" Lulus SMA nanti kamu mau lanjut kuliah kan? " tanya Eva sahabatku. " Entahlah.. aku sendiri juga ngga yakin. Sepertinya ibuku ngga ngijinin aku nglanjutin kuliah." lho kok bisa sih, kamu kan anak bungsu. Lagian tinggal kamu yg masih sekolah, kakakmu sudah pada lulus. Bahkan ada yg sudah kerja dan nikah. masa cuma biayain kamu aja ga bisa." Eva sewot. Maklumlah, kami berteman sejak dari SD hingga SMA. meskipun ngga selalu satu sekolah. Hanya waktu SMP saja.
Rumahku berdampingan dg rumah Eva. Di mana ada aku pasti ada Eva. Boleh dikata kami berpisah cuma kalau lagi menuntut ilmu karena beda sekolah, kadang tidur aja kita barengan. Keluarga Eva termasuk keluarga terpandang jadi ibu tak khawatir aku bergaul dengannya.
Impian kami yaitu bisa kuliah bareng di satu kampus yg sama. Tetapi perbedaan ekonomi nampaknya menghalangi impian itu.
Apakah aku bisa mewujudkan cita-citaku , sementara ibuku tidak mendukungnya.
Ataukah aku terpaksa harus menepis impianku dan sahabatku ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tuti Ummi Luthfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Selesai Ujian Nasional
" Huuuuh... akhirnya selesai juga tugas kita !" Aku bersorak sambil mengangkat kedua tangan. Yana teman sekelasku menoleh. "Iya nih, akhirnya bisa bernafas lega," kata Yana. Kami berjalan menyusuri rerumputan halaman sekolah. Tak berapa lama sampailah kami di pintu gerbang sekolah sambil menunggu angkot .
Yana adalah sahabatku di sekolah. Dia juga kenal dengan Eva karena mereka satu sekolah ketika SMP. Aku dan Yana selalu pulang sekolah bareng. Seperti hari ini, hari terakhir Ujian Nasional.
"Aira, Yana, tunggu aku dong ! Buru-buru amat sih. Kita jalan jalan dulu yuk ke taman kota !" Ina teman sekelasku berlari menghampiri aku dan Yana. "Sekalian makan bakso di cafe Tugu, aku traktir deh" bujuk Ina.
"Gimana Ra.. mau nggak jalan-jalan ke taman kota, mumpung masih jam 11.00. " Yana meminta pendapatku. Mungkin dia pingin mengikuti ajakan Ina tapi dia berharap aku juga ikut.
" Duh gimana ya., kalian kan tau aku harus membantu ibuku di warung makan. " jawabku .
" Tapi ini kan masih pagi Ra. Masih ada kakakmu kan di sana. Biasanya kan kita pulang jam 1 siang." Ina masih merayuku. "Oke deh kalau gitu, tapi nanti jam 13.00 harus pulang lho ya. Aku ngga mau diomeli ibuku. " Akhirnya aku menyetujui ajakan Ina dan Yana. Sesekali tak apalah mencuci mata menyegarkan otak. Selama ini kan aku cuma berkutat seputar sekolah dan pasar. Hampir tak pernah main. Itu semua aku lakukan karena aku tidak ingin mengecewakan ibu. Meskipun aku tahu dulu Mbak Nia sering main sepulang sekolah dan nggak pernah dimarahi. Tapi aku tidak ingin seperti itu. Karena perlakuan ibu kepada aku beda dengan Mbak Nia.
Entah kenapa ibu tak pernah bisa marah pada Mbak Nia. Apa karena dia cantik, tinggi dan periang. Sedangkan aku pendek, wajah biasa dan cengeng.
Mungkin wajahku agak mirip ayahku. Kalau Mbak Nia mirip ibu. Putih dan cantik.
" Ra, ayo buruan naik malah bengong !" Aku tersentak dengan suara nyaring Ina. Angkot yang ditunggu sudah datang. Kami bertiga menuju ke taman kota. Di sekitar taman ada beberapa pedagang jajanan. Dan kira-kira 100m dari taman ada cafe Tugu yang tak pernah sepi pembeli. Ada beberapa menu favorit yg harganya sesuai kantong anak sekolah. Ada bakso, siomay, batagor, mie ayam dll. Juga macam-macam es dan minuman. Aku lebih sering ke sini sama Eva. Soalnya ibuku jarang marah kalau aku keluar bersama Eva. Mungkin karena pengaruh orangtua Eva juga. Entahlah!
Setelah menghabiskan semangkuk bakso dan es wafer mocca kesukaanku, kita bertiga pun beranjak dari cafe Tugu. Lalu berjalan ke taman. Duduk-duduk dulu sebentar sambil cuci mata. Barangkali ada cowok ganteng hehehe.
Kebiasaanku memperhatikan cowok ganteng dari jauh. Nggak berani mendekat apalagi kenalan. Memang sampai saat ini aku belum pernah punya pacar. Aku lebih fokus belajar dan membantu ibu. Beda dengan kakakku Mbak Nia yang tiap pulang sekolah selalu pergi dengan cowoknya.
Sampai rumah aku masuk kamar. Meletakkan tas di meja, lalu berganti pakaian. Setelah itu aku ke kamar mandi mengambil wudhu langsung sholat Dhuhur.
" Baru pulang Ra? " tegur ayah yang sedang mengangkat jemuran di samping rumah.
" Iya Ayah, hari ini selesai ujian. Tadi pulang agak awal terus jalan-jalan sebentar ke taman kota," jawabku sambil mengambil alih jemuran yang dibawa ayah. Setelah pensiun ayah memang lebih banyak menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah. Biar badan nggak kaku katanya. Tentu saja pekerjaan yang ringan-ringan.
" Sudah makan belum? " tanya Ayah lagi.
" Sudah tadi ditraktir makan bakso sama teman, Yah. Aira langsung ke pasar aja Yah, nanti keburu Mbak Nia pulang. Takut ibu marah. "
" Ya sudah. Hati hati ya. " Aku menyalami Ayah dan mencium punggung tangannya.
" Assalamu'alaikum ! " ucapku berpamitan.
" Wa'alaikum salaam ". Ayah menjawab salamku dan masuk rumah.
________&&&________
Bersambung ya.