipinya.
"Aku sangat baik, Ma." Emily tersenyum senang ketika bertemu ibu mertuanya.
"Bagaimana calon cucu Mama?" Rachel sekilas mengelus lembut perut menantunya.
"Dia juga baik, Ma. Dia tak sabar ingin bertemu dengan neneknya!" kata Emily tertawa kecil.
"Mama juga tak sabar. Semoga kalian baik-baik saja dan dijauhkan dari marabahaya!" harap Rachel.
"Terima kasih, Ma." Kata Emily tersenyum lagi.
"Ayo, kita makan. Papa kamu sudah lapar!" Rachel mengajak anak dan menantunya menuju taman belakang.
Bukan hanya Leon dan Emily saja yang hadir. Ada juga dari pihak keluarga orang tuanya Leon.
Acara makan siang bersama berjalan penuh keceriaan dan tawa. Emily merasa menemukan keluarga yang benar-benar menyayanginya dengan tulus.
Tepat jam 3 siang, setelah semua keluarga dan saudara berpulangan. Leon dan Emily pun juga pamit.
Di halaman kediamannya, Rachel memeluk erat Emily dan berkata, "Mama berharap kalian satu malam menginap di sini."
Rachel memang ingin anak dan menantunya menginap satu malam bersama mereka tetapi Emily harus ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya besok paginya. Jarak rumah sakit langganan dengan kediaman Leon memang tak terlalu jauh.
"Lain waktu saja kami menginap di sini, Ma!" kata Leon.
"Ya, Mama tunggu!" Rachel memeluk putranya. "Jaga menantu dan calon cucu Mama, ya!"
"Iya, Ma. Aku pasti menjaga mereka!" kata Leon lagi.
Mobil yang membawa Leon dan Emily perlahan meninggalkan tempat. Di belakang mereka ada mobil Andreas dan 3 orang pengawal.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba mobil yang ditumpangi Leon, istrinya dan para anak buahnya mendadak berhenti. Mereka dikelilingi beberapa motor besar dan mobil.
Emily memegang tangan suaminya. "Leon, ada apa ini?" terlihat jelas raut wajah khawatir.
"Sayang, tenanglah!" Leon berkata dengan lembut dan pelan agar istrinya tak perlu cemas.
"Mereka membawa senjata, Leon!" kata Emily melihat beberapa orang tak dikenal turun dari kendaraan mereka sambil memegang senjata tajam dan api.
"Iya. Aku tau, jangan panik!" Leon lagi-lagi mencoba tenang.
Kaca mobil yang ditumpangi Leon dan Emily digedor kuat. Itu membuat Emily semakin ketakutan.
Diluar mobil, Charles dan ketiga rekannya meladeni para penjahat. Mereka mengerahkan kemampuan bela dirinya. Charles sempat beberapa kali terhuyung, bahkan wajah dan tangannya mulai terluka.
Dua orang anak buah yang menemani Leon juga turut keluar membantu yang lainnya.
Leon yang melihat asistennya dan lainnya terluka parah. Begitu marah dan murka, tangannya telah memegang kenop pintu.
"Leon, kamu mau ke mana?" cegat Emily.
"Tetaplah di sini dan tenang. Aku mau membantu mereka!" Leon mengecup kening istrinya sebelum keluar.
Leon pun menghadapi mereka dengan menembak satu persatu para penjahat. Emily melihatnya dari dalam mobil dengan perasaan campur aduk.
Beberapa penjahat bertumbangan. Itu membuat Charles dan rekannya terbantu. Namun, ada penjahat yang memanfaatkan kelengahan Leon. Ia memukul Leon dengan sebuah kayu balok dan Leon pun tersungkur.
"Leon!" pekik Emily dengan mata berair.
Charles segera mendaratkan timah panas ke arah dada musuhnya. Setelah pria yang memukul Leon tumbang tak bernyawa, Charles dengan cepat menghampiri Leon dan membantunya berdiri.
Para penjahat bukannya berkurang, 2 mobil malah datang lagi membawa pasukan. Bahkan, mereka menembak secara membabi-buta dari jarak jauh.
Leon dan para anak buahnya mencoba berlindung dan melawan. Meskipun mereka akhirnya pun kewalahan.
"Kalian pergilah ke hutan dan bawa Emily. Aku akan mengalihkan perhatian mereka!" kata Leon. Kebetulan mereka memang berhenti di tengah pegunungan.
"Tidak, Tuan. Saya yang akan mengalihkan perhatian mereka!" ucap Charles menolak saran Leon.
"Tidak, Charles. Mereka menginginkan aku, kau dan lainnya cepat pergi ke sana. Lalu minta bantuan segera!" perintah Leon.
Charles dengan terpaksa mengiyakan, ia berlari ke arah mobil Emily membuka pintu. "Ayo, Nona. Cepat keluar!" desaknya.
Emily lantas keluar dari mobil.
"Kita pergi ke sana!" Charles menunjuk ke arah hutan.
"Bagaimana dengan suamiku?" tanya Emily.
"Tuan Leon akan menyusul!" jawab Charles.
Emily dan Charles serta lainnya berlari ke arah hutan.
Leon kemudian keluar dari persembunyiannya dan kembali menembak para penjahat satu persatu untuk melindungi istrinya.
Emily yang mendengar suara tembakan lantas berbalik badan dan berkata dengan bibir gemetaran, "Leon dalam bahaya. Aku harus membantunya!"
"Tidak, Nona. Itu sangat berbahaya dan resikonya besar!" larang Charles dengan nada sedikit tinggi.
"Tapi, suamiku dalam bahaya!" Emily meninggikan suaranya.
"Tuan Leon akan baik----!"
Door....
"Tidak.....!!!" teriak Emily histeris.