"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."
***
"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."
Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.
***
"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
"Kak, tolongin aku!"
Suara panik Andara terdengar melalui sambungan telepon.
Di lantai dua sebuah gedung perkantoran yang menjadi kantor perusahaan arsitektur miliknya, Kafa yang sedang meninjau desain sebuah hotel langsung berdiri dari kursinya.
"Kamu kenapa?" Nada suaranya berubah tegang.
"Kakak... tolongin aku dulu."
"Kamu di mana sekarang?"
"Di taman dekat kampus."
"Oke."
Tanpa bertanya lebih banyak, ia langsung mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi, meraih kunci mobil, lalu berjalan cepat meninggalkan ruang kerjanya.
"Tunggu di sana."
Sambungan telepon pun terputus.
Beberapa detik kemudian...
"Hahaha!"
Andara langsung tertawa puas. "Berhasil!"
Zuleykha memukul pelan lengan Andara. "Ya Allah, Dara! Lo tega banget bohongin Kak Kafa."
Nuha ikut menggeleng. "Gue kira beneran kenapa."
Andara hanya mengangkat bahu santai. "Kalau nggak gini mana mungkin dia datang."
"Segitunya?"
"Iya."
Zuleykha menatap Andara tidak habis pikir. "Lo tuh cantik."
"Iya."
"Pinter."
"Iya."
"Anak orang kaya."
"Iya."
"Banyak cowok yang ngejar."
"Iya."
"Terus kenapa masih ngejar Kak Kafa?"
Andara tersenyum kecil. "Soalnya yang gue mau cuma dia."
Nuha langsung memijat pelipisnya. "Ya Allah...."
"Gue serius."
"Tapi dia itu kakak lo."
"Tolong diralat." Andara mengangkat telunjuk. "Bukan kakak kandung."
"Dara."
"Gue tau." Andara menatap langit sore yang mulai berubah jingga. "Justru karena bukan kakak kandung... gue masih punya harapan."
Kedua sahabat Andara hanya saling pandang. Mereka sudah terlalu sering mendengar kalimat seperti itu.
Sejak SMA. Sejak Andara sadar kalau rasa sayangnya kepada Kafa sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar.
Bukan lagi rasa kagum seorang adik. Melainkan cinta.
"Eh." Nuha tiba-tiba membuka tasnya. "Kalau mau drama sekalian aja."
Nuha mengeluarkan pouch make-up. "Gue bikin muka lo jadi pucat."
Mata Andara langsung berbinar. "Wah, boleh!"
Tak sampai lima menit, wajah Andara berubah.
Pipi yang biasanya merona kini tampak pucat. Bibir Andara dibuat sedikit lebih putih. Area bawah mata juga diberi sentuhan agar terlihat seperti orang yang kelelahan.
Andara menatap hasilnya melalui kamera ponsel. "Bagus banget."
"Ya iyalah." Nuha terkekeh. "Kalau gini Kak Kafa pasti panik."
Belum sempat Andara menjawab, suara mesin mobil terdengar memasuki area taman.
"Itu dia." Jantung Andara langsung berdegup lebih cepat.
Andara buru-buru merebahkan tubuh di bangku taman.
"Eh, jangan senyum!" bisik Zuleykha.
"Iya."
Andara langsung mengatupkan bibir. Beberapa detik kemudian langkah kaki yang tergesa-gesa semakin mendekat.
"Dara!"
Suara itu. Suara yang selalu ingin gadis itu dengar.
Andara membuka mata perlahan. Kafa sudah berjongkok di depannya.
Kemeja putih yang dikenakannya sedikit kusut. Lengan bajunya tergulung sampai siku. Napasnya terdengar tidak beraturan. Sepertinya ia benar-benar berlari setelah memarkir mobilnya.
"Dara." Tangannya langsung menyentuh dahi Andara. "Kamu kenapa?"
Sentuhan sederhana itu selalu berhasil membuatnya gugup.
"Tadi..." jawab Nuha cepat. "Dara hampir pingsan, Kak."
"Iya." Zuleykha ikut mengangguk. "Dia maksa ikut kuliah."
Kafa kembali menatap Andara. "Kamu masih pusing?"
Andara mengangguk pelan. "Hm."
"Kita ke rumah sakit."
Andara buru-buru menggeleng. "Nggak usah."
"Kenapa?"
"Aku mau pulang aja."
"Oke." Ia mengangguk. "Kakak antar."
Dadanya terasa hangat.
Seberapa sibuk apa pun Kafa, pria itu selalu datang. Selalu begitu. Dan justru perhatian seperti itulah yang membuat Andara semakin sulit berhenti mencintainya.
Kafa membantu Andara berdiri. "Hati-hati."
Tangannya menahan lengan Andara agar tidak kehilangan keseimbangan.
Andara menggigit bibir pelan. Kalau begini terus... Mana mungkin Andara bisa berhenti mencintainya?
"Kamu masih kuat jalan?"
Andara mengangguk cepat. "Masih."
Kafa mengernyit. "Tadi katanya hampir pingsan."
"I-iya... sekarang udah agak mendingan."
Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya justru berpindah ke wajah Andara. Lalu ke tangannya. Kemudian kembali ke wajah gadis itu.
"Ada apa, Kak?" tanyanya gugup.
"Kamu habis nangis?"
Andara spontan menggeleng. "Nggak."
"Lalu kenapa maskaranya luntur?"
Jantung Andara serasa berhenti. Maskara?
Andara buru-buru menyentuh bawah matanya.
Nuha langsung menepuk dahinya. "Mati...."
Belum sempat Andara mencari alasan, Kafa mengeluarkan saputangan dari saku celananya.
"Diam."
Ia mengusap pelan bekas maskara yang menempel di pipi Andara. Gerakannya begitu hati-hati. Begitu lembut. Sampai Andara hampir lupa kalau semua ini hanyalah sandiwara.
"Nah." Ia menarik kembali saputangannya. "Lain kali kalau mau pura-pura sakit, jangan pakai maskara."
Andara membeku. "...Hah?"
Nuha dan Zuleykha ikut membeku.
"Kalian bertiga buruk dalam berakting."
Andara menelan ludah. "Kak... kok tau?"
"Sejak telepon."
"Maksudnya?"
"Suara kamu normal."
Andara terdiam.
"Kamu juga masih sempat bercanda sebelum Kakak turun dari mobil."
Andara langsung menoleh ke arah kedua sahabatnya.
"Ketahuan kan."
"Bukan kita!"
Zuleykha langsung membela diri.
Kafa menjawab datar. "Kaca mobil saya tidak kedap suara."
Ya Allah.... Malunya....
Andara langsung menutup wajah dengan kedua tangan.
"Tapi...Kalau Kakak udah curiga, kenapa tetap datang?"
Kafa menatap Andara beberapa saat. "Kalau dugaan Kakak salah, dan ternyata kamu benar-benar kenapa-kenapa... Kakak nggak akan bisa maafin diri sendiri."
Jawaban itu membuat Andara terdiam.
Jadi... Meski curiga Andara berbohong. Kafa tetap datang.
Karena takut sesuatu benar-benar terjadi padanya. Saat itu juga, Andara sadar, ia tak mungkin lagi menyimpan perasaan ini.
"Kenapa berbohong?"
Andara menggigit bibir bawahnya sesaat sebelum menjawab.
"...Karena aku kangen."
Kafa mengembuskan napas panjang.
Dua hari lalu mereka baru saja bertemu di rumah. Ia mengira seiring bertambahnya usia, Andara akan mulai menjaga jarak dan memahami posisi mereka.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin dewasa, gadis itu semakin sering mencari alasan untuk menemuinya.
"Kakak marah?" tanya Andara lirih.
Kafa menggeleng pelan. "Kakak nggak marah."
"Serius?"
"Iya."
"Lalu kenapa diam?"
Kafa menatap lurus ke arah danau kecil di depan mereka. "Karena Kakak lagi mikir."
"Mikir apa?"
"Mikir gimana caranya supaya kamu berhenti melakukan hal kayak gini."
Andara terdiam.
"Kamu bikin Kakak panik, Dara."
"Maaf..."
"Kamu tau nggak? Kalau tadi benar-benar terjadi sesuatu sama kamu, Kakak bakal nyalahin diri sendiri."
Andara semakin merasa bersalah. "Kakak..."
"Kamu itu adik Kakak."
Andara langsung menyela. "Ralat, Kak. Kita bukan saudara kandung."
Kafa menoleh pelan. "Lalu?"
"Kita nggak punya hubungan darah."
"Terus?"
"Itu artinya..."
"Itu nggak mengubah apa pun buat Kakak." Suara Kafa tetap tenang. "Buat Kakak, kamu tetap adik kecil yang Bunda dan Ayah titipkan untuk dijaga."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Andara. "Tapi aku nggak pernah nganggep Kakak cuma sebagai kakak."
Kafa memejamkan mata sejenak.
"Aku cinta sama Kakak."
Kalimat itu akhirnya terucap. Dengan jujur. Tanpa ragu.
"Aku udah hampir dua puluh tahun. Aku bukan anak kecil yang nggak ngerti perasaan sendiri."
Kafa berdiri perlahan. "Dara."
"Aku serius."
"Kakak tau."
"Terus?"
"Tapi perasaan Kakak nggak akan pernah sama."
Jawaban itu membuat dada Andara terasa sesak.
"Kamu tetap keluarga Kakak."
Air mata Andara akhirnya jatuh. "Jadi... Kakak nggak pernah sedikit pun ngelihat aku sebagai perempuan?"
Kafa menggeleng pelan. "Nggak."
Hanya satu kata. Namun cukup untuk mematahkan seluruh harapan yang selama ini Andara simpan.
Kafa menarik napas panjang. "Ayo pulang."
Andara mengusap air matanya kasar. "Nggak mau."
"Kakak antar."
"Nggak."
"Kamu mau pulang sendiri?"
"Nggak."
"Lalu?"
"Sebelum Kakak pergi..." Andara menatap kedua mata pria itu. "...jawab satu pertanyaan lagi."
"Apa?"
"Kalau suatu hari nanti aku tetap mencintai Kakak... apa Kakak akan tetap menolakku?"
Kafa terdiam beberapa saat. "Iya. Karena sejak awal, kamu adalah adik Kakak."
Andara menundukkan kepala. "Oke..."
Kafa mengusap pelan puncak kepala gadis itu, seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil. "Jangan nangis lagi."
Andara menepis tangan itu pelan. "Aku benci Kakak."
"Kakak tau."
"Kakak jahat."
"Mungkin."
Kafa berbalik berjalan menuju mobilnya.
Melihat pria itu benar-benar pergi, Andara melongo.
Biasanya, Kafa akan kembali menghampirinya saat ia merajuk.
Namun kali ini tidak.
Pintu mobil tertutup. Mesin menyala. Dan mobil itu perlahan meninggalkan taman.
Andara langsung berdiri sambil menghentakkan kaki.
"Kak Kafaaa... jahat!"
Sementara itu, di dalam mobil...
Kafa memang meninggalkan Andara di taman. Namun, ia tidak benar-benar pergi. Mobilnya berhenti beberapa puluh meter dari sana, di tempat yang masih memungkinkannya melihat ke arah taman.
Ia menyandarkan punggung pada jok, kedua tangannya menggenggam kemudi. Tatapannya tak pernah lepas dari sosok Andara yang masih berdiri di sana.
"Ayo pulang..." gumamnya pelan.
Ia sengaja tidak kembali menghampiri gadis itu. Kafa tau, jika ia kembali sekarang, Andara akan menganggap tangis dan rengekannya selalu berhasil meluluhkan hati sang kakak. Padahal, ada batas yang harus ia tegakkan.
Beberapa menit kemudian, Andara mengeluarkan ponselnya dan memesan taksi daring.
Kafa mengembuskan napas lega saat melihat mobil yang dipesan Andara akhirnya datang.
Begitu taksi itu melaju meninggalkan taman, Kafa menyalakan mesin mobilnya dan mengikuti dari kejauhan.
Bukan untuk mengawasi.
Melainkan untuk memastikan adik angkatnya pulang dengan selamat.
Sejak lulus kuliah, Kafa memilih tinggal di apartemennya sendiri. Ia ingin hidup mandiri sekaligus lebih fokus membangun perusahaan arsitektur dan desain interior yang dirintisnya dari nol.
Sementara itu, Azzam dan Aira—orang tua angkat yang telah membesarkannya sejak usia lima tahun—tetap tinggal di rumah keluarga bersama Andara.
Tak lama kemudian, mobil taksi yang ditumpangi Andara memasuki halaman rumah.
Kafa menghentikan mobilnya di seberang jalan.
Ia menunggu hingga melihat Andara turun, membuka gerbang, lalu masuk ke dalam rumah dengan selamat.
Barulah setelah pintu rumah tertutup, Kafa kembali menginjak pedal gas.
Sepanjang perjalanan pulang, ucapan Andara terus terngiang di kepalanya.
"Aku cinta sama Kakak."
Kafa mengembuskan napas panjang. Gadis itu telah ia jaga sejak kecil. Ia tidak pernah membayangkan hari ketika Andara akan mengucapkan kalimat itu.
Yang ia tahu hanya satu.
Memberi sedikit harapan kepada Andara sama saja dengan memperpanjang luka gadis itu.
Meskipun... Menolak Andara ternyata jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan.
Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun... Ia berharap Andara benar-benar melupakan ucapannya sore itu.
Sebab ia tahu... Jalan yang dipilih gadis itu hanya akan membuat hatinya semakin terluka.
mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰