NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19

Ada yang Tak Beres soal Ayahnya

Bara memang sudah mulai menghitung.

Beberapa hari setelah Arum pulih, ia duduk di ruang kerja Letkol Yusuf dengan satu halaman catatan di depan mereka. Kapten Iwan menutup pintu dan meletakkan ponselnya dalam mode senyap.

"Ini belum laporan resmi," kata Bara. "Aku hanya meminta pengecekan awal."

Yusuf membaca nama di bagian atas kertas. "Letda Suryadi Wijaya. Gugur sekitar delapan tahun lalu?"

"Ayah kandung Arum."

"Hartono ada hubungannya?"

"Rekan satuan lama dan orang yang mengambil Arum setelah kedua orang tuanya meninggal."

Iwan membuka buku catatan. "Apa yang membuatmu curiga?"

Bara menyebut satu per satu. Arum dibesarkan sebagai anak angkat tetapi tak pernah tahu sumber biaya hidupnya. Ia berhenti sekolah, bekerja penuh di rumah Prasetyo, dan dalam demam menyebut “bantuan Ayah” yang tidak boleh ditanyakan. Saat Bara menyinggung masa lalu Arum, Hartono selalu mengalihkan pembicaraan pada jasa keluarga.

"Satu hal bisa kebetulan," kata Bara. "Terlalu banyak hal menjadi pola."

Yusuf mengangguk. "Kalau Suryadi gugur dalam tugas, harus ada pencatatan santunan gugur, manfaat ASABRI, dan hak anak."

"Alirannya bisa ditelusuri?" tanya Bara.

"Bisa, tapi aksesnya harus beralasan. Saya dapat meminta arsip personel dan daftar ahli waris melalui jalur komando. Untuk rekening dan dugaan penggelapan, Iwan perlu dasar awal."

Iwan menulis. "Saya mulai dari data yang tak membutuhkan penyitaan. Catatan penyerahan, nama penerima, tanda tangan, serta siapa yang menjadi pendamping anak. Kalau ada ketidaksesuaian, baru kita naikkan menjadi pemeriksaan resmi dan audit."

"Jangan beri tahu Hartono."

"Tentu tidak." Iwan menatapnya. "Tapi kamu juga jangan mendatangi dia sendiri. Kalau dia tahu kita mencari, dokumen di rumah bisa dipindahkan."

"Dokumen resmi tetap ada."

"Benar, tetapi bukti niat dan salinan pribadi bisa hilang. Kita butuh tiga lapis: arsip, aliran dana, dan keterangan saksi."

Yusuf menyandarkan punggung. "Arum tahu kamu melakukan ini?"

"Belum."

"Kenapa?"

"Aku tidak mau memberinya harapan atau luka baru sebelum ada fakta."

Yusuf memandang sahabatnya lama. "Alasan yang baik. Pastikan bukan karena kamu ingin mengendalikan semua yang menyangkut hidupnya."

Bara menerima teguran itu tanpa marah. "Kalau bukti awal ada, aku akan bicara kepadanya."

"Bagus."

Iwan merobek satu lembar kecil berisi daftar permintaan. "Saya butuh nama lengkap ibu Arum, tanggal lahir, dan dokumen identitas apa pun yang ia punya. Jangan mengambil diam-diam. Minta izin tanpa menjelaskan dugaan kalau belum siap."

"Aku akan minta."

"Satu hal lagi," kata Yusuf. "Kenaikan pangkatmu sedang dinilai. Penyelidikan terhadap perwira lain dapat dipelintir sebagai konflik pribadi, apalagi hubunganmu dengan Arum sudah jadi omongan. Semua langkah harus lewat saya dan Iwan."

"Aku tidak peduli pada kenaikan pangkat."

"Arum mungkin peduli jika namanya dipakai untuk menghancurkan kariermu. Jadi kali ini patuhi prosedur bukan demi dirimu saja."

Bara terdiam, lalu mengangguk. "Siap, Pak Yusuf."

Pertemuan berakhir tanpa satu surat resmi keluar dari ruangan. Yusuf akan meminta arsip dengan alasan verifikasi data keluarga prajurit gugur. Iwan menelusuri daftar penerima dan jalur penyerahan. Bara kembali ke Blok C-3 dengan tugas paling sederhana sekaligus paling sulit: bertanya kepada Arum tentang ayahnya.

Sore itu, Arum duduk di kamar utama sambil melipat selendang peninggalan ibunya. Kainnya sudah pudar, tetapi satu sudut masih menyimpan sulaman inisial kecil.

Bara berdiri di ambang pintu. "Boleh masuk?"

Arum mengangguk. "Ini rumah Mayor."

"Ini kamarmu untuk istirahat. Aku tetap mengetuk."

Ia duduk di kursi, menjaga jarak.

"Aku perlu menanyakan ayahmu. Kalau kamu tidak ingin menjawab sekarang, katakan."

Jari Arum berhenti di atas selendang. "Kenapa?"

"Data satuan perlu memastikan identitas keluarga pekerja yang tinggal di asrama."

Itu bukan seluruh kebenaran, tetapi bukan kebohongan.

"Nama Ayah Suryadi Wijaya," kata Arum. "Pangkatnya Letda. Saya tidak ingat satuannya."

"Apa yang paling kamu ingat tentang dia?"

Arum mengusap sulaman di selendang. "Bau oli dari motornya. Suara kunci sebelum pintu dibuka. Ayah selalu mengetuk tiga kali meski itu rumah sendiri, supaya saya tahu beliau yang pulang."

Ia tersenyum tipis. "Kalau pulang malam, beliau membawa roti kukus dari pasar. Saya duduk di bahunya sambil memegang baret. Setelah Ayah tidak ada, Bu Yatmi melarang saya memakai nama Wijaya di sekolah. Katanya saya sudah menjadi anak Prasetyo. Tapi di akta, nama saya tetap Sekar Arum Wijaya."

"Pertahankan nama itu," kata Bara.

Arum mengangkat wajah.

"Itu pemberian ayahmu. Tidak ada orang lain yang berhak menghapusnya."

Jemari Arum menggenggam selendang lebih erat. Untuk pertama kalinya, nama belakang yang selama ini terasa seperti sisa kehidupan lama kembali terdengar sebagai sesuatu yang layak dibanggakan.

"Kamu punya akta lahir atau dokumen lama?"

"Ada fotokopi akta. Bu Yatmi menyimpan dokumen asli, katanya anak kecil tidak boleh pegang."

"Sekarang kamu dewasa. Dokumenmu seharusnya berada padamu."

"Kalau mereka tidak mau memberikan?"

"Kita minta tertulis dan ada saksi. Kalau dokumen identitas ditahan, Iwan bisa membantu menjelaskan prosedurnya. Kamu tidak perlu datang sendiri ke rumah itu."

Arum mengangguk pelan. Kata `kita` kembali muncul, bukan untuk mengambil alih, melainkan berdiri di sampingnya.

Arum menatap selendang. "Saya pernah minta saat umur enam belas. Bu Yatmi marah dan bilang semua biaya mengurus surat dibayar keluarga mereka."

"Bagaimana kamu tahu ayahmu gugur?"

"Kapten Hartono yang memberi tahu. Katanya Ayah meninggal saat tugas. Setelah itu Ibu sakit dan meninggal beberapa bulan kemudian. Saya dibawa ke rumah mereka."

"Ada upacara atau petugas yang datang menjelaskan hakmu?"

Arum menggeleng. "Saya ingat beberapa orang berseragam membawa amplop dan map. Saya disuruh masuk dapur. Malamnya Bu Yatmi bilang semua uang habis untuk utang pemakaman."

Bara menahan rahang agar tidak mengeras terlalu jelas.

"Kamu ingat tahun atau tanggalnya?"

Arum menyebut perkiraan berdasarkan usia dan kelas sekolah. Bara mencatat dengan izin.

"Apakah ada masalah?" tanya Arum.

"Aku belum tahu."

"Mayor menyembunyikan sesuatu."

Bara mengangkat mata. "Aku sedang memastikan fakta. Kalau ada sesuatu yang menyangkut hakmu, kamu akan menjadi orang pertama yang mendengarnya setelah bukti cukup."

Arum memeluk selendang ke dada. "Saya takut ternyata keluarga Prasetyo benar-benar mengeluarkan banyak uang untuk saya. Kalau begitu saya masih berutang."

"Kerja delapan tahun bukan utang?"

"Mereka bilang itu kewajiban."

"Mereka salah."

Bara tidak mengatakan lebih banyak. Ia hanya meminta izin memotret fotokopi akta dan inisial sulaman pada selendang sebagai penanda barang keluarga.

Malam itu, foto dokumen dikirim melalui jalur aman kepada Iwan.

Beberapa menit kemudian, balasan masuk.

Nama Suryadi Wijaya ditemukan dalam daftar prajurit gugur.

Dan di kolom penerima manfaat awal, tercantum satu nama yang membuat mata Bara berubah dingin.

Kapten Hartono Prasetyo, sebagai pendamping ahli waris.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!