NovelToon NovelToon
Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Air Mata Seorang Ibu

Di sebuah desa kecil yang jauh dari kota hiduplah seorang janda yang bernama Yuni Cantika yang berusia 41 Tahun.

sejak suaminya meninggal dunia,ia harus berjuang sendirian membesarkan kedua anak nya yang masih kecil.

Namun, Yuni tidak pernah menyerah. Justru kedua anaknya yang menjadi alasan terbesar untuk tetap harus kuat menjalani hidup."

Anak sulungnya bernama Husnan Roudhi yang berusia 8 tahun kelas 3 SD. Meski Husnan masih kecil,ia sudah mengerti betapa berat ibunya yang berjuang sendirian.

Sementara adiknya, yang bernama Hasannudin yang berusia 6 tahun kelas 1 SD.ia masih belum memahami kesulitan yang dialami ibunya .

Setiap pagi Yuni harus memasak dengan seadanya,membersihkan rumah dan mengurus anaknya untuk berangkat ke sekolah.

Husnan ... Hasan ... Ayo bangun sudah jam 6 pagi nih yok mandi lalu sarapan, sambil mengusap kepala nya " iya Bu" jawab mereka sambil meluk bantal guling.

Setelah sarapan mereka pun berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki bersama dijalan udaranya sejuk sekali karena jalanan nyadi penuhi pohon pohon yang hijau dan segar. Mereka sambil berjalan dengan gandengan tangan sesampainya di sekolah teman temannya menyapa mereka.

"pagi Kakak beradik"

"Pagi semua"

Lalu mereka ngobrol ngobrol dulu sambil menunggu bel sekolah berbunyi.

tak lama kemudian bel sekolah pun berbunyi, mereka semua akhirnya masuk kelas masing masing.

Di sekolah Husnan belajar dengan sungguh sungguh ia teringat ucapan ibunya yang berkata usaha tidak pernah mengkhianati hasil.

Berbeda dengan adiknya Hasan ia masih belum mengerti betapa pentingnya belajar,ia lebih memilih bermain dengan teman-teman nya.

Sepulang sekolah, Husnan dan Hasan pulang lebih dulu ke rumah untuk ganti pakaian dan meletakkan tas . Setelah itu, Husnan mengambil karung lusuh yang biasa digunakannya untuk mengumpulkan botol plastik dan kaleng bekas.

"Ayo dek kita berangkat sebelum sore"

Hasan mengangguk lalu mengikuti kakaknya berjalan .

mereka pun sampai di jalan yang banyak botol bekas.

Mereka pun kumpulin botol demi botol hingga sampai seperempat karung dan mereka melihat anak anak yang sedang merayakan ulang tahun di halaman rumah, . Terdengar tawa bahagia, nyanyian, dan tepuk tangan. Dan Husnan dan Hasan sambil melihat ayah mereka yang sedang mengendong anaknya,ia jadi teringat sama ayahnya sendiri yang sudah meninggalkan kita 2 tahun lalu.

"Kak..." panggilnya Hasan.

"Hmm?"

"Menurut Kakak... kita masih bisa ketemu Ayah lagi, nggak? Hasan kangen banget sama Ayah. Nanti sore Hasan kan juga ulang tahun, tapi rasanya sepi kalau Ayah nggak ada."

Mendengar pertanyaan itu, Husnan terdiam. Ia pun juga merindukan ayahnya, tetapi ia bisa menahan apa yang di rasakan .

Husnan mengusap pelan kepala Hasan.

"Kita doakan saja Ayah dari sini, ya. Walaupun Ayah sudah nggak bersama kita, kita masih punya Ibu. Nanti kita rayakan ulang tahun Hasan sama Ibu "

Hasan hanya mengangguk "iya kak sambil matanya tertuju pada keluarga yang sedang tertawa bahagia".

Tak lama kemudian keduanya kembali berjalan menyusuri pinggir jalan sambil memungut botol-botol bekas yang berserakan.

Panas matahari sorenya semakin mengeluarkan keringat Hasan sambil mengusap keringatnya,Sedikit demi sedikit, karung yang dibawa Husnan mulai penuh.

Setalah itu mereka istirahat sejenak sambil mengipasi badannya yang kepanasan itu sambil menunggu badan mereka hilang lelahnya,saat mereka istirahat beberapa menit ia pun pergi ke pengepul

mereka pun menjual hasil kumpulannya kepada pengepul. Setelah menghitung semua botol, pengepul itu menyerahkan uang sebesar tiga puluh ribu rupiah.

Husnan tersenyum lega.

"Alhamdulillah, Dek. Hari ini kita dapat tiga puluh ribu. Lumayan buat tambahan beli kue.

"Iya, Kak," jawab Hasan sambil tersenyum.

Mereka pun menjemput ibunya yang sedang bekerja di serabutan yang jaraknya tidak jauh dari tempat pengepul.

Dari kejauhan, mereka melihat ibunya masih mengangkat karung-karung berat ,ibunya adalah pekerja wanita sendirian bersama para pekerja pria lainnya.

Yuni kembali mengangkat satu karung berisi hasil panen ke atas bahunya.

Seorang pekerja pria menghampirinya.

"Hei Bu Yuni, istirahatlah dulu. Dari tadi saya lihat kamu belum berhenti .

"Masih kuat, Kang. Kalau berhenti sekarang, nanti upahnya berkurang."

"Ibu memang hebat. Tapi jangan terlalu dipaksakan. Anak-anak Ibu masih membutuhkan Ibu."

Yuni menatap kedua putranya yang sedang menunggu di bawah pohon sambil tersenyum.

"Itulah yang membuat saya tetap semangat kang. Selama mereka masih membutuhkan saya, saya harus bertahan.

"Saya salut sama Bu Yuni," ujar seorang dari mereka. "Kalau saya berada di posisi Ibu, belum tentu saya bisa sekuat kamu."

"Jangan memuji saya. Saya hanya seorang ibu yang ingin melihat anak-anaknya tumbuh dengan baik."

Keringat membasahi wajah Yuni, sementara badannya yang sudah kelelahan bekerja. Melihat itu, hati Husnan terasa perih. Andai saja aku sudah besar, aku ingin menggantikan semua pekerjaan berat itu.

Pak Budi, pemilik tempat kerja tersebut, memperhatikan Husnan dan Hasan yang setia menunggu ibunya di bawah pohon. Ia menghela napasnya.

"Setiap hari mereka datang menjemput ibunya, ya?" tanya istri pak Budi.

"Iya, dek. Mereka berdua juga sering mencari botol bekas sepulang sekolah .

. "Jarang ada anak seusia itu yang mau berkorban demi keluarganya."

Saat pekerjaan selesai, Yuni menghampiri Pak Budi untuk berpamitan.

"Pak, saya pamit mau pulang."

Pak Budi tersenyum sambil menyerahkan amplop yang berisi uang.

"Ini upahmu hari ini, dan ini ada sedikit bihun untuk kau masak Tadi istri saya memasak bihun tapi kebanyakan yang beli jadi masih ada 1 bungkus dan masih ada sedikit daging. Bawa saja untuk anak-anak ya."

"Terima kasih banyak, Pak. Semoga Allah membalas semua kebaikan Bapak dan sekeluarga."

"Amin. Hati-hati di jalan, Bu Yuni."

Setelah itu ibunya menghampiri mereka berdua.

"Menunggu lama ya anak anak" ucap Yuni sambil tersenyum.

"Enggak kok Bu" jawab mereka berdua sambil melihat ibunya yang kecapean."

"Ini ambil uang ini buat beli obat dan beli kue"

kata ibunya sambil menyodorkan uangnya ke anaknya.

" Gak kebanyakan ini Bu", kata Husnan sambil melirik ke uang itu.

ambilah sana ibu duluan mau masakin soto buat nanti.

Uang dari ibunya 110rb di tambah punya kami 30rb ini jadi 140rb cukup sih buat beli obat dan kue.gumamnya sambil menghitung uangnya.

Setelah itu mereka pergi ke toko kue, mereka pun di sambut sama penjaga toko.

"Halo dek mau beli kue apa "kata penjaga toko.

Hasan tertuju pada kue yang warna biru itu.

." Kak mau yang ini kak "

Lalu Husnan tanya kepada penjaga itu,

" mbak ini yang biru berapa ya".

"Oh ini 120rb aja dek"

Husnan memandangi kue berwarna biru itu cukup lama sambil memikirkan rasanya.

"Aduh... kalau beli kue ini, uang untuk beli obat pasti tidak cukup," pikirnya.

Ia menatap Hasan yang sejak tadi memandang kue tersebut.

"Dek, pilih yang lain saja, ya? Yang ini terlalu mahal," bujuk Husnan sambil menunjuk kue yang lain .

Hasan menggeleng .

"Enggak mau, Kak. Hasan maunya yang itu."

Husnan terdiam pasrah. Ia tahu obatnya sangat penting, tetapi ia juga tidak tega melihat adiknya yang dari tadi melihat kue yang sangat di inginkan.

"Maafkan Husnan ya, Bu. Kali ini biarlah obatnya tak di tunda dulu. Yang penting Hasan senang di hari ulang tahunnya."

Akhirnya, Husnan membeli kue berwarna biru itu.

Setelah itu mereka berdua berjalan pulang. Sesampainya di rumah, Husnan mengetuk pintu.

"Assalamu'alaikum, Bu."

"Wassalamu'alaikum. Oh, kalian sudah pulang. Ayo masuk, Ibu sudah memasakkan soto untuk kalian," jawab Yuni sambil tersenyum .

Mereka pun segera masuk ke dalam rumah.

"Bu, ini kue ulang tahun untuk Hasan," ucap Husnan sambil menyerahkan kotak kue.

Yuni tersenyum bahagia.

"Alhamdulillah. Ayo kita rayakan ulang tahun Hasan bersama."

Mereka bertiga berkumpul di ruang tamu yang sederhana.tidak ada balon dan lainnya,Hanya sebuah kue kecil dan kebersamaan yang mereka miliki.

Hasan meniup lilin sambil menutup mata. Dalam hati, ia berharap suatu hari nanti bisa merayakan ulang tahun bersama ayahnya lagi.

Setelah kue dipotong, Husnan memberikan kue untuk ibunya,tetapi ibunya justru mengambil beberapa keping kue kering murah dari atas meja.

"Bu, kenapa Ibu tidak makan kue ulang tahunnya?" tanya Husnan.

Yuni tersenyum lembut.

"Ibu tidak terlalu suka kue yang manis. Kalian saja yang makan."

Padahal, ia sengaja menyisakan seluruh kue itu untuk kedua anaknya.

Tak lama kemudian, Yuni membawa semangkuk soto hangat ke meja makan.

"Ayo, sekarang makan sotonya sebelum dingin."

Mereka bertiga pun mulai makan bersama. Husnan langsung tersenyum saat mencicipi kuah soto buatan ibunya.

"Bu... sotonya enak sekali. Harumnya beda dengan yang lain."

Yuni tersenyum.

"Ibu menambahkan sedikit cengkeh supaya kuahnya lebih wangi."

Saat mengambil lauk, Husnan menyadari semua potongan daging berada di mangkuknya dan mangkuk Hasan.

"Bu, kenapa semua dagingnya untuk kami? Ibu tidak makan?"

Yuni menggeleng sambil tersenyum.

"Ibu memang tidak terlalu suka daging. Kalian saja yang makan. Kalian masih dalam masa pertumbuhan."

Husnan tahu ibunya sedang berbohong. Namun ia memilih diam dan menghabiskan makanannya sambil menahan rasa terharu.

Malam semakin larut. Setelah membereskan meja makan, mereka bertiga masuk ke kamar untuk beristirahat.

Di tengah malam, tiba-tiba Husnan batuk batuk yang parah.

Uhuk... uhuk...

Husnan terbangun sambil menutup mulutnya supaya tidak ada yang terbangun. Saat membuka telapak tangannya, ia terkejut melihat bercak darah yang kental.

Wajahnya langsung panik.

Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan ibu dan adiknya, ia menuju ke kamar mandi. Di sana, ia muntah - muntah dengan sambil kepikiran apakah aku membebani ibu.

Setelah selesai ia membersihkan darah yang keluar dari mulutnya hingga tidak ada bekas sedikit pun.

"Jangan sampai Ibu tahu..." bisiknya pelan.

Keesokan paginya, Yuni masuk ke kamar untuk membangunkan kedua putranya.

"Husnan... Hasan... ayo bangun, nanti terlambat sekolah."

Namun langkah Yuni mendadak terhenti.

"Husnan... Kenapa kamu nak?"dengan suara yang agak panik.

Tubuh Husnan terbaring lemas di lantai dengan wajah yang sangat pucat.

"HUSNAN... BANGUN!"

Tubuh Husnan sama sekali tidak bergerak.

Yuni seketika panik , sementara jantungnya berdegup semakin kencang.

1
the virtuso
saling support kak
Putry Chan
💪
Otna Forever
Siiip, lanjutkan
Obby Ilhamsyah: semangat nulis novelnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!