Selama dua tahun Luna Inara Jasmine hidup dalam kebohongan sang suami, Raka Alvaro Mahendra. Sang suami mengatakan jika dirinya impoten.
Namun suatu hari Luna justru mengetahui kenyataan pahit jika sang suami sebenarnya tidak impoten dan memiliki hubungan bahkan anak dari wanita lain.
Bagaimana kisah mereka? Yuk lanjut baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sketsa yang Hilang
Raka langsung keluar dari toilet setelah memastikan tidak ada orang di sekitar tempat itu. Ia berhenti di depan pintu toilet sambil membenarkan jas dan kemejanya yang sedikit kusut. Wajahnya sedikit basah oleh keringat sisa pergulatan panasnya dengan Vanessa di tempat itu.
Raka lantas merogoh saku celananya untuk mengambil sapu tangan. Ia gunakan untuk menyeka keringat di keningnya. Setelah itu ia kembali ke ruangan ballroom karena acara sudah dimulai.
Sementara itu, Luna duduk di sebelah wanita bernama Alya. Wanita itu adalah sekretaris Bara. Ayah mertuanya belum bisa hadir lantaran masih banyak urusan dan sengaja mengirim Alya untuk menemaninya.
Mata Luna berbinar melihat model-model berdatangan dengan memakai pakaian yang ia desain. Untuk pertama kalinya ia merasa bangga pada dirinya sendiri.
Setelah itu keluar model dari Imperia mode milik Raka. Ia ikut bertepuk tangan dan tersenyum.
"Jadi … semua pakaian itu Vanessa yang mendesainnya? Memang bagus," batin Luna.
Rasa pesimis mulai merayap di dada Luna. Dirinya takut jika desainnya kalah dari desain-desain dari perusahaan fashion lain. Itu artinya dirinya sudah mengecewakan Bara.
Sudah lebih dari satu jam acara itu digelar. Pada penghujung acara, masing-masing dari perusahaan fashion yang mengikuti acara itu menampilkan satu model pakaian pengantin.
Semua orang bertepuk tangan termasuk Luna. Namun senyum di bibirnya tiba-tiba memudar saat melihat gaun pengantin yang dipersembahkan oleh Imperia mode.
Matanya terbelalak sempurna. Mulutnya bergumam lirih. "Itu desain gaun pengantinku yang hilang. Kenapa bisa ada di tangan Imperia?"
Apa Raka yang diam-diam mengambil desain itu?
Luna menggeleng lalu kembali berkata di dalam hatinya.
Tidak mungkin? Dia bahkan tidak mau menyentuh buku sketsaku.
Atau jangan-jangan …?
"Terima kasih untuk para hadirin yang sudah menyempatkan waktu untuk datang ke acara ini."
Ucapan pembawa acara itu membuat Luna menoleh ke asal suara. Seorang pembawa acara naik ke atas panggung lalu memanggil para desainer dari perusahaan fashion masing-masing.
Luna berdiri saat namanya dipanggil. Ia sempat melirik sekilas ke arah Raka dan Vanessa. Terlihat sekali ada keterkejutan di wajah mereka saat namanya dipanggil sebagai salah satu desainer dari Aurelius Fashion. Salah satu perusahaan fashion milik Bara.
Namun saat ini ia tidak memikirkan apa yang akan dikatakan oleh Raka dan Vanessa nanti akan keberadaannya di Aurelius. Pikirannya hanya tertuju pada siapa yang sudah mengambil desainnya dan menyerahkan pada Imperia.
Terakhir nama Vanessa dipanggil sebagai desainer dari Imperia. Wanita itu berdiri di samping gaun pengantin hasil rancangannya. Melihat itu darah Luna seakan mendidih. Ia tidak terima hasil kerja keras dan impiannya diakui menjadi milik orang lain.
Tangan Luna mengepal kuat berusaha kuat menahan amarahnya. Dirinya harus tetap tenang. Beberapa kali Luna menarik napas untuk meredam amarah yang sedang menguasai dirinya.
Beberapa saat kemudian pembawa acara kembali bersuara, bersiap untuk mengumumkan perusahaan mana yang menjadi pemenangnya sekaligus mendatangi kontrak dengan perusahaan global.
"Untuk pemenangnya adalah …"
Pembawa acara itu sengaja menggantungkan ucapannya untuk menciptakan rasa penasaran pada seluruh tamu yang hadir.
"Pemenangnya adalah Imperia Mode."
Tepukan tangan langsung memenuhi ruangan.
Luna merasa terkejut, ia juga merasa kecewa sekaligus marah.
"Selamat Nyonya Vanessa, karya-karya Anda luar biasa," ucap salah satu perwakilan dari perusahaan global. "Saya paling berkesan dengan desain gaun pengantin Anda ini."
"Terima kasih banyak," ucap Vanessa penuh rasa percaya diri dan kebanggaan.
Mendengar itu, tangan Luna kembali mengenggam dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih.
Luna lantas menoleh. Ia melihat Raka dan Vanessa tersenyum senang sambil berjabat tangan dengan perwakilan dari perusahaan global. Sang suami bahkan tidak sedikit pun melihat ke arahnya.
Hatinya semakin sakit saat tanpa sengaja ia melihat Raka merangkul pinggang Vanessa dan menatapnya dengan tatapan hangat, bahkan Raka tak pernah menunjukkan tatapan itu padanya.
Sebenarnya ada hubungan apa mereka? Sikap dan tatapan mereka seperti bukan hanya sekedar rekan kerja?
Luna segera menyimpan rasa penasaran itu lebih dulu. Ia harus menyelesaikan satu hal. Sketsa yang hilang dan tiba-tiba kembali muncul di hadapannya dan ada di tangan orang lain. Dirinya harus mendapatkan jawabannya sekarang.
Saat Raka dan Vanessa akan mendatangani perjanjian kontrak dengan perusahaan global, Luna mencegahnya dengan suaranya yang lantang.
"Tunggu!" cegah Luna.
Raka langsung menghentikan gerakannya lalu menoleh ke arah Luna. Begitu juga dengan yang lain.
"Baju pengantin dari Imperia Mode adalah milikku. Aku yang mendesainnya bukan Vanessa," ucap Luna dengan penuh rasa percaya diri.
Mata semua orang seketika membulat. Ruangan mulai dipenuhi suara-suara yang mempertanyakan tentang apa yang sedang terjadi.
Raka dengan ekpresi kesal mendekat ke arah Luna lalu mencengkram lengan wanita yang berstatus istrinya itu.
"Apa-apaan kamu, Luna? Jangan membuatku malu!" ucap Raka pelan, tapi penuh tekanan.
Luna menatap Raka sejenak lalu menarik tangannya menjauh dari Raka. "Aku tidak sedang membuat keributan. Aku sedang bicara kenyataan."
"Luna … kamu!" Raka kambali mencengkam lengan Luna lalu sekali lagi memperingati sang istri untuk diam.
"Kamu berhenti sekarang," peringat Raka. "Turun dari panggung ini lalu jelaskan padaku kenapa kamu bisa ada di Aurelius?"
Luna menggeleng. "Aku akan menjelaskannya padamu nanti."
Ia lantas mengarahkan pandangan ke arah Vanessa.
"Siapa yang memberikan sketsa itu padamu?" tanya Luna.
"Apa maksudmu, Luna? Kamu tidak sedang menuduhku, kan?"
"Aku hanya bertanya."
"Ini desainku," jawab Vanessa.
"Bohong!" ucap Luna dengan suara yang sedikit meninggi.
"Untuk apa aku berbohong, Luna? Aku tahu kamu hanya iri karena aku berhasil menang," balas Vanessa.
"Aku tidak peduli menang atau kalah. Aku hanya peduli dengan rancangan gaun pengantin ini," ucap Luna. "Ini mimpiku, Vanessa."
Vanessa menggeleng, ekspresinya dibuat sedih seolah ia adalah korban. Namun sesungguhnya dia tahu kebenarannya, tapi ia tetap berusaha menyangkal.
"Ini benar-benar aku sendiri yang membuatnya. Aku bekerja siang malam untuk merancang gaun pengantin ini," ucap Vanessa. "Kalau kamu tidak percaya tanya saja suamimu."
"Apa itu artinya siang dan malam kamu selalu bersama suamiku?"
Mendengar itu Vanessa merasa kesal, meskipun sebenarnya tuduhan yang Luna layangkan itu benar.
"Luna, stop!" ucap Raka. "Berhenti bicara omong kosong."
"Pak Raka, tolonglah. Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan tuduhan istri Anda." Vanessa mulai terisak.
Raka beralih pada Vanessa. Keduanya tangannya menyentuh pundak Vanessa untuk menenangkannya.
"Maaf, Vanessa. Jangan menangis. Aku janji akan memberikanmu keadilan," ucap Raka menenangkan.
"Pak Raka." Vanessa menangis lalu menyadarkan kepalanya di pundak Raka, seolah dirinya orang yang paling tersiksa di tempat itu.
Melihat pemandangan itu, hati Luna merasa sakit, darahnya pun ikut mendidih. Tapi ia mencoba untuk menahannya.
"Jika memang gaun pengantin ini rancanganmu, coba tunjukkan buktinya!" suruh Luna.
Vanessa segera menarik diri lantas meminta pada asisten pribadinya untuk meminta tasnya. Sesaat kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam tasnya lalu menunjukkan pada semua orang.
"Ini buktinya!" Vanessa menunjukkan gambar gaun pengantin dan juga perhiasan yang sama persis dengan gaun gaun pengantin yang sedang dipamerkan. "Apa itu cukup, Luna?"
Luna mengambil desain itu dan melihatnya dengan seksama. Detik berikutnya senyum terukir di bibirnya. Luna mengangkat pandangannya lalu menatap Vanessa dengan dingin.
"Mengaku atau aku akan membuatmu merasa malu?"
emmmm kaya ga deh vanes ga jadi malu secara Raka mana mau lihat orang tersayang tersakiti
OMG kalau terjadi she so dammm sad man