NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17: Pemburu Bertemu Pemburu

Langkah kaki Arga terhenti sesaat ketika ujung lorong laboratorium berubah menjadi panggung sunyi yang memisahkan dua pemburu. Cahaya lampu darurat memantulkan kilau merah pucat di lantai beton yang masih basah oleh cairan kimia, sementara udara dingin menusuk paru-paru seperti pertanda bahwa malam itu tak seorang pun akan keluar tanpa meninggalkan sesuatu. Sensor Dimensi di dalam tubuhnya berdenyut semakin keras, bukan karena zombie, melainkan karena manusia yang berdiri puluhan meter di hadapannya.

Hummm...

Resonansi itu memenuhi seluruh lorong, seolah dua gelombang tak kasatmata saling bertabrakan di udara. Arga belum pernah merasakan tekanan seperti ini, bahkan saat menghadapi gerombolan zombie Tier tinggi pada kehidupan sebelumnya. Pria bertopeng yang berdiri di hadapannya bukan sekadar kuat, melainkan memiliki inti energi yang stabil, tajam, dan ditempa melalui latihan yang panjang.

Pria itu berdiri tegak mengenakan mantel hitam panjang yang menutupi sebagian besar tubuhnya. Topeng logam berwarna kelabu menutupi wajah hingga hanya menyisakan sepasang mata dingin yang memandang Arga tanpa sedikit pun emosi. Tidak ada senjata yang tampak di tangannya, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat bahaya terasa berkali-kali lipat lebih besar.

"Aku sudah menunggumu, Ghost Collector," ucap pria itu dengan suara rendah yang menggema di lorong sempit. Nada bicaranya datar, seolah sedang menyapa seorang kenalan lama, tetapi setiap kata yang keluar membawa tekanan yang membuat udara di sekitar mereka terasa semakin berat.

Arga tidak segera menjawab. Jemarinya mengencang di gagang parang, sementara tangan kirinya perlahan bergerak mendekati palu yang tersimpan di pinggangnya. Ia memahami bahwa percakapan seperti ini sering kali lebih mematikan daripada pertempuran itu sendiri, sebab satu kalimat yang salah dapat membuka terlalu banyak rahasia.

"Kalau kau tahu julukan itu," balas Arga akhirnya sambil menatap lurus ke arah lawannya, "berarti kau juga tahu aku bukan orang yang mudah ditangkap."

Sudut mata di balik topeng itu tampak sedikit menyipit. "Ditangkap?" katanya pelan sebelum terkekeh pendek. "Tidak. Aku hanya ingin melihat seperti apa orang yang berani mencuri dari kami berkali-kali."

Tok...

Satu langkah kecil pria bertopeng itu terdengar begitu jelas hingga gema sepatunya memantul di sepanjang lorong. Bersamaan dengan itu, Sensor Dimensi Arga menangkap lonjakan energi yang mengalir dari tubuh lawannya menuju lantai beton, membentuk riak halus yang hanya dapat dirasakan oleh sesama Awakener. Tanpa membuang waktu, Arga segera menggeser tubuhnya setengah langkah ke kanan.

Pengalaman sepuluh tahun bertahan hidup membuatnya memahami bahwa perubahan sekecil apa pun pada aliran energi bisa menjadi awal dari serangan mematikan. Karena itu ia memilih tetap diam, membiarkan lawannya bergerak lebih dahulu sambil mengamati pola kekuatan yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Wussh!

Tubuh pria bertopeng itu lenyap dari tempatnya berdiri. Dalam sekejap bayangannya telah muncul di sisi kiri Arga dengan kecepatan yang bahkan melampaui proto-Awakener di Sektor-9. Sebuah tendangan rendah menyapu ke arah lutut Arga tanpa suara, cepat dan presisi layaknya gerakan mesin pembunuh yang telah diprogram sejak lama.

Duk!

Arga melompat mundur tepat sebelum sapuan itu mengenai kakinya. Beton tempat ia berpijak pecah membentuk retakan panjang, sementara serpihan kecil beterbangan menghantam dinding di sekitarnya. Tatapan Arga berubah semakin tajam karena kini ia benar-benar yakin bahwa lawan di hadapannya jauh lebih kuat daripada siapa pun yang pernah ditemuinya sejak kembali ke masa lalu.

"Kecepatanmu lumayan," gumam Arga sambil mengatur napas. "Sayang masih terlalu mudah dibaca."

Tanpa memberi kesempatan lawannya menjawab, Arga langsung menerjang. Parangnya membelah udara dalam lintasan miring menuju bahu pria bertopeng itu, memanfaatkan putaran tubuhnya agar kekuatan tebasan meningkat berkali-kali lipat.

Sreet!

Percikan api memancar ketika bilah parang bertabrakan dengan lengan pria bertopeng itu. Baru pada saat itulah Arga menyadari bahwa di balik lengan bajunya tersembunyi pelindung logam tipis yang hampir menyatu dengan warna pakaian.

"Kau cepat belajar," kata pria bertopeng itu sambil mendorong parang menjauh. "Sayangnya, senjata biasa tidak cukup."

Brakk!

Siku pria itu menghantam dada Arga dengan kekuatan luar biasa. Benturan keras membuat tubuh Arga terpental beberapa meter hingga menghantam rak besi laboratorium. Rak tersebut roboh seketika, sementara tabung-tabung kaca berjatuhan dan pecah menjadi ribuan serpihan yang memantulkan cahaya merah dari lampu darurat ke segala arah.

Prang!

Arga berguling sebelum serpihan logam menimpanya. Dada kirinya terasa sesak, tetapi kemampuan Awakener segera mengubah rasa sakit itu menjadi gelombang hangat yang mempercepat pemulihan otot-ototnya. Ia bangkit tanpa membuang waktu, lalu tersenyum tipis sambil menghapus darah yang mengalir dari sudut bibirnya.

"Jadi ini kekuatan Organisasi Hitam?" katanya tenang. "Aku mulai mengerti kenapa kalian bisa bertahan begitu lama."

Pria bertopeng tidak terpancing sedikit pun. Ia justru mengangkat tangan kanannya perlahan, lalu mengepalkannya hingga udara di sekitarnya bergetar halus. Sensor Dimensi Arga kembali menangkap perubahan yang aneh, seolah energi kristal di tubuh lawannya sedang dipadatkan menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Hummm...

Resonansi itu membuat kristal-kristal eksperimen yang masih tersisa di laboratorium ikut berpendar samar. Beberapa tabung reaksi mulai retak akibat tekanan energi yang tak kasatmata, sementara udara di dalam lorong terasa semakin berat. Mata Arga membelalak sesaat karena dalam kehidupan sebelumnya teknik manipulasi energi seperti itu baru muncul bertahun-tahun setelah kiamat dimulai. Kenyataan bahwa Organisasi Hitam telah menguasainya sejak sebelum dunia runtuh membuat kewaspadaannya meningkat berkali-kali lipat.

"Kau terkejut?" tanya pria bertopeng itu tenang. "Berarti kau memang bukan bagian dari kami."

Kalimat itu membuat jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena rasa takut, melainkan karena lawannya tanpa sadar telah membocorkan informasi penting. Berarti memang ada kelompok lain selain Organisasi Hitam yang memahami kekuatan kristal, dan pria itu mengira Arga berasal dari kelompok tersebut.

Tanpa memberi jawaban, Arga segera mengaktifkan Ruang Dimensi. Riak transparan berputar mengelilingi tubuhnya sebelum menghilang secepat kemunculannya. Pada saat yang sama, beberapa peti logam besar yang sebelumnya ia simpan di dalam Ruang Dimensi mendadak muncul tepat di atas kepala lawannya.

Whooosh!

Brak! Brak! Brak!

Ketiga peti itu jatuh bersamaan, menghancurkan lantai beton dan memuntahkan debu tebal ke seluruh lorong. Suara logam yang saling bertabrakan menggema keras, membuat pandangan berubah kabur dalam sekejap. Kesempatan itu tidak disia-siakan Arga. Ia segera berlari menembus kepulan debu menuju pintu darurat di ujung koridor sambil memasukkan kembali seluruh hard drive, kristal penelitian, dan dokumen penting ke dalam Ruang Dimensi. Baginya, tujuan utama malam itu adalah mencuri informasi, bukan menghabisi lawan yang belum diketahui batas kekuatannya.

Namun baru beberapa langkah ia berlari, Sensor Dimensi kembali berdenyut liar.

Hummm...

Tanpa berpikir panjang, Arga langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai.

Sraaak!

Sebuah bilah logam hitam melesat tepat di atas kepalanya, menembus dinding beton di depan hingga meninggalkan lubang besar. Jika reaksinya terlambat sepersekian detik saja, kepalanya sudah pasti tertembus oleh serangan mematikan itu.

Debu perlahan mulai menipis. Dari balik kepulan putih tersebut, pria bertopeng berjalan keluar tanpa satu pun luka di tubuhnya. Langkahnya tetap tenang, bahkan irama napasnya tidak berubah sedikit pun, seolah peti-peti baja seberat ratusan kilogram tadi hanyalah mainan anak-anak.

"Kau kabur?" tanyanya datar. "Aku kira Ghost Collector lebih berani."

Arga tersenyum tipis sambil terus mundur perlahan. "Orang bodoh bertarung demi harga diri. Orang yang ingin menang bertarung demi masa depan."

Begitu kalimat itu selesai, ia menghantam panel darurat yang berada di samping pintu.

Tek!

Sirene kebakaran langsung meraung memenuhi seluruh fasilitas. Sistem pemadam otomatis aktif, menyemburkan kabut putih dari langit-langit hingga lorong berubah menjadi lautan uap yang membatasi pandangan.

Wiiiing... Wiiiing...

Lampu darurat berkedip semakin cepat. Di ruang kontrol, para operator berteriak panik ketika seluruh sistem mendadak mengalami gangguan, sementara pintu-pintu pengaman otomatis menutup satu per satu dan mengisolasi berbagai sektor laboratorium.

Pria bertopeng itu sempat menoleh ke arah langit-langit sebelum kembali mencari sosok Arga. Namun yang tersisa hanyalah lorong kosong dengan pintu darurat yang masih bergoyang pelan akibat hembusan angin malam.

"Kau memang menarik," gumamnya lirih.

Beberapa menit kemudian, Arga telah berada di balik kemudi mobilnya yang melaju meninggalkan kawasan industri Bandung. Napasnya masih berat, dan dada kirinya masih berdenyut nyeri akibat hantaman siku lawannya, tetapi kedua matanya justru memancarkan cahaya yang semakin tajam. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia menemukan seseorang yang benar-benar mampu memaksanya mundur.

Di kejauhan, siluet pegunungan Bandung tertutup kabut malam. Sensor Dimensi masih mampu merasakan aura pria bertopeng itu berdiri di kompleks penelitian, sama seperti pria tersebut yang tampaknya masih dapat menangkap jejak energi Arga meski jarak di antara mereka semakin jauh. Tak satu pun memilih mengejar karena keduanya memahami bahwa pertarungan sesungguhnya belum waktunya dimulai.

Arga menggenggam kemudi lebih erat sambil memastikan hard drive yang tersimpan di dalam Ruang Dimensi tetap aman. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat ketika mobil terus melaju membelah gelapnya jalan raya. Tatapannya lurus ke depan, dipenuhi keyakinan bahwa malam ini hanyalah awal dari perang yang jauh lebih besar.

"Bandung baru permulaan," bisiknya pelan. "Kalau Project Genesis benar-benar ada... maka perang ini jauh lebih besar daripada yang pernah kuhadapi di kehidupan sebelumnya."

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!