Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 : Sifat Posesif bangkit lagi setelah sekian lama
Masa-masa "aman" Zevanna di lantai empat ternyata cuma bertahan tiga hari.
Sore itu, sekitar pukul empat, suasana divisi Pemasaran mendadak sibuk luar biasa. Berkas-berkas promosi produk baru harus segera difinalisasi sebelum rapat direksi esok pagi. Pak Rendy, supervisor divisi yang memang terkenal ramah dan suportif, berjalan menghampiri kubikel Zevanna.
"Zevanna, tolong bantu saya double check data grafik penjualan di laptop saya sebentar ya," panggil Rendy sopan.
"Oh, iya Pak!" Zevanna langsung berdiri.
Mereka berdua membungkuk di depan meja Rendy, menatap layar monitor yang menampilkan grafik naik-turun. Karena ruangan cukup bising oleh suara mesin cetak, Rendy tanpa sadar menunjuk layar sambil sedikit menunduk dekat di samping Zevanna jarak mereka tak sampai setengah meter. Bahkan saat Zevanna hampir salah menunjuk angka, tangan Rendy secara refleks mengarah ke dekat jemari Zevanna untuk membetulkan kursor.
Sama sekali tidak ada niat mesum atau godaan. Itu murni interaksi profesional antara atasan dan bawahan yang dikejar deadline.
Tapi, takdir berkehendak lain.
Di ujung lorong, pintu kaca divisi Pemasaran mendadak terbuka. Areksa lengkap dengan jas hitamnya dan dikawal dua sekretaris sedang melakukan inspeksi mendadak yang sebenarnya hanya alasan buat melirik istrinya.
Langkah kaki Areksa terhenti seketika.
Mata tajam pria itu terkunci tepat pada pemandangan di kubikel Rendy, Zevanna yang tertawa kecil sambil mengangguk-angguk, dan Rendy yang berdiri terlewat dekat di samping istrinya.
Atmosfer di lantai empat mendadak membeku. Hawa dingin menjalar cepat, membuat beberapa karyawan yang tadinya sibuk langsung bungkam melihat raut wajah CEO mereka yang mendadak berubah gelap dan mengerikan.
"Pak Rendy," suara Areksa menggelegar, dingin dan menusuk.
Rendy dan Zevanna tersentak kaget. Rendy refleks menegakkan badan dan menunduk hormat. "I-iya, Pak Areksa? Ada yang bisa dibantu?"
Areksa tidak menjawab. Ia melangkah maju dengan tatapan menghunus tajam ke arah Rendy, lalu beralih menatap Zevanna yang kini menelan ludah cemas.
"Zevanna. Ke ruangan saya. Sekarang," perintah Areksa singkat, suaranya sangat datar tapi menekan. Pria itu langsung memutar badan dan berjalan pergi tanpa menunggu jawaban.
Brak!
Pintu ruang CEO ditutup kasar oleh Zevanna. Amarah wanita itu sudah sampai di puncak kepala.
"Areksa! Kamu apa-apaan sih?!" tembak Zevanna histeris. "Kenapa kamu harus bersikap kayak gitu di depan semua orang?! Kamu bikin Pak Rendy sama temen-temen aku bingung dan takut!"
Areksa berdiri di balik meja kerjanya. Pria itu melepas jasnya dengan kasar, melemparkannya ke atas sofa, lalu melonggarkan dasinya. Matanya menyalang merah penuh cemburu dan dominasi yang gelap.
"Aku udah bilang apa sama kamu kemarin pagi, Zevanna?" bisik Areksa, suaranya merendah tapi justru terasa makin mengintimidasi. "Jarak minimal satu meter. Dan jangan tersenyum ke cowok lain."
"Dia itu atasan aku, Sa! Kita lagi bahas laporan kerjaan!" balas Zevanna tak mau kalah, dadanya naik-turun menahan emosi. "Kamu pikir aku genit? Kamu pikir aku sengaja?! Kamu tuh bener-bener gila ya! Posesif kamu ini udah nggak masuk akal!"
"Memang!" Areksa melangkah lebar mengikis jarak, memotong jalan Zevanna hingga wanita itu mundur menabrak pintu kayu yang terkunci.
Areksa mengurung tubuh Zevanna dengan kedua tangannya yang menempel di pintu. Nafasnya berburu, menatap dalam-dalam ke manik mata Zevanna.
"Aku memang gila kalau lihat ada cowok lain yang berani berdiri sedekat itu sama kamu! Kamu tahu betapa susahnya aku tahan diri buat nggak seret cowok itu keluar gedung?!" geram Areksa, suaranya bergetar menahan cemburu yang membakar dadanya.
"Tapi kamu nggak bisa ngatur hidup aku sampai segitunya!" bentak Zevanna, matanya mulai berkaca-kaca gara-gara kesal dan terkekang. "Aku bukan barang milik kamu yang bisa kamu kurung dalam sangkar, Sa! Aku manusia! Aku kerja di bawah karena aku mau belajar, tapi kalau kamu terus-terusan bertindak kekanak-kanakan kayak gini, aku mending berhenti kerja dan pergi sekalian!"
Kata 'pergi' yang keluar dari mulut Zevanna seketika menyulut ledakan dalam diri Areksa.
"Pergi?!" ulang Areksa dengan raut wajah mengeras. "Coba ulang kata-kata kamu, Zevanna. Kamu mau pergi ke mana, hm?"
"Aku mau keluar dari kantor ini! Dan aku nggak mau ngomong sama kamu!" jerit Zevanna sambil mencoba mendorong dada Areksa kuat-kuat.
Namun bukannya bergeser, Areksa justru mencengkeram kedua pergelangan tangan Zevanna, menyatukannya di atas kepala wanita itu ke pintu.
"Kamu nggak akan ke mana-mana," bisik Areksa tajam di depan wajah Zevanna. "Kamu punya aku, Nana. Dulu aku memang pernah bikin kesalahan sampai kamu benci sama aku, tapi kali ini aku nggak akan pernah biarkan kamu lepas lagi. Sedikit pun nggak akan."
"Areksa, lepas! Kamu nyakitin aku!" tangis Zevanna akhirnya pecah, emosinya campur aduk antara kesal, takut, dan sesak oleh rasa posesif suaminya yang terlewat pekat.
Melihat air mata yang menetes di pipi Zevanna, cengkeraman tangan Areksa perlahan melonggar. Sorot mata pria itu yang tadinya penuh amarah mendadak runtuh, berganti dengan kilatan rasa bersalah dan panik yang luar biasa.