Selama dua bulan, Ainun hanya menjadi Istri Sementara.
Ia pikir semua akan berakhir saat kakaknya pulang. Namun, takdir justru menghadiahkannya dua garis merah di alat tes kehamilan.
Ketika wanita yang seharusnya menjadi istri Sagara benar-benar kembali, mampukah Ainun melepaskan pria yang perlahan mulai ia cintai... atau justru kehilangan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback: Awal Dari Sebuah Pengorbanan
“Ugh, Liona... Liona. Kamu sangat nikmat sekali.”
Ainun memejamkan mata rapat. Jemarinya mencengkeram seprai hingga kusut. Setetes air mata lolos dari sudut matanya, lalu mengalir pelan membasahi pelipis.
Bahkan di saat berhubungan, Sagara—suaminya, masih menyebut nama Liona, kakaknya.
Napasnya tertahan, sementara tenggorokannya tercekat oleh sesuatu yang tak sanggup ia telan.
Ainun menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isak yang hampir lolos.
'Mau sampai kapan aku menjalani semua ini?'
Pertanyaan itu berulang kali berputar di dalam kepalanya.
Sudah hampir tiga bulan ia menjadi istri Sagara. Namun, tak sekalipun pria itu memandangnya sebagai seorang istri.
Bagi Sagara, Ainun hanyalah pengganti sekaligus istri sementara sampai wanita yang pria itu cintai kembali.
Kelopak matanya kembali terpejam. Tanpa mampu ia cegah, ingatannya perlahan menyeretnya pada peristiwa dua bulan yang lalu, saat semua penderitaan ini bermula.
Flashback.
Malam itu, Ainun baru saja menyelesaikan salat Isya. Setelah mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia bangkit sambil membenarkan mukena yang masih melekat di tubuhnya.
Saat berbalik, langkahnya terhenti.
Liona berdiri di ambang pintu.
“Mbak...”
Liona tidak menjawab. Wanita itu melangkah masuk, lalu duduk di tepi tempat tidur seolah sedang memikirkan sesuatu.
Ainun memandanginya dalam diam. Jemarinya masih merapikan lipatan mukena, sementara tatapannya tak lepas dari sosok kakaknya yang malam itu tampak lebih serius dari biasanya.
“Mbak mau bicara sama kamu, Ainun,” ucap Liona akhirnya.
Ainun mengangguk pelan. “Bicara apa, Mbak?”
“Dua hari lagi pernikahanku sama Mas Sagara.”
“Iya.”
“Tapi... aku sudah memutuskan. Besok aku berangkat ke luar negeri untuk mengejar impianku sebagai seorang model go internasional.”
Mata Ainun membelalak. “A-apa? Besok?”
Liona mengangguk mantap. “Ya.”
“Tapi... bukannya dua hari lagi Mbak menikah?”
“Justru itu.” Liona menatapnya lekat. “Kamu gantiin aku, ya?”
Napas Ainun tercekat. “Tapi...”
“Nggak ada tapi-tapian,” potong Liona sambil melambaikan tangan. “Kamu cukup menikah dengan Mas Sagara untuk sementara. Tolong jaga dia buat aku. Jangan sampai ada perempuan lain yang mengambilnya.”
Ainun terdiam.
Tatapannya jatuh ke lantai. Ujung jarinya tanpa sadar meremas kain mukena yang masih dikenakannya.
'Pernikahan adalah ikatan yang sakral. Seharusnya hanya dijalani oleh dua orang yang saling mencintai. Sementara Mas Sagara sangat mencintai Mbak Liona. Kalau aku menggantikan Mbak di pelaminan... bukankah Mas Sagara akan membenciku?'
Ainun ingin menolak. Namun, sebuah tangan hangat tiba-tiba menyentuh kedua bahunya.
Seketika ia mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan Liona yang kini berdiri tepat di hadapannya.
“Mau, ya?” pinta Liona dengan nada lembut. “Cuma beberapa bulan saja.”
Ainun menelan ludah. Bibirnya bergerak pelan.
“Aku...”
“Bukankah kamu selalu mendukung semua keputusanku?” sela Liona sambil tersenyum. “Hanya beberapa bulan, kok. Setelah aku kembali, kalian tinggal bercerai.”
Ainun terdiam. 'Bercerai... bagi Mbak, semudah itu mengatakannya?'
Ia menundukkan kepala. “Bagaimana dengan Ibu dan Ayah, Mbak?” tanyanya lirih. “Apa mereka akan setuju…”
“Nggak usah dipikirkan. Aku yang akan bicara sama mereka.” Liona mengusap pelan bahu Ainun. “Jadi, gimana?”
Ainun menggigit bibir bawahnya. Ia ingin menolak. Ingin mengatakan bahwa pernikahan bukan permainan yang bisa dipinjamkan begitu saja.
Namun, setiap kali keberanian itu hendak muncul, bayangan senyum Liona dan impian kakaknya selalu membuatnya mengurungkan niat.
Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“B-baiklah.”
Seketika wajah Liona berbinar. Tanpa aba-aba, wanita itu menarik Ainun ke dalam pelukannya.
“Terima kasih, Ainun!” serunya penuh kegembiraan. “Akhirnya mimpiku menjadi model benar-benar akan terwujud.”
Ainun membalas pelukan itu perlahan. Senyum tipis terukir di bibirnya, meski dadanya terasa semakin berat.
'Semoga keputusan ini bukan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku.'
“Oh ya, Ainun.”
Langkah Liona yang hampir mencapai pintu kembali terhenti. Wanita itu menoleh, lalu menatap Ainun dengan senyum tipis.
“Kalau nanti kamu menikah sama Mas Sagara, jangan sampai kamu jatuh cinta... apalagi hamil.”
Senyum di bibir Ainun perlahan menghilang.
Ucapan yang baru saja terlontar terasa mengganjal di hati.
'Jatuh cinta?'
Bagaimana mungkin ia berani mencintai pria yang bahkan bukan ditakdirkan untuknya?
Ainun menganggukkan kepala pelan.
“Insyaallah, Mbak.”
“Ya sudah. Besok aku harus bersiap-siap. Selamat malam, Ainun.”
“Malam, Mbak.”
Liona melangkah keluar.
Klik.
Pintu kamar menutup perlahan, meninggalkan kesunyian yang seketika menyelimuti ruangan.
Ainun masih berdiri mematung.
Tatapannya lurus ke arah pintu yang telah tertutup rapat. Tak ada lagi suara selain detak jarum jam yang terus berdenting dan desir angin malam yang sesekali menerpa jendela.
'Kalau ini bisa membantu Mbak Liona meraih mimpinya, aku akan melakukannya.'
.
.
Cahaya matahari pagi perlahan menembus celah gorden, menyapu wajah Ainun yang masih terlelap.
Kelopak matanya bergerak pelan sebelum akhirnya terbuka.
Ia berkedip beberapa kali, lalu menoleh ke sekeliling kamar yang terasa begitu terang. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyelinap di dadanya.
Dengan tergesa, Ainun meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.
Begitu layar menyala, napasnya seketika tertahan.
“Jam... lewat pukul tujuh?!”
Ia langsung terduduk.
“Astagfirullah... aku kelewatan salat Subuh.”
Rasa bersalah memenuhi dadanya. Selama ini, ia selalu berusaha menjaga salat tepat waktu. Baru kali ini ia benar-benar terlambat hingga matahari terbit.
'Kenapa aku bisa tidur sepulas ini?'
Belum sempat ia larut dalam penyesalan, suara ibunya terdengar dari balik pintu.
“Ainun! Cepat bangun dan sarapan!”
Ainun menoleh ke arah pintu.
“I-iya, Bu,” sahutnya sedikit terburu-buru.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu segera turun dari tempat tidur. Tanpa membuang waktu, langkahnya bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
.
.
Dengan pakaian yang sudah rapi, Ainun melangkah menuju ruang makan.
Di sana, Ayah, Ibu, dan Liona telah duduk mengelilingi meja. Aroma nasi goreng yang masih hangat memenuhi ruangan.
“Pagi, semuanya,” sapa Ainun sambil menarik kursi.
“Pagi,” sahut mereka hampir bersamaan.
Baru saja Ainun hendak mengambil piring, suara Liona memecah keheningan.
“Ibu, Ayah. Aku sudah memutuskan berangkat ke luar negeri hari ini.”
Tangan Ainun yang hendak meraih sendok terhenti.
Ruangan mendadak sunyi.
Tatapan Ayah dan Ibunya langsung beralih kepada Liona. Sementara Ainun hanya menundukkan kepala. Ia sudah mengetahui keputusan itu sejak semalam.
“Kamu mau ke luar negeri?” tanya Ayah dengan nada tak percaya.
Liona mengangguk mantap.
“Iya. Ini kesempatan terakhir buat aku jadi model.”
“Tapi satu hari lagi kamu akan menikah,” ucap Ayah.
“Kan ada Ainun.” Liona menoleh ke arah adiknya. “Dia yang akan menggantikanku untuk sementara.”
Seketika Ainun merasakan dua pasang mata tertuju kepadanya.
Jemarinya tanpa sadar saling menggenggam di bawah meja.
“Kamu setuju, Ainun?” tanya Ayah.
Ainun mengangkat wajah. Bibirnya sedikit terbuka.
“Sebenarnya aku—”
“Setuju, Yah,” sela Liona cepat. “Semalam kami sudah membicarakannya.”
Ucapan yang sudah berada di ujung lidah Ainun kembali tertelan.
“Lalu bagaimana dengan Sagara?” tanya Bu Siti.
“Biar Ainun yang mengurusnya.” Liona tersenyum ringan, lalu menatap Ainun. “Iya, kan, Ainun?”
Ainun membalas tatapan kakaknya.
“Mbak...”
“Dua jam lagi jadwal penerbanganku.”
Liona berdiri sambil merapikan tas yang disampirkannya di bahu.
“Aku berangkat dulu ya, Ayah, Ibu... Ainun.” Tatapannya berhenti pada sang adik. “Ingat, jangan jatuh cinta sama Mas Sagara. Aku menitipkan dia untuk dijaga, bukan untuk kamu miliki.”
Sebelum Ainun sempat mengatakan apa pun, Liona sudah berbalik dan melangkah menuju pintu.
“Liona,” panggil Ayah, “kita belum selesai membicarakan ini.”
Namun, langkah kaki Liona tidak berhenti sedikit pun.
Ainun hanya mampu menatap punggung kakaknya yang terus melangkah menjauh. Liona sama sekali tidak menoleh, apalagi memberi kesempatan kepadanya untuk berbicara.
'Mbak benar-benar menyerahkan semua tanggung jawab ini kepadaku... bahkan tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan.'
“Liona, kenapa dia mengambil keputusan seperti ini?” gumam Pak Susanto dengan wajah penuh kebingungan.
Belum sempat Ainun mengangkat kepala, suara Bu Siti terdengar lebih dulu.
“Ainun, kenapa kamu langsung menyetujuinya?” tegur wanita itu dengan nada meninggi.
Ainun menoleh pelan. “Mbak Liona tadi—”
“Jangan salahkan Liona,” potong Bu Siti tajam. “Salahkan dirimu sendiri yang mau mengiyakan permintaannya.”
Ucapan itu membuat Ainun kembali terdiam.
Jemarinya meremas ujung bajunya erat-erat.
'Padahal aku belum sempat menjelaskan apa pun...'
Sejak kecil, setiap kali terjadi sesuatu, ia selalu menjadi pihak yang disalahkan. Meski bukan sepenuhnya kesalahannya, pada akhirnya ia juga yang harus menerima semua amarah.
Pak Susanto mengembuskan napas panjang.
“Sudahlah. Ini sudah menjadi keputusan Liona. Mau nggak mau kita harus mendukungnya.”
Ainun mengangkat wajah perlahan.
Tatapan ayahnya terasa dingin.
“Kalau begitu, lakukan saja. Tapi ingat satu hal, Ainun.” Suara Pak Susanto terdengar tegas. “Sagara itu milik mbakmu. Jangan pernah berpikir untuk mengambil tempatnya.”
Kalimat itu menghantam hati Ainun tanpa ampun. Ia menunduk, lalu mengangguk pelan.
“I-iya, Ayah.”
“Sayang, Mas berangkat kerja dulu,” pamit Pak Susanto sambil berdiri.
“Hati-hati, Mas,” sahut Bu Siti.
Ainun ikut bangkit dari kursinya. “Hati-hati, Ayah....”
Namun, Pak Susanto telah lebih dulu melangkah keluar tanpa menunggu ucapannya selesai.
Ainun mengembuskan napas lirih. Pandangan matanya beralih kepada sang ibu.
“Bu, Ainun berang—”
“Iya,” jawab Bu Siti singkat.
Tanpa menoleh sedikit pun, wanita itu langsung meninggalkan ruang makan.
Kini, hanya Ainun yang tersisa.
Ruangan yang tadi dipenuhi suara percakapan mendadak terasa lengang. Ia menatap meja makan yang belum sempat disentuhnya, lalu tersenyum tipis dengan getir.
‘Sepertinya memang aku seperti orang lain yang nggak di harapkan kehadirannya.’
Tak lama kemudian, Ainun membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang makan.
Ikut nunggu kelanjutannya , Semangat nulisnya Kak💪💪