Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.
Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.
Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?
Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Mimpi Buruk dan Pelukan
"Ssst... ini aku."
Suara itu menembus pintu besi di dalam mimpi Liana.
Bukan Darren. Bukan Aldi. Bukan suara Nadia yang menyuruhnya berhenti melawan dan menerima nasib.
Hangat di dahinya nyata. Aroma cendana yang tipis juga nyata.
Liana menarik napas patah-patah. Kelopak matanya terbuka, tetapi kamar hotel masih berupa bayangan gelap yang berputar. Tangannya bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Ia menangkap pergelangan tangan di dekat wajahnya dan menggenggamnya erat.
"Jangan pergi."
Dua kata itu keluar seperti suara anak kecil.
Renard membeku.
Ia berlutut di sisi kasur, tubuhnya membungkuk melewati tumpukan bantal yang sudah miring. Di bawah cahaya lampu tidur, wajah Liana pucat, bibirnya gemetar, dan keringat membasahi rambut halus di pelipis.
Genggamannya begitu kuat sampai ujung kuku menekan kulit Renard.
"Aku nggak pergi," katanya.
Mata Liana bergerak ke arahnya, tetapi belum benar-benar mengenalinya. Napasnya tetap terlalu cepat. Bahunya terangkat setiap kali udara masuk, seakan tubuhnya sedang bersiap menerima serangan berikutnya.
Renard mengenal keadaan itu.
Pada malam-malam terburuk semasa kecil, ia juga pernah membuka mata tanpa tahu apakah interogasi sudah selesai. Kamar aman bisa terasa seperti ruangan terkunci. Wajah orang yang menolong bisa berubah menjadi wajah orang yang mengancam.
Ia tidak menyuruh Liana tenang. Kalimat itu tak pernah berguna bagi orang yang tubuhnya masih terjebak di masa lalu.
"Liana, dengar suaraku." Renard menjaga nadanya rendah dan rata. "Kita di Bali. Di hotel. Pintu sudah dikunci dari dalam. Nggak ada orang lain di kamar ini."
Liana menelan ludah. Jarinya belum mengendur.
"Lihat lampu di sebelah kananmu. Warnanya apa?"
Pandangan Liana bergeser pelan.
"Kuning."
"Bagus. Dengar suara di luar."
Beberapa detik berlalu sebelum ia berbisik, "Ombak."
"Iya. Sekarang rasakan kasurnya. Kamu aman di sini."
Napas ketiga terdengar lebih panjang. Napas keempat masih bergetar, tetapi tidak lagi tersangkut di tenggorokan.
Renard hendak menarik tangannya agar bisa mengambil air. Genggaman Liana langsung mengeras.
"Jangan."
Renard berhenti.
Di antara mereka, tembok bantal ambruk seluruhnya. Satu bantal jatuh ke lantai. Yang lain terjepit di bawah lutut Renard.
"Aku tetap di sini," ulangnya. "Aku cuma mau ambil air. Tapi kalau kamu nggak mau, aku nggak bergerak."
Liana menutup mata. Setetes air mengalir dari sudut matanya ke bantal, entah keringat atau air mata.
Tubuh Renard bereaksi sebelum pikirannya sempat menyusun aturan.
Ia naik ke kasur dan duduk di sisi Liana. Tangan bebasnya berhenti beberapa sentimeter dari bahu perempuan itu.
"Boleh aku peluk?"
Liana tidak langsung menjawab. Dalam gelap, ia masih melihat bayangan kamar tanpa jendela, gelas minuman yang terasa pahit, dan gagang pintu yang tak pernah bisa dibuka. Namun suara di depannya tidak menuntut. Tidak memaksa. Suara itu menunggu.
Ia mengangguk kecil.
Renard merapat dengan hati-hati, lalu menarik Liana ke dadanya.
Ia sengaja menyisakan ruang agar Liana bisa mundur kapan saja. Lengan kanannya menyangga punggung, sementara tangan kirinya tetap terlihat di atas selimut. Ia tidak ingin kepanikan Liana berubah menjadi rasa terperangkap hanya karena niat baiknya sendiri.
"Kalau terlalu dekat, ketuk dua kali," katanya.
Jari Liana bergerak di dadanya.
Satu ketukan.
Lalu satu lagi, sangat pelan.
Renard langsung melonggarkan lengan.
Namun Liana menggeleng dan justru menarik kausnya lebih erat. "Bukan berhenti. Saya cuma mau memastikan Pak Renard ingat."
"Aku ingat."
"Walaupun nggak sedang terapi?"
"Terutama karena kita nggak sedang terapi."
Jawaban itu membuat bahunya turun sedikit. Bagi Renard, perubahan sekecil itu terasa lebih penting daripada semua angka yang pernah diperiksa dokter.
Pelukan itu berbeda dari semua sentuhan terapi yang pernah mereka lakukan.
Tidak ada jam pemeriksaan. Tidak ada daftar respons tubuh. Tidak ada kontrak yang memberi Renard alasan menerima kehangatan. Kali ini, ia yang mengangkat tangan. Ia yang memilih melingkarkan lengan di punggung Liana karena perempuan itu ketakutan dan ia tidak sanggup membiarkannya sendirian.
Liana kaku selama satu detik.
Kemudian seluruh pertahanannya runtuh.
Wajahnya menekan dada Renard. Tangan yang menggenggam pergelangan pria itu berpindah mencengkeram kain kaus di pinggangnya. Renard merasakan setiap tarikan napas di antara tulang rusuknya sendiri.
"Napas pelan," bisiknya. "Ikuti aku."
Ia menarik napas dalam. Menahannya sejenak. Lalu melepasnya perlahan.
Liana mencoba mengikuti. Pertama terlalu cepat. Kedua masih tersendat. Pada hitungan kelima, tubuhnya mulai menyamai ritme Renard.
Telapak Renard bergerak sekali di punggungnya, dari bahu ke tengah tulang belakang, lalu berhenti. Gerakan itu bukan belaian yang menuntut balasan. Hanya penanda sederhana bahwa ia masih ada.
"Aku mimpi..." Suara Liana tercekat.
Renard menunduk. Dagu pria itu hampir menyentuh rambutnya.
"Nggak apa-apa, nggak usah cerita. Aku di sini."
Kalimat itu mematahkan sesuatu di dalam dada Liana.
Seumur hidup, orang selalu menuntut penjelasan darinya. Mengapa ia menolak Aldi. Mengapa ia takut pada ruangan gelap. Mengapa ia tidak percaya pada janji manis. Bahkan kebaikan sering datang bersama syarat bahwa ia harus membuka luka agar orang lain puas dengan ceritanya.
Renard tidak meminta apa-apa.
Liana membiarkan matanya terpejam lagi.
"Kalau saya tidur, Pak Renard masih di sini?"
"Masih."
"Beneran?"
"Beneran."
"Jangan pindah ke sofa."
"Sofa itu juga terlalu pendek. Aku memang nggak berniat kembali ke sana."
Tawa kecil yang basah lolos dari bibir Liana. Renard merasakan getarannya di dada dan baru sadar rahangnya sendiri sejak tadi terkunci.
Ia menarik selimut hingga menutup bahu Liana. Setelah memastikan tangan perempuan itu tidak terjepit, ia bersandar pada kepala ranjang.
Posisi itu tidak nyaman. Lehernya pasti akan sakit saat pagi. Namun Liana berbaring melingkar di sisinya, kepala di atas dada, satu tangan masih memegang ujung kausnya seperti jangkar.
Untuk pertama kalinya sejak mereka mengenal satu sama lain, Renard tidak memikirkan kesamaan aroma, bentuk jari, atau cara Liana mengetuk dua kali.
Ia tidak memikirkan Nona Terapis.
Ia hanya memikirkan Liana.
Perempuan yang berani berdiri di depan Aldi meski bahunya sakit. Perempuan yang mengumpulkan bukti tanpa melanggar hukum saat seluruh internet mencacinya. Perempuan yang bisa mengenali nilam berkualitas dengan sekali hirup, tetapi masih meminta maaf setiap kali menerima pertolongan sekecil apa pun.
Tangan Renard terangkat ke belakang kepala Liana. Ia tidak mengusapnya. Ia hanya menahannya, memberi ruang aman di antara telapak tangan dan rambut yang lembut.
"Tidur saja," katanya.
"Pak Renard?"
"Hm?"
"Terima kasih."
"Besok kamu boleh pura-pura lupa kalau malu."
"Saya nggak malu."
Jawabannya terdengar tegas, tetapi beberapa detik kemudian ia menambahkan dengan suara sangat kecil, "Mungkin sedikit."
Renard tersenyum ke kegelapan.
"Aku juga. Jadi impas."
Keheningan turun perlahan. Ombak di kejauhan terdengar teratur. Mesin pendingin ruangan berdengung rendah. Di lorong, roda koper seorang tamu lewat, lalu menghilang.
Renard terus menghitung napas Liana.
Dua puluh.
Tiga puluh.
Empat puluh.
Pada hitungan kelima puluh dua, genggaman di kausnya mengendur. Tubuh Liana menjadi lebih berat di pelukannya. Tidak ada lagi sentakan kecil di bahu. Tidak ada gumaman ketakutan.
Ia sudah tidur.
Renard tetap terjaga.
Sekali, ia meraih ponsel di meja samping tanpa melepaskan pelukannya. Ia memeriksa waktu, lalu membuka nomor layanan hotel. Ibu jarinya sempat berada di atas tombol panggil. Kalau napas Liana kembali tidak teratur, ia akan meminta dokter hotel datang, tak peduli apakah Liana nanti kesal.
Namun denyut di leher perempuan itu sudah stabil. Suhu kulitnya juga tidak meningkat. Renard meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah.
Ia tidak akan mencari jawaban tentang mimpi itu malam ini. Besok pun tidak, kecuali Liana sendiri yang ingin bicara. Yang ia butuhkan bukan penyelidikan, melainkan satu malam tanpa harus bangun sendirian.
Renard tahu betapa langkanya hadiah seperti itu.
Rasa hangat memenuhi bagian tengah dadanya. Bukan desakan menyakitkan yang selama ini dikenal tubuhnya. Bukan serangan lapar kulit yang membuat jari-jarinya gemetar. Kehangatan ini tenang dan berat, seperti sesuatu yang akhirnya menemukan tempatnya.
Ia takut bergerak karena tidak ingin merusaknya.
Kaki kanannya mulai kesemutan. Otot bahunya protes karena bersandar pada sudut yang salah. Ia mencoba menggeser pinggang beberapa sentimeter, tetapi alis Liana langsung berkerut.
Renard kembali diam.
"Baik," gumamnya nyaris tanpa suara. "Kamu menang."
Wajah Liana kembali rileks, seolah mendengar kemenangan itu di dalam tidurnya.
Renard menahan senyum. Di kantor, satu anggukan darinya bisa memindahkan jadwal puluhan orang. Di kamar hotel ini, ia bahkan tidak berani membebaskan kaki yang mati rasa karena seorang perempuan sedang tidur di dadanya.
Anehnya, ia tidak merasa kalah.
Menjelang subuh, hujan tipis memukul kaca balkon. Langit perlahan berubah dari hitam menjadi biru pucat. Cahaya pertama masuk melalui celah tirai dan jatuh di wajah Liana.
Renard menunduk.
Jejak air mata telah kering di pipinya. Rambutnya berantakan, sebagian menempel di bibir. Dalam tidur, ia terlihat jauh lebih muda dan jauh lebih lelah.
Renard mengangkat satu helai rambut dari wajahnya.
Gerakan kecil itu membawa aroma dari rambut Liana ke hidungnya.
Ia berhenti bernapas.
Bukan hanya melati. Ada lapisan teh putih yang sangat ringan, lalu cendana lembut di bawahnya. Komposisi yang sama. Jarak antararoma yang sama. Bahkan jejak hangat yang hanya muncul setelah bersentuhan dengan kulit pun sama.
Persis aroma yang selalu tertinggal setelah sesi bersama Nona Terapis.
Pupil Renard menyempit.
Semua kecurigaan yang ia paksa diam selama beberapa hari kembali berdiri di hadapannya. Pesan yang diketik dengan jeda serupa. Cara mengetuk dua kali. Telapak tangan yang tahu kapan harus menekan dan kapan harus lepas.
Ia menatap Liana lama.
Seolah merasakan tatapan itu, perempuan dalam pelukannya mengeluarkan dengusan kecil. Tangannya bergerak naik, memeluk pinggang Renard lebih erat.
Lalu Liana merapatkan wajahnya ke leher Renard.