Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Setelah Malam Itu
Video kejadian malam itu—Baskoro berdiri di depan barisan warga, terpaksa mengumumkan penundaan operasi di depan kamera yang menyala—menyebar lebih cepat dan lebih luas daripada apa pun yang pernah kami saksikan sebelumnya. Dalam dua hari, video itu sudah ditonton jutaan kali, dibahas di hampir semua platform berita nasional, bahkan menarik perhatian beberapa media internasional yang mengangkatnya sebagai contoh perlawanan sipil damai terhadap penggusuran paksa.
Aku menyaksikan semua itu dengan perasaan campur aduk, duduk di gudang cadangan yang kini terasa seperti markas resmi kami, dikelilingi Yanto, Ujang, dan Sari yang baru kembali dari ibu kota dua hari sebelumnya.
"Ini bukan cuma soal Karang Wetan lagi, Bang," kata Ujang, menunjukkan berbagai komentar dan berita yang terus mengalir di ponselnya. "Orang-orang di kota lain mulai cerita soal kasus serupa di daerah mereka. Ada yang bilang, ini kayak jadi 'pemicu' buat banyak orang berani cerita."
---
Tekanan publik yang begitu besar akhirnya memaksa langkah-langkah resmi yang selama ini terasa mustahil. Made Wirawan menghubungi Sari dengan kabar yang, meski masih penuh kehati-hatian dalam penyampaiannya, terdengar seperti angin segar yang telah lama kami tunggu: tim investigasi lembaga antikorupsi resmi menetapkan Komisaris Yusuf Baskoro sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan dan penyalahgunaan wewenang, berdasarkan bukti rekaman dan dokumen yang sebagian besar berasal dari apa yang kami serahkan lewat Sari.
"Ini baru awal," kata Made lewat telepon, suaranya tetap berhati-hati meski jelas ada nada lega di dalamnya. "Kasus soal Bupati Hardian masih perlu waktu lebih lama, karena posisinya lebih tinggi secara politik, dan pasti bakal ada perlawanan hukum yang jauh lebih rumit. Tapi penetapan tersangka buat Baskoro ini langkah besar yang bakal bikin banyak orang lain di sekitarnya mulai berpikir dua kali."
---
Kabar itu disambut dengan sorak kegembiraan di antara kami malam itu, sebuah perayaan kecil dan sederhana di warung Bu Inah yang sudah menjadi saksi begitu banyak momen penting perjalanan kami. Bapak dan Ibu datang juga malam itu, untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, aku melihat mereka tertawa lepas tanpa bayang-bayang ketakutan yang biasa menyelimuti wajah mereka.
"Bapak nggak pernah nyangka," kata Bapak, menepuk pundakku dengan mata berkaca-kaca, "anak Bapak yang dulu cuma bantu-bantu jahit sepatu, sekarang bisa bikin orang sekuat Baskoro akhirnya kena batunya."
Aku tersenyum, meski di dalam hati aku tahu perjalanan ini masih jauh dari selesai. "Ini bukan cuma karena aku, Pak. Ini karena semua orang yang berdiri bareng-bareng malam itu, dan semua yang udah berkorban buat sampai ke titik ini."
---
Namun, di tengah euforia itu, aku juga mulai merasakan sesuatu yang baru dan asing—perubahan cara orang memandangku, bahkan di antara orang-orang yang selama ini kukenal baik. Beberapa warga mulai memanggilku dengan sebutan yang lebih dari sekadar nama, seperti "pemimpin", "pahlawan Karang Wetan", istilah-istilah yang terasa berat setiap kali kudengar, karena aku sendiri masih merasa jadi anak muda yang sama, yang dulu ketakutan duduk di ruang sempit berhadapan dengan Baskoro.
Malam itu, duduk sendirian sejenak di gang buntu dekat bantaran kali—tempat yang sejak kecil selalu jadi saksi setiap keputusan besar dalam hidupku—aku merenungkan perjalanan panjang yang sudah kutempuh, dari anak yang hanya bisa diam menahan sakit, menjadi seseorang yang sekarang dianggap simbol perlawanan oleh banyak orang yang bahkan tidak pernah kutemui secara langsung.
Sari menemukanku di sana beberapa saat kemudian, duduk pelan di sampingku tanpa banyak kata.
"Kamu kelihatan nggak terlalu seneng buat orang yang baru menang besar," katanya akhirnya, memecah keheningan.
"Aku seneng," jawabku jujur. "Tapi aku juga takut."
"Takut kenapa?"
Aku menghela napas panjang, mencoba merangkai perasaan yang sulit kujelaskan bahkan pada diriku sendiri. "Baskoro udah mulai jatuh. Tapi Hardian masih berdiri, dan mungkin bakal ada yang lain lagi setelah dia. Aku takut, semakin besar ini semua, semakin susah juga buat aku inget kenapa aku mulai semua ini dari awal—bukan buat jadi 'pemimpin' atau 'pahlawan', tapi cuma buat lindungin orang-orang kayak Bapak, Ibu, Bu Inah, dan orang-orang kecil lainnya."
Sari menatapku lama, sebelum tersenyum tipis. "Selama kamu masih inget buat takut kehilangan itu, Rangga, aku rasa kamu belum bakal kehilangan arah."
---
*(Bersambung ke Bab 36)*