NovelToon NovelToon
SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

SISTEM MEDIS SUPER DOKTER LEGENDARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dokter Ajaib
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Srekkk.

Bima menarik tirai pembatas di ruang periksa nomor empat.

Bau busuk yang sangat menyengat langsung menusuk hidungnya.

Bau itu seperti percampuran antara daging busuk dan besi berkarat.

Bima menahan napasnya sejenak dan memakai masker medis ganda.

"Bapak namanya siapa?"

Bima bertanya sambil memakai sarung tangan karet.

"Suami saya namanya Pak Karto, Dok."

Istri pasien itu yang menjawab karena suaminya sudah terlihat setengah sadar.

"Dia sudah demam tinggi sejak semalam."

Bima mengangguk pelan dan membuka perban kotor yang membalut kaki kanan Pak Karto.

Kress.

Suara kain perban yang lengket dengan nanah terdengar menjijikkan saat dilepas.

Begitu perban terbuka sepenuhnya, Bima bisa melihat seberapa parah kondisinya.

Kulit kaki itu sudah berwarna hitam legam dari ujung jari sampai ke pertengahan betis.

Ada gelembung-gelembung air di bawah kulit yang terlihat mengerikan dan berbau tajam.

"Suster Nita, tolong siapkan ruang operasi darurat sekarang."

Bima menoleh ke arah perawat yang membantunya sejak awal.

"Kita harus melakukan amputasi di atas lutut secepatnya."

Mendengar kata amputasi, istri Pak Karto langsung menangis histeris.

"Ya Allah, kaki suami saya harus dipotong, Dok?"

"Apakah tidak ada cara lain selain dipotong?"

Wanita tua itu memegang lengan Bima dengan tangannya yang gemetar.

Bima menatap mata wanita itu dengan sorot mata yang sangat tenang.

"Tidak ada cara lain, Bu."

"Bakteri di kaki bapak sudah menghasilkan gas beracun yang mematikan jaringan daging."

"Jika tidak dipotong sekarang, racunnya akan naik ke jantung dan bapak tidak akan tertolong."

Tangisan wanita itu semakin keras mendengar penjelasan Bima.

"Tapi Dok, kami ini orang miskin."

"Suami saya itu kuli panggul di pasar."

"Kalau kakinya dipotong, bagaimana kami bisa makan nanti?"

Bima merasakan empati yang kuat, tapi dia tidak bisa berbohong soal kondisi medis.

"Nyawa bapak lebih penting sekarang, Bu."

"Urusan biaya dan kursi roda nanti saya yang akan bantu urus semuanya."

"Tolong ibu tanda tangani surat persetujuan operasi ini agar saya bisa bergerak cepat."

Wanita tua itu akhirnya mengangguk pasrah sambil terus mengusap air matanya.

"Suster Nita, hubungi bagian farmasi."

"Minta mereka kirimkan antibiotik spektrum luas dosis tinggi."

"Saya butuh Meropenem dan Clindamycin untuk disuntikkan sebelum operasi dimulai."

Suster Nita segera mencatat instruksi Bima di notes kecilnya.

"Baik, Dokter Bima."

"Saya akan langsung menelepon bagian farmasi."

Suster Nita berlari keluar ruangan meninggalkan Bima berdua dengan pasien.

Bima menatap kaki yang membusuk itu dengan kening berkerut dalam.

"Sistem, beritahu aku detail penyebaran bakterinya."

Bima bertanya di dalam kepalanya agar tidak terdengar oleh siapa pun.

[Gas gangren telah menyebar hingga lima sentimeter di bawah lutut.]

[Saran tindakan: Amputasi transfemoral dengan batas sayatan sepuluh sentimeter di atas area infeksi.]

[Bakteri Clostridium perfringens terdeteksi sangat aktif.]

"Aku mengerti."

Bima menjawab sistem itu dalam hati.

Dia tahu persis bahwa operasi amputasi infeksi ini sangat berisiko tinggi.

Jika pisau bedahnya menyentuh area yang terinfeksi dan kemudian mengenai pembuluh darah yang sehat, bakterinya akan langsung menyebar ke seluruh tubuh.

Itulah kenapa dia sangat butuh antibiotik kuat sebelum mulai memotong.

Sepuluh menit kemudian, pintu ruangan terbuka dengan tergesa-gesa.

Suster Nita masuk membawa nampan kecil berisi beberapa ampul obat.

"Dokter Bima, ini obat dari farmasi."

"Mereka bilang Meropenem sedang habis, jadi mereka menggantinya dengan antibiotik jenis lain."

Bima mengerutkan dahi mendengar laporan dari perawat itu.

"Habis?"

"Seingatku stok Meropenem baru saja masuk minggu lalu dalam jumlah besar."

Bima mengambil ampul obat itu dan membaca labelnya lekat-lekat.

Labelnya bertuliskan Ceftriaxone.

Ini memang antibiotik, tapi kekuatannya jauh di bawah Meropenem untuk kasus gas gangren yang sudah separah ini.

"Kenapa mereka mengirimkan obat ini?"

"Ini tidak akan cukup kuat menahan bakteri seganas itu selama proses operasi."

Suster Nita terlihat kebingungan dan salah tingkah.

"Petugas farmasi yang jaga namanya Roni, Dok."

"Dia bilang hanya obat itu yang tersedia untuk jatah pasien kuota BPJS."

Mata Bima langsung memicing tajam mendengar alasan konyol itu.

"Pasien BPJS atau jalur umum, standar obat darurat untuk nyawa tidak boleh dibedakan."

"Sistem, tolong pindai kandungan ampul obat ini sekarang."

Bima kembali berbicara di dalam hatinya sambil menggenggam botol kaca kecil itu.

[Memindai struktur kimia cairan di dalam ampul.]

[Peringatan!]

[Cairan di dalam ampul tidak sesuai dengan label cetak.]

[Kandungan utama: Aqua Pro Injeksi atau air steril biasa.]

[Kandungan antibiotik: Nol persen.]

Bima mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Dia hampir saja melempar ampul kaca itu ke lantai saking marahnya.

"Kurang ajar."

Bima mengumpat pelan dari balik maskernya.

"Ada apa, Dokter?"

Suster Nita bertanya dengan nada khawatir melihat perubahan wajah Bima.

"Suster, lihat baik-baik cairan ini."

Bima menunjukkan ampul itu ke depan wajah Suster Nita.

"Ini bukan antibiotik sama sekali."

"Ini cuma air steril biasa yang botolnya diganti label."

Mata Suster Nita membelalak lebar tidak percaya.

"Air steril?"

"Tapi Dok, itu pelanggaran berat di rumah sakit!"

"Kalau cairan itu disuntikkan, nyawa pasien tidak akan tertolong waktu dibedah!"

Bima mengangguk dengan rahang mengeras menahan amarah.

"Seseorang sengaja ingin aku membunuh pasien ini di meja operasi."

Bima tidak butuh waktu lama untuk menyadari siapa dalang pelakunya.

Tentu saja Dokter Surya.

Pria licik itu pasti tahu bahwa Bima mengambil pasien miskin ini dari depan ruangannya.

Dokter Surya lalu menggunakan koneksinya di bagian farmasi untuk menyabotase obat operasinya.

Jika pasien ini mati karena sepsis di tengah operasi, karir Bima akan hancur lebur hari ini juga.

"Suster Nita, bawa pasien ini ke ruang operasi sekarang juga."

"Pasang infus cairan biasa dulu dan siapkan tabung oksigen."

Suster Nita terlihat ragu-ragu untuk bergerak.

"Tapi Dok, kita belum punya antibiotiknya sama sekali."

"Kalau kita bersiap bedah sekarang, bakterinya bisa keburu menyebar ke darah."

Bima menatap Suster Nita dengan tatapan mata yang sangat tajam.

"Lakukan saja apa yang saya suruh, Suster."

"Saya akan mencari antibiotiknya sendiri ke bagian farmasi sekarang."

"Beri saya waktu sepuluh menit."

Bima melepaskan sarung tangannya dan membuangnya kasar ke tempat sampah medis.

Dia berjalan cepat keluar dari ruang periksa tanpa menoleh lagi.

Tap tap tap.

Langkah kakinya menggema di lorong rumah sakit yang terasa dingin siang ini.

Tujuannya hanya satu, ruang distribusi farmasi utama di lantai satu.

Sesampainya di sana, Bima melihat seorang pria berseragam apoteker sedang duduk santai sambil bermain ponsel.

Namanya di tanda pengenal yang tergantung di dada adalah Roni.

Brak!

Bima menendang pintu farmasi itu hingga terbuka lebar dan membentur tembok.

Suara bantingan pintu yang keras membuat Roni terlompat kaget dari kursinya.

"Woi! Santai dong buka pintunya!"

Roni membentak Bima dengan wajah merah karena terkejut dan marah.

Bima berjalan mendekati konter obat dengan tatapan yang siap membunuh.

"Mana Meropenem yang aku minta tadi?"

Bima bertanya dengan nada yang sangat dingin.

Roni mendengus pelan dan kembali duduk di kursinya dengan gaya meremehkan.

"Kan sudah dikasih tahu ke Suster Nita tadi."

"Stok Meropenem lagi kosong di gudang."

"Pakai saja Ceftriaxone yang aku kirim tadi, toh pasien itu cuma kuli panggul miskin."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!