**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.
Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:
> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.
Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*
Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.
*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*
Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*
…tapi malam itu, Mas ingkar janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Mas Nggak Akan Nyakitin Aku
Naila berbaring tengkurap di ranjang sambil menatap gantungan kunci lemon.
Anindya pasti cantik. Namanya saja terdengar lembut. Ia dan Radhika pernah satu kelas, bertukar hadiah, dan tetap dibicarakan Eyang setelah bertahun-tahun. Sementara itu, Naila tidak tahu sekolah Radhika setelah pindah ke Jakarta, teman-temannya, atau perempuan yang pernah dekat dengannya.
Empat belas tahun adalah ruang kosong yang sangat besar.
Naila mencoba mencari nama Anindya di media sosial, tetapi ada terlalu banyak akun serupa. Satu akun pribadi menampilkan foto profil perempuan dari kejauhan dengan latar kampus luar negeri. Naila tidak tahu apakah itu orang yang sama. Ia menutup aplikasi sebelum keinginannya berubah menjadi rasa ingin tahu yang memalukan.
Aku cuma ingin tahu teman lama Mas, katanya pada diri sendiri.
Namun, penjelasan itu tidak menghilangkan rasa asam di dadanya.
Ketukan terdengar di pintu.
"Dek, makan."
Naila bangkit dan membuka pintu. Radhika berdiri di luar sambil memainkan pemantik perak di antara jari. "Kok lama?"
"Tumitku masih perih."
Radhika langsung melihat ke bawah. "Mau digendong?"
"Nggak usah berlebihan. Aku bisa jalan."
Mereka turun bersama. Eyang dan Damar memang datang sebulan sekali untuk makan malam keluarga. Malam ini meja dipenuhi sup buntut, ikan bakar, tumis sayur, kepiting saus mentega, dan beberapa lauk lain. Wirya membuka sebotol sparkling juice yang disimpan untuk acara khusus.
Bi Rohmah menuangkan minuman ke gelas tinggi. Gelembung kecil naik ke permukaan, membuat jamuan itu terasa meriah tanpa alkohol. Eyang memimpin doa singkat sebelum semua orang mulai mengambil makanan.
"Naila kuliah apa?" tanya Eyang.
"Ilmu Komunikasi. Aku ingin jadi presenter."
"Bagus. Jangan hanya terkenal. Harus punya isi."
"Iya, Eyang."
Damar mengangguk kecil. Radhika malah memindahkan mangkuk sambal menjauh dari Naila dan menukar posisinya dengan sup bening.
"Aku bisa makan pedas," protes Naila.
"Tumitmu luka, telapak tangan baru sembuh, jangan tambah sakit perut."
"Nggak ada hubungannya."
"Mas yang jaga akhir pekan ini. Mas yang atur."
Radhika duduk di sebelah Naila. Di depannya ada secangkir kopi hitam.
"Manis nggak?" tanya Naila.
"Manis. Coba."
Ia mendorong cangkir itu. Naila percaya dan menyesap sedikit. Rasa pahit langsung memenuhi lidahnya.
"Pembohong!"
Radhika mengambil kembali cangkir sambil tersenyum. "Mas bilang manis buat Mas."
"Nggak ada bagian manisnya."
Eyang mengamati pertengkaran kecil itu dengan senyum tipis. Larasati justru tampak puas.
Percakapan beralih ke pekerjaan Damar. Saat Larasati bertanya kapan putra sulungnya akan membawa pasangan, Damar meletakkan sendok dengan tenang.
"Aku nggak berencana menikah, Bunda."
"Kamu selalu bilang begitu."
"Karena jawabannya memang nggak berubah."
Larasati menghela napas. Wirya menepuk tangannya agar tidak membahas lebih jauh di meja makan.
"Damar sudah dewasa," kata Eyang. "Tapi keputusan satu orang kadang tetap memengaruhi keluarga."
Kalimat itu terdengar biasa, tetapi Radhika mengangkat mata. Damar tidak bereaksi. Naila hanya menangkap ketegangan sekilas sebelum Larasati mengganti topik dengan cerita tentang perjalanan ke Puncak.
Naila sibuk memisahkan daging ikan ketika Radhika menarik piring kepiting ke dekatnya. Ia memecahkan cangkang satu per satu, mengambil dagingnya, lalu menaruh hasilnya dalam mangkuk kecil.
"Mas suka kepiting?" tanya Naila.
"Biasa saja."
Beberapa menit kemudian, Radhika mengeluarkan sesuatu dari saku jaket. Ikat rambut berbentuk dua buah ceri jatuh ke telapak Naila.
"Ini! Kupikir hilang."
"Ketinggalan di mobil."
"Mas simpan dari kapan?"
"Dari kemarin."
Naila langsung mengikat rambutnya. Saat Radhika berdiri mengambil air, ia mendorong mangkuk berisi setengah porsi daging kepiting ke depan Naila.
"Habiskan."
Larasati dan Wirya saling pandang. Damar melirik adiknya, lalu kembali makan. Hanya Eyang yang mengerutkan kening sesaat sebelum menyembunyikannya di balik gelas.
"Radhika bahkan nggak pernah mengupaskan kepiting untuk Bunda," kata Larasati.
"Bunda bisa kupas sendiri."
"Naila juga punya tangan."
"Tangannya pernah luka."
Naila menunjukkan telapak yang hampir pulih. "Sudah nggak sakit."
Radhika tetap meletakkan potongan terakhir ke mangkuknya. "Tetap makan saja."
Wirya menunduk sambil tersenyum. Eyang tidak ikut tersenyum.
Setelah makan, seluruh keluarga pindah ke ruang televisi. Naila duduk di ujung sofa menonton acara komedi. Sebuah irisan jeruk muncul di depan bibirnya. Ia membuka mulut tanpa melihat dan mengunyah.
Beberapa menit kemudian datang kastanye kupas, satu sendok yoghurt, biskuit kecil, lalu buah ceri.
Naila menerima semuanya karena mengira Larasati duduk di sampingnya.
Ia terlalu fokus pada acara televisi sampai tangannya otomatis terulur setiap kali ada makanan. Saat kastanye habis, Radhika mengganti dengan biskuit. Saat Naila batuk kecil karena remah, segelas air sudah menunggu di tangannya.
"Di kampus nggak makan, ya?" suara Radhika terdengar. "Rakus amat."
Naila menoleh. Ternyata sejak tadi Radhika yang menyuapi dari kursi samping.
"Mas yang kasih terus."
"Tapi semuanya dimakan."
"Masakan kampus nggak seenak di rumah."
Tatapan Radhika berubah sedikit, seolah kalimat sederhana itu menjadi masalah yang perlu diselesaikan.
"Besok Mas minta dapur siapkan bekal," katanya.
"Aku bisa beli di kantin."
"Tadi katanya nggak enak."
"Aku cuma memuji masakan rumah, bukan minta katering pribadi."
"Terlambat. Mas sudah dengar."
Larasati mematikan suara televisi. "Besok Bunda dan Papa mau ke Puncak dua hari. Cari matahari, istirahat dari Jakarta."
Wirya mengangguk mendukung rencana yang baru ia ketahui siang tadi. "Sudah lama kami nggak pergi berdua."
"Terus aku?" tanya Naila.
"Ada Radhika. Dia jaga kamu akhir pekan ini."
Naila mengangkat bahu. "Nggak apa-apa. Mas nggak akan nyakitin aku."
Radhika berhenti mengupas ceri. Eyang kembali mengerutkan kening, kali ini lebih jelas.
"Percaya sekali sama dia?" tanya Eyang.
"Iya. Mas Radhika pernah salah, tapi dia selalu memperbaiki."
Radhika menatap Naila. Kepercayaan itu terasa lebih berat daripada janji mana pun yang baru ia buat.
Pukul sembilan, Naila masuk kamar. Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi.
Naik ke lantai tiga.
Ada sesuatu buat kamu.
Naila membalas sambil tersenyum.
Katanya aturan pertama aku nggak boleh naik lantai tiga. Mas melanggar aturan sendiri lagi?
Tanda mengetik muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Kalau Mas batalkan aturannya, aku boleh naik kapan saja?
Naila menambahkan pesan itu, sengaja membuat Radhika memilih antara harga diri dan undangan yang ia kirim sendiri.
Sebelum balasan Radhika masuk, Eyang bangkit dari kursinya di ruang keluarga.
"Radhika, ikut Eyang ke balkon."
Keduanya berjalan ke balkon samping. Udara malam menggerakkan daun tanaman dalam pot. Eyang berdiri membelakangi pintu kaca hingga suara keluarga di dalam menjadi samar.
Radhika memasukkan pemantik perak ke saku. Dari nada Eyang, ia tahu percakapan ini bukan lagi sekadar pertanyaan tentang kunjungan yang terlewat.
"Soal Anindya," katanya dengan nada berat, "Eyang mau bicara serius sama kamu."