BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gue Pulang
Keheningan yang tercipta di foyer depan rumah keluarga Mahendra terasa begitu padat, seolah-olah udara di tempat itu mendadak membeku dan menolak untuk mengalir. Mbok Sari masih terduduk di lantai marmer yang dingin, napasnya memburu cepat dengan sisa-sisa isak tangis ketakutan yang tertahan di tenggorokan. Matanya tidak berkedip sedikit pun, menatap lurus ke arah sosok yang berdiri di ambang pintu.
Rayyan berdiri di sana, mengabaikan kepanikan yang baru saja ia ciptakan. Ia menatap Mbok Sari dengan dahi berkerut heran, lalu beralih menatap kerumunan keluarganya yang berdiri mematung beberapa meter di depannya. Di dalam rumah terasa sangat asing baginya terlalu sunyi, terlalu tegang, dan dipenuhi oleh aroma dupa yang menusuk hidung.
Dengan gerakan yang teramat santai, seolah-olah ia baru saja kembali dari bermain kelompok di rumah teman, Rayyan melangkah masuk melewati batas pintu. Ia sedikit membungkuk, lalu melepas sepatu kets abu-abu miliknya yang tampak sedikit kotor oleh debu jalanan. Ia meletakkan sepatu itu di atas rak kayu dengan rapi sebuah kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali pulang sekolah.
Setelah merapikan sepatunya, Rayyan menegakkan tubuh kembali. Ia menatap ibunya yang berdiri paling depan dengan wajah pucat pasi.
"Bu... gue pulang," ucap Rayyan lirih.
Panggilan 'Bu' yang diucapkannya terdengar begitu ringan dan kasual. Biasanya, ia menggunakan panggilan itu jika sedang ingin bermanja-manja atau jika ia tahu dirinya baru saja melakukan kesalahan kecil seperti pulang terlambat tanpa memberi kabar. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman canggung yang biasa ia tunjukkan saat merasa bersalah karena membuat orang rumah khawatir.
Prang!
Suara pecahan porselen yang keras seketika merobek keheningan yang mencekam itu.
Gelas berisi air hangat yang sejak tadi digenggam erat oleh Anindya terlepas begitu saja dari tangannya. Gelas itu jatuh menghantam lantai marmer, pecah menjadi puluhan kepingan tajam, mengirimkan cipratan air dan serpihan kaca ke segala arah. Namun, tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang menoleh ke arah lantai. Pandangan semua orang tetap terkunci rapat pada sosok remaja laki-laki yang kini berdiri di depan mereka.
Wajah Anindya kehilangan seluruh warnanya. Bibirnya bergetar hebat, namun tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya terasa begitu lemas hingga ia harus bertumpu pada lengan suaminya agar tidak jatuh pingsan di tempat.
Di sebelahnya, Steven Mahendra mundur beberapa langkah dengan sentakan kaku. Pria yang biasanya selalu tegap, rasional, dan penuh wibawa itu kini tampak begitu rapuh. Dadanya naik turun dengan cepat, memburu oksigen yang mendadak terasa hilang dari sekelilingnya. Otak bisnisnya yang selalu bekerja dengan logika matematis kini menolak untuk memproses apa yang sedang dilihat oleh matanya sendiri.
Bagaimana mungkin?
Pikiran itu terus berputar di kepala Steven seperti kaset rusak. Ia sendiri yang mengidentifikasi jasad putranya di ruang UGD. Ia sendiri yang menandatangani dokumen kremasi. Ia sendiri yang memegang guci berisi abu jasad Rayyan sebelum ditanam di dalam tanah tujuh hari yang lalu. Lalu... siapa sosok yang kini berdiri di depannya dengan seragam sekolah yang lengkap ini? Apakah ini hanya sebuah halusinasi kolektif yang lahir dari duka mendalam keluarga mereka?
"Kak Rayyan...?"
Sebuah suara kecil dan serak memecah keheningan. Reina, yang sejak tadi bersembunyi di balik tubuh Reyhan, perlahan melangkah maju. Matanya yang bulat masih basah oleh air mata, menatap sosok kakaknya dengan pandangan yang campur aduk antara takut, bingung, dan rindu yang teramat sangat.
"Reina, jangan!" Reyhan mencoba menahan lengan adiknya dengan tangan gemetar. Ia takut sosok di depan mereka adalah manifestasi dari sesuatu yang tidak mereka mengerti sesuatu yang mungkin bisa membahayakan adiknya.
Namun, Reina tidak memedulikan tarikan kakaknya. Bagi anak perempuan berusia delapan tahun itu, konsep kematian dan kremasi masih terlalu abstrak untuk dipahami sepenuhnya. Yang ia tahu pasti hanyalah satu hal: kakak yang sangat ia rindukan, kakak yang katanya pergi ke taman bunga yang jauh, kini akhirnya pulang dan berdiri di depan matanya.
"Kak Rayyan!"
Reina langsung berlari kencang melewati serpihan kaca di lantai, mengabaikan teriakan panik dari ibunya. Ia menghambur ke depan dan memeluk erat pinggang Rayyan dengan kedua lengan kecilnya. Wajahnya dibenamkan di perut kakaknya, dan tangisnya yang sejak tadi ditahan kini pecah sekencang-kencangnya.
Rayyan tersentak kaget saat tubuh kecil Reina menabraknya. Ia sempat terhuyung satu langkah ke belakang sebelum berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Tas ransel di bahunya merosot jatuh ke lantai dengan bunyi debuk yang pelan.
"Eh, Reina? Kok nangis sih?" Rayyan bertanya dengan nada bingung. Ia perlahan melingkarkan lengannya di bahu adiknya, menepuk-nepuk punggung Reina dengan canggung. "Kenapa nangisnya kencang banget gini? Kakak kan cuma telat pulang bentar. Lagian, kok rumah rame banget? Ada acara apa?"
Sentuhan fisik itu terasa begitu nyata.
Melihat Reina yang memeluk Rayyan tanpa terjadi hal buruk apa pun, Nenek Ratna perlahan melangkah maju. Ia melepaskan pegangannya dari lengan Reyhan, melangkah dengan kaki yang bergetar tanpa menggunakan tongkat kayu penyangganya yang tadi terjatuh. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti taruhan antara kewarasan dan kegilaan.
"Rayyan...?" bisik Ratna, suaranya nyaris tidak terdengar di antara isak tangis Reina.
Rayyan menoleh ke arah neneknya. "Nenek... kok Nenek juga nangis?"
Ratna berhenti tepat di depan cucunya. Tangannya yang keriput dan gemetar perlahan terangkat, mengambang di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya mendarat di pipi kanan Rayyan.
Kulit pipi itu terasa halus.
Masih hangat.
Ratna menggeser jari-jarinya ke arah hidung Rayyan, dan ia bisa merasakan embusan napas hangat yang keluar secara teratur dari sana. Ia kemudian meletakkan telapak tangannya di dada kiri Rayyan, tepat di balik seragam putih yang agak kusut itu.
Deg... deg... deg...
Di bawah telapak tangannya, Ratna bisa merasakan detak jantung yang kuat, stabil, dan penuh dengan denyut kehidupan.
Itu bukan sentuhan dingin dari sesosok hantu atau arwah gentayangan. Ini adalah tubuh manusia yang nyata, yang bernapas, yang memiliki aliran darah hangat di dalam pembuluh dadanya. Ini adalah cucunya, Rayyan, yang seharusnya sudah menjadi abu di dalam tanah pemakaman keluarga.
Air mata Ratna mengalir deras melewati kerutan di pipinya. Namun, kali ini bukan air mata duka, melainkan air mata dari sebuah keajaiban yang tidak mampu dicerna oleh akal sehat manusia mana pun.
"Kamu... kamu hangat, Nak," isak Ratna, suaranya bergetar hebat. Ia merengkuh kepala Rayyan dan mencium kening cucunya berulang kali dengan penuh keputusasaan dan rasa syukur yang luar biasa. "Kamu bernapas... Kamu benar-benar hidup, Rayyan..."
Rayyan semakin kebingungan menerima perlakuan dari keluarganya. Ia melepaskan pelukan Reina perlahan, lalu menatap neneknya dengan dahi yang berkerut dalam.
"Nenek, maksudnya apa sih? Ya iyalah Rayyan hidup. Emang Rayyan kenapa?" tanya Rayyan, tawanya terdengar canggung dan sedikit dipaksakan. "Kok pada aneh banget hari ini? Ibu juga... kenapa ngeliat Rayyan kayak abis liat hantu?"
Pandangan Rayyan kini beralih ke arah ruang tengah yang berada di balik koridor foyer. Dari posisinya berdiri, ia bisa melihat tumpukan karpet tebal, vas-vas bunga melati yang harum, dan beberapa kerabat dekat yang kini menatapnya dengan wajah pucat pasi dari kejauhan. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang terus merapalkan doa keselamatan dengan tubuh gemetar.
Dan yang paling membuat Rayyan tertegun adalah tumpukan buku kecil bersampul hijau yang ada di atas meja kayu. Di bagian depan buku itu, terpampang sebuah foto yang sangat ia kenal.
Itu adalah fotonya sendiri.
Rayyan melangkah maju beberapa senti, menyipitkan matanya untuk membaca tulisan yang tertera di bawah fotonya di sampul buku yasin tersebut.
Mengenang 7 Hari Berpulangnya... Rayyan Steven Mahendra.
Rayyan membeku di tempatnya. Senyum canggung di wajahnya perlahan-lahan memudar, digantikan oleh rasa dingin yang mendadak menjalar dari ujung kakinya hingga ke tengkorak kepalanya. Ia menatap tulisan itu berulang kali, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia salah membaca atau bahwa itu hanyalah sebuah lelucon buruk yang sedang dimainkan oleh keluarganya.
Namun, ekspresi hancur di wajah ibunya, tatapan syok ayahnya, dan tangisan histeris Reina yang tidak kunjung berhenti... semuanya membuktikan bahwa ini bukanlah sebuah lelucon.
"Ini... buku apa, Ma?" suara Rayyan mendadak berubah menjadi sangat pelan, hampir kehilangan kekuatannya. Ia menunjuk ke arah tumpukan buku yasin di ruang tengah. "Kenapa... kenapa ada foto Rayyan di situ?"
Ia menatap seragam sekolahnya sendiri yang agak berdebu. Pikirannya mendadak kosong. Memorinya sebelum tiba di depan pintu rumah ini terasa sangat kabur, seperti sebuah mimpi setelah tidur yang sangat panjang dan tanpa mimpi. Ia hanya ingat bahwa ia baru saja berjalan pulang dari sekolah, merasa sedikit lelah, dan kemudian mengetuk pintu rumahnya.
Ia sama sekali belum menyadari bahwa menurut garis takdir dan dunia yang ia tinggali saat ini, dirinya telah meninggal dunia dan dikremasi tepat tujuh hari yang lalu.