NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Nikah Kilat Sang Mayor: Jatuh Berkali-kali dalam Pelukan Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / One Night Stand / Menikahi tentara
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*

Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:

> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Janji dan Godaan

"Malam ini... hanya kita."

Kalimat Bram membuat kamar terasa beberapa derajat lebih hangat.

Laras berdiri di tengah ruangan dengan jari saling mencengkeram. Sejak akad, mereka telah disentuh keramaian, doa, kamera, dan keluarga. Sekarang tidak ada seorang pun di balik pintu. Tidak ada Kinan yang menggoda atau Bu Rahayu yang menyelamatkan percakapan.

Hanya suaminya.

Bram melepaskan jam tangan dan menaruhnya di meja. Gerakannya tenang, tidak mendekat sebelum Laras siap.

"Duduk dulu," katanya. "Kakimu pasti sakit."

"Kamu membuka malam pengantin dengan membicarakan kakiku?"

"Kamu berdiri hampir tujuh jam. Fakta tetap fakta."

Laras duduk di tepi ranjang. Bram berjongkok beberapa langkah di depannya, lalu berhenti.

"Boleh saya lepaskan sepatumu?"

Pertanyaan itu sederhana. Tetap saja, Laras membutuhkan satu detik untuk mengangguk.

Bram membuka tali sepatu perlahan. Jemarinya tidak menyentuh kulit lebih dari yang perlu. Setelah sepatu terlepas, ia mengambil baskom kecil berisi air hangat yang sudah disiapkan Bik Inah dan meletakkannya di bawah kaki Laras.

"Jadi ini rencanamu? Merendam kaki?"

"Kecewa?"

"Aku belum memutuskan."

Sudut bibir Bram terangkat. "Kita punya waktu."

Kalimat itu jauh lebih menggoda daripada sentuhan terburu-buru.

Laras merasakan panas merambat ke pipi. Ia memalingkan wajah ke cermin, lalu melihat puluhan jarum masih menahan tatanan rambutnya.

"Aku harus melepas ini."

"Saya bantu."

"Kamu tahu caranya?"

"Tidak. Tapi saya bisa mengikuti instruksi."

"Itu kabar baru."

Bram berdiri di belakangnya. Melalui cermin, Laras melihat tubuh tinggi itu mendekat. Napas Bram menyentuh puncak kepalanya, sementara jemarinya mencari ujung jarum dengan hati-hati.

Satu per satu, jarum diletakkan di meja.

"Kalau sakit, bilang," katanya.

"Tidak sakit."

"Kalau saya terlalu dekat?"

Laras menatap mata Bram melalui cermin. "Aku akan bilang."

Ia tidak mengatakan terlalu dekat.

Rambutnya akhirnya terurai. Bram menyisirnya dengan jari sekali, ringan, lalu segera menarik tangan. Pengendalian itu justru membuat kulit kepala Laras terasa lebih peka.

"Sudah," katanya.

"Cepat juga."

"Saya prajurit terlatih."

"Melepas jarum rambut masuk latihan mana?"

"Latihan bertahan hidup malam pertama."

Laras tertawa, dan kegugupan di bahunya sedikit turun.

***

Setelah berganti pakaian tidur yang tertutup dan nyaman, Laras kembali menemukan Bram duduk di kursi, bukan menunggu di ranjang. Ia juga sudah berganti kaus gelap dan celana panjang santai.

"Kenapa di sana?" tanya Laras.

"Memberi ruang."

"Aku tidak menyuruhmu menjauh."

"Kamu juga belum menyuruh mendekat."

Laras mengatupkan bibir. Lelaki ini ahli membuatnya mengucapkan apa yang diinginkan tanpa sekali pun memaksa.

"Kemarilah," katanya akhirnya.

Bram berdiri. Tidak tergesa, tetapi tatapannya berubah. Ada panas yang selama ini disimpan di balik kendali seorang komandan.

Ia duduk di samping Laras, menyisakan jarak satu telapak tangan.

"Masih ingin kamar terpisah?" tanyanya.

Janji di kamar 302 kembali ke ingatan. Saat itu, tawaran pisah kamar adalah pintu keselamatan. Malam ini, Laras menyadari ia tidak ingin menggunakannya.

"Tidak malam ini."

"Besok?"

"Tergantung kelakuanmu."

"Berarti saya harus memberi kesan baik."

Bram tidak langsung memanfaatkan jawaban itu. Ia menunjuk lampu utama dan lampu kecil di sisi ranjang.

"Kamu ingin yang mana tetap menyala?"

Laras baru menyadari lampu yang terlalu redup bisa mengembalikannya pada cahaya neon kamar 302. "Lampu samping. Jangan terlalu gelap."

Bram menyalakannya dan mematikan lampu utama. Ruangan tetap hangat, wajah mereka masih terlihat jelas.

"Pintunya dikunci," kata Laras.

"Mau dibuka?"

Ia menimbang, lalu menggeleng. "Tidak. Aku hanya perlu tahu kuncinya bisa kubuka sendiri."

Bram bangkit, menunjukkan posisi kunci, lalu membiarkan Laras memutarnya sekali. Laras mengunci kembali dengan tangannya sendiri.

"Ada hal lain yang membuatmu takut?" tanyanya.

"Aku mungkin teringat malam itu."

"Kalau terjadi, katakan. Kita berhenti."

"Bagaimana kalau aku diam?"

"Saya akan bertanya. Kalau kamu tidak bisa menjawab dengan jelas, saya anggap berhenti."

Laras menatapnya lama. Aturan itu membuat tubuhnya yang tegang perlahan memahami bahwa malam ini berbeda. Ia sadar. Ia bisa melihat wajah Bram. Ia memegang kunci. Tidak ada obat, tidak ada orang menggedor, dan setiap langkah hanya bergerak setelah jawabannya terdengar.

"Kamu sudah memikirkan semua ini?"

"Sejak saya sadar betapa sedikit yang bisa kamu ingat dari malam pertama kita bertemu."

"Malam itu bukan kesalahanmu."

"Bukan kesalahanmu juga. Tapi tubuh tidak selalu membedakan fakta secepat pikiran."

Laras mengembuskan napas. "Kalau aku berkata pelan, artinya perlambat. Kalau aku bilang berhenti, benar-benar berhenti."

"Baik."

"Kalau aku menarikmu mendekat?"

Tatapan Bram turun ke tangannya. "Saya akan memastikan sekali lagi sebelum menyimpulkan."

"Kamu sangat merepotkan."

"Saya berniat mempertahankan pernikahan ini lebih dari satu malam."

Jawaban itu menyingkirkan sisa ketakutan dengan cara yang tidak bisa dilakukan rayuan apa pun.

Bram mengangkat tangan, menunggu di dekat pipinya. Laras memiringkan wajah hingga kulitnya menyentuh telapak tangan itu.

Baru setelah mendapat jawaban tersebut, ibu jari Bram mengusap tulang pipinya.

"Kamu cantik hari ini," katanya.

"Hanya hari ini?"

"Hari-hari lain juga. Hari ini saya boleh mengatakannya tanpa kamu menuduh saya punya maksud tersembunyi."

"Kamu jelas punya maksud."

"Benar."

Kejujuran itu membuat jantung Laras berdetak lebih cepat.

Bram menunduk, tetapi berhenti sebelum bibir mereka bertemu. "Boleh?"

Laras mengangguk.

Ciuman pertama malam itu lembut. Tidak menuntut, hanya menyentuh lalu mundur. Bram memberi Laras ruang untuk menarik napas dan memilih apakah ingin melanjutkan.

Laras justru mencengkeram bagian depan kausnya. "Itu saja?"

Mata Bram menggelap. "Kamu sedang menantang saya?"

"Aku sedang bertanya."

Ciuman kedua lebih lama. Bram tetap menjaga tangan di pinggang Laras, tidak bergerak melewati batas. Ketika napas Laras mulai patah, ia mundur dan menyentuhkan dahi mereka.

"Saya berjanji tidak memaksa," katanya serak. "Janji itu tidak berubah setelah akad."

"Aku tahu."

"Malam semalam bukan utang yang harus kamu bayar. Pernikahan ini juga bukan izin tanpa batas."

Laras membuka mata. Di wajah Bram tidak ada rasa kasihan, hanya keinginan besar yang sengaja dikendalikan demi dirinya.

Ia mengangkat tangan dan menyentuh bekas luka di bawah tenggorokan Bram. Nadi lelaki itu berdenyut cepat.

"Kamu kelihatan sangat tenang," bisiknya.

"Saya hampir tidak tenang."

"Bagus. Berarti bukan aku saja."

Bram tertawa rendah. Bibirnya menyentuh pelipis Laras, lalu sudut rahang, setiap gerakan berhenti cukup lama untuk memberi kesempatan menolak.

Laras tidak menolak.

Ia justru memiringkan kepala, memberi Bram ruang lebih dekat. Tangan yang semula kaku di kaus lelaki itu perlahan naik ke bahunya dan bertahan di sana tanpa rasa takut.

Ketika Bram berbisik di dekat telinganya, suaranya terdengar lebih kasar daripada sebelumnya.

"Kalau kamu bilang berhenti, saya berhenti. Tapi... kamu mau saya berhenti?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!