Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keong Racun
Pax menoleh setelah beberapa menit tidak terdengar kicauan dari mulut ajaib Alena yang selalu mengeluarkan bahasa yang tidak ia mengerti.
“Jangan pura-pura tertidur hanya karena tidak ingin berbicara padaku.” Tukas Pax yang jelas saja tidak dihiraukan Alena karena wanita itu sedang tertidur.
“Alena.” Panggilan Pax kembali tidak mendapat respon. “Ke mana aku akan mengantarmu? Jangan salahkan aku jika membawamu ke atas ranjangku."
Tetap tidak ada sahutan.
“Aku sedang tidak bergurau, Nona.” Pax meminggirkan mobilnya, dan dengkuran halus pun terdengar. Pax menatapnya tidak percaya, wanita di sampingnya itu benar-benar ajaib. Ini kejadian langka, di mana seorang Pax diabaikan begitu saja. Apakah dia kurang menarik di mata Alena? Pax pun bertanya-tanya, bahkan ia menatap wajahnya dari pantulan kaca.
“Aku saja terpesona dengan ketampanan yang kumiliki ini, blasteran Amerika- surga. Kenapa dia mengabaikanku?” Pax menggelengkan kepalanya, kembali melajukan mobil.
“Aku tidak tahu alamatmu, dan aku tidak ingin repot-repot mencarikan hotel untukmu, aku juga sedang ada pekerjaan, jadi mari kita ke rumahku.”
Benar saja, Pax akhirnya membawa Alena ke rumahnya. Beberapa menit ia hanya berdiam diri, menatapi wajah Alena dengan seksama, hingga ia menyadari ada memar di wajah cantik wanita itu. Pax menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah Alena. Ia ingin melihatnya secara utuh. Tangannya terulur, mengusap wajah Alena, ia tersenyum merasakan sensasi lembut di jemarinya.
“Tidak mengenakan make up sama sekali,” Pax bergumam sembari mengambil selembar tissu untuk memastikannya sekali lagi. Hasilnya sama, kertas tipis putih bersih itu tidak bernoda. “Wah, keeksotisan warna kulitnya benar-benar alami adanya. Dan ini sungguh mulus, ck! Kenapa ada memar di sini.” Pax melepaskan seatbeltnya untuk melihat lebih dekat.
Jarak wajah keduanya sangat tipis, Pax bisa melihat dengan jelas bulu mata panjang yang sangat lentik, tertutup dengan sempurna. Hidungnya mangir, tidak pesek, dan tidak bisa dikatakan mancung juga tapi terlihat indah di wajahnya. Pas, begitu lah menurutnya.
Pax mengalihkan tatapannya ke bibir Alena, ia menelan ludah, hembusan napas Alena menerpa wajahnya, dan sial hembusan napas yang tidak disadari Alena justru membangkitkan hasrat primitif dalam dirinya.
“Kejutan, aku tergoda bahkan sebelum aku digoda,” ingin rasanya Pax melahap bibir Alena, membuktikan apakah rasanya sama dengan yang ada dalam fantasi liarnya. Tapi sial, ia harus menekan hasratnya, suara Mommy-nya seakan terdengar jelas, mengeluarkan wejangan bahwa harus berlaku hormat kepada setiap wanita, dan jangan memaksa wanita jika mereka menolak. Tentu saja penolakan belum pernah terjadi dalam hidupnya.
Tangan Pax terangkat, demi menghormati Mommy-nya, ia menahan dorongan setan dari dalam dirinya untuk tidak menerkam Alena dalam keadaan tidak sadarkan diri. “Tapi menyentuh sedikit untuk mengobati rasa penasaranku, sepertinya tida ada salahnya, dan semoga wanita ini tidak bangun dan mematahkan jemariku.” Tangan Pax menggantung di udara, mata dengan bulu yang panjang dan lentik itu tiba-tiba terbuka. Pax terkejut, ia mengerjapkan matanya beberapa kali, jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Ia seperti seorang penjahat yang sedang tertangkap basah.
“Kau sedang apa?” suara Alena terdengar serak, khas bangun tidur.
“Ada nyamuk yang berani menghisap darahmu,” Pax mengibas-ngibaskan tangannya seakan sedang mengusir nyamuk.
“Ooo...” Alena kembali memejamkan matanya. Pax melongo di tempatnya, tadinya ia sudah pasrah jika Alena menggamparnya atau memelintir tangannya. Pax mengembuskan napas panjang, ia kembali duduk, menegakkan tubuh dan berusaha menetralisir degupan jantungnya yang menggila seakan sedang habis lari maraton berkilo-kilo meter jauhnya.
Setelah degupan jantungnya normal, ia kembali dibuat bingung, bagaimana ia harus membawa Alena masuk ke dalam rumahnya. Haruskah ia meminta salah satu orangnya untuk menggendong tubuh Alena, tapi membayangkan tangan pria lain menyentuh tubuh Alena, kenapa ia tidak suka. Dan haruskah ia yang menggendong Alena? Pax juga ragu untuk melakukannya, entah kenapa firasatnya buruk untuk hal itu.
“Bangunlah, hei... kita sudah sampai,” Pax berusaha untuk membangunkan Alena. Hanya gumaman yang terdengar, tapi mata wanita itu enggan untuk terbuka.
“Tubuhmu sangat berat, aku tidak mungkin menggendongmu, bangunlah!” Pax menyolek bahu Alena, colekan tidak mempan, Pax pun mengguncangnya sedikit.
“Aku mengantuk, jangan menggangguku,” suaranya terdengar seperti igauan.
Ketukan di jendela mobilnya membuat Pax menurunkan kacanya.
“Maaf Tuan, kupikir sesuatu sedang terjadi padamu,” salah satu anak buahnya menghampirinya, dan begitu melihat Alena, pria itu segera menundukkan pandangannya. Memangnya siapa yang berani menaikkan pandangan pada wanita seorang Willson.
“Tidak,” Pax turun dari mobilnya, berjalan mengitari mobil, lalu membuka pintu penumpang. Pax mengembuskan napas sebelum ia menunduk untuk membuka seatbelt Alena yang tertidur tidak ubahnya seperti kerbau betina, yang tidak terusik sama sekali dengan keberadaan dirinya. Pax menyeruakkan tangannya di balik punggung Alena dan kaki-nya.
Ia pun membawa Alena masuk ke rumahnya, menaiki tangga menuju bilik kamarnya. "Ini kedua kalinya wanita ini memasuki wilayah pribadiku, di rumah yang berbeda. Hais, kenapa aku tidak merasa terganggu sama sekali.” Pax menatap wajah Alena dan untuk kesekian kalinya ia kembali terpana akan keunikan yang dimiliki Alena.
Memasuki kamar, pintu tertutup secara otomatis. “Jangan bangun, tinggal sedikit lagi.”
Dua langkah lagi mencapai ranjang, Alena membuka matanya. Untuk sesaat keduanya terdiam saling menatap. Hingga Alena merasakan sesuatu yang janggal. Ia memiringkan kepala, untuk memastikan kejanggalan itu. Benar saja, jemari Pax mengenai pinggiran payudaranya.
“Bangke! Apa yang kau lakukan, mesum!”
Pax yang terkejut melihat reaksi Alena, tidak bisa menjaga kesimbangan tubuhnya, Alena juga meronta di atas gendongannya. Alhasil keduanya mendarat di atas ranjang, dan saling menindih. Pax berada di atas tubuh Alena.
Kembali keduanya terdiam dengan situasi janggal yang mereka alami. Pax kembali meneguk salivanya, tatkala tatapan tak bermoralnya tertuju pada payudara Alena yang naik turun karena napas yang tidak teratur. Sebelum Alena menyadari apa yang dilihatnya, Pax segera mengalihkan tatapannya, dan sial matanya justru terpaku pada bibir wanita itu. Setan, iblis, dan sebangsanya kembali menggodanya untuk segera menunduk, menyapukan bibir mereka.
Alena tidak tahu apa yang terjadi padanya, jantungnya berdetak tidak karuan. Ini pertama kalinya ia melihat wajah seorang pria dengan jarak yang begitu sangat tipis, bahkan Dafa sekalipun.
Ia baru menyadari betapa kokoh dan seksinya rahang pria itu. Dagunya terlihat tegas menyempurnakan kemaskulinannya. Hidungnya sangat mancung, hingga Alena membayangkan ia bisa bermain perosotan di atasnya. Dan yang paling Alena sukai dari semua itu, adalah manik pria itu. Tatapanya tajam tapi penuh jenaka.
Apa yang kulewatkan? Batin Alena, kembali mencari hal yang ia lewatkan, hingga tatapannya terpaku pada bibir pria itu. Dan ia pun merasakan sekujur tubuhnya terbakar panas akibat gelenyar aneh yang terasa asing.
“Oh, Mom mafkan aku,” Pax bergumam dan dalam sekejap bibirnya sudah mendarat di atas bibir Alena.
Pax hanya membiarkan bibirnya menempel begitu saja untuk melihat reaksi Alena. Beberapa detik, tidak ada respon ataupun penolakan, dan Pax dengan segera menggerakkan bibirnya yang sudah sangat berpengalaman. Di bawahnya ia bisa merasakan tubuh Alena menegang seketika. Pax memejamkan matanya, menikmati sensasi yang sangat luar biasa. Manis, lembut, wangi, oh Tuhan, aku bisa gila, Pax membatin dan mengerang nikmat.
Alena mengerjapkan matanya, semuanya terjadi dengan begitu tiba-tiba hingga membuat otaknya bekerja lamban. Begitu menyadari apa yang terjadi, Alena segera mendorong tubuh Pax dan menukar posisi mereka. Kini ia berada di atas tubuh pria itu, tepatnya duduk di atas perut Pax.
Pax berdecak kesal, ciuman tadi terlalu nikmat, dan kenapa harus terlepas dengan begitu cepat. Belum sadar dengan keadaan yang akan dihadapinya, sebuah tinju sudah melayang di wajahnya, tepat di sudut bibirnya, hingga wajahnya berpaling. “Haiiss!” Pax menatap Alena.
“Dasar keong racun,” Alena kembali melayangkan tinjunya, Pax dengan sigap menahan tangannya, pantang menyerah, Alena kembali melayangkan sebelah tangannya yang bebas, dan lagi, Pax menahannya kembali.
Pax melingkarkan kedua kakinya di punggung Alena, mengembalikan posisi mereka. Kini Alena berada di bawahnya dalam perangkap tubuh besarnya dan tangan yang menahan kedua tangan mungil yang ternyata mempunyai kekuatan luar biasa. Bibirnya sobek mendapat bogeman penuh cinta dari Alena.
“Aku tidak tahu, apakah begini caramu berterima kasih padaku, setelah aku menyelamatkanmu beberapa kali,” Pax menyeringai nakal.
“Kau melecehkanku. Mengambil kesempatan dalam kesempitan, Bambang!” Alena tiba-tiba melengkungkan tubuhnya, membenturkan kepalanya ke wajah Pax.
“Argghhh!”
“Oh shit!”
Keduanya mengerang sakit. Alena merasakan jidatnya benjol seketika, dan Pax merasakan darah mengalir dari hidungnya. Pertaraungan yang hebat, bukan?